Pak Ekadj, Pak Risfan dan Pak Abi,
Melihat perkembangan Batam sekarang memang tidak seperti yang dibayangkan 30 
tahun yang lalu, apa yang disebut oleh pak Risfan tentang kritik yang 
kemana-mana akhirnya pihak Otorita Batam yang harus menerima kutukan

Mungkin yang perlu diperjelas adalah sejarah Batam. Tadinya pulau itu hanya 
dihuni oleh nelayan kecil, berupa kampung-kampung ditepi pantai, lainnya masih 
berupa hutan. Pak harto dan Pak ibnu Sutowo pada awal 1970 khawatir akan 
perkembangan Singapore, karena semua kapal milik pertamina yang cukup banyak 
ternyata harus dibawa ke singapore untuk pemeliharaannya, demikian juga dengan 
seluruh kebutuhan operasi pertamina, seluruhnya berbasis di negara tetangga. 
Maka dimintalah Ibnu Sutowo dan Bob hasan memindahkan perusahaan pensuplai 
kebutuhan pertamina ke Batam....maka berdirilah Mc Dermott.   Pada tahun 1978 
mulailah Batam dijadikan badan otorita dengan wewenangnya termasuk menguasai 
lahan dan menerbitkan ijin bagi perusahaan yang investasi disana (maklum waktu 
itu belum ada kelurahan apalagi kecamatan)

Masalah berikutnya adalah masalah management dan persaingan dengan Singapore. 
Saya kebetulan sedikit tahu bagaimana Pak Habibie marah karena ditipu oleh 
Singapore, setelah negosiasi dengan salah satu operator peti kemas terbesar di 
dunia...Otorita Batam diminta untuk membangun pelabuhan Kabil...pada waktu yang 
sama Singapore menawarkan membantu melakukan investasi membangun pelabuhan 
tersebut.  ternyata pelabuhan tersebut tidak pernah terwujud sesuai harapan dan 
sang operator memperoleh kontrak dengan pelabuhan singapore selama 30 tahun 
bebas pajak.

 
Singapore yang sekarang investasi di Bintan, adalah teman sekaligus 
kompetitor....jadi harus tetap waspada
kalau mereka mempunyai rencana membangun, yang harus memutuskan rencana 
tersebut harus pemerintah kita, bukan mereka
Salam
Aunur Rofiq



----- Original Message ----
From: risfano <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Thursday, January 1, 2009 7:38:58 PM
Subject: [referensi] Re: Batam

Mengikuti diskusi Bang Ekadj ini, saya mencoba mencernanya dengan 
melihat When dan Who-nya.

Pada saat Batam pertama kali direncanakan, memang untuk memanfaatkan 
posisi geografis bertetangga dengan Singapura. Ditangani Otorita 
Batam, dan dipimpin oleh Pak Habibie sendiri. Dengan otorita itu 
rencananya tampaknya begitu optimis, terbukti berhasil membangun 
banyak presarana utama yang dibutuhkan dari pulau yang relatif 
kosong menjadi kawasan industri dan (kemudian) pariwisata.

Tapi tampaknya sejak awal, ke-otorita-annya terbatas pada 
pembangunan fisik, dan mungkin fasilitas bebas bea. Sepertinya tidak 
berhasil sepenuhnya mendapatkan otorias penuh, terutama soal hak-hak 
atas tanah bagi investor dari luar. Banyak pihak di pusat dan daerah 
yang tampaknya tak rela kalau ada di republik ini dikelola 
secara "beda" dengan daerah lainnya. Berbagai diskusi waktu itu 
mengeluhkan terbatasnya insentif bagi investor, calon peghuni dari 
seberang, yang pada tujuannya memang "diundang" untuk ke situ. 
Pembatasan bagi pendatang, pencari kerja informal (di luar yang 
dibutuhkan sektor formal) juga tidak bisa dilakukan. Maka yang 
terjadi adalah maju di fisik saja, sedang yang lain ya seperti 
daerah lainnya saja. 

Pelajaran bagi pembangunan daerah yang lain, adalah bangsa kita ini 
sulit membuat prioritas. Kalau sudah niat untuk tujuan ekonomi, lalu 
dikeroyok dengan kritik lho kok ekonomi. Kalau untuk tujuan sosial, 
dikritik kok gak menguntungkan, BCR-nya bagaimana.

Yang ditempuh oleh negara seperti China, kayaknya memang 
mengembangkan wilayah yang khusus untuk pusat ekonomi yang 
berorientasi ekspor pada wilayah untuk cluster ekonomi tertentu. 
Karena tak mungkin membangun sama rata sama rasa. Jadilah China 
punya "pulau-pulau" ekonomi yang diandalkan untuk bersaing dengan 
negara lain. Sementara wilayah-wilayah lain ya sesuai dengan potensi 
dan tahapan pembangunan masing-masing.

Jadilah mediocre terus dimana-mana, tanggung terus. Itu juga yang 
dialami oleh KAPET-KAPET, yang tidak terpadu ya kebijakan masing-
masing sektor. Biasanya yang dipikirkan pertama adalah proyek 
pembangunan fisik-prasarana, selanjutnya terkendala di pelimpahan 
kewenangan (kepabeanan, keimigrasian, pertanahan, dst). Lalu visi 
dan kapabilitas pengelola. Karena setelah prasarana terbangun tak 
tahu lagi mesti berbuat apa. Tak ada upaya marketing, peningkatan 
kualitas pelayanan kepada investor yang (berniat) masuk? Harapannya 
memang otonomi daerah memberdayakan Daerah sebagai penerpadu. 
Tapi ....

Kalau kita coba bandingkan dengan pengembangan kawasan industri di 
sekitar Bodetabek misalnya, yang saya amati, biasanya mereka justru 
jualan dulu ke calon investor, ke Jepang, Korea, dst. Dari situ 
standar dan pola desain dan pembiayaannya (financial engineering) 
dirancang lagi. Sehingga saat membangun pun, uang muka dari calon 
penghuni sudah bisa dipakai, memudahkan perbankan untuk segera ikut 
membiayai.

Pada skalanya, saya melihat Walikota Tarakan sudah bisa melakukan 
yang seperti itu. Dia gigih mengundang investor dari luar, Korea 
misalnya. Dia sendiri yang menyambut dan dengan tegas menyampaikan 
kepada semua jajaran bahwa nasib daerahnya tergantung dari investasi 
yang masuk, yang menciptakan lapangan kerja. Sehingga dia cerita 
kalau ada polisi yang nyegat-nyegat untuk pungli, beliau akan 
menegur atasannya.

Salam,
Risfan Munir

--- In [email protected], "ffekadj" <4ek...@...> wrote:
>
> 
> Pak Abim ysh, kelihatannya pengetahuan bapak cukup luas dan 
mendalam
> mengenai Batam ini. Mungkin perlu dipertanyakan bila apa yang telah
> direncanakan dulu telah mendapatkan wujudnya pada saat sekarang 
ini?
> 
> Komposisi 60% ruang hijau harus dapat dipertahankan, kalau perlu 
sampai
> tetes darah terakhir.
> 
> Kelihatannya ada yang terlupakan dalam perencanaan terdahulu, yaitu
> menyangkut aspek manajemen pengelolaan kawasan. Peran OB kelihatan
> semakin mengecil dan saat ini sepertinya hanya menjadi tuan tanah. 
Perlu
> diperbandingkan dengan pengelolaan kawasan yang sudah dilihat Pak 
Rofiq
> dan Pak Eko di Cina. Punya saran untuk pemberdayaan?
> 
> Demikian dulu pak. Selamat Tahun Baru.
> 
> -ekadj
> 
> 
> --- In [email protected], "abimanyu takdir alamsyah"
> <takdir65@> wrote:
> >
> > Pak Ekadj ysh,
> >
> > Saya juga tertarik untuk memperoleh tanggapan dari rekan-rekan 
yang
> sekarang
> > menangani Batam maupun yang pernah terlibat sebelumnya.
> >
> > Yang saya tahu, dahulu Batam tempat mangkal perusahaan-perusahaan
> pendukung
> > pertambangan minyak. Kalau tidak salah telah ada Master Plan
> pengembangan
> > pulau ini oleh Cruz (? saya lupa nama tepatnya). Pembangunan 
jalan
> raya
> > hampir menghubungkan semua bagian pulau dan yang cukup 
berkualitas
> (Pak
> > Ibrahim Adji?) ternyata belum mampu mengundang perkembangan yang
> berarti.
> > Terdapat beberapa kawasan yang juga telah di blok sebagai calon
> pengembangan
> > oleh beberapa perusahaan dari Pusat namun belum ada realisasinya.
> Namun
> > rencana-rencana yang ada masih bersifat parsial, seperti 
pengkaplingan
> model
> > "how the west was won" di state.At-6 dan konsultan inggeris telah
> menyusun
> > pula rencana Batam Center, kota baru di teluk yang mulai 
menggusur
> pantai
> > yang semula penuh ditumbuhi Mangrove, sebagai upaya pemicu 
pertumbuhan
> > Batam.Namun sekitar 10 tahun kemudian (1980-an awal) belum ada 
dampak
> yang
> > berarti.
> >
> > Kemudian melalui Lemtek FTUI (pak Ismeth Abidin cs) disusunlah
> evaluasi
> > master plan sekaligus rencana pengembangan secara keseluruhan 
Pulau
> Batam.
> > Semua rencana spasial dikoordinasikan menjadi satu pola 
pengembangan
> pulau
> > (Master Plan 1986). Diperhitungkan bahwa pulau tersebut mampu
> menampung
> > hingga 700.000 penduduk dengan kegiatan industri 
(dikonsesntrasikan di
> > kawasan Kabil) dan wisata (antara lain Nongsa). Rencana dibuka
> pelabuhan
> > baru di Timur, Asia Port, sebagai pengimbang Singapura. Karena
> ketersediaan
> > sumber air minum alami untuk mendukung kehidupan dan perkembangan
> penduduk
> > serta kegiatan industri tersebut terbatas, maka waduk-waduk yang 
akan
> > dikembangkan sekitar 6 buah, termasuk membendung teluk di bagian
> Selatan
> > pulau. Kawasan sekitar waduk dijaga untuk tetap sebagai hutan 
resapan.
> Namun
> > karena hal khusus ternyata Batamindo mendapat ijin khusus untuk
> membangun
> > industrinya di Muka Kuning, hutan di tengah pulau yang dianggap 
kepala
> naga.
> > Buruh industri dibuatkan asrama agar tidak tinggal di permukiman 
yang
> dapat
> > tumbuh disekitar hutan. Agar ketersediaan air tanah terjaga, 
kawasan
> > lindung/hutan direncanakan sekitar 60% berbanding 40% budidaya.
> >
> > Semua kelompok penduduk didata dan diperhitungkan 
perkembangannya.
> Untuk
> > kelas menengah bawah permukimannya di alokasikan dibagian Selatan
> pulau.
> > Namun total luas alokasi permukiman kabarnya langsung 
habis "terjual"
> ke
> > pengembang satu hari setelah Master Plan ditandatangani. 
Ternyata ini
> > merupakan awal tidak terkendalinya perkembangan di tengah pulau
> tersebut.
> > Akibatnya walaupun banyak kapling belum dibangun atau rumah 
terbangun
> > kososng namun masyarakat kelas bawah tidak mampu membeli rumah 
dengan
> harga
> > pengembang. Mereka akhirnya masuk hutan dan berkembang menjadi 
ruli
> (rumah
> > liar), termasuk dikawasan hutan resapan air.
> >
> > Perkembangan Batam ditangani khusus oleh otorita, yang langsung
> terkendali
> > dari Pusat, dengan tujuan utama menampung overspill kegiatan yang
> tidak
> > terlayani bagi penduduk Singapura. Pemda Riau belum berperan pada
> tahap
> > ini. Setelah lima tahun berjalan Master PLan dievaluasi dan
> "disempurnakan"
> > (1990-1992). Banyak perkembangan baru akibat 
mengutamakan "investasi"
> > daripada penyejahteraan penduduk secara menyeluruh. Ketidak 
seimbangan
> yang
> > terjadi antara rencana dengan realisasi maupun daerah lindung 
dengan
> daerah
> > yang dibudi dayakan menyebabkan prediksi semula diduga tidak 
dapat
> > dipertahankan. Perlu perluasan daerah penampungan 
overspill "balon"
> > Singapura (walau lebih banyak akibat "balon" permintaan 
investor),
> walaupun
> > peningkatan ekonomi secara nyata tidak mengubah lingkungan fisik,
> sosial
> > maupun kelestarian alam Pulau Batam menjadi "sekelas" dengan
> Singapura.
> > Pulau Rempang-Galang-Galang Baru dan pulau-pulau kecil 
disekitarnya
> menjadi
> > sasaran pengembangan selanjutnya, sebagai penyangga Pulau Batam.
> Karena
> > memang menjadi kawasan pengembangan yang lebih bersifat politis,
> pendekatan
> > lebih bersifat top-down, walaupun teman-teman dari UGM juga 
diminta
> untuk
> > mengembangkan pemberdayaan masyarakat akibat berkembangnya
> permasalahan
> > sosial (kesenjangan, kriminal, PKS, dll) Batam maupun kelak 
Barelang
> sebagai
> > kawasan baru tersebut. Guna menghubungkan antar pulau, ITB 
ditugasi
> untuk
> > merencanakan pembangunan 6 jembatan antar pulau. Saat itu seolah-
olah
> > otorita tetap pengelola utama pembangunan fisik dan ekonomi, 
sedangkan
> pemda
> > mengelola masalah lainnya. Keberlanjutan pembangunan secara top-
down
> dapat
> > terjadi karena selama itu kebijakan utama pembangunan tetap 
dipegang
> oleh
> > Pusat.
> >
> > Tahap berikutnya, terutama setelah revormasi, posisi pemda 
semakin
> kuat.
> > Terjadi berkali-kali upaya revisi master plan, dan peningkatan 
pemda
> dalam
> > mengelola pembangunan setempat. Kerjasama dan pembagian tugas 
antar
> pemda
> > dan otorita semakin seimbang. Namun dukungan dari Pusat semakin
> berkurang.
> > Walaupun ruli semakin dikendalikan namun perkembangan Pulau Batam
> sebagai
> > kawasan unggulan tampak tidak terlalu unggul lagi. Daya tarik 
sebagai
> > kawasan wisata yang "lebih hijau" daripada di Singapura tidak
> terwujudkan
> > dengan tatanan lingkungan dan arsitektural yang menarik. 
Singapura
> sendiri
> > meningkatkan daya tariknya sendiri agar penduduknya lebih nyaman
> > memanfaatkan fasilitas di dalam negaranya sendiri. Kenyamanan 
memiliki
> TV
> > (tweede vrouw, termasuk strategi untuk memperoleh hak pemilikan 
rumah
> > setempat) di Batam juga sudah tidak seleluasa sebelumnya. 
Walaupun
> Batam
> > masih menarik sebagai daerah transit pengunjung Indonesia yang 
mau
> > berbelanja ke Singapura (sambil konferensi?) namun kondisi 
kotanya
> tidak
> > bertambah menarik, apalagi bukit-bukit hijau yang dikeruk untuk
> pembangunan
> > fisik amsih dibiarkan merana merusak pemandangan "kota pulau"
> setempat.
> > Pembangunan ekonomi tidak ada artinya apabila tidak justru 
didasarkan
> kepada
> > peningkatan kualitas manusia dan lingkungan hidupnya.
> >
> > Belakangan Batam mulai berusaha mengembangkan pula pendekatan
> pembangunan
> > gugus pulau, pesisir dan kelautan (Namun tampaknya masih bersifat
> wacana?).
> > Sayang, apabila pembangunan yang dahulu sempat dapat 
berkelanjutan
> tidak
> > dapat ditingkatkan manfaatnya justru pada saat kewenangan
> "stakeholder"
> > semakin besar.
> >
> > Mungkin itu saja dulu catatan saya tentang Batam, mungkin dapat
> dikoreksi,
> > tambah, kurang sesuai data, informasi dan bukti-bukti yang lebih
> akurat oleh
> > rekan-rekan yang lebih memiliki data dan kewenangan.
> >
> > Salam,
> > Abimanyu
> >
> > On 12/25/08, - ekadj 4ekadj@ wrote:
> > >
> > > Pak Abim ysh,
> > >
> > > Saya tarik juga diskusi ini di Referensi karena kebetulan ada 
banyak
> > > rekan-rekan dari OB dan Pemda Batam, mudah-mudahan mereka 
berkenan
> juga
> > > menambahkan informasi yang diperlukan. Termasuk juga beberapa 
rekan
> yang
> > > pernah 'mengurusi' masalah Batam.
> > >
> > >
> > >
> > > Saya pernah ketemu Inpres tahun 1971 tentang Batam ini, saya 
kira
> itu
> > > kebijakan pertama yang diluncurkan. Saya kira baru sekitar
> pertengahan
> > > 1980an pengelolaan Batam ini diintensifkan.
> > >
> > >
> > >
> > > Pointnya tetap sama: 'keberpihakan' Pusat yang intens dapat
> menumbuhkan
> > > orientasi baru dalam pengembangan wilayah. Terlepas apakah 
hingga
> saat ini
> > > terjadi distorsi, misleading, salah urus, dst.
> > >
> > >
> > >
> > > Terakhir permasalahan yang muncul di Batam adalah sejauhmana
> kebijakan
> > > 'otda' (34/04) dapat diterapkan di 'kapling Nasional yang fully
> owned and
> > > invested'; serta bagaimana kebijakan 'KSN' (26/07) diterapkan 
pada
> kawasan
> > > yang diadmin oleh local govt. Serta satu tambahan dari saya:
> perubahan
> > > fungsi dari semula khittah 'sistem produksi Nasional' menjadi
> 'ekstensi area
> > > komersial transnasional'.
> > >
> > >
> > >
> > > Demikian pak. Salam.
> > >
> > >
> > >
> > > -ekadj
> > >
> > >
> > > ---------- Forwarded message ----------
> > > From: abimanyu takdir alamsyah takdir65@
> > > Date: 2008/12/25
> > > Subject: Re: [futurologi] Re: Kami, Jakarta
> > > To: [email protected]
> > >
> > >
> > > Menarik juga argumen pak eka berikut ini:
> > >
> > > "......Untuk aktivitas ekonomi kita pernah 'berhasil' 
mengembangkan
> kawasan
> > > baru ini, yaitu pariwisata di Bali 1970-an dan 'commercial 
area' di
> Batam
> > > tahun 1980-an. Di Referensi ada Pak Aca yang 
dulu 'merencanakan'
> Bali, dan
> > > ada beberapa rekan dari Otorita dan Pemda Batam......."
> > >
> > > Betulkah aktivitas ekonomi ini termasuk "berhasil"....?
> > > 1). Bali ?: ......
> > >
> > > 2). Batam? ......sepengetahuan saya Batam dapat didukung
> pembangunannya
> > > karena pemerintahan waktu itu 'sangat stabil'. "di Indonesia 
hanya
> ada SATU
> > > kebijakan ...." (menurut pak Habibi waktu itu). Sehingga 
otorita
> dapat
> > > memperoleh kekuatan hukum relatif mutlak untuk mengatur tata
> ruangnya secara
> > > top down dan berlanjut sejak sebelum hingga setelah pemilu
> sekalipun....
> > > tanpa campur tangan pemda waktu itu...Akankah kondisi tersebut
> berlaku masa
> > > sekarang?. Hasilnya? sekarang Batam memetik hasilnya, ...sangat
> berbeda
> > > dengan apa yang kita rencanakan dahulu....menyedihkan.
> > >
> > > Salam,
> > > Abimanyu
>



------------------------------------

Komunitas Referensi
http://groups.yahoo.com/group/referensi/Yahoo! Groups Links




      

Kirim email ke