Rekans ysh, Sejauh yang saya baca, fenomenologi sepertinya bicaratentang perilaku orang/komunitas atas sesuatu. Jadi kalau kalau dikaitkan dengan "keramat" atau feng-shui, tentu fenomenologi tidak bicara "ilmu keramatnya", tapi bagaimana perilaku masyarakat atas sesuatu yang dikeramatkan itu. Apakah begitu?
Salam, Risfan Munir --- In [email protected], Djarot Purbadi <dpurb...@...> wrote: > > Pak Onnos, Pak Ekadj dan sahabats, > > Terminologi Critical Planning sengaja saya tawarkan dengan referensi > Sosiologi Kritis dalam pikiran saya ketika mengusulkannya. Dalam sosiologi > kritis kita tahu ada dua jenis teori yaitu teori tradisional dan teori > kritis. Terminologi ini sengaja dilontarkan waktu itu supaya orang tersadar > bahwa teori yang dibangun hanya "mengatakan data apa adanya" adalah > tradisional dan sudah ketinggalan jaman karena hanya mengatakan apa adanya. > Bagi ilmuwan sosial kritis waktu itu dimunculkan terminologi teori kritis > sebagai jenis teori baru supaya publik akademik sadar ada jenis teori baru > yang lebih baik karena memuat kekritisan bahwa di balik sebuah teori selalu > harus ada maksud tertentu (khususnya tema emansipatoris). Saya mengacu ke > situ Pak. > > Jadi dapat dikatakan, bahwa planning yang selama ini didiskusikan di milis > ini dalam kesadaran saya adalah planning yang tradisional, enggak kritis dan > sudah ketinggalan jaman (mohon maaf). Oleh karenanya, mesti dilakukan > langkah-langkah reformasi dengan mengubah apa yang bisa diubah, dan salah > satunya saya melihat paradigmanya atau cara pandangnya terhadap realitas yang > harus diubah. Saat itulah saya terkenang teori kritis dari Frankfurt itu, > jadilah terminologi Critical Planning. > > Mohon maaf atas kelancangan saya. > > Salam, > > > > Djarot Purbadi > > > > http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK] > > http://arsitekturnusantara.wordpress.com > > http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com > > --- On Sun, 8/9/09, ffekadj <4ek...@...> wrote: > > From: ffekadj <4ek...@...> > Subject: [referensi] Re: critical planning ? > To: [email protected] > Date: Sunday, August 9, 2009, 10:56 PM > > > > > > > > > > > > > > > Pak Onnos ysh, terima kasih atas informasinya. Masalah 'plankun' kita > > bisa bertanya kepada ahlinya atau organisasinya. Kalau tempo doeloe yang > > 'kun' itu malah yang 'plan'. Namun ada dua hal dari thread ini yang bisa > > disimpulkan sementara: 1) 'plan'/orang yang luar biasa dan orang yang > > biasa-biasa, dan 2) cara yang luar biasa dan cara yang biasa-biasa. > > > > Kalau fenomena saat ini yang dapat saya tangkap: plan itu dilakukan oleh > > orang-orang biasa dengan cara yang biasa-biasa. Jadi memang belum > > terlihat orang yang luar biasa dan cara yang luar biasa. Karena ada > > asumsi bila masyarakat itu adalah biasa-biasa saja. Tantangannya adalah: > > bagaimana bila orang biasa dapat melakukan hal yang luar biasa? > > > > Mungkin demikian dulu sambil menunggu pencerahan yang lain. Salam. > > > > -ekadj > > > > --- In refere...@yahoogrou ps.com, Sugiono Ronodihardjo <sugiono_r@ ..> > > wrote: > > > > > > > > > Rekan-2 ysh, > > > > > > Menyambung diskusi 'fenamenologi' , kalau dalam dunia ke'dokter'an ada > > aliran yang dapat keahlian 'khusus' sehingga menjadi 'terkun' alias > > 'dokter-dukun' , dalam dunia ke'arsitektur' an juga ada yang dapat wangsit > > 'feng-shui' sehingga mungkin dapat menjadi 'arsikun' alias > > 'arsitek-dukun' , apakah dalam dunia ke'planner'an dengan 'semedi' > > mendalami yang 'keramat', maka ada yang bisa menjadi 'plankun' alias > > 'planner-dukun' ? he he he... > > > > > > Terlampir ada tulisan 'Mental Feng Shui' yang saya dapat dari teman > > asli orang bule di California (dekatnya Kali Code) yang percaya dengan > > 'spiritualisme' , selamat membaca semoga bermanfaat. > > > > > > Wassalam, > > > > > > Onnos > > > > > > > > > > > > To: refere...@yahoogrou ps.com > > > From: 4ekadj@ > > > Date: Sun, 9 Aug 2009 04:30:21 +0000 > > > Subject: [referensi] Re: critical planning ? > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > Pak Risfan ysh, memang sebenarnya sangat menarik membahas thread ini. > > Secara tidak sadar dan 'sepakat' kita memang telah bergeser dari semula > > membicarakan 'benda mati' (: ruang) kepada membicarakan 'makhluk hidup'. > > 'Transformasi' ini memang tidak bisa kita hindarkan dalam profesi, > > karena selama ini memang ada secara laten. > > > > > > Saya mendapatkan banyak pencerahan ketika dulu pernah menelusuri > > sedikit babad Jawa, dan mendapatkan suatu kesan: 'pewarisan' itu > > dilakukan dengan 3 cara: 1 pertalian darah, dan yang 2 adalah sangat > > kental budaya Jawa yaitu melalui yang diistilahkan Pak ATA dengan 'wahyu > > cakraningrat' , serta 3 adalah persekutuan. Kesan terkuat dari aspek > > pertalian darah adalah ketika pendirian Demak Bintoro: sewaktu Wali > > Songo mengamanatkan tahta kepada pemuda mentah Raden Patah. Dan untuk > > cara 2 adalah seperti yang ditunjukkan Ki Ageng Giring; dan cara 3 > > adalah ditunjukkan oleh Panembahan Senopati yang mengedepankan aspek > > fenomenologi. Mungkin itu penafsiran awal saya yang cetek ini. > > > > > > Di era sekarang mungkin mengemuka cara ke-4 yaitu demokrasi, namun > > secara 'usia penerapan' tentunya masih perlu mencari acuan dan pijakan, > > terlebih masyarakat sudah steady dengan sistem-sistem lama. Di beberapa > > daerah perseteruan ini telah nyata walau dalam varian yang berbeda, > > seperti Perang Tjumbok di Aceh dan Perang Paderi di Minangkabau. Untuk > > Jawa, saya kira Geertz menggambarkan secara skeptis proses transformasi > > ini ke dalam 3 kelompok, dan sebenarnya tidak ada 'konflik yang > > mengemuka'. > > > > > > Permasalahannya memang demikian, kita menghadapi masyarakat yang gayut > > dengan berbagai alam pemikiran. Seperti drama yang kita saksikan dalam > > beberapa hari ini: pemaknaan terorisme bisa berbeda dalam sudut pandang > > budaya dan aliran keagamaan, karena banyak tabir. Namun kita bisa > > sepakat dengan satu hal: bila kekerasan tidak kita sukai. Berdiri dan > > berpijak di berbagai perbedaan ini kelihatannya membutuhkan keahlian ala > > pemain sirkus, apalagi kemampuan kita dapat mempengaruhi peri kehidupan > > masyarakat tersebut. > > > > > > Sementara demikian dulu pak. Masih membutuhkan pencerahan. Salam. > > > > > > -ekadj > > > > > > --- In refere...@yahoogrou ps.com, "risfano" risfano@ wrote: > > > > > > > > Pak Djarot, > > > > Terima kasih atas penyegaran flsafat ilmunya. > > > > Katakanlah kita menggunakan fenomenologi. Kita jadi memahami > > kejadian dan apa-apa dibaliknya. Pertanyaan yang muncul, kalau temuan > > nya diproyeksikan ke depan apakah bisa dan masih berlaku? Mengingat > > masyarakat setempat juga berkembang terus. > > > > > > > > Kedua, sebagai planner/arsitek mestinya kita juga memperkenalkan > > ide/faham baru juga kan. Misal kalau kita tahu dalam komunitas tersebut > > ada eksploitasi, penindasan atas kasta bawahan (atas nama feodalisme, > > klenik). Kan kita harus mengintervensi juga toh. Gurauannya: Banyak > > alasan kramat yang membuat anak kecil cuma kebagian "ceker" terus, > > karena alasan keramat bahwa "brutu, dada" untuk ortu. "Bunga desa" untuk > > 'sesajen' bagi pangeran, dst. Artinya karena soal kekeramatan ini tidak > > bisa terbuka reason nya, ada peluang untuk di-abuse juga. > > > > > > > > Seperti kata pak Onnos, diera yang kian demokratis/ partisipatif, > > sejauh mana otoritas planner untuk menentukan desain berdasar kajian tim > > nya, kan pemangku kepentingan saat ini belum tentu percaya > > kekeramatannya. > > > > > > > > Sekali lagi, yang keramat, yang asli daerah (etnik?) itu sangat > > spesifik dalam artian "ruang dan waktu" (term Pak ATA), seberapa jauh > > bisa dibawa ke ruang-waktu atau khasanah "Indonesia masa kini dan ke > > depan". Kita mesti sadar bahwa musuh kita bukan cuma neo-liberalism, > > tapi juga neo-feodalism lokal yang cenderung eksplotatif terhadap > > rakyat. Apakah karena "anti ekonomi" (rasio) membuat kita tutup mata: > > dari mana tokoh itu dapat uang shg bisa pesta adat besar besar-besaran > > untuk pernikahan putrinya (misalnya). Jangan bicara ekonomi, itu barat, > > beliau mulia karena mengangkat adat budaya sukunya (?). > > > > Kesimpulan saya Pak Djarot, sekali menyangkut publik aspeknya selalu > > multi-dimensi, selain lokal ada nasional, ada budaya, ada struktur > > sosial, ada aspek ekonomi. > > > > Budaya Indonesia itu apa? kumpulan etnik? semuanya atau selektif? > > sesuatu yang baru? Kalau saya ikuti dialog budayawan (alm Umar Kayam, > > Rendra, dll) kesan saya mereka cenderung melihat proses perubahan > > (kedepan, bukan kebelakang) menuju Indonesia, dalam transisi rural ke > > urban. Dan, mereka cenderung membela budaya rakyat, daripada klenik dan > > simbol-simbol kuasa rekaan raja-raja. > > > > Kalau gerhana, katakan gerhana Pak, jangan bilang "buta hejo" marah. > > Kalau ngitung struktur pakai kalkulator, PC, jangan blackberry dipakai > > untuk ngirim "ketik REG spasi KRAMAT..." > > > > > > > > Salam, > > > > Risfan Munir > > > > > > > > > > > > Salam, > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > --- In refere...@yahoogrou ps.com, Djarot Purbadi dpurbadi@ wrote: > > > > > > > > > > Pak BSP, saya belum terlalu lama menikmati nikmatnya fenomenologi. > > Salah satunya adalah bahwa realitas yang ditangkapnya tidak lagi > > bersifat "fotomic" melainkan "holografic" . Jika kita mewawancara > > mendalam seorang tukang becak, misalnya, kita sebenarnya tahu lebih jauh > > yaitu tentang "dunia tukang becak". Jadi tahu sedikit bisa melongok > > ngicipi yang lebih jauh ! > > > > > > > > > > Rahasianya, untuk berfenomenologi yang berkualitas memang harus > > latihan. Latihan pertama, memurnikan diri, yaitu membiasakan tidak > > terpengaruh oleh teori-teori yang pernah kita ketahui....ini nggak > > murtad dari dunia ilmuwan lho, hanya melakukan skipping sebentar supaya > > proses memahami subyek/obyek yang kita cermati tidak dicemari > > teori-teori atau opini pihak lain terhadap obyek.subyek kajian kita. > > Latihan kedua adalah menuliskan atau mendongengkan pengalaman itu dengan > > runtut dan detil. Dua jurus dulu ya Pak. > > > > > > > > > > Salam, > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > Djarot Purbadi > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK] > > > > > > > > > > http://arsitekturnu santara.wordpres s.com > > > > > > > > > > http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com > > > > > > > > > > --- On Thu, 8/6/09, bspriyo@ bspriyo@ wrote: > > > > > > > > > > From: bspriyo@ bspriyo@ > > > > > Subject: RE: [referensi] Re: tempat keramat--- critical planning ? > > > > > To: refere...@yahoogrou ps.com > > > > > Date: Thursday, August 6, 2009, 12:16 PM > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > Luar biasa mas Djarot ... > > > > > saya mendapatkan pencerahan. > > > > > Matur nuwun > > > > > salam > > > > > bambang sp > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > ____________ _________ _________ _________ _________ _________ _ > > > What can you do with the new Windows Live? Find out > > > http://www.microsof t.com/windows/ windowslive/ default.aspx > > > >

