Pak Risfan, begitulah yang kita gali adalah hal-hal yang terkait dengan 
manusianya, termasuk pengalaman batinnya. Jika temanya dikerucutkan tentang 
bagaimana tentang kekeramatan sebenarnya bisa juga asal kita bisa tekun 
menelusurinya dan informan mau berbagi informasi tentang kekeramatan yang 
dihayatinya.

Ada satu syarat yang agak saya ragukan atau setengah yakini: Jika kita ingin 
memahami sebentuk cinta yang dialami informan, maka seyogyanya kita pernah 
punya pengalaman tentang cinta. Pengalaman, bukan sekedar deskripsi teoritis 
tentang cinta. Nah, pengalaman ini merupakan background knowledge yang sangat 
membantu ketika kita menggali fenomena cinta yang dialami informan. Pengalaman 
cinta akan menjadi inspirasi pada waktu kita melakukan wawancara mendalam. 
Tentu pengalaman kita jangan terlalu mencemari dalam proses inspirasi itu 
sehingga kita terjebak menjadi investigator. 

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://arsitekturnusantara.wordpress.com

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Mon, 8/10/09, risfano <[email protected]> wrote:

From: risfano <[email protected]>
Subject: [referensi] Re: critical planning ?
To: [email protected]
Date: Monday, August 10, 2009, 10:07 AM






 




    
                  Rekans ysh,



Sejauh yang saya baca, fenomenologi sepertinya bicaratentang perilaku 
orang/komunitas atas sesuatu. Jadi kalau kalau dikaitkan dengan "keramat" atau 
feng-shui, tentu fenomenologi tidak bicara "ilmu keramatnya", tapi bagaimana 
perilaku masyarakat atas sesuatu yang dikeramatkan itu.

Apakah begitu?



Salam,

Risfan Munir



--- In refere...@yahoogrou ps.com, Djarot Purbadi <dpurb...@.. .> wrote:

>

> Pak Onnos, Pak Ekadj dan sahabats,

> 

> Terminologi Critical Planning sengaja saya tawarkan dengan referensi 
> Sosiologi Kritis dalam pikiran saya ketika mengusulkannya. Dalam sosiologi 
> kritis kita tahu ada dua jenis teori yaitu teori tradisional dan teori 
> kritis. Terminologi ini sengaja dilontarkan waktu itu supaya orang tersadar 
> bahwa teori yang dibangun hanya "mengatakan data apa adanya" adalah 
> tradisional dan sudah ketinggalan jaman karena hanya mengatakan apa adanya. 
> Bagi ilmuwan sosial kritis waktu itu dimunculkan terminologi teori kritis 
> sebagai jenis teori baru supaya publik akademik sadar ada jenis teori baru 
> yang lebih baik karena memuat kekritisan bahwa di balik sebuah teori selalu 
> harus ada maksud tertentu (khususnya tema emansipatoris) . Saya mengacu ke 
> situ Pak.

> 

> Jadi dapat dikatakan, bahwa planning yang selama ini didiskusikan di milis 
> ini dalam kesadaran saya adalah planning yang tradisional, enggak kritis dan 
> sudah ketinggalan jaman (mohon maaf). Oleh karenanya, mesti dilakukan 
> langkah-langkah reformasi dengan mengubah apa yang bisa diubah, dan salah 
> satunya saya melihat paradigmanya atau cara pandangnya terhadap realitas yang 
> harus diubah. Saat itulah saya terkenang teori kritis dari Frankfurt itu, 
> jadilah terminologi Critical Planning.

> 

> Mohon maaf atas kelancangan saya.

> 

> Salam,

> 

> 

> 

> Djarot Purbadi

> 

> 

> 

> http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]

> 

> http://arsitekturnu santara.wordpres s.com

> 

> http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

> 

> --- On Sun, 8/9/09, ffekadj <4ek...@...> wrote:

> 

> From: ffekadj <4ek...@...>

> Subject: [referensi] Re: critical planning ?

> To: refere...@yahoogrou ps.com

> Date: Sunday, August 9, 2009, 10:56 PM

> 

> 

> 

> 

> 

> 

>  

> 

> 

> 

> 

>     

>                   

> 

> Pak Onnos ysh, terima kasih atas informasinya. Masalah 'plankun' kita

> 

> bisa bertanya kepada ahlinya atau organisasinya. Kalau tempo doeloe yang

> 

> 'kun' itu malah yang 'plan'. Namun ada dua hal dari thread ini yang bisa

> 

> disimpulkan sementara: 1) 'plan'/orang yang luar biasa dan orang yang

> 

> biasa-biasa, dan 2) cara yang luar biasa dan cara yang biasa-biasa.

> 

> 

> 

> Kalau fenomena saat ini yang dapat saya tangkap: plan itu dilakukan oleh

> 

> orang-orang biasa dengan cara yang biasa-biasa. Jadi memang belum

> 

> terlihat orang yang luar biasa dan cara yang luar biasa. Karena ada

> 

> asumsi bila masyarakat itu adalah biasa-biasa saja. Tantangannya adalah:

> 

> bagaimana bila orang biasa dapat melakukan hal yang luar biasa?

> 

> 

> 

> Mungkin demikian dulu sambil menunggu pencerahan yang lain. Salam.

> 

> 

> 

> -ekadj

> 

> 

> 

> --- In refere...@yahoogrou ps.com, Sugiono Ronodihardjo <sugiono_r@ ..>

> 

> wrote:

> 

> >

> 

> >

> 

> > Rekan-2 ysh,

> 

> >

> 

> > Menyambung diskusi 'fenamenologi' , kalau dalam dunia ke'dokter'an ada

> 

> aliran yang dapat keahlian 'khusus' sehingga menjadi 'terkun' alias

> 

> 'dokter-dukun' , dalam dunia ke'arsitektur' an juga ada yang dapat wangsit

> 

> 'feng-shui' sehingga mungkin dapat menjadi 'arsikun' alias

> 

> 'arsitek-dukun' , apakah dalam dunia ke'planner'an dengan 'semedi'

> 

> mendalami yang 'keramat', maka ada yang bisa menjadi 'plankun' alias

> 

> 'planner-dukun' ? he he he...

> 

> >

> 

> > Terlampir ada tulisan 'Mental Feng Shui' yang saya dapat dari teman

> 

> asli orang bule di California (dekatnya Kali Code) yang percaya dengan

> 

> 'spiritualisme' , selamat membaca semoga bermanfaat.

> 

> >

> 

> > Wassalam,

> 

> >

> 

> > Onnos

> 

> >

> 

> >

> 

> >

> 

> > To: refere...@yahoogrou ps.com

> 

> > From: 4ekadj@

> 

> > Date: Sun, 9 Aug 2009 04:30:21 +0000

> 

> > Subject: [referensi] Re: critical planning ?

> 

> >

> 

> >

> 

> >

> 

> >

> 

> >

> 

> >

> 

> > Pak Risfan ysh, memang sebenarnya sangat menarik membahas thread ini.

> 

> Secara tidak sadar dan 'sepakat' kita memang telah bergeser dari semula

> 

> membicarakan 'benda mati' (: ruang) kepada membicarakan 'makhluk hidup'.

> 

> 'Transformasi' ini memang tidak bisa kita hindarkan dalam profesi,

> 

> karena selama ini memang ada secara laten.

> 

> >

> 

> > Saya mendapatkan banyak pencerahan ketika dulu pernah menelusuri

> 

> sedikit babad Jawa, dan mendapatkan suatu kesan: 'pewarisan' itu

> 

> dilakukan dengan 3 cara: 1 pertalian darah, dan yang 2 adalah sangat

> 

> kental budaya Jawa yaitu melalui yang diistilahkan Pak ATA dengan 'wahyu

> 

> cakraningrat' , serta 3 adalah persekutuan. Kesan terkuat dari aspek

> 

> pertalian darah adalah ketika pendirian Demak Bintoro: sewaktu Wali

> 

> Songo mengamanatkan tahta kepada pemuda mentah Raden Patah. Dan untuk

> 

> cara 2 adalah seperti yang ditunjukkan Ki Ageng Giring; dan cara 3

> 

> adalah ditunjukkan oleh Panembahan Senopati yang mengedepankan aspek

> 

> fenomenologi. Mungkin itu penafsiran awal saya yang cetek ini.

> 

> >

> 

> > Di era sekarang mungkin mengemuka cara ke-4 yaitu demokrasi, namun

> 

> secara 'usia penerapan' tentunya masih perlu mencari acuan dan pijakan,

> 

> terlebih masyarakat sudah steady dengan sistem-sistem lama. Di beberapa

> 

> daerah perseteruan ini telah nyata walau dalam varian yang berbeda,

> 

> seperti Perang Tjumbok di Aceh dan Perang Paderi di Minangkabau. Untuk

> 

> Jawa, saya kira Geertz menggambarkan secara skeptis proses transformasi

> 

> ini ke dalam 3 kelompok, dan sebenarnya tidak ada 'konflik yang

> 

> mengemuka'.

> 

> >

> 

> > Permasalahannya memang demikian, kita menghadapi masyarakat yang gayut

> 

> dengan berbagai alam pemikiran. Seperti drama yang kita saksikan dalam

> 

> beberapa hari ini: pemaknaan terorisme bisa berbeda dalam sudut pandang

> 

> budaya dan aliran keagamaan, karena banyak tabir. Namun kita bisa

> 

> sepakat dengan satu hal: bila kekerasan tidak kita sukai. Berdiri dan

> 

> berpijak di berbagai perbedaan ini kelihatannya membutuhkan keahlian ala

> 

> pemain sirkus, apalagi kemampuan kita dapat mempengaruhi peri kehidupan

> 

> masyarakat tersebut.

> 

> >

> 

> > Sementara demikian dulu pak. Masih membutuhkan pencerahan. Salam.

> 

> >

> 

> > -ekadj

> 

> >

> 

> > --- In refere...@yahoogrou ps.com, "risfano" risfano@ wrote:

> 

> > >

> 

> > > Pak Djarot,

> 

> > > Terima kasih atas penyegaran flsafat ilmunya.

> 

> > > Katakanlah kita menggunakan fenomenologi. Kita jadi memahami

> 

> kejadian dan apa-apa dibaliknya. Pertanyaan yang muncul, kalau temuan

> 

> nya diproyeksikan ke depan apakah bisa dan masih berlaku? Mengingat

> 

> masyarakat setempat juga berkembang terus.

> 

> > >

> 

> > > Kedua, sebagai planner/arsitek mestinya kita juga memperkenalkan

> 

> ide/faham baru juga kan. Misal kalau kita tahu dalam komunitas tersebut

> 

> ada eksploitasi, penindasan atas kasta bawahan (atas nama feodalisme,

> 

> klenik). Kan kita harus mengintervensi juga toh. Gurauannya: Banyak

> 

> alasan kramat yang membuat anak kecil cuma kebagian "ceker" terus,

> 

> karena alasan keramat bahwa "brutu, dada" untuk ortu. "Bunga desa" untuk

> 

> 'sesajen' bagi pangeran, dst. Artinya karena soal kekeramatan ini tidak

> 

> bisa terbuka reason nya, ada peluang untuk di-abuse juga.

> 

> > >

> 

> > > Seperti kata pak Onnos, diera yang kian demokratis/ partisipatif,

> 

> sejauh mana otoritas planner untuk menentukan desain berdasar kajian tim

> 

> nya, kan pemangku kepentingan saat ini belum tentu percaya

> 

> kekeramatannya.

> 

> > >

> 

> > > Sekali lagi, yang keramat, yang asli daerah (etnik?) itu sangat

> 

> spesifik dalam artian "ruang dan waktu" (term Pak ATA), seberapa jauh

> 

> bisa dibawa ke ruang-waktu atau khasanah "Indonesia masa kini dan ke

> 

> depan". Kita mesti sadar bahwa musuh kita bukan cuma neo-liberalism,

> 

> tapi juga neo-feodalism lokal yang cenderung eksplotatif terhadap

> 

> rakyat. Apakah karena "anti ekonomi" (rasio) membuat kita tutup mata:

> 

> dari mana tokoh itu dapat uang shg bisa pesta adat besar besar-besaran

> 

> untuk pernikahan putrinya (misalnya). Jangan bicara ekonomi, itu barat,

> 

> beliau mulia karena mengangkat adat budaya sukunya (?).

> 

> > > Kesimpulan saya Pak Djarot, sekali menyangkut publik aspeknya selalu

> 

> multi-dimensi, selain lokal ada nasional, ada budaya, ada struktur

> 

> sosial, ada aspek ekonomi.

> 

> > > Budaya Indonesia itu apa? kumpulan etnik? semuanya atau selektif?

> 

> sesuatu yang baru? Kalau saya ikuti dialog budayawan (alm Umar Kayam,

> 

> Rendra, dll) kesan saya mereka cenderung melihat proses perubahan

> 

> (kedepan, bukan kebelakang) menuju Indonesia, dalam transisi rural ke

> 

> urban. Dan, mereka cenderung membela budaya rakyat, daripada klenik dan

> 

> simbol-simbol kuasa rekaan raja-raja.

> 

> > > Kalau gerhana, katakan gerhana Pak, jangan bilang "buta hejo" marah.

> 

> Kalau ngitung struktur pakai kalkulator, PC, jangan blackberry dipakai

> 

> untuk ngirim "ketik REG spasi KRAMAT..."

> 

> > >

> 

> > > Salam,

> 

> > > Risfan Munir

> 

> > >

> 

> > >

> 

> > > Salam,

> 

> > >

> 

> > >

> 

> > >

> 

> > >

> 

> > >

> 

> > >

> 

> > > --- In refere...@yahoogrou ps.com, Djarot Purbadi dpurbadi@ wrote:

> 

> > > >

> 

> > > > Pak BSP, saya belum terlalu lama menikmati nikmatnya fenomenologi.

> 

> Salah satunya adalah bahwa realitas yang ditangkapnya tidak lagi

> 

> bersifat "fotomic" melainkan "holografic" . Jika kita mewawancara

> 

> mendalam seorang tukang becak, misalnya, kita sebenarnya tahu lebih jauh

> 

> yaitu tentang "dunia tukang becak". Jadi tahu sedikit bisa melongok

> 

> ngicipi yang lebih jauh !

> 

> > > >

> 

> > > > Rahasianya, untuk berfenomenologi yang berkualitas memang harus

> 

> latihan. Latihan pertama, memurnikan diri, yaitu membiasakan tidak

> 

> terpengaruh oleh teori-teori yang pernah kita ketahui....ini nggak

> 

> murtad dari dunia ilmuwan lho, hanya melakukan skipping sebentar supaya

> 

> proses memahami subyek/obyek yang kita cermati tidak dicemari

> 

> teori-teori atau opini pihak lain terhadap obyek.subyek kajian kita.

> 

> Latihan kedua adalah menuliskan atau mendongengkan pengalaman itu dengan

> 

> runtut dan detil. Dua jurus dulu ya Pak.

> 

> > > >

> 

> > > > Salam,

> 

> > > >

> 

> > > >

> 

> > > >

> 

> > > > Djarot Purbadi

> 

> > > >

> 

> > > >

> 

> > > >

> 

> > > > http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]

> 

> > > >

> 

> > > > http://arsitekturnu santara.wordpres s.com

> 

> > > >

> 

> > > > http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

> 

> > > >

> 

> > > > --- On Thu, 8/6/09, bspriyo@ bspriyo@ wrote:

> 

> > > >

> 

> > > > From: bspriyo@ bspriyo@

> 

> > > > Subject: RE: [referensi] Re: tempat keramat--- critical planning ?

> 

> > > > To: refere...@yahoogrou ps.com

> 

> > > > Date: Thursday, August 6, 2009, 12:16 PM

> 

> > > >

> 

> > > >

> 

> > > >

> 

> > > >

> 

> > > >

> 

> > > >

> 

> > > >

> 

> > > >

> 

> > > >

> 

> > > >

> 

> > > >

> 

> > > >

> 

> > > > Luar biasa mas Djarot ...

> 

> > > > saya mendapatkan pencerahan.

> 

> > > > Matur nuwun

> 

> > > > salam

> 

> > > > bambang sp

> 

> > > >

> 

> > >

> 

> >

> 

> >

> 

> >

> 

> >

> 

> >

> 

> >

> 

> >

> 

> >

> 

> >

> 

> > ____________ _________ _________ _________ _________ _________ _

> 

> > What can you do with the new Windows Live? Find out

> 

> > http://www.microsof t.com/windows/ windowslive/ default.aspx

> 

> >

>




 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke