Eyang ABY, jika kita bersemangat membicarakan kawasan tertinggal ya memang harus tinggal di kawasan yang tertinggal itu supaya memahami denyut nadinya dan segala penyakit atau kekuatannya. Kita memang harus menyatu dengan realitas lapangan sedekat-dekatnya. Bukan lamanya di lapangan yang menentukan, melainkan sudahkah kita benar-benar memahaminya sampai ke denyut nadinya dan penyakit-penyakit kronisnya atau termasuk penyakit turunan yang dimilikinya.
Begitu Eyang, mohon maaf jika dianggap lancang. Mari ketawa bersama Yang...ha ha ha ha ha ha ha..... Salam, Djarot Purbadi http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK] http://arsitekturnusantara.wordpress.com http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com --- On Mon, 8/10/09, hengky abiyoso <[email protected]> wrote: From: hengky abiyoso <[email protected]> Subject: RE: [referensi] Plankun Re: critical planning ? To: [email protected] Cc: [email protected] Date: Monday, August 10, 2009, 5:20 AM Pak Onnos ysh, Saya kira dimasa kini keahlian plankun itu justru amat amat sangat dibutuhkan pak…… Kaitannya bukan utk mengetahui hubungan dgn alam2 keramat itu…. Tapi justru utk mengetahui dapat menerawang dan membaca apa sih isi hati dan jalan pikiran dari masyarakat planning di Indonesia itu..... kok sampai pada dingin dan nggak minat (ato gak mampu?) dgn studi ttg kaitan antara penataan ruang dan perluasan kesempatan kerja serta penanggulangan kemiskinan yg tentu saja didalamnya perlu dibackup oleh studi2 lintas spt ekonomi mikro-makro, kewiraswastaan, industry, nasionalisme, sosiologi, kemiskinan dan ketertinggalan wilayah dsb…… Kalau saya bisa punya kemampuan plankun itu…. Khan enaknya saya nanti bisa mengutik hatinya H. Ekadj, mas Djarot dsb.hehe... Agar berubah menjadi tak bersemangat berlebihan utk bicara ttg kebudayaan dan berganti amat bersemangat spt kesetanan dlm hal memperjuangkan pembangunan kawasan tertinggal dan penanggulangan kemiskinan dan mampu menggerakkan migrasi kerah putih serta tak ragu utk mengembangkan kota2 metropolitan, countermagnet city to primate city dsb dlm rangka big city as engine of growth and job creation (dan melupakan mengutamakan meletakkan didepan ...idealism kota2 kecil dgn burung berkicau, danau dan angsa dan lesehan ato angkringan)……. Kalau bisa punya ilmu plankun saya juga ingin bisa mengutik hatinya para budayawan agar dpt memahami (dan berbalik ganti mendukung saya) bhw bicara ttg penanggulangan kemiskinan mau tak mau harus bicara ttg ekonomi dgn resiko yg kaya semakin kaya…dan yg kaya semakin banyak… krn logikanya yg memberi pekerjaan kepada simiskin khan tentu sikaya (tak mungkinlah simiskin mau dan mampu berbagi kekayaan kpd sesamanya)…… Ummat manusia yg siang malam meminta apa saja kepada Tuhan khan disebabkan krn Tuhan itu Maha Kaya……. Coba saja apa yg akan terjadi seandainya Tuhan kekuasaanNya dan kekayaanNya pas-pasan saja dan beliau itu seandainya saja bukan Sang Maha Kaya dan Maha Kuasa?..... Salam, --- On Sun, 8/9/09, Sugiono Ronodihardjo <sugion...@hotmail. com> wrote: From: Sugiono Ronodihardjo <sugion...@hotmail. com> Subject: RE: [referensi] Re: critical planning ? [1 Attachment] To: "refere...@yahoogro ups.com" <refere...@yahoogrou ps.com> Date: Sunday, August 9, 2009, 7:46 AM Rekan-2 ysh, Menyambung diskusi 'fenamenologi' , kalau dalam dunia ke'dokter'an ada aliran yang dapat keahlian 'khusus' sehingga menjadi 'terkun' alias 'dokter-dukun' , dalam dunia ke'arsitektur' an juga ada yang dapat wangsit 'feng-shui' sehingga mungkin dapat menjadi 'arsikun' alias 'arsitek-dukun' , apakah dalam dunia ke'planner'an dengan 'semedi' mendalami yang 'keramat', maka ada yang bisa menjadi 'plankun' alias 'planner-dukun' ? he he he... Terlampir ada tulisan 'Mental Feng Shui' yang saya dapat dari teman asli orang bule di California (dekatnya Kali Code) yang percaya dengan 'spiritualisme' , selamat membaca semoga bermanfaat. Wassalam, Onnos To: refere...@yahoogrou ps.com From: 4ek...@gmail. com Date: Sun, 9 Aug 2009 04:30:21 +0000 Subject: [referensi] Re: critical planning ? Pak Risfan ysh, memang sebenarnya sangat menarik membahas thread ini. Secara tidak sadar dan 'sepakat' kita memang telah bergeser dari semula membicarakan 'benda mati' (: ruang) kepada membicarakan 'makhluk hidup'. 'Transformasi' ini memang tidak bisa kita hindarkan dalam profesi, karena selama ini memang ada secara laten. Saya mendapatkan banyak pencerahan ketika dulu pernah menelusuri sedikit babad Jawa, dan mendapatkan suatu kesan: 'pewarisan' itu dilakukan dengan 3 cara: 1 pertalian darah, dan yang 2 adalah sangat kental budaya Jawa yaitu melalui yang diistilahkan Pak ATA dengan 'wahyu cakraningrat' , serta 3 adalah persekutuan. Kesan terkuat dari aspek pertalian darah adalah ketika pendirian Demak Bintoro: sewaktu Wali Songo mengamanatkan tahta kepada pemuda mentah Raden Patah. Dan untuk cara 2 adalah seperti yang ditunjukkan Ki Ageng Giring; dan cara 3 adalah ditunjukkan oleh Panembahan Senopati yang mengedepankan aspek fenomenologi. Mungkin itu penafsiran awal saya yang cetek ini. Di era sekarang mungkin mengemuka cara ke-4 yaitu demokrasi, namun secara 'usia penerapan' tentunya masih perlu mencari acuan dan pijakan, terlebih masyarakat sudah steady dengan sistem-sistem lama. Di beberapa daerah perseteruan ini telah nyata walau dalam varian yang berbeda, seperti Perang Tjumbok di Aceh dan Perang Paderi di Minangkabau. Untuk Jawa, saya kira Geertz menggambarkan secara skeptis proses transformasi ini ke dalam 3 kelompok, dan sebenarnya tidak ada 'konflik yang mengemuka'. Permasalahannya memang demikian, kita menghadapi masyarakat yang gayut dengan berbagai alam pemikiran. Seperti drama yang kita saksikan dalam beberapa hari ini: pemaknaan terorisme bisa berbeda dalam sudut pandang budaya dan aliran keagamaan, karena banyak tabir. Namun kita bisa sepakat dengan satu hal: bila kekerasan tidak kita sukai. Berdiri dan berpijak di berbagai perbedaan ini kelihatannya membutuhkan keahlian ala pemain sirkus, apalagi kemampuan kita dapat mempengaruhi peri kehidupan masyarakat tersebut. Sementara demikian dulu pak. Masih membutuhkan pencerahan. Salam. -ekadj --- In refere...@yahoogrou ps.com, "risfano" <risf...@...> wrote: > > Pak Djarot, > Terima kasih atas penyegaran flsafat ilmunya. > Katakanlah kita menggunakan fenomenologi. Kita jadi memahami kejadian dan > apa-apa dibaliknya. Pertanyaan yang muncul, kalau temuan nya diproyeksikan ke > depan apakah bisa dan masih berlaku? Mengingat masyarakat setempat juga > berkembang terus. > > Kedua, sebagai planner/arsitek mestinya kita juga memperkenalkan ide/faham > baru juga kan. Misal kalau kita tahu dalam komunitas tersebut ada > eksploitasi, penindasan atas kasta bawahan (atas nama feodalisme, klenik). > Kan kita harus mengintervensi juga toh. Gurauannya: Banyak alasan kramat yang > membuat anak kecil cuma kebagian "ceker" terus, karena alasan keramat bahwa > "brutu, dada" untuk ortu. "Bunga desa" untuk 'sesajen' bagi pangeran, dst. > Artinya karena soal kekeramatan ini tidak bisa terbuka reason nya, ada peluang untuk di-abuse juga. > > Seperti kata pak Onnos, diera yang kian demokratis/ partisipatif, sejauh mana > otoritas planner untuk menentukan desain berdasar kajian tim nya, kan > pemangku kepentingan saat ini belum tentu percaya kekeramatannya. > > Sekali lagi, yang keramat, yang asli daerah (etnik?) itu sangat spesifik > dalam artian "ruang dan waktu" (term Pak ATA), seberapa jauh bisa dibawa ke > ruang-waktu atau khasanah "Indonesia masa kini dan ke depan". Kita mesti > sadar bahwa musuh kita bukan cuma neo-liberalism, tapi juga neo-feodalism > lokal yang cenderung eksplotatif terhadap rakyat. Apakah karena "anti > ekonomi" (rasio) membuat kita tutup mata: dari mana tokoh itu dapat uang shg > bisa pesta adat besar besar-besaran untuk pernikahan putrinya (misalnya). > Jangan bicara ekonomi, itu barat, beliau mulia karena mengangkat adat budaya > sukunya (?). > Kesimpulan saya Pak Djarot, sekali menyangkut publik aspeknya selalu multi-dimensi, selain lokal ada nasional, ada budaya, ada struktur sosial, ada aspek ekonomi. > Budaya Indonesia itu apa? kumpulan etnik? semuanya atau selektif? sesuatu > yang baru? Kalau saya ikuti dialog budayawan (alm Umar Kayam, Rendra, dll) > kesan saya mereka cenderung melihat proses perubahan (kedepan, bukan > kebelakang) menuju Indonesia, dalam transisi rural ke urban. Dan, mereka > cenderung membela budaya rakyat, daripada klenik dan simbol-simbol kuasa > rekaan raja-raja. > Kalau gerhana, katakan gerhana Pak, jangan bilang "buta hejo" marah. Kalau > ngitung struktur pakai kalkulator, PC, jangan blackberry dipakai untuk ngirim > "ketik REG spasi KRAMAT..." > > Salam, > Risfan Munir > > > Salam, > > > > > > > --- In refere...@yahoogrou ps.com, Djarot Purbadi dpurbadi@ wrote: > > > > Pak BSP, saya belum terlalu lama menikmati nikmatnya fenomenologi. Salah satunya adalah bahwa realitas yang ditangkapnya tidak lagi bersifat "fotomic" melainkan "holografic" . Jika kita mewawancara mendalam seorang tukang becak, misalnya, kita sebenarnya tahu lebih jauh yaitu tentang "dunia tukang becak". Jadi tahu sedikit bisa melongok ngicipi yang lebih jauh ! > > > > Rahasianya, untuk berfenomenologi yang berkualitas memang harus latihan. > > Latihan pertama, memurnikan diri, yaitu membiasakan tidak terpengaruh oleh > > teori-teori yang pernah kita ketahui....ini nggak murtad dari dunia ilmuwan > > lho, hanya melakukan skipping sebentar supaya proses memahami subyek/obyek > > yang kita cermati tidak dicemari teori-teori atau opini pihak lain terhadap > > obyek.subyek kajian kita. Latihan kedua adalah menuliskan atau > > mendongengkan pengalaman itu dengan runtut dan detil. Dua jurus dulu ya Pak. > > > > Salam, > > > > > > > > Djarot Purbadi > > > > > > > > http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK] > > > > http://arsitekturnu santara.wordpres s.com > > > > http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com > > > > --- On Thu, 8/6/09, bspriyo@ bspriyo@ wrote: > > > > From: bspriyo@ bspriyo@ > > Subject: RE: [referensi] Re: tempat keramat--- critical planning ? > > To: refere...@yahoogrou ps.com > > Date: Thursday, August 6, 2009, 12:16 PM > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > Luar biasa mas Djarot ... > > saya mendapatkan pencerahan. > > Matur nuwun > > salam > > bambang sp > > > Party with Buddy! Bling out your Messenger with free winks emoticons. Click here

