Pak Onnos ysh.,

Sedikit koreksi, planning tdk hanya meliputi kota tapi juga wilayah... tidak 
diragukan bahwa dlm perencanaan kota peran arsitek sebagai planner sangat 
besar, tapi dlm perencanaan wilayah sebelum adanya planner mereka yg melakukan 
umumnya dari disiplin geografi dan ekonomi, bukan arsitektur...

Masalah pembangunan Borobudur, tentu tdk bisa terlepas dari logika karena 
perhitungan matematika yg digunakan juga tdk sederhana... karena itulah muncul 
teori dari ilmuwan/sejarawan non-pribumi Indonesia bahwa Borobudur bisa jadi 
dibangun oleh orang2 India selatan yg datang ke Indonesia, atau kelompok 
bangsawan India Selatan yg memerintahkan pribumi di Pulau Jawa utk membangun 
Borobudur. Teori tsb didasarkan bahwa tdk diketemukannya bukti2 bahwa pribumi 
Jawa masa itu menguasai matematika. Ini berbeda dgn Cina, Mesir, India atau 
Inca yg memiliki peninggalan yg menunjukan bahwa mereka menguasai matematika...

salam,

Eko.




--- On Wed, 8/12/09, Sugiono Ronodihardjo <[email protected]> wrote:

From: Sugiono Ronodihardjo <[email protected]>
Subject: RE: [referensi] Re: critical planning ?
To: "[email protected]" <[email protected]>
Date: Wednesday, August 12, 2009, 3:57 PM






 




    
                  


Pak ATA dan rekan-2 ysh,

Kalau saya tidak salah, dari asal-usul sejarahnya, profesi 'planner' itu 
awalnya memang dirintis oleh 'arsitek' seperti Bramante, Le Corbusier, FL 
Wright, dll. yang mencoba merencanakan (mungkin lebih tepatnya mendesain) kota 
yang dianggap seperti rumah/ruang besar untuk banyak orang dengan segala 
kebutuhannya, tetapi karena permasalahannya sangat kompleks maka perlu 
berbagai keahlian/profesi lain ya.. lahirlah profesi 'planner' dengan berbagai 
kekhususannya (fisik, ekonomi, sosial, budaya, politik, hukum, dll.). Namun, 
sebelum ada profesi arsitek dan perencana (dari yang kecil sampai yang 
besar) kegiatan tersebut dilakukan oleh para empu yang punya 'kesaktian' 
seperti Gunadharma yang merencanakan Borobudur atau para 'Undagi' yang sampai 
saat ini masih ada di Bali. Nah, kaitannya dengan 'keramat', sepertinya kita 
sedang 'napak tilas' untuk mencari kembali 'jatidiri' dengan 'ngelmu', salah 
satunya dengan 'melepaskan kerja otak' agar jiwa (atau
 ruh ?) kita yang bekerja. Muncul pertanyaan apakah ini suatu 'fenomena' 
kebingungan kita karena 'ilmu logika' yang selama ini dipelajari dianggap tidak 
dapat menjawab permasalahan yang ada ? atau ini 'just for fun' sebagai selingan 
atau memang ini seharusnya yang diajarkan buat para perencana agar dapat 
seperti para 'Undagi' ? Mohon pencerahan pak ATA dan rekan-2 ysh.

Wassalam,

Onnos 
 


To: refere...@yahoogrou ps.com 
From: takdi...@gmail. com
Date: Wed, 12 Aug 2009 14:51:43 +0700
Subject: Re: [referensi] Re: critical planning ?

  



Mas Ono ysh,

beda dengan arsitektur yang dapat 'dikuasai' oleh seorang arsitek master 
builder, keberadaan dan keberlanjutan entitas kota (perkotaan atau permukiman 
lainnya) sangat tidak layak bila ditentukan oleh 'seorang planer'. biarpun dia 
sudah semedi, memiliki pemikiran kosmologis, berdialog dengan yang mbaurekso, 
sakti mandraguna, diktator, dll, dst. sekalipun..
Kota bukan karya produktif atau kreatif seseorang atau sekelompok orang dari 
satu wakturuang kultur tertentu saja. Kota merupakan habitat yang erupakan 
hasil berproses seluruh stake-holder yang terkait dengannya, walau sedang tidak 
ada walikota terpilih untuk menjabat saat salah satu bagian dari proses 
perkembangnanya berlangsung. Planer hanya salah satu pemicu perubahan dalam 
satuan metabolisme kehidupan dan penghidupan habitat. Perubahan hanya bermakna 
apabila mampu meningkatkan kualitas habitat tersebut, apapun kondisi asalnya. 

Jadi ...biarkan saja plankun kelaut... 
(Siapa tahu ada habitat kota baru di laut ...he he...)

Salam,
ATA
(celoteh kita semakin seru ya Mas Ono, semakin mengundang warna-warni yang 
menghibur, dan sesungguhnya tidak perlu ditanggapi terlalu serius...) 



2009/8/9 Sugiono Ronodihardjo <sugion...@hotmail. com>


  


[Attachment(s) from Sugiono Ronodihardjo included below] 


Rekan-2 ysh,
Menyambung diskusi 'fenamenologi' , kalau dalam dunia ke'dokter'an ada aliran 
yang dapat keahlian 'khusus' sehingga menjadi 'terkun' alias 'dokter-dukun' , 
dalam dunia ke'arsitektur' an juga ada yang dapat wangsit 'feng-shui' sehingga 
mungkin dapat menjadi 'arsikun' alias 'arsitek-dukun' , apakah dalam dunia 
ke'planner'an dengan 'semedi' mendalami yang 'keramat', maka ada yang 
bisa menjadi 'plankun' alias 'planner-dukun' ? he he he...
Terlampir ada tulisan 'Mental Feng Shui' yang saya dapat dari teman asli orang 
bule di California (dekatnya Kali Code) yang percaya dengan 'spiritualisme' , 
selamat membaca semoga bermanfaat.
Wassalam,
Onnos  
 



To: refere...@yahoogrou ps.com
From: 4ek...@gmail. com
Date: Sun, 9 Aug 2009 04:30:21 +0000
Subject: [referensi] Re: critical planning ?

  



Pak Risfan ysh, memang sebenarnya sangat menarik membahas thread ini. Secara 
tidak sadar dan 'sepakat' kita memang telah bergeser dari semula membicarakan 
'benda mati' (: ruang) kepada membicarakan 'makhluk hidup'. 'Transformasi' ini 
memang tidak bisa kita hindarkan dalam profesi, karena selama ini memang ada 
secara laten.
Saya mendapatkan banyak pencerahan ketika dulu pernah menelusuri sedikit babad 
Jawa, dan mendapatkan suatu kesan: 'pewarisan' itu dilakukan dengan 3 cara: 1 
pertalian darah, dan yang 2 adalah sangat kental budaya Jawa yaitu melalui yang 
diistilahkan Pak ATA dengan 'wahyu cakraningrat' , serta 3 adalah persekutuan. 
Kesan terkuat dari aspek pertalian darah adalah ketika pendirian Demak Bintoro: 
sewaktu Wali Songo mengamanatkan tahta kepada pemuda mentah Raden Patah. Dan 
untuk cara 2 adalah seperti yang ditunjukkan Ki Ageng Giring; dan cara 3 adalah 
ditunjukkan oleh Panembahan Senopati yang mengedepankan aspek fenomenologi. 
Mungkin itu penafsiran awal saya yang cetek ini.
Di era sekarang mungkin mengemuka cara ke-4 yaitu demokrasi, namun secara 'usia 
penerapan' tentunya masih perlu mencari acuan dan pijakan, terlebih masyarakat 
sudah steady dengan sistem-sistem lama. Di beberapa daerah perseteruan ini 
telah nyata walau dalam varian yang berbeda, seperti Perang Tjumbok di Aceh dan 
Perang Paderi di Minangkabau. Untuk Jawa, saya kira Geertz menggambarkan secara 
skeptis proses transformasi ini ke dalam 3 kelompok, dan sebenarnya tidak ada 
'konflik yang mengemuka'.
Permasalahannya memang demikian, kita menghadapi masyarakat yang gayut dengan 
berbagai alam pemikiran. Seperti drama yang kita saksikan dalam beberapa hari 
ini: pemaknaan terorisme bisa berbeda dalam sudut pandang budaya dan aliran 
keagamaan, karena banyak tabir. Namun kita bisa sepakat dengan satu hal: bila 
kekerasan tidak kita sukai. Berdiri dan berpijak di berbagai perbedaan ini 
kelihatannya membutuhkan keahlian ala pemain sirkus, apalagi kemampuan kita 
dapat mempengaruhi peri kehidupan masyarakat tersebut.
Sementara demikian dulu pak. Masih membutuhkan pencerahan. Salam.
-ekadj

--- In refere...@yahoogrou ps.com, "risfano" <risf...@...> wrote:
>
> Pak Djarot,
> Terima kasih atas penyegaran flsafat ilmunya. 
> Katakanlah kita menggunakan fenomenologi. Kita jadi memahami kejadian dan 
> apa-apa dibaliknya. Pertanyaan yang muncul, kalau temuan nya diproyeksikan ke 
> depan apakah bisa dan masih berlaku? Mengingat masyarakat setempat juga 
> berkembang terus.
> 
> Kedua, sebagai planner/arsitek mestinya kita juga memperkenalkan ide/faham 
> baru juga kan. Misal kalau kita tahu dalam komunitas tersebut ada 
> eksploitasi, penindasan atas kasta bawahan (atas nama feodalisme, klenik). 
> Kan kita harus mengintervensi juga toh. Gurauannya: Banyak alasan kramat yang 
> membuat anak kecil cuma kebagian "ceker" terus, karena alasan keramat bahwa 
> "brutu, dada" untuk ortu. "Bunga desa" untuk 'sesajen' bagi pangeran, dst. 
> Artinya karena soal kekeramatan ini tidak bisa terbuka reason nya, ada 
> peluang untuk di-abuse juga.
> 
> Seperti kata pak Onnos, diera yang kian demokratis/ partisipatif, sejauh mana 
> otoritas planner untuk menentukan desain berdasar kajian tim nya, kan 
> pemangku kepentingan saat ini belum tentu percaya kekeramatannya.
> 
> Sekali lagi, yang keramat, yang asli daerah (etnik?) itu sangat spesifik 
> dalam artian "ruang dan waktu" (term Pak ATA), seberapa jauh bisa dibawa ke 
> ruang-waktu atau khasanah "Indonesia masa kini dan ke depan". Kita mesti 
> sadar bahwa musuh kita bukan cuma neo-liberalism, tapi juga neo-feodalism 
> lokal yang cenderung eksplotatif terhadap rakyat. Apakah karena "anti 
> ekonomi" (rasio) membuat kita tutup mata: dari mana tokoh itu dapat uang shg 
> bisa pesta adat besar besar-besaran untuk pernikahan putrinya (misalnya). 
> Jangan bicara ekonomi, itu barat, beliau mulia karena mengangkat adat budaya 
> sukunya (?). 
> Kesimpulan saya Pak Djarot, sekali menyangkut publik aspeknya selalu 
> multi-dimensi, selain lokal ada nasional, ada budaya, ada struktur sosial, 
> ada aspek ekonomi.
> Budaya Indonesia itu apa? kumpulan etnik? semuanya atau selektif? sesuatu 
> yang baru? Kalau saya ikuti dialog budayawan (alm Umar Kayam, Rendra, dll) 
> kesan saya mereka cenderung melihat proses perubahan (kedepan, bukan 
> kebelakang) menuju Indonesia, dalam transisi rural ke urban. Dan, mereka 
> cenderung membela budaya rakyat, daripada klenik dan simbol-simbol kuasa 
> rekaan raja-raja. 
> Kalau gerhana, katakan gerhana Pak, jangan bilang "buta hejo" marah. Kalau 
> ngitung struktur pakai kalkulator, PC, jangan blackberry dipakai untuk ngirim 
> "ketik REG spasi KRAMAT..."
> 
> Salam,
> Risfan Munir
> 
> 
> Salam,
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> --- In refere...@yahoogrou ps.com, Djarot Purbadi dpurbadi@ wrote:
> >
> > Pak BSP, saya belum terlalu lama menikmati nikmatnya fenomenologi. Salah 
> > satunya adalah bahwa realitas yang ditangkapnya tidak lagi bersifat 
> > "fotomic" melainkan "holografic" . Jika kita mewawancara mendalam seorang 
> > tukang becak, misalnya, kita sebenarnya tahu lebih jauh yaitu tentang 
> > "dunia tukang becak". Jadi tahu sedikit bisa melongok ngicipi yang lebih 
> > jauh ! 
> > 
> > Rahasianya, untuk berfenomenologi yang berkualitas memang harus latihan. 
> > Latihan pertama, memurnikan diri, yaitu membiasakan tidak terpengaruh oleh 
> > teori-teori yang pernah kita ketahui....ini nggak murtad dari dunia ilmuwan 
> > lho, hanya melakukan skipping sebentar supaya proses memahami subyek/obyek 
> > yang kita cermati tidak dicemari teori-teori atau opini pihak lain terhadap 
> > obyek.subyek kajian kita. Latihan kedua adalah menuliskan atau 
> > mendongengkan pengalaman itu dengan runtut dan detil. Dua jurus dulu ya Pak.
> > 
> > Salam,
> > 
> > 
> > 
> > Djarot Purbadi
> > 
> > 
> > 
> > http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]
> > 
> > http://arsitekturnu santara.wordpres s.com
> > 
> > http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com
> > 
> > --- On Thu, 8/6/09, bspriyo@ bspriyo@ wrote:
> > 
> > From: bspriyo@ bspriyo@
> > Subject: RE: [referensi] Re: tempat keramat--- critical planning ?
> > To: refere...@yahoogrou ps.com
> > Date: Thursday, August 6, 2009, 12:16 PM
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> >  
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > Luar biasa mas Djarot ... 
> > saya mendapatkan pencerahan.
> > Matur nuwun
> > salam
> > bambang sp
> >
>






Party with Buddy! Bling out your Messenger with free winks emoticons. Click 
here 










Be seen with Buddy! Tag your picture and win exciting prizes!  Click here

 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke