Mas Djarot, uda Eka.

Disaster management sangat bagus. Menjadi masalah sebenarnya adalah bukan 
disitu. Jogja punya konsep itu menghadapi Merapi. Ternyata macet pada waktu 
menghadapi gempa. Padahal sama-sama disaster.

Pengalaman mas Djarot pada saat di Bantul itu sangat berarti. Kalau ingat 
detik2 kejadian paska gempa itu adalah :

Absentiisme dari pejabat pemerintah yang harus memegang tampuk kendali.

Pejabat yang seharusnya baru bisa in dalam menangani tanggap darurat (2x7 hari) 
baru pada jam 14.00 siang. Itupun dengan kondisi yang tidak penuh.
Terjadi persaingan antara institusi. Ini terpancing pada masalah politik 
(sehingga memunculkan adanya p[olemik 15 juta-30 juta dan siapa berwenang 
menangani apa.
Ternyata ABRI dalam hal ini di komando oleh Pangdam Diponegoro sudah mulai 
evakuasi pada jam 11 siang. Komando dengan pemerintah setempat terjadi jam 
14.00 siang.
Sistem management di Pemerintah Daerah khususnya di Kabupaten Bantul baru bisa 
disusun pada hari kedua.
Sistem kendali penanganan tanggap darurat di Propinsi baru berjalan maksimal 
pada hari ke 2 sore.
Reaksi cepat masyarakat luar terhadap bencana

Masyarakat luar masuk DIY justru terjadi sejak jam 12 siang dengan jalan darat. 
Istimewanya ini justru dari pihak asing. Pesawat pertama memberi bantuan 
mendarat di Solo jam 8 malam, karena bandara Adisucipto tidak bisa didarati.
Masyarakat LSM masuk Jogja pertama pada jam 8 sore dan jumlah cukup besar 
dengan jalan darat. Mereka cenderung melakukan pembantuan secara independen dan 
sporadis. Disatu sisi ini sangat bagus, tetapi disisi lain terjadi pemborosan 
energi. Hal ini misalnya dapat dilihat dari penumpukan pasien di RS PKU Bantul, 
dan kelemahan distribusi pasien. Distribusi pasien baru bisa berjalan dengan 
baik pada hari ke 3.
Kesiapan masyarakat dalam bereaksi terhadap bencana

Justru kesiapan masyarakat secara mandiri yang merupakan cerminan gotong royong 
yang mempercepat proses evakuasi. Mereka menggunakan pendekatan pkoknya 
dibantu. Sedangkan prosedur pengamanan tidak diperhitungkan. Hal ini 
menyebabkan banyaknya korban meninggal waktu evakuasi.
Seminggu setelah bencana, proses recovery secara mandiri pada masyarakat sudah 
berjalan. Kegiatan usaha skala kecil sudah muncul pada hari ke 7-8.

Ini merupakan sebagian dari log-book yang ada pada saya yang waktu itu menjadi 
sekreetaris pengendali penanganan tanggap darurat (Bakortranasda).

Bila ingin dilihat dalam distribusi bantuan. Bakortranasda bekerja sama dengan 
Pangdam mencoba dengan trial n error.

Pertama, melakukan distribusi langsung kepada orang yang datang ke posko. 
Ternyata muncul orang-orang yang pulang balik mengambil jatah seperti supermi 
dan makanan kering lainnya dan ternyata di jual kembali di pasar Bering Harjio 
dlsb. Model ini dihentikan segera pada hari ke 3.

Kedua, didistribusikan pada tingkat kecamatan. Ternyata model inipun mempunyai 
kelemahan. Yang menjadi pemain pengambil keuntungan adalah aparat kecamatan. 
Munculah lord=lord baru di kecamatan. Jangkauan tidak bisa merata. Model ini 
dihentikan pada hari ke 5.

Ketiga, kombinasi model 1 dan 2. Masyarakat dipersilahkan langsung datang ke 
posko dan juga disitribusikan ke desa2. Ternyata yang didesa-desa trejadi 
kolusi. Keluarga pejabat desalah yang mendapatkan pelayanan pertama dan 
masyarakat lainnya tidak jalan. 

Keempat, kombinasi 3 dan menggunakian masyarakat cq. radio dan tv swasta untuk 
mencari korban yang belum tertangani. Untuk itu di posko dibangun pemantu 
siaran radio dan radio komunikasi warga (CB dan ORARI), selain juga TV. 
Kemudian ada tim gerak cepat berbentuk heli, speda motor trail dan kendaraan 
4WD untuk menjangku area yang sukar. Ternyata cara ini adalah yang paling 
efektif. 

Mungkin ini sedikit pengalaman waktu penanganan gempa Jogja. Ada sebuah posisi 
yang tidak bisa di lupakan. Information center yang terbuka 24 jam untuk semua 
pihak sehingga masing2 bisa berkoordinasi.

Salam

bambang sp

 

 

 

Kirim email ke