Pak Djarot ysh,

Pak Djarot menuuliskan :

Pak BSP, menarik tentang logbook panjenengan. Dalam catatan saya, kegiatan 
masyarakat luar Bantul yang nyaris menggelombang sejak minggu pertama adalah 
terjadi nya arus pekerja bangunan menuju ke Bantul melalui berbagai sarana. 
Fenomena ini berlangsung cukup lama. Bahkan para tukang yang sedang bekerja di 
rumah saya pernah berceritera mereka meluangkan waktu hari minggu untuk 
bersama-sama rombongan tukang-tukang lain pergi ke Klaten untuk gotong-royong 
memperbaiki rumah-rumah di desa tertentu. Mereka tidak hanya urun tenaga, 
tetapi juga membawa material bangunan (bambu) dan bekal dari rumah untuk 
bekerja menolong warga desa lain. Rasanya kultur pedesaan yang sarat dengan 
belarasa dan kebersamaan menjadi salah satu faktor penting yang perlu 
diperhatikan dalam membangkitkan kehidupan masyarakat yang terpuruk akibat 
bencana

Saya mencatat bahwa kegiatan ekonomi yang pertama kali muncul setelah terhempas 
gempa di Bantul waktu itu adalah penjual premium eceran dengan beberapa botol 
itu, tetapi saya nggak sempat menelusurinya.

Tanggapan saya :

Pekerja yang datang ke Bantul sebenarnya sebuah gelombang dan di koordinasi 
oleh masyarakat. Mereka datang dari : Wonosobo, Temanggung, Wonogiri. Mereka 
secara bergotong royong dan menyewa truk2. Hal ini terjadi sampai dengan minggu 
ke 6-7. Setelah itu terjadi lagi pergerakan seperti itu namun sudah dalam 
tataran ekonomis. Hal ini setelah turunnya dana 5 juta pertama dari Pemerintah 
Pusat. 

Indahnya masa itu adalah : yang datang dengan rasa persaudaraan. Makan 
ditanggung bersama warga (sambatan), sedangkan material ternyata mereka 
menggunakan sisa yang masih bisa dipakai dan menambahi berbasis dana yang ada.

Ada sesuatu yang menarik disana. Masyarakat tersebut banyak yang merasa 
terganggu dengan para "relawan" yang mencoba membantu mereka namun dengan sisi 
pandang yang berbeda. Beberapa konflik terbatas terjadi di kecamatan2 Bambang 
Lipuro, Pundong, Bantul. Sedangkan dengan pemerintah mereka indiferent.  
Sehingga mereka lebih berkonsolidasi sendiri.

Ada yang perlu dicatat dalam masa 14 hari pertama sesudah bencana. Dengan 
jumlah lebih dari 200 ribu bangunan rusak total dan jiwa melayang lebih dari 
6.000 orang, serta jaminan pasok bantuan pertama tidak pasti, mereka cenderung 
menjadi agresif. Truk2 pengangkut bantuan yang diselenggarakan oleh NGOs maupun 
masyarakat lainnya sering dicegat ditengah jalan. 

Jadi memang kalau diamati dari sisi sosial, terjadi pembelokan yang tajam 
selama 2 bulan pertama. Minggu pertama panik dan putus asa, minggu kedua-minggu 
ke 4 agresif. Minggu ke 4 seterusnya lebih terkonsolidasi.

Demikian catatan saya

salam

bambang sp 


Kirim email ke