Mas Djarot ysh, panjenengan menuliskan :
Pak BSP, panjenengan mengingatkan saya tentang peran RADIO SONORA yang memiliki program mendadak sebagai jembatan informasi dalam keadaan blank spot dadakan. Pada waktu kisruh soal isue tsunami, orang hanya mendengar satu suara yaitu Sonora. Kami tidak jadi ikut mengungsi karena Sonora memberitakan bahwa isu tsunami itu bohong. Kiranya benar, perlunya ada pihak tertentu yang bisa menjadi tempat untuk memahami situasi real time, meskipun hanya lewat telinga. Sonora juga yang menjembatani kantong-kantong pengungsian yang terpencil dan kedinginan karena nyaris tidak tersentuh kegiatan penanganan bencana. Kebetulan saja saluran sms segera bisa ditangani, sehingga warga terpencil semacam ini bisa mengabarkan lewat sms ke Sonora dan menjadi lebih cepat tertolong. Barangkali boros enerji ya Pak, tetapi dalam situasi minggu pertama sangat penting, sebab bahan makanan nyaris kosong dan peralatan memasak juga hancur, maka pertolongan yang berasal dari pihak luar sangat diperlukan. Tanggapan saya : Benar sekali pak Djarot, memang SONORA, RECO BUNTUNG, AMIGOS dlsb adalah radio2 yang dipantau dari Mako di Kepatihan. Selain itu juga Metro TV yang paling getol. Dari berita itu kemudian dikirim via sms ke bandara Adi sucipto. Disana sudah siap 4 heli milik AD dan AU yang sudah siap dengan bantuan. Sasarannya adalah pada medan2 yang sulit. Seingat saya, Metro tv minta ijin untuk ikut di heli tersebut dan berhasil mengirim gambar dari sana. Selain itu juga di kepatihan sudah disiapkan 3 jip dan sekitar 20 sepeda motor trail. Mereka-mereka inilah yang menjadi ujung tombak pada minggu pertama setelah kejadian. Mas Djarot menuliskan : Minggu pertama memang pernah muncul pengemis dadakan, yaitu sejumlah warga dan anak-anak di beberapa tempat mengulurkan tangan kepada para pengunjung lokasi gempa, tetapi segera habis karena dilarang Bupati Bantul. Tanggapan saya : Bupati Bantul dalam menangani 14 hari bencana tersebut benar2 luar biasa. Dia benar2 bisa menjadi bapak bagi masyarakatnya. Memang yang terjadi tidak hanya mengemis, tetapi menyetop bantuan. Mas Djarot menuliskan : Tentang melesetnya bantuan, ya memang ada juga karena ulah orang yang melihat bahwa gempa adalah rejekiku. Bagaimana tidak ? Bahkan saya juga mendengar ada bantuan-bantuan yang diterima di pejabat tertentu kemudian malahan dibagikan di kalangan sendiri atau bahkan disimpan untuk kepentingan sendiri. Situasinya memang nyaris tidak terkendali. Orang melihat kesempatan dalam kesempitan, mengambil bentuan kursi roda atau tenda kedua kali nyaris tanpa ada yang mengetahui, misalnya. Tragisnya, tenda made in luar negeri yang sangat bagus itu dalam beberapa hari kemudian sudah bisa ditemukan di lor pasar Beringharjo. Tanggapan saya : Benar sekali. Saya masih ingat waktu itu jam 1 pagi pada hari ke 3 dan saya mendapatkan laporan bahwa : ada 14 truk bantuan dari Qatar yang dibelokkan dari tujuan yang semula ke kepatihan menjadi ke suatu tempat. Yang lebih gila lagi ada seseorang yang patut disegani tega mengambil barang dari Kepatihan untuk dibawa ke rumahnya dengan alasan mau dibagi2kan. Waktu itu karena saking kesalnya saya sampai mengucapkan sumpah diatas tumpukan bantuan itu (itu seperti gunung yang setinggi 4 meter penuh dengan bahan makanan, tenda, selimut dlsb), yang menyatakan bahwa siapapun orang yang mengambil bantuan itu setinggi apapun jabatannya saya sumpahi tidak akan selamat dunia akhirat. Benar2 kalau intgat kejadian itu saya trenyuh dengan nasib masyarakat kita. Dan hasil dari ucapan saya (mungkin lho) ada sekeluarga pejabat x yang sakit perut berat karena menikmati hal yang tidak boleh. Sedangkan yang lainnya yang juga mengambil, saya yakin Allah akan membuat perhitungan sendiri. Salam hormat bambang sp

