Pak Eka dan semua sahabat, terminologi kunci yang saya gunakan di dalam disertasi saya bukanlah etnografi melainkan "fenomenografi" yang maksudnya adalah menggambarkan atau menjelaskan fenomena yang kita amati secara terfokus bahkan purposif. Hal ini berbeda dengan etnografi buatan para antropolog sejak dari filsafat inquiry-nya. Fenomenolog mengamati secara terfokus dan menggambarkan segamblang - sedalam yang dia temukan, sementara antropolog mirip seperti itu tetapi fokusnya sudah jelas yaitu dari kasus ingin menemukan hal-hal yang tersembunyi dan abstrak di belakangnya, terutama dalam bingkai kultur. Fenomenolog tidak menggunakan terminologi kultur, melainkan yang lain yaitu tema, konsep dan teori (abstraksi). Sementara demikianlah.
Salam, Djarot Purbadi http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK] http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF] http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com --- On Sat, 10/24/09, ffekadj <[email protected]> wrote: From: ffekadj <[email protected]> Subject: [referensi] Rencana adalah karya Disain Grafis To: [email protected] Date: Saturday, October 24, 2009, 7:15 PM Rekan-rekan ysh. Dengan munculnya istilah Economic Geography dari Dr. Eko dan Etnografi dari Prof. ATA dan Dr. Djarot, maka dengan keseringan ini semakin familiarlah kita dengan berbagai –grafi. Secara bebas saya maknakan –grafi merupakan penyajian deskripsi (how) atau eksplanasi (why) tentang suatu informasi tertentu. –grafi berbeda dengan –logi, karena yang terakhir ini menunjukkan suatu sistem keilmuan yang terbentuk secara empiris maupun normatif. Jadi pengetahuan kebumian disebut geologi, namun bagaimana itu disajikan sebagai informasi disebut geografi, dan bagaimana bumi diukur-ukur disebut geodesi. Apa begitu?, sepertinya kita perlu kajian post-professoronal. Memang sulit untuk memaksakan klasifikasi keilmuan ala Mendel (yang menggunakan metode biologi itu). Dan dari dulu saya selalu ragu dengan istilah 'sistem informasi geografi' dan 'ekonomi geografi', bukankah seharusnya 'geografi' saja Boss? Dari pekerjaan rekan-rekan perencana, saya melihat mereka membutuhkan dan menyusun sejumlah informasi, seperti 'geografi' atau yang disebut Pak Djarot dengan istilah karakter ruang. Juga ada muatan informasi penduduk, migrasi, dan proyeksinya, atau yang diistilahkan Pak Aby dengan 'demografi'. Juga dijelaskan dengan peta-peta atau 'kartografi' . Dan supaya kelihatan impresif ditambahkan dengan 'fotografi'. Kemarin kita menambahkan perlunya 'etnografi'. Dan seharusnya kan perlu ada 'ekonografi' dan 'ekolografi' , supaya selaras? Tentunya ada yang tidak boleh walaupun belum ada undang-undangnya, yaitu 'pornografi' . Dengan demikian akan beralasan bila Rencana merupakan karya 'disain –grafi[s]'? Kalau boleh saran, karya rekan-rekan perencana saya itu yang beranjak dari multidisiplin dan multi-ilmu itu dapat dihargai sebagai 'planografi' . Terlepas apakah mereka lulusan universitas, multiversitas, atau sekedar institut. Dan Ka Bappenas pun bisa kita rangkul untuk menjadi planografer. Mudah-mudahan tidak menjadi maintream. Salam. -ekadj --- In refere...@yahoogrou ps.com, Eko B K <ekobu...@...> wrote: > > Pak Risfan, Pak Eka, dan rekan2 ysh. > > Sekedar koreksi saja Pak Risfan, Pak Syaf S3 nya Regional Planning, dan Pak > Eko Wur Regional Science, bukan Economics... Regional Science jelas bukan > Economics, bahkan Development Economics dan Economic Geography sejak dulu > dikenal sebagai lahan backwater sebelum munculnya New Economic Geography yg > dipelopori Krugman (bukan begitu Pak Nuzul?)... Krugman belajar Economics > bareng dgn Stiglitz di MIT, spesialisasinya International Trade... NEG adalah > usaha Krugman utk fusi teori2 international trade dgn economic geography... > Douglass North PhD nya juga Economics... memang ada juga yg lulusan non > Economics, yakni laureate 2002, Daniel Kahneman yg by training psikolog, tapi > dia publish banyak artikel di jurnal2 top Economics dgn pendekatan mainstream > Economics... Ostrom tdk pernah publish di jurnal Economics, dan pendekatannya > tdk mainstream, inductive... tapi nampaknya justru yg ditulis oleh Ostrom lah > yg cocok dgn definisi Economics (definisi seperti yg > dikutip Koko)... > > Seperti Pak Risfan, Pak Nuzul, sy juga melihat pemilihan menteri lebih pd > pertimbangan politis... Tapi saya tdk tahu bagaimana dgn kasus Bu Armida, > tapi dari segi kapasitas keilmuan nampaknya beliau orang yg tepat > dibandingkan pendahulunya. .. > > salam..

