Pak Eko yang saya banggakan.

Senang sekali membaca uraiannya, termasuk berkenalan dengan
teman-temannya. Mudah-mudahan seiring dengan waktu sebagai satu-satunya
orang di Indonesia yang mendalami Ekonomi Geografi dari 'sisi kanan'
dapat menularkan kepandaiannya untuk kesejahteraan bangsa Indonesia, dan
juga dunia.

Sudut pandang saya dan Koko memang berbeda dalam pemaknaan taksonomi.
Bila Koko menggunakan 'comparative method', saya menggunakan 'comparison
method'. Namun perbedaan ini akan lebih menunjukkan kekayaan diskursus.

Mengenai Derrida, saya belum baca pak; namun dari komparasi bapak
kelihatannya dia orang baik. Kemudian dari uraian bapak, kelihatannya
kita bisa masuk dalam debat kuantitatif vs kualitatif. Selain Ekonomi,
sebenarnya ilmu-ilmu Sosiologi juga kental dengan analisis kuantitatif;
dan memang Antropologi cukup steril dari metoda seperti itu. Karenanya
banyak lembaga-lembaga rating yang dikelola oleh sosiolog. Termasuk juga
Ostrom, kalau tidak salah dia dan suaminya mengembangkan standar
metropolitan untuk USA.

Debat kuantitatif vs kualitatif akan selalu terjadi. Yang satu
menggunakan simbolisasi/representasi angka, dan yang lain menggunakan
text. Kritik terbesar terhadap kuantitatif adalah: bila realita/fenomena
dapat ditunjukkan dengan sebuah model, maka selesailah segala masalah.
Voila! I-am-a-camera.

Mohon sudi membabarkan lebih lanjut pak. Salam.

-ekadj


--- In [email protected], Eko B K <ekobu...@...> wrote:
>
> Rekan2 ysh.,
>
> Uda Eka ini lama2 mirip Derrida karena senang bermain kata2...:)
>
> Tapi Uda, soal perjalanan suatu disiplin keilmuan, metodologi yg
digunakan, memang menarik... Ekonomi Geografi misalkan, yg mirip dgn
Regional Economics, Regional Science, sudah lama kurang diperhatikan
oleh Ekonom, namun cukup berkembang di lingkungan Geograf (Brian Berry,
dkk.)... sejak munculnya NEG, apalagi Krugman menang Nobel, barulah
bidang ini diperhatikan kembali, sampai2 WB mengeluarkan topik Reshaping
Economic Geography utk WDR 2009... yg juga mulai diperhatikan, selain
NEG, adalah pendekatan yg bertolak belakang, yakni Radical Geography
atau Marxian Geography, yg kalau di Anglo-American dipelopori oleh David
Harvey..
>
> Menurut saya sebetulnya ini momentum yg sangat tepat bagi Planners yg
tertarik Ekonomi atau Ekonom yg tertarik masalah keruangan di Indonesia
utk menarik perhatian publik...
>
> Kecenderungan lintas batas keilmuan di dunia juga menarik utk
dicermati... di dalam Ilmu Sosial, sudah umum terjadi antara Sosiologi,
Geografi, Anthropologi dsb... yg sulit dimasuki adalah Ilmu
Ekonomi...memang mengherankan bahwa definisi Ilmu Ekonomi direduksi
menjadi sebatas metodologi sehingga Ostrom yg tidak menggunakan
Ekonometrik dan deduktif bahkan tidak dimasukan sebagai staff pengajar
di jurusan Ekonomi Univ Indiana, tapi di Dept Political Science..tapi
ini mungkin akan berubah sehingga Dept Ekonomi dapat menerima rekan2nya
di Ilmu Sosial..
>
> Terkait dengan apa yg disampaikan Pak BSP ttg planner yg lebih
berfungsi dan bermakna di kehidupan nyata, saya pun merasakan demikian
Pak. Planner jelas memerlukan masukan dari berbagai disiplin di
lingkungan ilmu sosial di atas utk dapat memahami dunia (wilayah
perencanaan) dengan baik... masalahnya sering kali waktu utk melakukan
field work sangat terbatas, alhasil data sebagian besar lebih berupa
data statistik yg didapat dari buku Kabupaten Dalam Angka dan
sejenisnya, yg bisa saja mengakibatkan pemahaman ttg wilayah perencanaan
tidak bisa utuh, dan ujung2nya rencana nya tdk dapat diaplikasikan...
menurut hemat saya utk itu, antara lain, berbagai metodologi perlu
diadopsi oleh planner dlm rangka memahami wilayah perencanaan, apapun
istilahnya: ethnography, fenomenography, spatial statistics, dsb.
tentunya dgn biaya dan waktu observasi yg memadai...
>
> Uda Eka, saya pribadi tertarik dgn ethnography, karena kebetulan
co-pembimbing saya PhD nya geography dan ethnography, tapi karena nature
dari thesis saya mengharuskan saya menggunakan spatial statistics
sehingga saya tdk bisa memanfaatkan kesempatan tsb dgn maksimal...
semoga Pak Djarot tidak berkeberatan membagi ilmunya, termasuk ttg
fenomenography...
>
> salam dan selamat berakhir pekan...
>
>
>
>
>
>
> --- On Sat, 10/24/09, Harya Setyaka harya.sety...@... wrote:
>
> From: Harya Setyaka harya.sety...@...
> Subject: Re: [referensi] Rencana adalah karya Disain Grafis
> To: [email protected]
> Date: Saturday, October 24, 2009, 7:53 PM
>
>
>
>
>
>
> Â
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> - graf --> graphos: gambaran, berkualitas visual semantik dan simbol.
>
> - logi, logy, logie --> logos: ilmu tertulis, terucap, narasi,
tertuang dalam teks.
>
> - ika --> ics, as in Mathematics; kuantitatif eksakta.., hitung, ukur,
>
> - nomi --> nomos: hukum..
>
>
> Ada geologi, ada geografi dan ada geodetics (geodesi mungkin serapan
dari bahasa belanda), lalu ada geomatika / geomatics
>
> Lalu ada geophysics, geochemistry. .
>
> Ada ekonomi, ekologi, lalu dari ekonomi --> lahir ekonometri
(statistik sih sebenarnya)
>
> Ada fisika, ada fisiologi..
>
> Ada biology.. Ada pula biomedics
>
> Ada anthropology, ada pula anthropometri ..
>
> Astronomi, astrology, astrophysics ..
>
> Mathematics, physics, mechanics, dynamics..
> Chemistry, sebenarnya fisika yg sampai ke struktur atom..
>
> Hidrologi, hidraulika.. Mekanika fluida..
>
> Linguistics? Dari akhirannya, sifat ilmu nya dekat dengan ilmu alam yg
exact..
>
> Banyak pula percabangan, atau anak ilmu:
> Aritmatika, trigonometri, geometri, calculus..
>
> Lalu perkembangab berikutnya adalah ilmu2 hibrida..
> Yg antara lain ekonomi geography..
>
> Salam,
> -K-
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> Pedal Powered BikeBerry
> From: Djarot Purbadi dpurb...@yahoo. com>
> Date: Sat, 24 Oct 2009 08:03:11 -0700 (PDT)To: refere...@yahoogrou
ps.com>Subject: Re: [referensi] Rencana adalah karya Disain Grafis
>
> Â
>
>
> Pak Eka dan semua sahabat, terminologi kunci yang saya gunakan di
dalam disertasi saya bukanlah etnografi melainkan "fenomenografi" yang
maksudnya adalah menggambarkan atau menjelaskan fenomena yang kita amati
secara terfokus bahkan purposif. Hal ini berbeda dengan etnografi buatan
para antropolog sejak dari filsafat inquiry-nya. Fenomenolog mengamati
secara terfokus dan menggambarkan segamblang - sedalam yang dia temukan,
sementara antropolog mirip seperti itu tetapi fokusnya sudah jelas yaitu
dari kasus ingin menemukan hal-hal yang tersembunyi dan abstrak di
belakangnya, terutama dalam bingkai kultur. Fenomenolog tidak
menggunakan terminologi kultur, melainkan yang lain yaitu tema, konsep
dan teori (abstraksi). Sementara demikianlah.
>
> Salam,
>
>
>
> Djarot Purbadi
>
>
>
> http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]
>
> http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF]
>
> http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com
>
> --- On Sat, 10/24/09, ffekadj 4ek...@gmail. com> wrote:
>
> From: ffekadj 4ek...@gmail. com>
> Subject: [referensi] Rencana adalah karya Disain Grafis
> To: refere...@yahoogrou ps.com
> Date: Saturday, October 24, 2009, 7:15 PM
>
>
>
>
>
>
> Â
>
>
> Rekan-rekan ysh.
> Dengan munculnya istilah Economic Geography dari Dr. Eko dan Etnografi
dari Prof. ATA dan Dr. Djarot, maka dengan keseringan ini semakin
familiarlah kita dengan berbagai â€"grafi. Secara bebas saya
maknakan â€"grafi merupakan penyajian deskripsi (how) atau
eksplanasi (why) tentang suatu informasi tertentu. â€"grafi berbeda
dengan â€"logi, karena yang terakhir ini menunjukkan suatu sistem
keilmuan yang terbentuk secara empiris maupun normatif. Jadi pengetahuan
kebumian disebut geologi, namun bagaimana itu disajikan sebagai
informasi disebut geografi, dan bagaimana bumi diukur-ukur disebut
> geodesi. Apa begitu?, sepertinya kita perlu kajian post-professoronal.
Memang sulit untuk memaksakan klasifikasi keilmuan ala Mendel (yang
menggunakan metode biologi itu). Dan dari dulu saya selalu ragu dengan
istilah 'sistem informasi geografi' dan 'ekonomi geografi', bukankah
seharusnya 'geografi' saja Boss?
> Â
> Dari pekerjaan rekan-rekan perencana, saya melihat mereka membutuhkan
dan menyusun sejumlah informasi, seperti 'geografi' atau yang disebut
Pak Djarot dengan istilah karakter ruang. Juga ada muatan informasi
penduduk, migrasi, dan proyeksinya, atau yang diistilahkan Pak Aby
dengan 'demografi'. Juga dijelaskan dengan peta-peta atau 'kartografi' .
Dan supaya kelihatan impresif ditambahkan dengan 'fotografi'. Kemarin
kita menambahkan perlunya 'etnografi'. Dan seharusnya kan perlu ada
'ekonografi' dan 'ekolografi' , supaya selaras? Tentunya ada yang tidak
boleh walaupun belum ada undang-undangnya, yaitu 'pornografi' . Dengan
demikian akan beralasan bila Rencana merupakan karya 'disain
â€"grafi[s]'? Kalau boleh saran, karya rekan-rekan perencana saya
itu yang beranjak dari multidisiplin dan multi-ilmu itu dapat dihargai
sebagai 'planografi' . Terlepas apakah mereka lulusan
> universitas, multiversitas, atau sekedar institut. Dan Ka Bappenas pun
bisa kita rangkul untuk menjadi planografer.
> Â
> Mudah-mudahan tidak menjadi maintream. Salam.
> Â
> -ekadj
> Â
> --- In refere...@yahoogrou ps.com, Eko B K ekobudik@ wrote:
> >
> > Pak Risfan, Pak Eka, dan rekan2 ysh.
> >
> > Sekedar koreksi saja Pak Risfan, Pak Syaf S3 nya Regional Planning,
dan Pak Eko Wur Regional Science, bukan Economics... Regional Science
jelas bukan Economics, bahkan Development Economics dan Economic
Geography sejak dulu dikenal sebagai lahan backwater sebelum munculnya
New Economic Geography yg dipelopori Krugman (bukan begitu Pak
Nuzul?)... Krugman belajar Economics bareng dgn Stiglitz di MIT,
spesialisasinya International Trade... NEG adalah usaha Krugman utk fusi
teori2 international trade dgn economic geography... Douglass North PhD
nya juga Economics... memang ada juga yg lulusan non Economics, yakni
laureate 2002, Daniel Kahneman yg by training psikolog, tapi dia publish
banyak artikel di jurnal2 top Economics dgn pendekatan mainstream
Economics... Ostrom tdk pernah publish di jurnal Economics, dan
> pendekatannya tdk mainstream, inductive... tapi nampaknya justru yg
ditulis oleh Ostrom lah yg cocok dgn definisi Economics (definisi
seperti yg
> > dikutip Koko)...
> >
> > Seperti Pak Risfan, Pak Nuzul, sy juga melihat pemilihan menteri
lebih pd pertimbangan politis... Tapi saya tdk tahu bagaimana dgn kasus
Bu Armida, tapi dari segi kapasitas keilmuan nampaknya beliau orang yg
tepat dibandingkan pendahulunya. ..
> >
> > salam..
>



Kirim email ke