Rekan2 ysh.,

Uda Eka ini lama2 mirip Derrida karena senang bermain kata2...:)

Tapi Uda, soal perjalanan suatu disiplin keilmuan, metodologi yg digunakan, 
memang menarik... Ekonomi Geografi misalkan, yg mirip dgn Regional Economics, 
Regional Science, sudah lama kurang diperhatikan oleh Ekonom, namun cukup 
berkembang di lingkungan Geograf (Brian Berry, dkk.)... sejak munculnya NEG, 
apalagi Krugman menang Nobel, barulah bidang ini diperhatikan kembali, sampai2 
WB mengeluarkan topik Reshaping Economic Geography utk WDR 2009... yg juga 
mulai diperhatikan, selain NEG, adalah pendekatan yg bertolak belakang, yakni 
Radical Geography atau Marxian Geography, yg kalau di Anglo-American dipelopori 
oleh David Harvey..

Menurut saya sebetulnya ini momentum yg sangat tepat bagi Planners yg tertarik 
Ekonomi atau Ekonom yg tertarik masalah keruangan di Indonesia utk menarik 
perhatian publik...

Kecenderungan lintas batas keilmuan di dunia juga menarik utk dicermati... di 
dalam Ilmu Sosial, sudah umum terjadi antara Sosiologi, Geografi, Anthropologi 
dsb... yg sulit dimasuki adalah Ilmu Ekonomi...memang mengherankan bahwa 
definisi Ilmu Ekonomi direduksi menjadi sebatas metodologi sehingga Ostrom yg 
tidak menggunakan Ekonometrik dan deduktif bahkan tidak dimasukan sebagai staff 
pengajar di jurusan Ekonomi Univ Indiana, tapi di Dept Political Science..tapi 
ini mungkin akan berubah sehingga Dept Ekonomi dapat menerima rekan2nya di Ilmu 
Sosial.. 

Terkait dengan apa yg disampaikan Pak BSP ttg planner yg lebih berfungsi dan 
bermakna di kehidupan nyata, saya pun merasakan demikian Pak. Planner jelas 
memerlukan masukan dari berbagai disiplin di lingkungan ilmu sosial di atas utk 
dapat memahami dunia (wilayah perencanaan) dengan baik... masalahnya sering 
kali waktu utk melakukan field work sangat terbatas, alhasil data sebagian 
besar lebih berupa data statistik yg didapat dari buku Kabupaten Dalam Angka 
dan sejenisnya, yg bisa saja mengakibatkan pemahaman ttg wilayah perencanaan 
tidak bisa utuh, dan ujung2nya rencana nya tdk dapat diaplikasikan... menurut 
hemat saya utk itu, antara lain, berbagai metodologi perlu diadopsi oleh 
planner dlm rangka memahami wilayah perencanaan, apapun istilahnya: 
ethnography, fenomenography, spatial statistics, dsb. tentunya dgn biaya dan 
waktu observasi yg memadai...

Uda Eka, saya pribadi tertarik dgn ethnography, karena kebetulan co-pembimbing 
saya PhD nya geography dan ethnography, tapi karena nature dari thesis saya 
mengharuskan saya menggunakan spatial statistics sehingga saya tdk bisa 
memanfaatkan kesempatan tsb dgn maksimal... semoga Pak Djarot tidak 
berkeberatan membagi ilmunya, termasuk ttg fenomenography...

salam dan selamat berakhir pekan...






--- On Sat, 10/24/09, Harya Setyaka <[email protected]> wrote:

From: Harya Setyaka <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Rencana adalah karya Disain Grafis
To: [email protected]
Date: Saturday, October 24, 2009, 7:53 PM






 




    
                  











- graf --> graphos: gambaran, berkualitas visual semantik dan simbol.

- logi, logy, logie --> logos: ilmu tertulis, terucap, narasi, tertuang dalam 
teks.

- ika --> ics, as in Mathematics; kuantitatif eksakta.., hitung, ukur, 

- nomi --> nomos: hukum..


Ada geologi, ada geografi dan ada geodetics (geodesi mungkin serapan dari 
bahasa belanda), lalu ada geomatika / geomatics

Lalu ada geophysics, geochemistry. .

Ada ekonomi, ekologi, lalu dari ekonomi --> lahir ekonometri (statistik sih 
sebenarnya)

Ada fisika, ada fisiologi.. 

Ada biology.. Ada pula biomedics 

Ada anthropology, ada pula anthropometri .. 

Astronomi, astrology, astrophysics ..

Mathematics, physics, mechanics, dynamics..
Chemistry, sebenarnya fisika yg sampai ke struktur atom..

Hidrologi, hidraulika.. Mekanika fluida..

Linguistics? Dari akhirannya, sifat ilmu nya dekat dengan ilmu alam yg exact..

Banyak pula percabangan, atau anak ilmu:
Aritmatika, trigonometri, geometri, calculus..

Lalu perkembangab berikutnya adalah ilmu2 hibrida..
Yg antara lain ekonomi geography..

Salam, 
-K-


  




 



Pedal Powered BikeBerry
From:  Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com>
Date: Sat, 24 Oct 2009 08:03:11 -0700 (PDT)To: <refere...@yahoogrou 
ps.com>Subject: Re: [referensi] Rencana adalah karya Disain Grafis

 

    
                  Pak Eka dan semua sahabat, terminologi kunci yang saya 
gunakan di dalam disertasi saya bukanlah etnografi melainkan "fenomenografi" 
yang maksudnya adalah menggambarkan atau menjelaskan fenomena yang kita amati 
secara terfokus bahkan purposif. Hal ini berbeda dengan etnografi buatan para 
antropolog sejak dari filsafat inquiry-nya. Fenomenolog mengamati secara 
terfokus dan menggambarkan segamblang - sedalam yang dia temukan, sementara 
antropolog mirip seperti itu tetapi fokusnya sudah jelas yaitu dari kasus ingin 
menemukan hal-hal yang tersembunyi dan abstrak di belakangnya, terutama dalam 
bingkai kultur. Fenomenolog tidak menggunakan terminologi kultur, melainkan 
yang lain yaitu tema, konsep dan teori (abstraksi). Sementara demikianlah.

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]

http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF]

http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

--- On Sat, 10/24/09, ffekadj <4ek...@gmail. com> wrote:

From: ffekadj <4ek...@gmail. com>
Subject: [referensi] Rencana adalah karya Disain Grafis
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Saturday, October 24, 2009, 7:15 PM






 

    
                  Rekan-rekan ysh. 
Dengan munculnya istilah Economic Geography dari Dr. Eko dan Etnografi dari 
Prof. ATA dan Dr. Djarot, maka dengan keseringan ini semakin familiarlah kita 
dengan berbagai –grafi. Secara bebas saya maknakan –grafi merupakan penyajian 
deskripsi (how) atau eksplanasi (why) tentang suatu informasi tertentu. –grafi 
berbeda dengan –logi, karena yang terakhir ini menunjukkan suatu sistem 
keilmuan yang terbentuk secara empiris maupun normatif. Jadi pengetahuan 
kebumian disebut geologi, namun bagaimana itu disajikan sebagai informasi 
disebut geografi, dan bagaimana bumi diukur-ukur disebut
 geodesi. Apa begitu?, sepertinya kita perlu kajian post-professoronal. Memang 
sulit untuk memaksakan klasifikasi keilmuan ala Mendel (yang menggunakan metode 
biologi itu). Dan dari dulu saya selalu ragu dengan istilah 'sistem informasi 
geografi' dan 'ekonomi geografi', bukankah seharusnya 'geografi' saja Boss? 
  
Dari pekerjaan rekan-rekan perencana, saya melihat mereka membutuhkan dan 
menyusun sejumlah informasi, seperti 'geografi' atau yang disebut Pak Djarot 
dengan istilah karakter ruang. Juga ada muatan informasi penduduk, migrasi, dan 
proyeksinya, atau yang diistilahkan Pak Aby dengan 'demografi'. Juga dijelaskan 
dengan peta-peta atau 'kartografi' . Dan supaya kelihatan impresif ditambahkan 
dengan 'fotografi'. Kemarin kita menambahkan perlunya 'etnografi'. Dan 
seharusnya kan perlu ada 'ekonografi' dan 'ekolografi' , supaya selaras? 
Tentunya ada yang tidak boleh walaupun belum ada undang-undangnya, yaitu 
'pornografi' . Dengan demikian akan beralasan bila Rencana merupakan karya 
'disain –grafi[s]'? Kalau boleh saran, karya rekan-rekan perencana saya itu 
yang beranjak dari multidisiplin dan multi-ilmu itu dapat dihargai sebagai 
'planografi' . Terlepas apakah mereka lulusan
 universitas, multiversitas, atau sekedar institut. Dan Ka Bappenas pun bisa 
kita rangkul untuk menjadi planografer. 
  
Mudah-mudahan tidak menjadi maintream. Salam. 
  
-ekadj 
 
--- In refere...@yahoogrou ps.com, Eko B K <ekobu...@...> wrote:
>
> Pak Risfan, Pak Eka, dan rekan2 ysh.
> 
> Sekedar koreksi saja Pak Risfan, Pak Syaf S3 nya Regional Planning, dan Pak 
> Eko Wur Regional Science, bukan Economics... Regional Science jelas bukan 
> Economics, bahkan Development Economics dan Economic Geography sejak dulu 
> dikenal sebagai lahan backwater sebelum munculnya New Economic Geography yg 
> dipelopori Krugman (bukan begitu Pak Nuzul?)... Krugman belajar Economics 
> bareng dgn Stiglitz di MIT, spesialisasinya International Trade... NEG adalah 
> usaha Krugman utk fusi teori2 international trade dgn economic geography... 
> Douglass North PhD nya juga Economics... memang ada juga yg lulusan non 
> Economics, yakni laureate 2002, Daniel Kahneman yg by training psikolog, tapi 
> dia publish banyak artikel di jurnal2 top Economics dgn pendekatan mainstream 
> Economics... Ostrom tdk pernah publish di jurnal Economics, dan
 pendekatannya tdk mainstream, inductive... tapi nampaknya justru yg ditulis 
oleh Ostrom lah yg cocok dgn definisi Economics (definisi seperti yg
> dikutip Koko)...
> 
> Seperti Pak Risfan, Pak Nuzul, sy juga melihat pemilihan menteri lebih pd 
> pertimbangan politis... Tapi saya tdk tahu bagaimana dgn kasus Bu Armida, 
> tapi dari segi kapasitas keilmuan nampaknya beliau orang yg tepat 
> dibandingkan pendahulunya. ..
> 
> salam..


 

      


         
        
        


      
 

      

    
        
        
        



 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke