Rekan-rekan ysh.

Dengan munculnya istilah Economic Geography dari Dr. Eko dan Etnografi
dari Prof. ATA dan Dr. Djarot, maka dengan keseringan ini semakin
familiarlah kita dengan berbagai –grafi. Secara bebas saya maknakan
–grafi merupakan penyajian deskripsi (how) atau eksplanasi (why)
tentang suatu informasi tertentu. –grafi berbeda dengan –logi,
karena yang terakhir ini menunjukkan suatu sistem keilmuan yang
terbentuk secara empiris maupun normatif. Jadi pengetahuan kebumian
disebut geologi, namun bagaimana itu disajikan sebagai informasi disebut
geografi, dan bagaimana bumi diukur-ukur disebut geodesi. Apa begitu?,
sepertinya kita perlu kajian post-professoronal. Memang sulit untuk
memaksakan klasifikasi keilmuan ala Mendel (yang menggunakan metode
biologi itu). Dan dari dulu saya selalu ragu dengan istilah 'sistem
informasi geografi' dan 'ekonomi geografi', bukankah
seharusnya 'geografi' saja Boss?



Dari pekerjaan rekan-rekan perencana, saya melihat mereka membutuhkan
dan menyusun sejumlah informasi, seperti 'geografi' atau yang
disebut Pak Djarot dengan istilah karakter ruang. Juga ada muatan
informasi penduduk, migrasi, dan proyeksinya, atau yang diistilahkan Pak
Aby dengan 'demografi'. Juga dijelaskan dengan peta-peta atau
'kartografi'. Dan supaya kelihatan impresif ditambahkan dengan
'fotografi'. Kemarin kita menambahkan perlunya
'etnografi'. Dan seharusnya kan perlu ada 'ekonografi'
dan 'ekolografi', supaya selaras? Tentunya ada yang tidak boleh
walaupun belum ada undang-undangnya, yaitu 'pornografi'. Dengan
demikian akan beralasan bila Rencana merupakan karya 'disain
–grafi[s]'? Kalau boleh saran, karya rekan-rekan perencana saya
itu yang beranjak dari multidisiplin dan multi-ilmu itu dapat dihargai
sebagai 'planografi'. Terlepas apakah mereka lulusan
universitas, multiversitas, atau sekedar institut. Dan Ka Bappenas pun
bisa kita rangkul untuk menjadi planografer.



Mudah-mudahan tidak menjadi maintream. Salam.



-ekadj



--- In [email protected], Eko B K <ekobu...@...> wrote:
>
> Pak Risfan, Pak Eka, dan rekan2 ysh.
>
> Sekedar koreksi saja Pak Risfan, Pak Syaf S3 nya Regional Planning,
dan Pak Eko Wur Regional Science, bukan Economics... Regional Science
jelas bukan Economics, bahkan Development Economics dan Economic
Geography sejak dulu dikenal sebagai lahan backwater sebelum munculnya
New Economic Geography yg dipelopori Krugman (bukan begitu Pak
Nuzul?)... Krugman belajar Economics bareng dgn Stiglitz di MIT,
spesialisasinya International Trade... NEG adalah usaha Krugman utk fusi
teori2 international trade dgn economic geography... Douglass North PhD
nya juga Economics... memang ada juga yg lulusan non Economics, yakni
laureate 2002, Daniel Kahneman yg by training psikolog, tapi dia publish
banyak artikel di jurnal2 top Economics dgn pendekatan mainstream
Economics... Ostrom tdk pernah publish di jurnal Economics, dan
pendekatannya tdk mainstream, inductive...tapi nampaknya justru yg
ditulis oleh Ostrom lah yg cocok dgn definisi Economics (definisi
seperti yg
> dikutip Koko)...
>
> Seperti Pak Risfan, Pak Nuzul, sy juga melihat pemilihan menteri lebih
pd pertimbangan politis... Tapi saya tdk tahu bagaimana dgn kasus Bu
Armida, tapi dari segi kapasitas keilmuan nampaknya beliau orang yg
tepat dibandingkan pendahulunya...
>
> salam..


Kirim email ke