Yth Pak Mod, cucuku Panpan, teman-teman,
Bertepatan ingin kopi darat, gigi sakit sehingga batal ikut, harap
dimaafkan.
Membuka tahun baru 2010, sangat penting menyadari apa yang
sebenarnya tengah terjadi, di arena politik-perekonomian dan politik-sosial
kemasyarakatan. Tidak kurang, suatu suasana revolusioner!
Jalannya dibuka terutama oleh berbagai tindakan dan alam
pikiran Gus Dur semasa menjabat Presiden RI. Saat itu saya sadur bebas saja ke
dalam “Abdunnomics”, yang lengkapnya dapat dibaca di Files milis ini.
Pada tahun 2000 itu kiprah Gus Dur membangkitkan kembali berbagai harapan dan
semangat pada suatu bangsa yang baru saja sadar betapa terpuruk martabatnya.
Harapan-harapan itu jika disarikan akan berbentuk berbagai perubahan drastis
aturan main, antara lain pada 15 subjek berikut:
………………………………………………………………………………
Langkah-langkah Jangka Pendek dan Menengah
“Abdunnomics”, Jakarta 5 Agustus 2000
1. Pejabat Negara (MPR, Eksekutip, DPR, MA): didukung dengan kecukupan yang
pantas bagi datuk-datuk negara dan bangsa yang nomor empat besarnya di dunia,
melalui budget negara yang transparan. Menggunakan pengaruh untuk menambah
harta adalah Pengkhianatan.
2. Pegawai Negeri, Polisi, TNI, Guru, Dokter, Perawat: digaji cukup dari
uang rakyat dengan tersisa kemampuan menabung untuk hari tua. Menggunakan
jabatan untuk menambah harta adalah Kejahatan.
3. Harta Negara: bertiang utama iuran sukarela, terutama pajak, seluruh
rakyat.
4. Pemberantasan Pengangguran: dihapuskan semua peraturan merkantilistik
yang memberi monopoli, subsidi, lisensi, pembebasan pajak, hutang segala rupa
kepada golongan istimewa. Pembukaan lapangan kerja baru dipertegas ada pada
kreativitas budaya, seni, dan semangat pantang menyerah setiap manusia
Nusantara seperti dicontohkan petani, nelayan, buruh, pedagang kecil.
5. Koperasi: kembali ke prinsip-prinsip Rochdale yaitu perkumpulan sukarela
orang yang setingkat sosial-ekonominya, sama tujuan karena sama kegiatan; satu
orang satu suara, pengurus dipilih demokratis tanpa ‘pembina’; manajer
profesional lulusan Bandung. Departemen Koperasi dibubarkan. Koperasi pegawai
negeri, angkatan, karyawan, dan lain-lain kelompok hirarkis, bubar dengan
sendirinya (beberapa beralih status menjadi Peguyuban Alumni, arisan
kangen-kangenan).
6. AFTA 2002 dan WTO 2010: disambut gembira antara lain oleh perahu pinisi
Bugis dan mayang Madura yang dilengkapi komputer dan alat komunikasi tercanggih
pemantau pasar serta penghubung kapal ALRI pesawat AURI yang setia mengawal
mengamankan. Perdagangan rakyat menggunakan Internet, teknologi yang sangat
cocok untuk ciri atomistiknya [Abdunnomics dan Marhaenisme: klop saja].
7. ‘Saudagar Melayu’ dan ‘Nakhoda Melayu’ dibuat kembali menjadi sebutan
terhormat dari Jedah sampai Koromandel, dari Madagaskar sampai Negeri Cina.
Orang tahunya Indonesia itu dihuni Bangsa Pelaut yang gagah-gagah dan
gadis-gadis sangat cantik.
8. Gubernur, Walikota, Bupati terpilih: berunding dengan pedagang kaki lima,
tukang becak, tukang ojek, supir metro-mini; bagaimana memobilisasi modal,
membangun bersama, memiliki bersama, Pasar dan Terminal yang layak bagi Bangsa
Besar Indonesia yang menjadi obyek kunjungan kesayangan turis mancanegara.
9. Gubernur, Walikota, Bupati terpilih: mengerti kekayaan alam di perut bumi
saja tak berguna tanpa keahlian, modal kerja, dan pasar. Pendidikan
setinggi-tingginya dan fasilitas kesehatan rakyat selengkap-lengkapnya, serta
tata mobilisasi modal penduduk (termasuk harga tanahnya), diberi anggaran
terbesar.
10. Nilai Dolar dan IHSG: ditertawakan saja selama Bursa masih sekelas arena
main dadu. Namun Pemerintah berusaha sungguh meningkatkan BAPEPAM jadi
sekwalitas NYSC; administrasi para pengusaha bonafid dibantu sepenuhnya.
11. Investor Asing: dibuat tak berkutik karena terlaksananya prinsip ‘Rakyat
adalah Investor’ sehingga nilai tambah perputaran Modal selalu kembali ke
masyarakat dalam negeri. Modal Asing mengemis-ngemis menjanjikan apa saja asal
dibolehkan ikut mencicipi kegiatan ekonomi di wilayah terkaya ini. Departemen
Investasi, BUMN, BKPM, hapus, diganti layanan administrasi biasa oleh
Departemen Perdagangan dan Industri.
12. Semua Departemen: semata-mata badan administrasi dan asistensi teknis,
bukan petugas penjarah sektornya atas nama ‘negara’ karena Presiden dan Wakil
Presiden bukan pemungut upeti bawahannya. Kabinet itu penempa Kebijaksanaan,
bersama Komisi-komisi DPR.
13. Pembagian Tugas Komisi DPR: direformasi menurut tahapan proses menegakkan
kedaulatan rakyat (visi, misi, strategi, implementasi, evaluasi dst.), bukan
menurut bidang kerja Kabinet. Tak peduli bagaimana eksekutif --- yang hanya
Pelaksana itu --- membagi departemennya, setiap Komisi memanggil Menteri mana
saja, sebagaimana DPR memanggil Presiden.
14. Ekspor: siapa sebenarnya yang lebih butuh hasil alam Nusantara ini? Eropah
itu menangis kalau sehari saja tidak kita kirimi rempah-rempah. Maka satu kilo
panili cukup untuk belanja setahun anak kita bersekolah di Universitas Jerman.
Tentang ‘industri tukang jahit’ (Kwik Kian Gie) Menko kita itu tahu persis ke
mana harus menendangnya.
15. Industri teknologi tinggi: bangkit wajar bertopangkan pemuda-pemuda pintar
Indonesia berpikiran bebas. Bangsa Nusantara membangkitkan kembali sistem
perekonomian bebasnya yang telah mendarah mendaging sebelum datangnya penjajah
macam-macam dari luar maupun dalam negeri, penjajah fisik maupun penjajah
pikiran.
………………………………………………………
Setelah 10 tahun, Pak Mod, di mana kita sekarang? Berapa pencapaian pada setiap
subjek penting itu; atau malahan ada subjek yang sudah tak penting lagi atau
perlu revisi total? Adakah sintesa baru antara program neolib dengan program
ekstrim kiri, atau selalu harus bersuasana tarik-ulur?
Apa Kata Dunia (penataan ruang)?
Wassalam,
Risman Maris
On Jan 14, 2010, at 8:22 PM, ffekadj wrote:
>
> Referensiers, tadi sore dapat kunjungan dari salah seorang guru besar kita,
> Prof.Dr. Risman Maris, mudah-mudahan besok bisa ikutan. Seperti biasa kita
> ada door-prize buku, mudah-mudahan masih ada 1 buku Dr. Hengky Abiyoso "Who
> are Planners", dan saya mengikhlaskan 1 kopi buku Michael Foucault
> "Discipline and Punish" walau sedikit lusuh tapi masih baguslah. Salam.
>
> -ekadj
>
>
> --- In [email protected], abdul alim salam <abdulal...@...> wrote:
> >
> > Insya Allah saya bisa ikut. Dimana tempatnya ya?
> > Â
> > AAS
> >
> > Saya dapat informasi tempat yang bagus dan memenuhi kriteria kita: ada
> > tempat sholat dan bisa nonton, malah ada ++nya yaitu pijat gratis.
> > Tempatnya di Caffe La Tazza, Lantai 2 Electronic City SCBD (Sudirman
> > Central Business District) Jaksel. Untuk nonton malah juga gratis dan
> > bisa pilih sembarang film yang disediakan, melebihi Megaplex. Tadi sudah
> > saya cek, dan lumayanlah.
>
>
>