Pak Risman ysh, sayang sekali kemarin tidak sempat hadir. Padahal saya ingin mengembangkan diskusi tentang satu istilah yang bapak lemparkan Kamis sore itu, yaitu 'back office'. Ketika rekan-rekan mendiskusikan beberapa program seperti jejaring dan annual book itu, saya sudah merasakan kalau milis dan komunitas Referensi ini sudah diperlakukan sebagai 'a back office'. Saya ingin tanggapi tiga hal dari wejangan bapak sbb.
Mengenai 'suasana revolusioner' pada kondisi saat ini, saya kira baru 'sense' saja pak. Namun memang ada hal yang baru dalam kondisi perpolitikan yaitu 'tindakan terkonstruksi' sekarang sudah dihadapi juga dengan 'tindakan terkonstruksi' lainnya. Jadi konstruksi vs konstruksi. Sangat rentan berlangsung pada fenomena hukum; namun sebenarnya juga rawan akan menjalar pada berbagai kegiatan yang mengandalkan 'konstruksi' lainnya, terutama legal drafting, planning, designing, dst. Malah yang dikhawatirkan utilizing dan controlling juga terbangun dan berjalan secara konstruktif juga. Jadi hal ini menjadi perhatian bagi kita, agar hati-hati bermain konstruksi, selain akan ada reaksi anti-konstruksi juga kemungkinan akan dilawan dengan 'tindakan konstruksi' lainnya. Demikian kira-kira kata Dunia. Kedua mengenai evaluasi 10 tahun terakhir dan pemrograman jangka paling pendek (2010). Harus diakui kita hanya bergerak di tataran kebijakan saja, dan belum menstimulus sektor riil. Dengan kata lain ini sebenarnya merupakan pukulan (bukan lagi tantangan) bagi dua pemegang 'menara kebenaran' (menurut persepsi Harya <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/10726> ): menara emas dan menara gading. Bila Pak Risman menawarkan titik 2010 sebagai titik perubahan, maka sudah saatnya tidak bergenit-ria, dan sungguh berat beban itu ditanggung oleh generasi sekarang ini. Ketiga, dari 15 subyek yang bapak tawarkan, terus terang saya hanya mampu menangkap point nomor 5, yaitu sesuatu yang bapak lambangkan sebagai 'koperasi'. Sungguh betul, begitulah keadaannya sekarang ini pak. Sementara demikian dulu pak. Salam. -ekadj --- In [email protected], R Maris <par...@...> wrote: > > Yth Pak Mod, cucuku Panpan, teman-teman, > Bertepatan ingin kopi darat, gigi sakit sehingga batal ikut, harap dimaafkan. > Membuka tahun baru 2010, sangat penting menyadari apa yang sebenarnya tengah terjadi, di arena politik-perekonomian dan politik-sosial kemasyarakatan. Tidak kurang, suatu suasana revolusioner! > Jalannya dibuka terutama oleh berbagai tindakan dan alam pikiran Gus Dur semasa menjabat Presiden RI. Saat itu saya sadur bebas saja ke dalam "Abdunnomics", yang lengkapnya dapat dibaca di Files milis ini. > Pada tahun 2000 itu kiprah Gus Dur membangkitkan kembali berbagai harapan dan semangat pada suatu bangsa yang baru saja sadar betapa terpuruk martabatnya. Harapan-harapan itu jika disarikan akan berbentuk berbagai perubahan drastis aturan main, antara lain pada 15 subjek berikut: > > Langkah-langkah Jangka Pendek dan Menengah > > "Abdunnomics", Jakarta 5 Agustus 2000 > > 1. Pejabat Negara (MPR, Eksekutip, DPR, MA): didukung dengan kecukupan yang pantas bagi datuk-datuk negara dan bangsa yang nomor empat besarnya di dunia, melalui budget negara yang transparan. Menggunakan pengaruh untuk menambah harta adalah Pengkhianatan. > 2. Pegawai Negeri, Polisi, TNI, Guru, Dokter, Perawat: digaji cukup dari uang rakyat dengan tersisa kemampuan menabung untuk hari tua. Menggunakan jabatan untuk menambah harta adalah Kejahatan. > 3. Harta Negara: bertiang utama iuran sukarela, terutama pajak, seluruh rakyat. > 4. Pemberantasan Pengangguran: dihapuskan semua peraturan merkantilistik yang memberi monopoli, subsidi, lisensi, pembebasan pajak, hutang segala rupa kepada golongan istimewa. Pembukaan lapangan kerja baru dipertegas ada pada kreativitas budaya, seni, dan semangat pantang menyerah setiap manusia Nusantara seperti dicontohkan petani, nelayan, buruh, pedagang kecil. > 5. Koperasi: kembali ke prinsip-prinsip Rochdale yaitu perkumpulan sukarela orang yang setingkat sosial-ekonominya, sama tujuan karena sama kegiatan; satu orang satu suara, pengurus dipilih demokratis tanpa `pembina'; manajer profesional lulusan Bandung. Departemen Koperasi dibubarkan. Koperasi pegawai negeri, angkatan, karyawan, dan lain-lain kelompok hirarkis, bubar dengan sendirinya (beberapa beralih status menjadi Peguyuban Alumni, arisan kangen-kangenan). > 6. AFTA 2002 dan WTO 2010: disambut gembira antara lain oleh perahu pinisi Bugis dan mayang Madura yang dilengkapi komputer dan alat komunikasi tercanggih pemantau pasar serta penghubung kapal ALRI pesawat AURI yang setia mengawal mengamankan. Perdagangan rakyat menggunakan Internet, teknologi yang sangat cocok untuk ciri atomistiknya [Abdunnomics dan Marhaenisme: klop saja]. > 7. `Saudagar Melayu' dan `Nakhoda Melayu' dibuat kembali menjadi sebutan terhormat dari Jedah sampai Koromandel, dari Madagaskar sampai Negeri Cina. Orang tahunya Indonesia itu dihuni Bangsa Pelaut yang gagah-gagah dan gadis-gadis sangat cantik. > 8. Gubernur, Walikota, Bupati terpilih: berunding dengan pedagang kaki lima, tukang becak, tukang ojek, supir metro-mini; bagaimana memobilisasi modal, membangun bersama, memiliki bersama, Pasar dan Terminal yang layak bagi Bangsa Besar Indonesia yang menjadi obyek kunjungan kesayangan turis mancanegara. > 9. Gubernur, Walikota, Bupati terpilih: mengerti kekayaan alam di perut bumi saja tak berguna tanpa keahlian, modal kerja, dan pasar. Pendidikan setinggi-tingginya dan fasilitas kesehatan rakyat selengkap-lengkapnya, serta tata mobilisasi modal penduduk (termasuk harga tanahnya), diberi anggaran terbesar. > 10. Nilai Dolar dan IHSG: ditertawakan saja selama Bursa masih sekelas arena main dadu. Namun Pemerintah berusaha sungguh meningkatkan BAPEPAM jadi sekwalitas NYSC; administrasi para pengusaha bonafid dibantu sepenuhnya. > > 11. Investor Asing: dibuat tak berkutik karena terlaksananya prinsip `Rakyat adalah Investor' sehingga nilai tambah perputaran Modal selalu kembali ke masyarakat dalam negeri. Modal Asing mengemis-ngemis menjanjikan apa saja asal dibolehkan ikut mencicipi kegiatan ekonomi di wilayah terkaya ini. Departemen Investasi, BUMN, BKPM, hapus, diganti layanan administrasi biasa oleh Departemen Perdagangan dan Industri. > 12. Semua Departemen: semata-mata badan administrasi dan asistensi teknis, bukan petugas penjarah sektornya atas nama `negara' karena Presiden dan Wakil Presiden bukan pemungut upeti bawahannya. Kabinet itu penempa Kebijaksanaan, bersama Komisi-komisi DPR. > 13. Pembagian Tugas Komisi DPR: direformasi menurut tahapan proses menegakkan kedaulatan rakyat (visi, misi, strategi, implementasi, evaluasi dst.), bukan menurut bidang kerja Kabinet. Tak peduli bagaimana eksekutif --- yang hanya Pelaksana itu --- membagi departemennya, setiap Komisi memanggil Menteri mana saja, sebagaimana DPR memanggil Presiden. > 14. Ekspor: siapa sebenarnya yang lebih butuh hasil alam Nusantara ini? Eropah itu menangis kalau sehari saja tidak kita kirimi rempah-rempah. Maka satu kilo panili cukup untuk belanja setahun anak kita bersekolah di Universitas Jerman. Tentang `industri tukang jahit' (Kwik Kian Gie) Menko kita itu tahu persis ke mana harus menendangnya. > 15. Industri teknologi tinggi: bangkit wajar bertopangkan pemuda-pemuda pintar Indonesia berpikiran bebas. Bangsa Nusantara membangkitkan kembali sistem perekonomian bebasnya yang telah mendarah mendaging sebelum datangnya penjajah macam-macam dari luar maupun dalam negeri, penjajah fisik maupun penjajah pikiran. > > > Setelah 10 tahun, Pak Mod, di mana kita sekarang? Berapa pencapaian pada setiap subjek penting itu; atau malahan ada subjek yang sudah tak penting lagi atau perlu revisi total? Adakah sintesa baru antara program neolib dengan program ekstrim kiri, atau selalu harus bersuasana tarik-ulur? > Apa Kata Dunia (penataan ruang)? > > Wassalam, > Risman Maris > On Jan 14, 2010, at 8:22 PM, ffekadj wrote: > > > > > Referensiers, tadi sore dapat kunjungan dari salah seorang guru besar kita, Prof.Dr. Risman Maris, mudah-mudahan besok bisa ikutan. Seperti biasa kita ada door-prize buku, mudah-mudahan masih ada 1 buku Dr. Hengky Abiyoso "Who are Planners", dan saya mengikhlaskan 1 kopi buku Michael Foucault "Discipline and Punish" walau sedikit lusuh tapi masih baguslah. Salam. > > > > -ekadj > > > > > > --- In [email protected], abdul alim salam abdulalims@ wrote: > > > > > > Insya Allah saya bisa ikut. Dimana tempatnya ya? > > > Â > > > AAS > > > > > > Saya dapat informasi tempat yang bagus dan memenuhi kriteria kita: ada > > > tempat sholat dan bisa nonton, malah ada ++nya yaitu pijat gratis. > > > Tempatnya di Caffe La Tazza, Lantai 2 Electronic City SCBD (Sudirman > > > Central Business District) Jaksel. Untuk nonton malah juga gratis dan > > > bisa pilih sembarang film yang disediakan, melebihi Megaplex. Tadi sudah > > > saya cek, dan lumayanlah.

