Pak Wawo ysh, saya kira bapak sedang meneliti tentang keberlanjutan suatu
sistem pembangunan yang pernah mencapai puncak, dan bagaimana hal itu
dipertahankan (sustainability). Yang saya tangkap bahwa faktor 'orang' atau
'leadership' dalam pandangan bapak adalah penting, jadi tidak semata
mengatur dan menata sistem pembangunannya saja. Atau bagaimana faktor
'management' atau yang diistilahkan oleh Mas Pandhu itu sebagai 'yang
berkuasa' dapat 'ter'substitusi dalam sistem pembangunan? Atau betulkan
diperlukan 'skills' untuk menyelenggarakan sistem pembangunan? Saya kira
menarik untuk didiskusikan, atau saya salah tanggap lagi? Salam.

-ekadj
---------- Forwarded message ----------
From: Hannie Waworoentoe <[email protected]>
Date: 2010/2/9
Subject: Re: [futurologi] Tantangan 2010
To: [email protected]

 Walaupun sekarang ini saya sudah menyampaikan posting yang kedua yang
mula-mula saya arahkan khusus kepada moderator Aka, dan narasumber Risman,
saya merasa bahwa posting pertama itu jatuh diantara dua kursi (it might
have fallen between two chairs) atau memang tidak mendapat response,
sehingga rasanya saya memberi semacam 'self inflicted comment'  suatu
komentar utk menghibur diri sendiri (jadi juga semacam 'selfpity') But let
me stop this selfinflicted nonsense.

Sebaiknya saya memberikan semacam groundlevel impressions about post
Fadelian Gorontalo (untuk mereka yang tidak tahu, Fadel adalah gubernur
pertama propinsi Gorontalo yang dewasa ini telah duduk dalam kabinet SBJ)
Nah tadinya saya mengira bahwa Fadel telah meninggalkan Gorontalo dalam
kondisi yang cukup intact (utuh) tanpa utang atau hidden agendas. Tapi
rupanya perubahan  atau peralihan itu tidak bisa seamless atau smooth.
Terlampau gegabah jikalau kini sudah kami berikan verdict atau keputusan
bahwa masa ke gubernuran Fadel itu tanpa cacat samasekali. On the contrary,
proses 'changing of the guard ' itu sedikitnya agak gegabah atau tidak
diduga sehingga at the most  ada perasaan bahwa proses pergantian itu kurang
dipersiapkan (hal mana memang tidak mungkin, oleh karena setiap keputusan
politik itu selalu datangnya tiba-tiba . Namun sukar juga kita tafsirkan
bahwa Fadel itu sengaja sudah meninggalkan suatu  'bom waktu'

Maka dalam konteks futurologi tantangan 2010,  beberapa dugaan dapat kami
rumuskan untuk masa depan gorontalo:
Pertama  dapat kita kemukakan bahwa  development boost yang dimulai pada
masa Fadel mungkin masih akan memerlukan semacam sustainability, sehingga
pertanyaan berikut adalah bagaimana  sustainability itu dapat atau harus
dijamin
Kedua barangkali sudah dapat kita susun semacam silabus untuk masa post
Fadel itu. Secara sistimatis maka sudah dapat kita identifikas unsur-unsur
yang pasti harus kita selenggarakan , serta hal hala manakah yang harus kita
elak.
Ketiga sudah dapat kita perkirakan hal-hal yang pasti masih akan berlanjut
dimasa depan, ini semacam kelanjutan implikasi sejarah
Yang terakhir adalah pertimbangan tentang  skenario yang paling masuk akal
(most likely scenarios)

 ------------------------------
*From:* Hannie Waworoentoe <[email protected]>
*To:* [email protected]

*Sent:* Tue, January 26, 2010 5:10:01 PM
*Subject:* Re: [futurologi] Tantangan 2010



 Eka dan Risman,
Mungkin ini cuma berita yang jatuh dari langit virtual, tapi sekarang saya
di sebuah warnet di Gorontalo yah memang kl 'those backwaters' yang kini
sudah agak jauh dari mainstream atau arus utama di jakarta. Well this needs
some explanation, tapi untuk rekan-rekan yang lain mungkin agak menjemukan.
Well let me put it this way, about 300 years ago the Dutch or maybe also
some other nations started to have an eye on what we now call the Teluk
Tomini, or de Tomini bocht, secara geografis itu suatu teluk yang besar
mulai dari Sulut dengan pulau Nusa Utara Sangir Talaud terus ke selatan
lewat Tanjung Flesko ke Gorontalo, kerajaan tua Bualemo yang ada hubungan
dengan Ternate, lalu terus lagi Poso dan Ampana, ke Luwuk Banggai, well this
si quite a mouthful, tapi kebetulan wilayah ini sangat baik dikaji dan
dipelajari oleh David Henley dalam bukunya Food, Fertility and Fever, well
sebetulnya demographic history dari wilayah besar ini. Nah lalu saya jadikan
obyek ini sebagai perhjatian kontemporer saya, I might spend some 6 to 8
months or perhaps less on this old developed area. Cuma seluruhnya saya
lakukan on a shostring pakai kendaraan umum seperti Damri. Well if you like
to find out  more about my travelogue, I might prepare something but I will
not promise anything in any media. Sementara ini it is still a very very
crazy idea of an 80 yer old man. Salam dari Gorontalo.

 ------------------------------
*From:* - ekadj <4ek...@gmail. com>
*To:* futurol...@yahoogro ups.com

*Sent:* Wed, January 20, 2010 10:06:56 AM
*Subject:* [futurologi] Tantangan 2010



Pak Risman dan Pak ATA ysh.
Memang perkembangan kondisi saat ini sudah sedemikian luar biasa, terutama
akibat demokratisasi dan transparansi, walau dalam beberapa hal juga tidak
diterapkan dengan betul. Saya melihat tidak semua pihak paham dengan situasi
ini, lebih karena masih digunakannya paradigma lama; atau ini kita sering
sebut sebagai perlambatan proses reformasi. Bila reformasi ingin berjalan
lancar, kita perlu 10 tahun lagi, jadi sudah melewati satu generasi. Jadi
memang lebih menyangkut pada persoalan 'orang' (baca: mentalitas), bukan
'sistem'.

Mengenai fenomena baru konstruksi vs konstruksi, seperti terlihat dalam
pengungkapan beberapa kasus hukum belakangan ini, sangat kentara
pertentangannya. Butuh stamina dan urat syaraf yang kuat untuk menjalaninya.
Memang adu panco, dan tidak ada hitungan untung-rugi. Seharusnya disikapi
secara bijak. Dalam banyak kasus pembangunan, konstruksi vs konstruksi sudah
berlangsung cukup lama, namun tidak disadari, selalu merasa bisa diatasi,
dengan menambah amunisi, dana, platform, resource, dll. Namun dengan mulai
biasanya trend ini, dan kesadaran mulai meluas, maka gaya ini akan membuat
segala effort menjadi sia-sia dalam jangka menengah. Namun pemegang
paradigma lama akan selalu membangun kesempatan dan terobosan, sangat
tipikal pemikir konstruktif: membangun trend baru, punya dukungan power, dan
merasa memiliki resource yang berkelimpahan.

Mengenai dekonstruksi, hanya bisa dilakukan pada tingkat kesadaran yang
tinggi. Namun sebagai konsep, siapa saja bisa melakukan. Namun bila tidak
populer akan disebut sebagai teknologi daur-ulang atau teknologi pemulung,
dan sangat berlawanan dengan pemikiran konstruktif. Jadi perlu sentuhan
maestro yang berbakat. Dalam pandangan saya, akan sukses 3 tahun lagi. Jadi
benar penerawangan bapak-bapak berdua, tahun 2010 ini cukup destruktif.
Namun dapat menjadi platform bagi tumbuhnya pemikiran baru, atau seorang
teman saya mengatakan: World 2.0.

Saya cukupkan demikian dulu pak. Salam.

-ekadj


---------- Forwarded message ----------
From: abimanyu takdir alamsyah <takdi...@gmail. com <[email protected]>>
Date: 2010/1/19
Subject: Re: [referensi] Tantangan 2010
To: refere...@yahoogrou ps.com <[email protected]>


Rekans ysh,

Mengenai "back office"....saya jadi teringat fungsi FEUI sebagai
"think-tank" para menteri ekonomi tahun 1970-an....

Mengenai "konstruksi vs konstruksi, "anti konstruksi" dll ...saya jadi
teringat "dekonstruksi" ...mendestruksi yang mapan dan merekonstruksi dengan
nyawa baru....

Wass,
ATA


2010/1/19 R Maris <par...@indo. net.id <[email protected]>>


>
> Yth Pak Mod, teman-teman,
> Mendukung penuh fungsi back-office, penggiatan produksi hardcopy, annuals
> maupun accidentals; mungkin dengan gaya gurita cikeas, saya akan borong
> beberapa puluh copies terlebih dahulu, mana nomor rekening Pak Moris?
> Katalog dari terbitan yang sudah tersedia?
> Selanjutnya mengenai tiga komentar Pak Mod.
> Setuju baru ada 'sense' revolusi. Agaknya saya terpengaruh sentimentalitas
> kalangan gaek saja yang rata-rata mengalami gencetan otak selama 32 tahun
> dengan klimaksnya harus  hidup di 'Indonesian Dark Ages' [dasawarsa1990-
> 2000]. Jadi merasa sangat terkejut dan terpana ketika tiba-tiba bangsa besar
> ini memutuskan berpaling kepada Habibie (ratusan perundangan dalam 2 tahun;
> transparansi demokrasi barat) dan Abdurrachman Wahid (paradigma baru
> kekuasaan; tindakan-tindakan seorang commander-in- chief sejati). Mulai 2004
> semakin tertanam reformasi kultural itu. Orang gaek melihatnya sesuatu yang
> terjadi secepat kilat. Pak Mod menjelaskan, tata caranya lebih canggih,
> justru konstruksi lawan konstruksi. Konstruksi Hasta Brata dilawan gigih
> dengan konstruksi Pancasila.
> Kiranya dari dunia penataan ruangpun selama 2000-2010 terjadi an all-out
> effort mengemukakan sesuatu konstruksi. Menghasilkan pengamatan, bahwa pada
> 2010 ini penggarapan perlu lebih terfokus pada konstruksi hak dan kewajiban
> rieel Bupati/Walikota; sementara langkah-langkah sektoral disinkronkan
> melalui optimasi rencana maupun penetapan kriteria pencapaian Tujuan dan
> spesifikasi Sasaran.
> Menangkap point no 5, Koperasi, kiranya akan terlihat semakin tegaknya
> "duduk sama rendah, berdiri sama tinggi, di depan Hukum" di persada Pertiwi.
> Begitulah kira-kira tata membaca 15 tonggak dari peta-lintasan (roadmap)
> yang dikonstruksi melalui Abdunnomics ini: tantangannya adalah bagaimana
> mengungkap, jauh di dasar kultur, norma berbangsa yang membentuk jaringan
> kuat kesatuan ummah dari seluruh pemukim di Indonesia.
> Jika sudah kenal Tujuan, lebih mudahlah menjabarkan Tindakan.
> Jika bertindak dalam suasana revolusioner, jangan hitung-hitung untung
> rugi.
>
> Wassalam,
> Risman Maris
>
> On Jan 17, 2010, at 8:56 AM, ffekadj wrote:
>
>   Pak Risman ysh, sayang sekali kemarin tidak sempat hadir. Padahal saya
> ingin mengembangkan diskusi tentang satu istilah yang bapak lemparkan Kamis
> sore itu, yaitu 'back office'. Ketika rekan-rekan mendiskusikan beberapa
> program seperti jejaring dan annual book itu, saya sudah merasakan kalau
> milis dan komunitas Referensi ini sudah diperlakukan sebagai 'a back
> office'. Saya ingin tanggapi tiga hal dari wejangan bapak sbb.
>
> Mengenai 'suasana revolusioner' pada kondisi saat ini, saya kira baru
> 'sense' saja pak. Namun memang ada hal yang baru dalam kondisi perpolitikan
> yaitu 'tindakan terkonstruksi' sekarang sudah dihadapi juga dengan 'tindakan
> terkonstruksi' lainnya. Jadi konstruksi vs konstruksi. Sangat rentan
> berlangsung pada fenomena hukum; namun sebenarnya juga rawan akan menjalar
> pada berbagai kegiatan yang mengandalkan 'konstruksi' lainnya, terutama
> legal drafting, planning, designing, dst. Malah yang dikhawatirkan utilizing
> dan controlling juga terbangun dan berjalan secara konstruktif juga. Jadi
> hal ini menjadi perhatian bagi kita, agar hati-hati bermain konstruksi,
> selain akan ada reaksi anti-konstruksi juga kemungkinan akan dilawan dengan
> 'tindakan konstruksi' lainnya. Demikian kira-kira kata Dunia.
>
> Kedua mengenai evaluasi 10 tahun terakhir dan pemrograman jangka paling
> pendek (2010). Harus diakui kita hanya bergerak di tataran kebijakan saja,
> dan belum menstimulus sektor riil. Dengan kata lain ini sebenarnya merupakan
> pukulan (bukan lagi tantangan) bagi dua pemegang 'menara kebenaran' (menurut
> persepsi Harya <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/10726>):
> menara emas dan menara gading. Bila Pak Risman menawarkan titik 2010 sebagai
> titik perubahan, maka sudah saatnya tidak bergenit-ria, dan sungguh berat
> beban itu ditanggung oleh generasi sekarang ini.
>
> Ketiga, dari 15 subyek yang bapak tawarkan, terus terang saya hanya mampu
> menangkap point nomor 5, yaitu sesuatu yang bapak lambangkan sebagai
> 'koperasi'. Sungguh betul, begitulah keadaannya sekarang ini pak.
>
> Sementara demikian dulu pak. Salam.
>
> -ekadj
>
>
> --- In [email protected], R Maris <par...@...> wrote:
> >
> > Yth Pak Mod, cucuku Panpan, teman-teman,
> > Bertepatan ingin kopi darat, gigi sakit sehingga batal ikut, harap
> dimaafkan.
> > Membuka tahun baru 2010, sangat penting menyadari apa yang sebenarnya
> tengah terjadi, di arena politik-perekonomia n dan politik-sosial
> kemasyarakatan. Tidak kurang, suatu suasana revolusioner!
> > Jalannya dibuka terutama oleh berbagai tindakan dan alam pikiran Gus Dur
> semasa menjabat Presiden RI. Saat itu saya sadur bebas saja ke dalam
> "Abdunnomics" , yang lengkapnya dapat dibaca di Files milis ini.
> > Pada tahun 2000 itu kiprah Gus Dur membangkitkan kembali berbagai harapan
> dan semangat pada suatu bangsa yang baru saja sadar betapa terpuruk
> martabatnya. Harapan-harapan itu jika disarikan akan berbentuk berbagai
> perubahan drastis aturan main, antara lain pada 15 subjek berikut:
> > ………………………………………………………………………………
> > Langkah-langkah Jangka Pendek dan Menengah
> >
> > "Abdunnomics" , Jakarta 5 Agustus 2000
> >
> > 1. Pejabat Negara (MPR, Eksekutip, DPR, MA): didukung dengan kecukupan
> yang pantas bagi datuk-datuk negara dan bangsa
>
>

 

Kirim email ke