Nuhun Pak Risman dan Rekans ysh,
 
Soal nya bukan pro dan kon, tapi bagaimana kita mencoba memahami situasi yang 
berkembang, terutama menyangkut proses "demokratisasi dan desentralisasi". 
Demokrasi dan partisipasi yang harus diberlakukan dalam proses planning memang 
bukan karangan kita masing-masing, itu kesepakatan reformasi yang jadi 
konstitusi. Bisa saja kita tak peduli, tapi ya kecewa terus kenapa kok rencana 
yang kita buat diaduk-aduk proses politis. Tentu sebagai profesi kita 
"tanda-tangan" di produk teknokratis-nya. Tapi setelah lewat proses politis, 
bowheer akan memanggil kita lagi, "Bagaimana ini fraksi ini-itu minta dirubah 
begini/begitu. Sampai batas mana kita bisa ikut (atau menolak) dialog seperti 
ini?"
 
Suatu saat seperti lawyer yang jadi Jaksa vs jadi Pembela, jadi Hakim. Maka 
planner pun tak tertutup, ada Planner nya Kementerian PU (pengawal norma 
standar), Plannernya Pemda (aplikasi sesuai kondisi daerah), Planner nya 
Developer, Planner nya Kelompok Warga, Peduli Transpor, Peduli Air, Peduli 
Mangrove, Peduli Gelandangan. Masing-masing bisa punya pandangan yang berbeda. 
Seperti yang kita saksikan di TV, semua ahli ekonomi, norma dan ilmunya 
mestinya sama, tapi pandangan dan pihaknya beda-beda.
 
Bagaimana kalau ada sekelompok Planner melakukan/menuntut judicial review, atau 
melakukan upaya tindakan hukum lainnya, atas Rencana yang dibuat oleh Pemda, 
yang notabene rekan seprofesi. Apalagi sekarang almamaternya banyak. Contoh 
paling gampang: pembangunan waterfront city, termasuk Pantai Indah Kapuk. Jelas 
pandangan Palnner yang di DKI, di Developer, di IAP, di LSM bisa beda-beda. 
Selama Orba masalah ini ditanggapi secara "gerundelan" saja, tapi tahun 2010 
dan seterusnya bisa beda, bisa masuk agenda partai, pansus dst. Capek deh
 
Sekali lagi bukan soal pro dan kon, tapi bagaimana kita menghadapi situasi 
seperti ini.
 
Salam,
Risfan Munir
 
 
 
 
 


--- On Wed, 1/20/10, R Maris <[email protected]> wrote:


From: R Maris <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Tantangan 2010
To: [email protected]
Date: Wednesday, January 20, 2010, 10:56 PM


  



Yth Pak Mod, Pak ATA, Pak Risfan, teman-teman,
Komentar Pak Risfan memlanning bukan semata menyusun 'dokumen teknokratis' dan 
'naskah akademis'  tetapi juga 'proses politik' sehubungan dengan klimaksnya 
nanti pada pengesahan rencana dan kebijakan sehari-hari bermasyarakat; 
mengingatkan saya akan definisi planner (wilayah dan kota) dari milis ini lima 
tahun lalu "... ahli yang TERLARANG bertanda-tangan nama pribadi di pojok kanan 
bawah gambar Rencana." Sangat bertolak-belakang dengan etik profesional arsitek 
dan engineers dan dokter; dapat diperkirakan betapa hebat kontras-kontras alam 
pikiran, tingkah-laku, metodologi, jenis peralatan, piranti komunikasi, etc etc 
antar kelompok profesi mandiri itu. Namun dengan sendirinya, pembedaaan membawa 
pengenalan. UU No 26 Th 2007 tentang Penataan Ruang merupakan salah satu upaya 
bangsa di dekade 2000-2010 meracik tata interaksi dalam kompleksitas masyarakat 
alam Indonesia modern.
Pak ATA, saking tercengangnya pernah nekad saya patok saja kecepatan 
perkembangan pandangan hidup orang Indonesia pada dasawarsa terakhir ini 100:1 
berbanding evolusi kebudayaan Eropa, maka (saya posting): '... 1988-1998 (10 
tahun) Dark Ages Indonesia; 1999-2004 (5 tahun) Lahir Kembali/renesans; 
2005-2006 (1 Tahun) ’Pencerahan/enlighte nment; 2007-2008 (1 tahun) ’Revolusi’; 
dan mulai 2009 dst era Modern, Perang Dingin (partai pemerintah vs partai 
oposisi), Pascamodern, gabung galemak-peak jadi satu, atau baiknya sekuensial, 
hingga mengkristal jadi buah (the fruit of) jatidiri anak bangsa yaitu 
Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika yang sejati..." Maka 2010 ini, analog dengan 
keambrukan totalitarianisme 1989 di dunia, mungkin kita akan mengalami 
menyurut-selesainya goro-goro, perang persepsi tak jelas, konstruksi-dekonstr 
uksi ngawur, menjebol dan membangun a la preman. Berganti dengan rasa mendalam 
Bebas Pendapat dan Tegak Hukum. Datuk-datuk dan
 Pendekar-pendekar bidang hukum dan pers mulai sangat didengar dan dituruti. 
(Catatan: Pak Mahfud M D memprediksi perlu 2 tahun termasuk 2011 pembersihan 
makelar kasus).
Pasti ada terdapat filsafat INDONESIA, yaitu konsisten berpandangan hidup 
berlandaskan Kebersamaan, Kemerdekaan, Ketropikaan di bawah Ketuhanan yang Maha 
Esa, yang sepanjang sejarah telah selalu menyatukan Nusantara. Berkulminasi 
pada saat-saat Revolusi Pancasila 1945 (Negara --- bahkan Kemerdekaan itu 
sendiri --- berTuhan), pandangan hidup itu bolehlah dianggap menyempurnakan 
karya Revolusi Perancis 1789 (liberte, egalite, fraternite) dan Revolusi 
Amerika 1776 (freedom ... pursuit of happiness). Detil-detil masih sedang 
bergolak dalam penggarapan bangsa, Pak ATA, Pak Mod.
Yth Pak Mod, filsafat INDONESIA boleh digolongkan Arkipelagik --- agar 
terbedakan dengan pragmatisme Amerika Serikat yang tumbuh di daratan massif, 
kontinen. Analog juga dengan pembagian filsafat Barat ke Anglo-Saxon dan 
Kontinental. Filsafat India,  Filsafat Cina, dan Filsafat Moor/Andalusia, di 
samping yang dari Barat itu, sangat dalam berkontribusi, seiring penaklukan 
lautan luas oleh teknologi pelayaran. Kini kita sudah boleh menandai yang 
keDAERAHan seperti filsafat Jawa Pasundan, Jawa Jogja, Jawa Solo, Batak, Papua, 
Wajo, , Bugis, Madura, Minang dan sebagainya itu sebagai semata-mata local 
wisdom, pandangan hidupnya orang islander, inlander, kampung-teratak. 
Vernakuler? Tentu nantinya kekerdilan masing-masing akan segera terterjang oleh 
perletakan infrastruktur komunikasi digital dan transportasi antar pulau; 
berlandaskan program nasional pendidikan dan kesehatan yang lebih baik, dan 
kebebasan bermukim di koordinat manapun selama masih WNI.
Perjalanan setahun 2010 ini gelagatnya akan dipenuhi peristiwa-peristiwa 
exciting menuju pewujudan negara-bangsa modern bermartabat yang dicita-citakan 
Revolusi Pancasila. Pak Mod, bagaimana kalau seluruh komunitas mengawal 
bersama; 'kan sudah ada usulan15 tonggak perjalanan sebagai referensi urutan 
dan lokasi.
 
Wassalam,
Risman Maris          


P.S.



Pak ATA, barangkali yang saya maksud justru 'think tank' adalah front office 
(terhadap direct user) sedangkan back office adalah para mahasiswanya yang 
jungkir balik lari kiri kanan mengumpul-mengolah data. Back office jarang 
sekali terlihat oleh umum sehingga tak terhargai sewajarnya.
 


On Jan 19, 2010, at 3:51 PM, abimanyu takdir alamsyah wrote:


  

Rekans ysh,

Mengenai "back office"....saya jadi teringat fungsi FEUI sebagai "think-tank" 
para menteri ekonomi tahun 1970-an.... 

Mengenai "konstruksi vs konstruksi, "anti konstruksi" dll ...saya jadi teringat 
"dekonstruksi" ...mendestruksi yang mapan dan merekonstruksi dengan nyawa 
baru.... 

Wass,
ATA



2010/1/19 R Maris <par...@indo. net.id>


  





Yth Pak Mod, teman-teman,
Mendukung penuh fungsi back-office, penggiatan produksi hardcopy, annuals 
maupun accidentals; mungkin dengan gaya gurita cikeas, saya akan borong 
beberapa puluh copies terlebih dahulu, mana nomor rekening Pak Moris? Katalog 
dari terbitan yang sudah tersedia?
Selanjutnya mengenai tiga komentar Pak Mod.
Setuju baru ada 'sense' revolusi. Agaknya saya terpengaruh sentimentalitas 
kalangan gaek saja yang rata-rata mengalami gencetan otak selama 32 tahun 
dengan klimaksnya harus  hidup di 'Indonesian Dark Ages' [dasawarsa1990- 2000]. 
Jadi merasa sangat terkejut dan terpana ketika tiba-tiba bangsa besar ini 
memutuskan berpaling kepada Habibie (ratusan perundangan dalam 2 tahun; 
transparansi demokrasi barat) dan Abdurrachman Wahid (paradigma baru kekuasaan; 
tindakan-tindakan seorang commander-in- chief sejati). Mulai 2004 semakin 
tertanam reformasi kultural itu. Orang gaek melihatnya sesuatu yang terjadi 
secepat kilat. Pak Mod menjelaskan, tata caranya lebih canggih, justru 
konstruksi lawan konstruksi. Konstruksi Hasta Brata dilawan gigih dengan 
konstruksi Pancasila.
Kiranya dari dunia penataan ruangpun selama 2000-2010 terjadi an all-out effort 
mengemukakan sesuatu konstruksi. Menghasilkan pengamatan, bahwa pada 2010 ini 
penggarapan perlu lebih terfokus pada konstruksi hak dan kewajiban rieel 
Bupati/Walikota; sementara langkah-langkah sektoral disinkronkan melalui 
optimasi rencana maupun penetapan kriteria pencapaian Tujuan dan spesifikasi 
Sasaran.
Menangkap point no 5, Koperasi, kiranya akan terlihat semakin tegaknya "duduk 
sama rendah, berdiri sama tinggi, di depan Hukum" di persada Pertiwi. Begitulah 
kira-kira tata membaca 15 tonggak dari peta-lintasan (roadmap) yang 
dikonstruksi melalui Abdunnomics ini: tantangannya adalah bagaimana mengungkap, 
jauh di dasar kultur, norma berbangsa yang membentuk jaringan kuat kesatuan 
ummah dari seluruh pemukim di Indonesia.
Jika sudah kenal Tujuan, lebih mudahlah menjabarkan Tindakan.
Jika bertindak dalam suasana revolusioner, jangan hitung-hitung untung rugi. 


Wassalam,
Risman Maris  

  
On Jan 17, 2010, at 8:56 AM, ffekadj wrote:




  



Pak Risman ysh, sayang sekali kemarin tidak sempat hadir. Padahal saya ingin 
mengembangkan diskusi tentang satu istilah yang bapak lemparkan Kamis sore itu, 
yaitu 'back office'. Ketika rekan-rekan mendiskusikan beberapa program seperti 
jejaring dan annual book itu, saya sudah merasakan kalau milis dan komunitas 
Referensi ini sudah diperlakukan sebagai 'a back office'. Saya ingin tanggapi 
tiga hal dari wejangan bapak sbb.
Mengenai 'suasana revolusioner' pada kondisi saat ini, saya kira baru 'sense' 
saja pak. Namun memang ada hal yang baru dalam kondisi perpolitikan yaitu 
'tindakan terkonstruksi' sekarang sudah dihadapi juga dengan 'tindakan 
terkonstruksi' lainnya. Jadi konstruksi vs konstruksi. Sangat rentan 
berlangsung pada fenomena hukum; namun sebenarnya juga rawan akan menjalar pada 
berbagai kegiatan yang mengandalkan 'konstruksi' lainnya, terutama legal 
drafting, planning, designing, dst. Malah yang dikhawatirkan utilizing dan 
controlling juga terbangun dan berjalan secara konstruktif juga. Jadi hal 
ini menjadi perhatian bagi kita, agar hati-hati bermain konstruksi, selain akan 
ada reaksi anti-konstruksi juga kemungkinan akan dilawan dengan 'tindakan 
konstruksi' lainnya. Demikian kira-kira kata Dunia.
Kedua mengenai evaluasi 10 tahun terakhir dan pemrograman jangka paling pendek 
(2010). Harus diakui kita hanya bergerak di tataran kebijakan saja, dan belum 
menstimulus sektor riil. Dengan kata lain ini sebenarnya merupakan pukulan 
(bukan lagi tantangan) bagi dua pemegang 'menara kebenaran' (menurut persepsi 
Harya): menara emas dan menara gading. Bila Pak Risman menawarkan titik 2010 
sebagai titik perubahan, maka sudah saatnya tidak bergenit-ria, dan sungguh 
berat beban itu ditanggung oleh generasi sekarang ini.
Ketiga, dari 15 subyek yang bapak tawarkan, terus terang saya hanya mampu 
menangkap point nomor 5, yaitu sesuatu yang bapak lambangkan sebagai 
'koperasi'. Sungguh betul, begitulah keadaannya sekarang ini pak.
Sementara demikian dulu pak. Salam.
-ekadj

--- In [email protected], R Maris <par...@...> wrote:
>
> Yth Pak Mod, cucuku Panpan, teman-teman,
> Bertepatan ingin kopi darat, gigi sakit sehingga batal ikut, harap dimaafkan. 
> Membuka tahun baru 2010, sangat penting menyadari apa yang sebenarnya tengah 
> terjadi, di arena politik-perekonomia n dan politik-sosial kemasyarakatan. 
> Tidak kurang, suatu suasana revolusioner!
> Jalannya dibuka terutama oleh berbagai tindakan dan alam pikiran Gus Dur 
> semasa menjabat Presiden RI. Saat itu saya sadur bebas saja ke dalam 
> "Abdunnomics" , yang lengkapnya dapat dibaca di Files milis ini.
> Pada tahun 2000 itu kiprah Gus Dur membangkitkan kembali berbagai harapan dan 
> semangat pada suatu bangsa yang baru saja sadar betapa terpuruk martabatnya. 
> Harapan-harapan itu jika disarikan akan berbentuk berbagai perubahan drastis 
> aturan main, antara lain pada 15 subjek berikut:
> ………………………………………………………………………………
> Langkah-langkah Jangka Pendek dan Menengah
> 
> "Abdunnomics" , Jakarta 5 Agustus 2000
> 
> 1. Pejabat Negara (MPR, Eksekutip, DPR, MA): didukung dengan kecukupan yang 
> pantas bagi datuk-datuk negara dan bangsa 












      

Kirim email ke