Chers amis et anciens élèves en français, j'ai besoin de votre aide à expliquer le structuralisme français, aussi bon que votre compréhension. Merci.
Pak BSP dan Pak Risfan ysh, mohon maaf menjelaskan sedikit bingkai pembicaraan kita. Sudut pandang strukturalisme sebenarnya punya akar pada Durkheim dan Marx, namun pengembangannya sejauh ini sudah sedemikian rupa. Alas strukturalisme adalah 'keseimbangan' untuk keteraturan, terbangun dari konsep dualistik/dikotomis atau binary system. Kita selama Orde Baru banyak dikenalkan dengan pendekatan Durkheimian, melalui Pak Koen, Selo Sumardjan, dll, dan sepertinya masih berlanjut sampai saat ini. Cirinya: penggunaan asumsi ekuilibrium, perubahan internal, konflik adalah gejala yang wajar dalam masyarakat, nilai-nilai sebagai landasan utama, serta ciri struktural-fungsional yang kuat. Konflik merupakan benturan yang tidak bisa diatasi secara norma. Sahlins (1976) dalam "Marxism and Two Structuralism" menyatukan dalam pandangan materialisme, namun membedakan Marxism dengan dua konsep strukturalisme: British structuralism dan French structuralism, yang satu menekankan pada relasi sosial sehingga menimbulkan status dan fungsi; dan untuk Perancis menekankan pada symbolic order yang terbangun secara unconscious. Penjelasannya saya sampaikan pada postingan berikut. Paradigma yang sekarang terbangun pada era posmo di Indonesia saat ini adalah bergesernya tipikal British structuralism kepada tipikal French structuralism. "Cara pandang kita" masih terbentuk dari dua paradigma di atas; atau kalau pun ada, masih berada dalam kotak-kotak kecil, atau masih berada dalam aras tertentu. Masalah 'standar', saya ingat beberapa belas tahun yang lalu diajak nginep dan rapat dengan Pak BSP di Cikarang. Malam harinya saya jalan ke Mall yang baru dibuka, dan dilarang masuk oleh Satpamnya karena memakai sendal jepit. Terpaksa balik ke kamar dan ganti sepatu, padahal cuma pengen beli cemilan. Sementara demikian pak. Salam. -ekadj 2010/4/19 Risfan M <[email protected]> > > > Pak BSP dan Rekans ysh, > > Oh, '73 juga. Betul Pak, soal cara pandang atau yang saya sebut Persepsi. > Makanya saya refer judul artikel "Lexus and Olive Tree", yang memetaforakan > tujuan mengejar pertumbuhan, globalisasi vs kebutuhan pada identitas lokal > yang perlu diserasikan. Tidak gampang memang. > > Pak Eka, soal standar, Anda menyebut juga standar perumahan untuk bisa > menarik orang asing. Apa tidak kejauhan tuh. Lha kalau standarnya > ditingkatkan, apa penghuni kampung tidak jadi melanggar standar? Bukan > standar tapi bantuan agar mayoritas rakyat memenuhi standar yang sudah ada > yang mereka perlukan. > Soal bagi orang asing/mampu kan ada buku Arsitektur Standard, yang semua > arsitek harus tahu, apalagi developer yang mau jualan. > > Pak BSP, menyangkut standar dan pengatiuran, baca Kompas hari ini saya jadi > prihatin, kenapa ada Peraturan yang mengaharuskan semua petani minta Izin > resmi dari Pemda untuk menentukan jenis tanaman yang akan ditanamnya (?). > > Salam, > Risfan Munir > > > > > > --- On *Sun, 4/18/10, [email protected] <[email protected]>*wrote: > > > From: [email protected] <[email protected]> > Subject: Re: [referensi] Fwd: Priok dan Standar > To: [email protected] > Date: Sunday, April 18, 2010, 11:33 PM > > > > Pak Eka Dj, rekan referensier ysh. > Membaca pertasnyaan pak Eka ... kembali saya sangat khawatir. Pada saat > kita bicara standar internasional ... pada saat kita menggunakan teori-teori > internasional ... pada saat itulah kita berhadapan dengan sebuah keniscayaan > tentang keamburadulan penanganan masalah tersebut. > Saya tidak mengharamkan kita mendalami permasalahan dengan penggunaan > teori-teori dan konsep yang dibangun dari struktur pemikiran barat > (standardisasi, efisiensi, ekonomi dlsb) .... saat sekarang itulagh > kekisruhan yang terjadi ... karena rakyat dibawah ... bebnar2 yang dibawah > ... bahasanya adalah kepercayaan ... bahasanya adalah ke taqlidan ... > bahasanya adalah total loyality terhadap value yang dia pegang. Akibatnya > .... benturan ini. > Kebetulan saya tahu kejadian di priok itu penyebabnya apa. Karena salah > satu pemimpibn proyek "pembangunan peti kemas" tersebut adalah teman > angkatan 73 ITB. Pendekatannya adalah sangat struktural. Memang dia > mendalami budaya ... tetapi sekali lagi budaya yang struktural dengan > pendekatan rasio didepan. Ini yang mengakibatkan semua terjadi. Saya tidak > menyalahkan dia ... tetapi memang para ahli teknik dan yang mengaku ahli > teknik cenderung menggunakan pendekatan tersebut .... > Artinya ... bila kita bicara dengan pendekatan struktural dan fungsional > ... maka yang muncul adalah sebuah kekisruhan. Karena dimasyarakat ... hal > itu tidak dikenal. > Salam > bambang sp > ps. maaf kalau ini dianggap memindahkan topik masalah ...... saya tidak > akan berhenti untuk meneriakkan bahwa sudah saatnya kita menukik dengan > berpegang pada BUDAYA SENDIRI DENGAN PEMAHAMAN DAN CARA PANDANG KITA. > > >

