Pak Ek dj, mas Rifsan ysh. Akibat standar ... dan itu selalu akan menyederhanakan permasalahan di alam nyata ini :
1. Petani tebu terpaksa tidak bisa mendapatkan nilai maksimal dan ternyata harus kalah dengan gula impor .... ini standar. 2. Bibit tanaman ... akibat standar saat ini muyncul 154 varietas hama baru karena mengejar standar. Masalahnya kata standar akan selalu dikaitkan dengan kebutuhan konsumen ... tetapi sebenarnya standar (mohon sangat dimaafkan kala saya terlalu sarkastis) hanyalah kebutujhan dari para pemilik modal. Karena kata standar akan terkait dengan efisiensi... dan siapakah yang membutuhkan efisiensi ... bukan konsumen... tetapi pemilik modal. Artinya well driven dari pemilik modal. Bagaimana dengan konsumen ... dia menjadi nomer 8 atau bahkan nomer 100. Konsumen menjadi nomer 1 bila terlkait dengan efisiensi tersebut. Contoh varietas hama baru tersebut siapakah konsumennya ... petani ... karena bibit baru tersebut. Semua harus ijin resmi. Alasannya adalah karena efisiensi. Padahal yang terjadi adalah nihilisasi dari nilai2 kemanusiaan dan nilai alam (mohon sangat keras). Saya bukan anti standard ... tetapi pada saat standard menjadi ilah dalam kehidupan... maka yang terjadi adalah seperti membuat kehidupan manusia tidak lebih sebuah garis yang tipis .... yang diluar itu adalah bukan manusia lagi .... disinilah mendadak saya masuk kepada sebuah kesadaran baru bahwa kita mengarah pada dehumanisasi melalui standardisasi tersebut .... saat nepal masih menganut paham keselarasan dan keseimbangan dengan alam ,,, dimana tidak ada nilai2 yang seperti saat ini maka ... kehidupan sangat indah dan tenang .... lingkungan tidak tercemar .... tetapi sekarang ... dimana2 kalengh coca cola dapat dilihat .... itulah standar yang kita kejar.... (maaf saya selalu kembali kearah itu karena memang itu sekarang menjadi topik di banyak pertemuan). Mohon maaf kalau ngelantur salam hangat bambang sp

