Pak Fajar dan Rekans ysh,
 
Iya, Why nya kelupaan, tapi ada 5WH ya. Saya justru ingatnya pas sholat Mas.
Mengenai "Investigasi Independen". Maaf Mas Fajar. Saya termasuk aliran 
sebaliknya. Saya tidak tahu Anda sedang di tanah air atau tidak.  Disini 
Buoooosennn deh dengan "investigasi". Ujung-ujungnya hanya satu ....cari 
KAMBING HITAM.
 
Seperti Anda tahu,saya sering memfasilitasi diskusi di daerah-daerah, 
Diskusi dengan ANALISIS PERSOALAN itu 99% hasilnya: "kebijakan Pusat 
salah...bertubrukan, tidak konsisten, dst.....terus diskusi berhenti. 
Mereka akan bilang,"Tak ada yang bisa dilakukan Pak, karena policynya memang 
gitu"
 
Akhirnya arah diskusi saya balik dengan bertanya: Bapak Ibu...Apa saja 
pencapaian yang bisa dianggap KEBERHASILAN? ...mula-mula bilang tak ada, karena 
"seumur-umur dikritik" orang ....lalu saya ungkapkan Unsur Positif yang saya 
lihat (kadang-kadang remeh saja)...tapi itu bisa mencairkan suasana...mulai 
satu demi satu menceritakan sukses-sukses kecil yang dibuatnya (jadi ngomong 
unit mereka, bukan pesakitan di luar sana). 
 
Berikutnya saya lontarkan pertanyaan APA FAKTOR YANG MEMBUAT UNIT INI bisa 
menghasilkan capaian-capaian itu?...Inilah kunci membuka LESSON LEARNED mereka. 
Inilah emas yang sebaiknya kita dulang, mutiara dalam lumpur kebisingan kritik. 
(baca: Appreciative Inquiry). 
Kita semua capek Mas, lebih baik kita saling cerita keberhasilan, dengan kritis 
menguraikan faktor kunci suksesnya (KSF nya). Kita bisa belajar dengan riang. 
Seperti Pak AAS, di tengah riuhnya kritik yang bikinloyo, dia bisa 
memperjuangkan sertifikasi LPJK, dan membaptis 1000 perencana. Apa kunci 
suksesnya? Kalau ditulis kan bisa mengilhami anggota IAP muda. (Daripada 
berulang-ulang bicara kekurangan IAP.... )
Appreciative Inquiry is another way untuk menggali KSF. 
 
Percaya deh Mas, suasana saat ini menyediakan 1001 macam kambing hitam (ada 
yang berbulu tebal, tipis, bertanduk dst) Kalau di daerah alasan paling klasik 
Kebijakan Pusat bertabrakan, tidak konsisten...(capek deh)... lalu diskusi 
berhenti..... Ganti pesan: tolong Pak sampaikan di Jakarta ...ke siapa? 
(katanya otonomi) .....Rumput juga kadang tak bergoyang. Tapi ini pendapat saya 
ya Mas. Silahkan teman lain ...
 
Salam,
Risfan Munir
www.management-cafe.blogspot.com
 


--- On Fri, 4/23/10, [email protected] <[email protected]> 
wrote:


From: [email protected] <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] RE: Yurisprudensi?/ Kumpulan Kasus Dalam Penataan 
Ruang?-5WH dan IAP
To: [email protected]
Date: Friday, April 23, 2010, 2:33 AM


  








Pak Risfan dan sahabat-sahabat referensiers ysh,
 
Mohon ijin untuk ikut nimbrung dalam pengembangan kompilasi analisis kasus 
kepenataanruangan. .
 
Tapi sebelumnya, sedikit catatan untuk Pak Risfan, kayaknya Pak Risfan sedikit 
kelupaan untuk ikut menuliskan "Why"-nya Pak.... Tapi saya yakin itu hanya 
sekedar kealpaan ringan yang tidak disengaja...
 
Tapi suatu hal yang saya ingin sampaikan adalah, bisa kah ajakan dari Pak 
Risfan untuk menginvestigasi kasus-kasus besar yg berkaitan dengan penataan 
ruang (kota atau wilayah) ini dijadikan sebagai gelindingan awal bola salju 
untuk mengembangkan semacam "Tim Investigasi Independen" terhadap kasus-kasus 
yang berkaitan dengan penataan ruang spt itu...? Apabila hal ini bisa 
dilakukan, saya yakin ini bisa menjadi salah satu peluang untuk memperbaiki 
karut marut kita di dalam praktek-praktek penataan ruang...
 
Apakah IAP punya kewenangan untuk melakukannya? 
Jika tidak, kira-kira siapa yang berpotensi memiliki kewenangan untuk itu..?
Jika ya, pertanyaan berikutnya adalah apakah IAP juga punya sumber daya yang 
cukup untuk melakukannya. .? 
 
Salam,
 
Fadjar Undip


--- En date de : Ven 23.4.10, Risfan M <risf...@yahoo. com> a écrit :


De: Risfan M <risf...@yahoo. com>
Objet: Re: [referensi] RE: Yurisprudensi? / Kumpulan Kasus Dalam Penataan Ruang?
À: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Vendredi 23 avril 2010, 9h49


  






Rekans ysh,
 
Terima kasih atas responesnya, juga atas gagasan Pak Djarot mengkompilasi, atau 
membuat kompendium. Sebetulnya acuan umumnya untuk kerangka ada, yaitu: Best 
Practices nya UN-Habitat. Walau sebaiknya istilah "best"nya jangan dipakai 
dulu. Karena "best" menakutkan bagi yang mau menulis, juga menimbulkan debat 
tak habis-habis dari komentator yang tidak pernah nulis.
 
Ada istilah ringan "Ideas in Action", yang kadang sehalaman dulu saja, asal 
satu-demi-satu mulai ditulis dan terrecord. Ini bisa jadi sumbangsih Refernsi 
kepada Ibu Pertiwi
Langkah pertama: Jawab pertanyaan "5WH"nya. Pengembangan narasi bisa menyusul. 
 
What? Kasus penggusuran makam Mbah Priok
Who? Incident: Warga, ahli waris vs Satpol PP, Pelindo (Koja). Extended: DKI, 
Forum X, Forum Y, Komnas HAM, dst
Where?When?
How? Apa yang dipersoalkan, siapa yang berkonflik. Bagaimana kronologi. 
Bagaimana itu meluas.
Proses mediasi: How? Who? Results? What next? Implication to...policy? planning?
Lesson to be learned: ........
Notes: Writer, email address, ...
 
Silahkan.
 
Salam,
Risfan Munir
www.management- cafe.blogspot. com
 
 
 
 
 
 
 


--- On Thu, 4/22/10, rvk_pa...@yahoo. com <rvk_pa...@yahoo. com> wrote:


From: rvk_pa...@yahoo. com <rvk_pa...@yahoo. com>
Subject: [referensi] RE: Yurisprudensi? / Kumpulan Kasus Dalam Penataan Ruang?
To: "refere...@yahoogro ups.com" <refere...@yahoogrou ps.com>
Date: Thursday, April 22, 2010, 9:21 PM


  

Bpk/Ibu milister ysh,

Gagasan membukukan kasus-kasus tata ruang sangat bagus dan perlu segera 
diwujudkan. Banyak kalangan yg dpt memperoleh manfaat dgn produk ini.

Topik yg sdg kita diskusikan juga menarik. Saya melihat gagasan bgm sebaiknya 
IAP kedepan cukup menantang. Banyak pengalaman terkait dgn produk para planner 
kita yg belum memenuhi kebutuhan. Mungkin perlu diskusi yg intensif dikalangan 
terbatas dulu, baru diperluas.

Regards

RK
-----Original Message-----
From: hengky abiyoso
Sent: 23-04-2010, 06.27 
To: referensi
Subject: [referensi] Re: Yurisprudensi? / Kumpulan Kasus Dalam Penataan Ruang?

Milisters ysh,

Sebagai ‘outsider’  keuntungan dari  Dr. Djarot (maupun keuntungan kita) adalah 
bhw beliau bisa selalu berpikir bebas,  kreatip, obyektip, kritis  (dan tanpa 
beban)  ttg apa2 saja  yg beliau pikir akan baik bagi kemajuan sains 
perencanaan, planologi atau teknik penataan ruang kita………termasuk  ketika usai 
muncul kasus mbah Priok kemarin ….. beliau melontarkan ide ttg bgmn kalau kita 
mengkompilasikan ttg semacam ‘yurisprudensi’ / kumpulan kasus2 keputusan atas 
kasus2 keruangan ……..
Ya tentu saja itu ide yg baik sekali  ……semacam ‘yurisprudensi’ atau kompilasi 
karya2 planologik/ karya enjinering penataan ruang negeri kita ……namun berbeda 
dgn ‘yurisprudensi‘ hukum dimana produk hukum berupa keputusan2  hukum/ vonis  
merupakan  solusi akhir atas pihak2 yang berperkara/ bertentangan (baik 
keruangan atau bukan)   ……. Sementara itu produk2 keputusan/ langkah keruangan 
tak selalu harus berupa  solusi diatas dua pihak yg beperkara dgn nuansa 
pertentangan  ……namun banyak juga porsi new spatial development (spt  utk 
kawasn tertinggal yg 90% wilayah RI kita) yg perlu dikembangkan dgn tanpa 
terdapat  nuansa pertentangan kepentingan yg tajam antara pihak2 yg 
berseberangan……….
Yg jelas adlh bhw produk karya2 enjinering keruangan itu mau tak mau secara 
garis besar l.k karakternya adlh disatu sisi berupa produk enjinering keruangan 
untuk kawasan maju yg isinya akan lbh banyak bersifat regulasi plus 
pengendalian ….sementara itu disisi lain  produk enjinering keruangan dikawasan 
tertinggal/ 90% kawasan RI  akan perlu lbh bersifat enhancing …..dan sifatnya 
perlu lbh berbentuk  proactive spatial organizer / habitat organizer lbh 
daripada normative and pasive  spatial regulator ……. Itu krn  bila dikawasn 
maju spatial planning tak perlu lagi memikirkan bgmn membentuk aglomerasi ruang 
atau redistribusi populasi/ aktivities ……….sementara itu sebaliknya dikawasn 
tertinggal (kalau maudapet hasil nyata dan menimbulkan respek) enjinering ruang 
harus mengorganisasikan mobilisasi/ migrasi SDM perkotaan unggulan  dari 
kawasan maju utk membentuk ruang2/perekonomian perkotaan plus investasi2 
perkotaan dan manufaktur……..
Kembali ke rencana kompilasi ‘yurisprudensi’ keputusan keruangan/  kumpulan 
kasus2 (enjinering) keruangan ……kalau boleh diibaratkan dikawasan maju dn 
kawasan tertinggal masing2 terdapat 100  macam kemungkinan  langkah2 enjinering 
keruangan ……dan kalau diibaratkan dikawasan maju telah dpt dikompilasikan 50% 
atau katakankah 75% atau berapa %  model situasi gitu …….sementara itu dari 
kawasan tertinggal yg adlh 90 % ruangnegeri kita .......anda brkali jangan2 
baru dpt mengkompilasikan 5 atau 10 studi kasus (pembangunan Batam, Timika/ 
Tembagapura, Lombok dsb…..) …dan tentu  bukan pemikiran yg tak waras kalau 
planologi juga perlu memikirkan bgmn menjalankan enjinering keruangan utk 
mengembangkan kota2 diperbatasan yg dinamis dan menjadi beranda depan beneran  
spt di Entikong,  Sebatik, Kupang, Natuna, Sangir/ Talaud,  Halmahera, Merauke, 
Pacitan  dsb………. 
Masalahnya adlh siapa akan berminat/ bersemangat mengkompilasikan karya2 dgn 
jumlah/ porsentase angka  yg jauh dibawah angka pantas  (atau pertanyaannya 
jadi mengkompilasi dulu  barang yg amat  minimum dan tak pernah dibuat atau 
membuat sebanyak2 karya nyata dulu)………setidaknya utk kawasan tertinggal (semula 
Batam, lalu Timika, Bontang, Soroako. Lombok sbg spillover Bali … dsb) selalu 
modelnya adlh sdh ada leading/ propulsive activities yg mendahului (spt 
SIngapura utk Batam, aktivitas tambang utk kota2 sisanya, juga pariwisata Bali 
yg mendunia dan Lombok hanya amat dekat diseberangnya) …….dan kita blm pernah 
(dan sdh gitu dableg gak pernah mau)  mengembangkan (setidaknya wacana dulu) 
karya2 enjiinering keruangan berupa  pengembangan kota, habitat dan pusat 
kesempatan kerja sekaligus produk wisata  yg jauh dari kawan maju …dimana 
segalanya harus diciptakan dulu : aktivitas memimpin …migrasi SDM….skenario 
aglomerasi …skenario
menyemai industri manufaktur memimpin …..redesain size kota dll …….salam, 
aby  
 
 
 
 
 
 











      

Kirim email ke