Pak Fajar, Pak Nuzul, Pak Suwardjoko dan Rekans ysh,
 
Diskusi Fajar-Nuzul mengingatkan saya bahwa dalam pengembangan ekonomi daerah, 
aspek supply-chain dari berbagai kegiatan produksi juga mesti dipertimbangkan 
atau di-planning. Selama ini dalam hubungan antar industri kita membahas aspek 
perangkutan (transportation, istilah Pak Suwardjoko W). Tapi ternyata regional 
planner perlu juga mengetahui "apa" yang diangkut. Penting karena ini 
menyangkut "aliran darah" dari sistem ekonomi suatu wilayah. Untuk itu saya 
coba mulai menulis (silahkan klik:) Supply-chain Planning dalam konsteks 
pengembangan wilayah, karena ini juga urat nadi cluster-cluster ekonomi lokal.
 
Setuju dengan Pak Fajar dan Pak Nuzul dalam hal keterbatasan yang membuat 
mata-rantai sistem produksi terputus. Bahkan raw-material di export dulu, baru 
diolah lagi, atai dikunsumsi dalam negeri. Suatu mata rantai yang hilang, 
sehingga banyak peluang investasi hilang pula. (tentu Bang Nuzul ahlinya). 
Terima kasih.
 
Salam,
Risfan Munir
 
 
 


--- On Wed, 5/5/10, [email protected] <[email protected]> 
wrote:


From: [email protected] <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Shell Berinvestasi di Singapura-Pukulan telak bagi 
Indonesia?
To: [email protected]
Date: Wednesday, May 5, 2010, 3:32 PM


  








Pak Nuzul dan sahabat referensiers ysh,
 
Terima kasih atas informsinya yang berharga. Walaupun sedikit, tapi menambah 
wawasan (setidaknya untuk saya pribadi) dan membagkitkan pemikiran bahwa 
sepertinya memang, sedikit banyak, kita telah melakukan ketidak-adilan kepada 
wilayah kita sendiri.
 
Ketidak-adilan yang saya maksud, setidaknya direpresentasikan oleh tidak adanya 
pemenuhan salah satu kebutuhan kilang dan terminal-terminal penerima (receiving 
terminals) baaik unuk LNG maupun juga mungkin untuk minyak di wilayah-wilayah 
yang membutuhkannya. Akibatnya, selain wlayah-wilayah tersebut tidak bisa 
berkembang baik sebagaimna mestinya, juga bahkan masyarakat kita juga harus 
membayar BBM secara lebih tinggi karena harus berpatokan kepada harga 
pengilangan di Singapura plus biaya transportasinya Indonesia. Bisa  jadi, 
apabila kita memiliki kilang dan receiving terminal yang memadai, mungkin biaya 
yang dikeluarkan untk BBM bisa lebih rendah. 
 
Saya yakin kurangnya pemenuhan kebutuhan kilang dan terminal penerima ini bukan 
karena kita tidak mampu menyediakannya. Bisa jadi kurang atau bahkan ketiadaan 
pemenuhannya diakibatkan oleh lemahnya kita sebagai bangsa dalam mengenali 
kebutuhan baik di saat ini ini maupun di masa mendatang, di dalam dinamika 
perkembangan ekonomi beserta perkembangan ilmu dan teknologi yang menyertainya. 
 
Bisa jadi tak teridentifikasikann ya kebutuhan kilang dan terminal-terminal 
penerima ini bukan satu-satunya kebutuhan yang luput dari analisis/amatan. 
Selain itu, kadang juga ada kebutuhan yang sudah teridentifikasi tetapi tida 
bisa dipenuhi karena alasan-alasan tertentu, seperti saya pernah mendengar 
adanya keinginan (kebutuhan?) dari sebuah pulau yang memiliki banyak panorama 
yang indah dan banyak animo turis manca negara yang ingin datang melihatnya 
namun tidak bisa memiliki sebuah lapangan terbang karena pulau yang ukurannya 
bahkan lebih besar daripada Pulau Bali tersebut hanyalah merupakan bagian dari 
sebuah kabupaten. Memang terkadang agak sulit membedakan antara kebutuhan 
(needs) dengan keinginan (wants). Tetapi mestinya kita memiliki cara-cara yang 
lebih terukur untuk membedakannya.
 
Saya berpikir seperti ini karena memang biasanya dalam melakukan perencanaan 
kita melakukan identifikasi kebutuhan. Namun dalam tradisi analisis kebutuhan 
yang dilakukan, seringkali hanya untuk kebutuhan yang berbasis pada manusia 
seperti fasilitas sekolah, puskesmas, rumah sakit, fasilitas ibadah, dll. 
Ketika berbicara tentang fasilitas-fasilitas umum seperti ini, relatif mudah 
bagi perencana untuk memperhitungkannya. Namun untuk kebutuhan-kebutuhan yang 
lebih spesifik, terutama yng ditujukaan untuk menunjang aktivitas yang lebih 
luas, seperti kilang dan terminal penerima tadi, dibutuhkan pengetahuan, 
wawasan dan pemahaman yang lebih luas, sehingga kita lebih mampu 
mengidentifikasi serta menganalisis apakah memang hal itu merupakan suatu 
kebutuhan atau hanya sebuah keinginan.
 
Mohon tanggapan Pak Nuzul, Pa Aby, Pak Risfan, Pak RVK, Bu  Ida, Pak BTS, atau 
sahabat refereniers lainnya.
 
Salam hangat,
 
Fadjar
 


--- En date de : Mer 5.5.10, Nuzul Achjar <ach...@gmail. com> a écrit :


De: Nuzul Achjar <ach...@gmail. com>
Objet: Re: [referensi] Shell Berinvestasi di Singapura-Pukulan telak bagi 
Indonesia?
À: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Mercredi 5 mai 2010, 15h05


  


 
Pak Fajar dan Sahabat Referenciers,
 
Mengenai kompleks Petrokimia Shell di Pulang Bukom dan Jurong, dengan informasi 
saya yang masih sangat terbatas, beberapa hal yang mungkin bisa disampaikan 
dari keterbatasan tersebut adalah:
 
Pertama, Singapura sudah sejak  lama mempunyai kilang BBM (refinery) yang 
terletak di pulau Jurong, juga di antaranya dimiliki Shell, dengan bahan baku 
antara lain naphta. Istilah Mean of Platts Singapore (MOPS) mengacu pada harga 
BBM dari refinery Singapura. Harga BBM yang diimpor Pertamina, di Indonesia 
harga tersebut kalau tak salah 9-9,5% persen di atas MOPS, antara lain untuk 
biaya pengangkutan.  Biaya transportasi  BBM yang diproduksi di kilang 
dalam negeri,  biaya distribusinya  dimasukkan sebagai ALPHA, koefisien 
tertentu dari harga BBM di kilang.  
 
Kedua, Jurong punya pelabuhan sangat bagus untuk masuknya tanker ukuran besar 
--> infrastruktur  sangat mendukung.
 
Ketiga, kompleks petrokimia persis berada jalur Selat Malaka tempat lalu lintas 
armada niaga dari Eropa (via Suez) ke Timur Jauh (Cina, Hongkong, Jepang, 
Vietnam, dll) dan sebaliknya. 
 
Kalau hitungan cost benefit, ya lebih menguntungkan berlokasi di Singapura lah 
dibandingkan dengan di Kepri (he he he.. saya dan ibu Ida akan mengatakan 
begitu ya bu Ida?) apalagi Dumai. Dumai kalau tak salah akan menjadi pelabuhan 
curah CPO terbesar.
 
Nah, karena konteksnya adalah kesiapan atau keberadaan infrastruktur, salah 
satu alasan mengapa selama ini gas Indonesia sebagian diekspor (dan terikat 
dengan kontrak jangka panjang dengan negara pembeli), ya itu tadi, waktu 
diadakan kontrak dengan negara lain, infrastruktur gas untuk mengalirkan gas ke 
pasar domestik tak tersedia. Pipa gas dari wellhead ke pabrik pupuk atau PLN 
tidak ada atau sangat terbatas sekali. Kalau diangkut dengan kapal untuk pasar 
domestik,  kita harus punya kilang LNG Iseperti di Bontang - Kaltim dan Arun - 
NAD, kemudian LNG receiving terminal (pencairan gas) di tempat tujuan. Lha... 
sampai saat ini Indonesia sama sekali tak  punya LNG receiving terminal. 
 
Nah... akhirnya disadari bahwa kita perlu LNG receving terminal di berbagai 
daerah. Prioritas diberikan lebih dahulu di Jawa Barat dan Sumatera 
Utara, diharapkan selesai akhir tahun 2011.
 
Kalau pertanyaannya kenapa dari dulu Indonesia gak punya konsepsi atau kemauan 
politik untuk  mempersiapkan  infrastruktur energi dimaksud.. wah teman-teman 
referensiers pasti lebih tahu jawabannya.
 
Salam hangat,
 
Nuzul Achjar 
 
 
 
 
  
 
  


 








      

Kirim email ke