Bapak-bapak dan Ibu-ibu sahabat referesiers ysh,
 
Baru-baru ini diberitakan bahwa Shell memulai beroperasinya fasilitas pabrik 
petrokimia terbesar yang pernah dibangunnya. Pabrik itu berlokasi di Pulau 
Bukom dan Jurong, Singapura. 
 
Tidakkah hal ini menjadi suatu pertanyaan bagi kita? 
- Mengapa suatu industri petrokimia yang bernilai miliaran dolar dan akan 
memproduksi sejumlah produk, seperti ethylene (800.000 ton per tahun), 
propylene (450.000 ton per tahun), benzene (230.000 ton per tahun), mono 
ethylene glycol (750.000 ton per tahun), dan butadine (155.000 ton per tahun) 
yang kemudian akan diekspor ke kawasan Asia Pasific (termasuk Indonesia yang 
kebutuhan bensinnya yang terus meningkat masih belum mampu dipenuhi secara 
mandiri), ini kemudian berlokasi di Singapura yang hanya memiliki lokasi dekat 
sumber-sumber bahan baku dan pasarnya, tanpa memiliki sumber bahan baku dan 
pasarnya sendiri? 
 
Apakah investasi tsb bisa dianggap sebagai suatu pukulan telak bagi Indonesia 
yang kalah dalam percaturan bisnis dan investasi dunia? Atau memang kita pikir 
bahwa hal ini sudah suatu kewajaran mengingat Singapura tidak bisa dibandingkan 
dengan Indonesia karena Singapura sudah merupakan bagian dari negara maju, 
sedangkan Indonesia masih merupakan negara berkembang....?
 
Sebaliknya, Indonesia, memiliki sumber bahan baku dan pasar yang cukup besar 
dan sangat potensial, mengapa tidak menjadi lokasi investasinya? Mengapa bukan 
di sekitar Dumai-Rengat-Pekanbaru, Balikpapan, atau Sumatera Selatan yang 
merupakan gudang bahan bakunya..? Selain persoalan-persoalan perijinan, ekonomi 
biaya tinggi, dll, adakah pengaruh faktor-faktor yang berkaitan dengan spasial 
seperti standar kualitas layanan infrastruktur kota, infrastruktur regional, 
dan lain-lain..?
 
Mohon tanggapan dari Bapak-bapak, Ibu-ibu sahabat referensierf..
 
Terima kasih dan salam hangat,
 
Fadjar Undip
 
 
Shell Berinvestasi di Singapura


Rabu, 5 Mei 2010 | 03:48 WIB
Singapura, Kompas - Perusahaan minyak raksasa Royal Dutch Shell mengantisipasi 
pertumbuhan ekonomi yang tinggi di Asia Pasifik dengan membangun kompleks 
petrokimia di Singapura, yang resmi beroperasi Selasa (4/5).
Produk dari kompleks petrokimia tersebut, antara lain, diekspor ke China, 
India, dan negara lain di kawasan Asia Pasifik, termasuk Indonesia.
Chief Executive Officer (CEO) Royal Dutch Shell Peter Voser dalam jumpa pers di 
Singapura, kemarin petang, mengemukakan, kompleks petrokimia terintegrasi yang 
dibangun di Pulau Bukom dan Jurong, tidak jauh dari Singapura, itu akan 
menghasilkan sejumlah produk yang akan diekspor ke negara-negara di Asia 
Pasifik.
Pertumbuhan ekonomi Asia Pasifik yang tinggi, terutama di India dan China, 
menurut Voser, membuat kebutuhan akan produk petrokimia meningkat tajam. 
Kebutuhan serupa akan muncul dari Indonesia. Namun, Voser tak merinci volume 
ekspor produk petrokimia Shell ke Indonesia.
”Pertumbuhan mobil di Asia Tenggara akan lipat tiga menjadi 92 juta unit hingga 
tahun 2030. Pabrik mobil ini akan memerlukan produk petrokimia seperti plastik, 
bahan bakar, pelumas, dan semua ini akan dipasok dari kompleks petrokimia milik 
Shell ini,” ujar Voser.
Dari pasar internasional
Petrokimia milik Shell di Singapura ini membutuhkan minyak mentah 500.000 
barrel per hari. Bahan baku ini dikelola untuk menghasilkan ethylin 800.000 ton 
per tahun, monoethylin glikol (750.000), butandin (155.000 ton), propylin 
(450.000), dan benzene (230.000).
”Kami membeli minyak mentah dari pasar internasional untuk memasok kebutuhan 
kompleks petrokimia ini,” kata Voser saat ditanya apakah ada minyak mentah yang 
didatangkan dari Indonesia.
”Kompleks petrokimia ini untuk memantapkan peran utama Shell dalam bisnis ini 
di Asia Pasifik dan juga dunia,” ujar dia.
Peresmian kompleks petrokimia milik Shell bernilai miliaran dollar AS ini 
dilakukan oleh PM Singapura Lee Hsien Loong. Shell sudah hadir di Singapura 
sejak hampir 120 tahun lalu.
(Pieter P Gero dari Singapura)






 


. 








      

Kirim email ke