Mas Fajar yg baik, Pukulan telak bagi Indonesia?......hoohooo siapa bilang? ......bagi kita itu hanya sebuah semilir sepoi angin lalu saja mas ……kita ini sudah terbiasa berkulit badak atau setidaknya berkulit kura2 ninja …jadi tak kan pernah ada pukulan sekeras apapun dan setelak apapun yg akan terasa menyakitkan atau memalukan……. Kalau Shell pilih Singapura …jelas bhw orientasinya adalah orientasi bisnis, distribusi regional dan internasional …..jelas bhw acaranya adlh acara komersial, manufaktur dan kewiraswastaan …dan bukannya acara frustrasi dan kuper hanging around sekitar APBN melulu seolah bhw diluar APBN tak akan pernah ada nilai2 ekonomi dan pembangunan yg patut diharap, dikembangkan, dikenyam dan mengenyangkan perut………. Dan jelas bhw Singapura adlh pilihan terbaik …..krn Singapura sudah jadi hub internasional mateng beneran ……Shell melihat bhw penduduk (ibu)kotanya sudah terbiasa siap dgn jiwa kewiraswastaan dn manufaktur dan tak punya SDA apapun atau negeri seluas apapun utk hanya dibangga2kan terus ….. dan Shell melihat mereka bukan terbiasa dgn jiwa ambtenaar yg biasa dgn terkantuk2 dn termimpi2 selalu merindukan kota2 agar selalu manusiawi, punya taman2 dan patung2 dan tapi amatsngat masa bodoh dgn pengangguran dan masa depan perekonomian bangsanya………salam, aby
--- On Tue, 5/4/10, [email protected] <[email protected]> wrote: From: [email protected] <[email protected]> Subject: [referensi] Shell Berinvestasi di Singapura-Pukulan telak bagi Indonesia? To: [email protected] Date: Tuesday, May 4, 2010, 10:25 PM Bapak-bapak dan Ibu-ibu sahabat referesiers ysh, Baru-baru ini diberitakan bahwa Shell memulai beroperasinya fasilitas pabrik petrokimia terbesar yang pernah dibangunnya. Pabrik itu berlokasi di Pulau Bukom dan Jurong, Singapura. Tidakkah hal ini menjadi suatu pertanyaan bagi kita? - Mengapa suatu industri petrokimia yang bernilai miliaran dolar dan akan memproduksi sejumlah produk, seperti ethylene (800.000 ton per tahun), propylene (450.000 ton per tahun), benzene (230.000 ton per tahun), mono ethylene glycol (750.000 ton per tahun), dan butadine (155.000 ton per tahun) yang kemudian akan diekspor ke kawasan Asia Pasific (termasuk Indonesia yang kebutuhan bensinnya yang terus meningkat masih belum mampu dipenuhi secara mandiri), ini kemudian berlokasi di Singapura yang hanya memiliki lokasi dekat sumber-sumber bahan baku dan pasarnya, tanpa memiliki sumber bahan baku dan pasarnya sendiri? Apakah investasi tsb bisa dianggap sebagai suatu pukulan telak bagi Indonesia yang kalah dalam percaturan bisnis dan investasi dunia? Atau memang kita pikir bahwa hal ini sudah suatu kewajaran mengingat Singapura tidak bisa dibandingkan dengan Indonesia karena Singapura sudah merupakan bagian dari negara maju, sedangkan Indonesia masih merupakan negara berkembang.. ..? Sebaliknya, Indonesia, memiliki sumber bahan baku dan pasar yang cukup besar dan sangat potensial, mengapa tidak menjadi lokasi investasinya? Mengapa bukan di sekitar Dumai-Rengat- Pekanbaru, Balikpapan, atau Sumatera Selatan yang merupakan gudang bahan bakunya..? Selain persoalan-persoalan perijinan, ekonomi biaya tinggi, dll, adakah pengaruh faktor-faktor yang berkaitan dengan spasial seperti standar kualitas layanan infrastruktur kota, infrastruktur regional, dan lain-lain..? Mohon tanggapan dari Bapak-bapak, Ibu-ibu sahabat referensierf. . Terima kasih dan salam hangat, Fadjar Undip Shell Berinvestasi di Singapura Rabu, 5 Mei 2010 | 03:48 WIB Singapura, Kompas - Perusahaan minyak raksasa Royal Dutch Shell mengantisipasi pertumbuhan ekonomi yang tinggi di Asia Pasifik dengan membangun kompleks petrokimia di Singapura, yang resmi beroperasi Selasa (4/5). Produk dari kompleks petrokimia tersebut, antara lain, diekspor ke China, India, dan negara lain di kawasan Asia Pasifik, termasuk Indonesia. Chief Executive Officer (CEO) Royal Dutch Shell Peter Voser dalam jumpa pers di Singapura, kemarin petang, mengemukakan, kompleks petrokimia terintegrasi yang dibangun di Pulau Bukom dan Jurong, tidak jauh dari Singapura, itu akan menghasilkan sejumlah produk yang akan diekspor ke negara-negara di Asia Pasifik. Pertumbuhan ekonomi Asia Pasifik yang tinggi, terutama di India dan China, menurut Voser, membuat kebutuhan akan produk petrokimia meningkat tajam. Kebutuhan serupa akan muncul dari Indonesia. Namun, Voser tak merinci volume ekspor produk petrokimia Shell ke Indonesia. ”Pertumbuhan mobil di Asia Tenggara akan lipat tiga menjadi 92 juta unit hingga tahun 2030. Pabrik mobil ini akan memerlukan produk petrokimia seperti plastik, bahan bakar, pelumas, dan semua ini akan dipasok dari kompleks petrokimia milik Shell ini,” ujar Voser. Dari pasar internasional Petrokimia milik Shell di Singapura ini membutuhkan minyak mentah 500.000 barrel per hari. Bahan baku ini dikelola untuk menghasilkan ethylin 800.000 ton per tahun, monoethylin glikol (750.000), butandin (155.000 ton), propylin (450.000), dan benzene (230.000). ”Kami membeli minyak mentah dari pasar internasional untuk memasok kebutuhan kompleks petrokimia ini,” kata Voser saat ditanya apakah ada minyak mentah yang didatangkan dari Indonesia. ”Kompleks petrokimia ini untuk memantapkan peran utama Shell dalam bisnis ini di Asia Pasifik dan juga dunia,” ujar dia. Peresmian kompleks petrokimia milik Shell bernilai miliaran dollar AS ini dilakukan oleh PM Singapura Lee Hsien Loong. Shell sudah hadir di Singapura sejak hampir 120 tahun lalu. (Pieter P Gero dari Singapura) .

