Pak Fajar dan Sahabat Referenciers,

Mengenai kompleks Petrokimia Shell di Pulang Bukom dan Jurong, dengan
informasi saya yang masih sangat terbatas, beberapa hal yang mungkin bisa
disampaikan dari keterbatasan tersebut adalah:

Pertama, Singapura sudah sejak  lama mempunyai kilang BBM (refinery) yang
terletak di pulau Jurong, juga di antaranya dimiliki Shell, dengan bahan
baku antara lain naphta. Istilah Mean of Platts Singapore (MOPS) mengacu
pada harga BBM dari refinery Singapura. Harga BBM yang diimpor Pertamina, di
Indonesia harga tersebut kalau tak salah 9-9,5% persen di atas MOPS, antara
lain untuk biaya pengangkutan. Biaya transportasi BBM yang diproduksi di
kilang dalam negeri,  biaya distribusinya dimasukkan sebagai ALPHA,
koefisien tertentu dari harga BBM di kilang.

Kedua, Jurong punya pelabuhan sangat bagus untuk masuknya tanker ukuran
besar --> infrastruktur sangat mendukung.

Ketiga, kompleks petrokimia persis berada jalur Selat Malaka tempat lalu
lintas armada niaga dari Eropa (via Suez) ke Timur Jauh (Cina,
Hongkong, Jepang, Vietnam, dll) dan sebaliknya.

Kalau hitungan cost benefit, ya lebih menguntungkan berlokasi di Singapura
lah dibandingkan dengan di Kepri (he he he.. saya dan ibu Ida akan
mengatakan begitu ya bu Ida?) apalagi Dumai. Dumai kalau tak salah akan
menjadi pelabuhan curah CPO terbesar.

Nah, karena konteksnya adalah kesiapan atau keberadaan infrastruktur, salah
satu alasan mengapa selama ini gas Indonesia sebagian diekspor (dan terikat
dengan kontrak jangka panjang dengan negara pembeli), ya itu tadi, waktu
diadakan kontrak dengan negara lain, infrastruktur gas untuk mengalirkan gas
ke pasar domestik tak tersedia. Pipa gas dari wellhead ke pabrik pupuk atau
PLN tidak ada atau sangat terbatas sekali. Kalau diangkut dengan kapal untuk
pasar domestik,  kita harus punya kilang LNG Iseperti di Bontang - Kaltim
dan Arun - NAD, kemudian LNG receiving terminal (pencairan gas) di tempat
tujuan. Lha... sampai saat ini Indonesia sama sekali tak  punya LNG
receiving terminal.

Nah... akhirnya disadari bahwa kita perlu LNG receving terminal di berbagai
daerah. Prioritas diberikan lebih dahulu di Jawa Barat dan Sumatera
Utara, diharapkan selesai akhir tahun 2011.

Kalau pertanyaannya kenapa dari dulu Indonesia gak punya konsepsi atau
kemauan politik untuk  mempersiapkan infrastruktur energi dimaksud.. wah
teman-teman referensiers pasti lebih tahu jawabannya.

Salam hangat,

Nuzul Achjar

Kirim email ke