Dear Sahabat,

Sudah beberapa hari ini saya ingin menuliskan butir-butir pengalaman 
mendengarkan pemaparan dua tokoh penting dalam penataan ruang kota. Kebetulan 
saja, keduanya dapat tampil dalam satu sesi, maka duet mereka menjadi sangat 
asyik dinikmati. Semoga paparan berikut ini menambah pengetahuan kita dan 
membuat kita bangun dari tidur nyenyak dan tidak bisa tidur lagi karena 
kesetrum virus yang disebarkannya.

1. Ridwan Kamil seorang arsitek muda tentang ruang kota yang datang dari 
Bandung, mengusung gagasan bahwa setiap jaman memiliki budayanya sendiri, maka 
generasi jaman itu harus menciptakan kebudayaan tanpa meninggalkan akar 
budayanya. Beberapa karyanya berbasis pada ideologinya itu, yang dikelola 
dengan prinsip keseimbangan, asalkan semuanya itu tertuju kepada manusia. Pada 
titik ini tampaknya dia ada dalam aliran humanisme sekaligus berpihak pada 
kebudayaan dan melestarikan alam. Dalam paparan itu dia mengatakan bahwa "ilmu 
keseimbangan" untuk menghasilkan karya yang memihak sana-sini adalah ilmu yang 
sulit. 

2. Ridwan Kamil dikenal dengan ide-idenya tentang kota kreatif. Sebuah kota 
akan hidup jika ada festival, maka generasi saat ini harus mampu membuat kota 
hidup dengan festival-festival. Jember dulu tidak dikenal, tetapi dengan 
festival pakaian (?) lantas sekarang menjadi terkenal. Warga kota, khususnya 
walikota, harus mampu menghidupkan kota dengan acara-acara unik, maka kota akan 
hidup dan berkembang ekonominya, dst dst.

3. Soal suasana kota yang nyaman, paradigmanya harus diubah yaitu mengedepankan 
manusia, Ada banyak contoh, bagaimana dulu kota yang penuh dengan lost space 
diubah dengan pembuatan ruang-ruang terbuka hijau yang penuh dengan aktivitas 
manusia. Orang dibuat supaya jika rekreasi tidak melulu ke Mall, melainkan ke 
ruang-ruang terbuka hijau yang penuh dengan aktivitas manusia. Intinya, ruang 
terbuka hijau bukan hanya soal tanaman, tetapi lebih-lebih ruang itu harus 
menjadi ruang yang hidup dan aktif oleh kegiatan manusia. Walikota Solo 
nyeletuk, Solo akan diubah ruang kotanya dengan kebijakan non-motorize, parkir 
kendaraan di luar kota dan untuk ke dalamkota oran harus jalan kaki, bersepeda 
atau naik becak dan andong.

4. Djokowi bercerita tentang pengalamannya yang banyak dalam mengubah image dan 
wajah kota Solo yang bopeng di sana-sini melalui tayangan slides yang sederhana 
namun sarat dengan muatan informasi. Ia menggunakan prinsip ilmu Jawa: 
memanusiakan manusia (orang jawa kalau dipangku mati, seperti huruf jawa itu). 
ia setuju dengan semua gagasan Ridwan Kamil bahwa kota harus manusiawi, 
berbudaya dan sehat alami. 

5. Pada waktu awal menjadi walikota Solo, Djokowi kritis terhadap situasi yang 
dihadapi dan punya konsep tersendiri. Cerita tentang satpol PP menarik untuk 
diangkat. Pimpinan Satpol PP mengajukan anggaran sekian juta untuk membeli 
penthungan, dia diamkan. Tahun berikutnya, mengajukan lagi, sekian puluh juta 
untuk membeli tameng, dia diamkan juga. Djokowi sadar, situasi seperti itu 
harus diubah. Tahun berikutnya, sebelum pimpinan satpol PP mengajukan anggaran, 
dia minta semua unsur satpol PP berkumpul di balai kota untuk menyerahkan 
penthungan dan tamengnya untuk digudangkan !!! Sebuah langkah berani yang 
dilandasi konsep jelas, bahwa kota Solo akan membangun tanpa menggusur.

6. Ridwan Kamil setuju dengan langkah Djokowi tersebut, katanya, perubahan 
ruang kota memang harus di mulai dari pucuk pimpinan pemerintah kota. Jika 
tidak demikian, maka tidak akan ada gerakan perubahan yang mendasar. Dari 
slides yang ditayangkan Djokowi memang terlihat benar-benar turun ke lapangan 
MEMIMPIN bagaimana mendekati warga yang tanahnya akan ditata. Ia terlibat 
langsung dalam temu warga secara intens, ketika mengadakan gerakan pembangunan 
yang berpartisipasi masyarakat (berbasis masyarakat). 

7. Kunci yang lain Djokowi menggunakan "makan bersama" sebagai sarana 
perjumpaan antara walikota dengan warga yang akan ditata. Ia berkali-kali 
menyelenggarakan acara makan bersama seperti itu, dan hanya makan saja, tanpa 
dialog formal. ketika ada yang bertanya, pak kok nggak ada dialog? Dijawabnya: 
memang nggak ada, aku memang ingin mengundang kamu makan bersama, titik. 
Lama-lama pendekatan ini muncul efektifitasnya, warga lambat laun memahami mau 
kemana walikota dan dibawa kemana Solo dengan penataannya. Hasilnya, warga 
dengan sukarela berpartisipasi.

8. Ketika proses dialog, walikota dan warga aktif bertemu. Pada saat penataan 
fisik, warga terlibat dengan sukarela karena memahami arah yang akan dituju. 
Bahkan ketika warga pindah ke tempat yang baru (khususnya pasar) mereka diarak 
dengan cara budaya Jawa, diantarkan oleh prajurit kraton. Warga membawa 
tumpeng, satu tumpeng satu keluarga, diarak bersama walikota ke tempat yang 
baru. Artinya, warga dilibatkan, budaya tidak ditinggalkan, saling hormat 
walikota dengan warganya terjadi. Kirab semacam ini juga pernah dilaksanakan di 
Jogja, pindahnya pasar klithikan dan pasar burung beberapa waktu yang lalu.

9. Mengapa warga (beberapa kasus adalah penataan pasar) mau pindah ke pasar 
yang ditata dengan sukarela ? Ya karena mereka mendapat kepastian tentang 
tempat jualan sesuai dengan keinginan bersama. Rahasia yang penting: pedagang 
lama di pasar baru tidak mengeluarkan uang sepeserpun. Padahal, di kota-kota 
lain proses pindah semacam itu selalu dengan mbayar beli kios. lha di Solo kok 
nggak mbayar? Ternyata Djokowi pandai menyiasati anggaran dan meyakinkan dewan 
bahwa dengan cara tertentu uang yang ditanamkan untuk pasar baru akan kembali 
dan pedagang terbebani. Sebenarnya, mereka mbayar juga, hanya dengan cara 
matematika sedemikian rupa semuanya happy.

Demikian catatan saya sejauh masih saya ingat. Semoga bisa menjadi inspirasi 
yang kreatif. Jika ada pertanyaan-pertanyaan, mungkin ingatan saya bisa terbuka 
lagi dan catatan ini bisa bertambah.

Salam,



Djarot Purbadi



      

Kirim email ke