Cak Andri, saya hanya ingin mengomentari sedikit soal monorail.
Boleh jadi monorail itu tak pernah ada.
 
DKI sebenarnya tak pernah merencanakan monorail. Kebetulan ada swasta PT 
Jakarta Monorail (PT JM) yang berkenan membangun Monorail. Akhirnya ide swasta 
itu diijinkan karena Pemda DKI sangat menghargai prakarsa swasta (masak ada 
swasta yang mau membangun sesuatu nggak boleh?). Syaratnya, PT JM harus 
meyakinkan DKI ada penyandang dana. PT JM diberi waktu 1 tahun. Waktu itu ada 
Dubai Islamic Bank (DIB) sebagai financiernya dengan menerbitkan sukuk 
(obligasi syariah), tapi gagal. Alasannya sukuk waktu itu belum ada UU-nya 
(sekarang sih sudah ada). Akhirnya diberi waktu 1 tahun lagi, tetap saja tidak 
mendapatkan financier pengganti DIB. Dalam masa persiapan itu, PT JM dengan 
dana dari PT Adhi Karya terus membangun pilar-pilar monorail.
 
Karena beberapa kali gagal mengundang financier, Pemerintah menduga proyek 
monorail ini risikonya tinggi sehingga belum juga ada financier. Akhirnya 
Pemerintah memberi dukungan berupa "dukungan risiko", maksudnya, apabila 
operasi monorail tidak mencapai sasaran jumlah penumpang, maka Pemda DKI dan 
Pemerintah akan men-subsidi 50%. Tapi lagi-lagi PT JM tetap tidak bisa 
mengundang finacier itu. Waktu habis. Dengan demikian perjanjian antara DKI dan 
PT JM batal.
 
Sekarang untuk apa pilar-pilar itu? PT JM minta supaya pilar-pilar itu dibeli 
Pemda DKI. Tentu Pemda DKI emoh. Tapi kasihan juga kalau nggak dibeli, PT Adhi 
Karya yang nota bene BUMN akan rugi besar. Untuk itu Pemda DKI minta diaudit, 
berapa layaknya harga pilar itu. Tentu dengan harga semurah-murahnya. Apabila 
harga nggak cocok antara kedua belah pihak, maka kemungkinan pilar-pilar itu 
akan dihancurkan.
 
Jadi monorail bagaimana? .......  Too good to be true.
 
Thanks. CU. BTS.

--- Pada Sen, 26/7/10, Mohammad Andri Budiman <[email protected]> menulis:


Dari: Mohammad Andri Budiman <[email protected]>
Judul: Re: To Cak Andri [referensi] RE: Kemacetan Jkt : DPR - Gub DKI Sama Saja
Kepada: [email protected]
Tanggal: Senin, 26 Juli, 2010, 3:13 AM


Terima kasih atas penjelasan Al Ustadz Eyang Aby yang saya hormati.
Mudah-mudahan bila countermagnets yang kecil-kecil ini sama-sama ikut
"menarik", maka akan terjadi keadaan yang mendekati regional
equalities. Walaupun, tentu agak lama karena countermagnets yang
dibangun lebih cenderung di daerah yang masih di radius 100 km dari
tugu Monas. Nampaknya Pulau Weh dan Merauke bakal menunggu dua-tiga
generasi lagi.

Pun demikian, saya rasa akan makin "paten" apabila para Boss yang ada
di Jakarta juga memikirkan bahwa akar kemacetan daerah bukanlah di
Jakarta sendiri, tetapi kekurangperhatian selama ini terhadap
pembangunan daerah non-Jakarta. Daerah tentu tidak perlu untuk
dibangun seperti Jakarta, namun perlu dipikir juga, apakah ada daerah
yang pernah "berontak" apabila pembangunan nasional telah berjalan
dengan adil?

Darah, keringat, tenaga, sumber daya alam, dan air mata anak daerah
sudah semakin mengering ... dan sebentar lagi akan ada monorail di
Jakarta.

Salam,
CA

On 7/23/10, hengky abiyoso <[email protected]> wrote:
> Rekan  Cak Andri yg Budiman dan ysh,
>
> Saya kira justru upaya membangun countermagnet city itu  ya  justru sudah pd
> saat yg sama sdh merupakan upaya utk (mengikuti istilah anda)  “mereduksi
> secara sistematis” “The Biggest Magnet” itu  sendiri …….ya krn memang
> countermagnet city itulah sptnya hanya “satu2nya obat” utk mereduksi
> primacy dari “The Biggest Magnet” itu……..
> Walau bgmnpun kecil dan lambat prosesnya …namun sekali countermagnet city
> itu dikembangkan  (dgn segala persyaratan teknis/ non teknisnya dipenuhi)
> ………bgmnpun juga kecilnya …namun pasti ia akan ada sumbangannya utk
> mereduksi/  membelokkan arus yg semula mau memilih menuju Jkt/ Jabodetabek
> ……..kalau ia tidak pernah dimulai …lalu bgmn ia bisa diharapkan berkembang
> dan dpt mempengaruhi arus urbanisasi/ migrasi yg menuju Jkt?........
>
> Semuanya ini dasarnya berkait dgn pol umum migrasi/ urbanisasi manusia
> …….dimana ada segmen2 migran yg saling berbeda pola geraknya satu sama lain
> …spt misalnya migran dari desa menuju kekota kabupaten terdekat (jenis
> migran yg ini blm tentu mau hijrah ke Jkt) …….lalu ada pula jenis migran yg
> bergerak dari desa/ kota kecil  menuju ibukota propinsi terdekat (misalnya
> penduduk kota Rembang ada yg bermigrasi/ berubanisasi kebarat  hanya menuju
> kota Smg ….namun ada juga yg bergerak ketimur  hanya menuju Surabaya (dan
> tidak hrs ke Jkt)…… lalu sebaliknya ada pula jenis migran yg bergerak dari
> desa/ kota kecil/ kota besar dari propinsi manapun  dgn tujuan Jakarta/
> Jabodetabek sbg kota metropolitan/ megapolitan/ kosmopolitan sbg favoritnya
> ……dan kota sebesar Sby atau Bdg belum tentu dipilihnya ……..lalu ada juga
> migrasi dari kota2 besar spt Jkt/ Sby kepedalaman Kalimantan misalnya (para
> insinyur yg diterima bekerja diperusahaan2
>  tambang/ perminyakan) yg jumlahnya tentu kecil ….migrasi dari Indonesia ke
> Malaysia, Hongkong, Arab dsb sbg TKI…dsb…….
>
> Dlm berbagai ‘kampanye’ saya …….saya maksudkan pengembangan countermagnet
> city “jauh dari Jakarta” (re: menurut pak BSP atau menurut bbrp teori
> regional planning  countermagnet city  itu jaraknya harus lbh dari 60km dari
> kota primat …..dan >60km itu artinya bisa 70km, bisa 80km namun jga bisa
> 1500km dst) ……adlh utk membidik sebagian dari arus migrasi/ urbanisasi dari
> desa/ kota kecil/ kota besar  diseluruh Indonesia yg semula supposed sengaja
> memilih Jkt sbg favoritnya …….atau kalau di Inggris ya segmen yg memilih
> London sbg tujuannya atau di AS yg semula hanya memilih NY sbg tujuannya……..
> shg bagi penduduk dari desa/ kota kecamatan Bolakme/ Walelagama di Wamena,
> pedalaman Papua ….atau penduduk kota kabupaten Sorong atau penduduk kota
> propinsi Ambon atau Kendari yg sejak semula pilihan migrasi/ urbanisasinya
> memang  ingin ke Jakarta  sbg kota metro/megapolitan/ ibukota RI/ kota
> terbesar dan termodrn di Indonesia   dan bukan sekedar kekota kecil/ kekota
> besar lain……brkali msh dpt tertarik  utk ke  kota Greater Makassar misalnya
> yg lbh dekat …krn toh kalau  tujuannya utk mencari kerja ‘dikota besar/
> dipabrik/ dikantor/ disektor informal ’ yg  di Makassar apa yg diicarinya
> itu ada (kalau sekarang khan di Makasar itu nggak ada secuilpun industri
> manufaktur perkotaan) …atau dpl. yg lbh dekatpun ada …….dan gaji/ pendapatan
> pada kedua kota itu (Jkt/ Mks)  pun tak jauh berbeda …lalu kenapa kok  orang
> hrs jauh2 ke Jkt yg utk mudik memerlukan biaya lbh mahal dan waktu
> perjalanan  lbh lama? ........segmen migran jenis
>  inilah yg a/l  ingin dibidik utk dpt menuju kota countermagnet to Jkt di
> KTI …dan dgn cara inilah regional inequalities dpt lambat laun dikurangi……..
> dimana fokusnya bukan sekedar seputar masalah kemacetan lalulintas saja
> ……Jadi  logikanya countermagnet city itu perlu ditegaskan dulu kepastiannya
> dan langkah konkritnya …dan setelah itu walau bgmnpun kecilnya barulah ia
> dpt diharapkan bekerja “secara sistematis” mengurangi arus yg menuju Jkt …….
> salam,
> aby
>
> --- On Tue, 7/20/10, [email protected] <[email protected]> wrote:
>
>
> From: [email protected] <[email protected]>
> Subject: Re: [referensi] RE: Kemacetan Jkt : DPR - Gub DKI Sama Saja
> To: "Referensi" <[email protected]>
> Date: Tuesday, July 20, 2010, 8:27 AM
>
>
> Rekan-rekan yth,
>
> Saya tidak tahu apakah pembangunan berbagai counter-magnet bisa berdaya guna
> dalam men-solve regional inequalities sebelum kekuatan "The Biggest Magnet"
> direduksi secara sistematis. Jadi, maaf, kali ini tidak bisa berkomentar
> lebih lanjut.
>
> Salam,
> CA
> BebasOrba® TaatPajak® AntiLumpur®
>
> ------------------------------------
>
> Komunitas Referensi
> http://groups.yahoo.com/group/referensi/Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
>
>
>


------------------------------------

Komunitas Referensi
http://groups.yahoo.com/group/referensi/Yahoo! Groups Links





Kirim email ke