Setuju pak, .......kalau ..........konsep dasarnya masih teori pasar jangka
pendek (kalau posisi penguasaan "stabil", jangka menengah...bahkan bisa
hingga beberapa dekade)....
Tetapi .......kalau untuk jangka panjang (pembangunan bangsa) mungkin
sebaliknya.
Dalam (sustainable) life cycle costing dan (socio-environmental) value
engineering, bukan initial cost lebih rendah (bagi "pelaku" pasar dan
"penentu pasar" yang sedang ber"kuasa") yang penting tetapi pengurangan
konsekuensi biaya eksternal dan peluang peningkatan kualitas lingkungan
jangka panjang yang menjadi dasar utama....
Termasuk bagaimana kita mengantisipasi the real "Climate Change"....bukan
sekadar main angka-angka prosentasi "C trading"
[?]

ATA

2010/7/27 Bambang Tata Samiadji <[email protected]>

>
>
>
> Yth. Pak Suwardjoko
>
> Seingat saya, Triple Decker (TD) itu digagas oleh Mbak Tutut yaitu suatu
> Elevated Toll Road dan di bawahnya merupakan jalur KA. Tidak hanya TD, sejak
> Mbak Tutut dapat konsesi Tol Tanjung Priok - Cawang, beliau antusias sekali
> ingin ikut andil di bidang transportasi, termasuk ingin mengembangkan
> Manggarai City.
>
> TD itu dulu  digagas dng jalur Serpong-Kota (lewat Bintaro). Tapi waktu itu
> jalan tol Bintaro-Serpong belum ada. Mungkin ada semacan Trafiic Assigment
> Analysis antara TD dan Tol Bintaro-Serpong. Dan Tol Bintaro - Serpong lebih
> menguntungkan daripada TD sehingga TD tidak jadi.
>
> Kelemahan TD menurut saya  karena 2 hal yang saling bersaing dengan pasar
> yang sama. Maksud saya, apabila ada jalur KA sejajar dengan jalan tol, maka
> jalur KA akan mengurangi pasar jalan tol. Padahal yang dapat mengembalikan
> investasi itu justru arus kendaraan di jalan tol, bukan jalur KA-nya. Jalur
> KA-nya disubsidi sama yang di atas (jalan tol), tetapi yang di atas (jalan
> tol) diambil sama yang disubsidi ( jalur  KA).
>
> Apa begitu ya?
>
> Thanks. CU. BTS.
> --- Pada *Sel, 27/7/10, Irwan Prasetyo <[email protected]>* menulis:
>
>
> Dari: Irwan Prasetyo <[email protected]>
> Judul: Re: To Cak Andri [referensi] RE: Kemacetan Jkt : DPR - Gub DKI Sama
> Saja
> Kepada: [email protected]
> Tanggal: Selasa, 27 Juli, 2010, 1:30 AM
>
>
> Ysh P Suwardjoko, P BTS, Bpk, Ibu,
>
> Mungkin ini yang dimaksud unsolicited itu ya. Menurut undang-undang KPS
> yang ada sekarang, unsolicited itupun harus tetap melalui proses tender
> oleh panitia, dan pemrakarsa awal itu diberi score awal (10% ?). Jadi
> mungkin persiapannya kurang untuk menghadapi kondisi ini dan itu. Yah
> namanya kita baru belajar. Hanya saya kok sedikit penasaran apa betul
> pemrakarsa itu cuman dapat score awal 10? Padahal kan mereka itu buat
> studi kelayakan sendiri, ide orisinal dan lain-lain. Nanti jadi kurang
> semangat swastanya. Tapi saya setuju kita tidak boleh tunduk 100% pada
> swasta, namun kita musti ada visi dan opini sendiri juga, termasuk
> mambandingkan dengan yang lain.
>
> Bung BTS dan sobat-sobat Ysh
> Lucu juga ya, tak ada rencana tetapi tundhuk kepada swasta. DKI sebenarnya
> tak
> pernah merencanakan monorail. Kebetulan ada swasta PT Jakarta Monorail (PT
> JM)
> yang berkenan membangun Monorail. Akhirnya ide swasta itu diijinkan karena
> Pemda
> DKI sangat menghargai prakarsa swasta (masak ada swasta yang mau membangun
> sesuatu nggak boleh?). Apapun syaratnya, menurut saya tetap aneh, karena
> membangun tanpa rencana.
> Lepas dari baik-buruknya, bukankan sudah ada rencan “triple decker” ?
> Di
> sinilah kelemahan pejabat kita yang seolah-olah “tabu” melanjutkan
> rencana
> sebelumnya. Akibatnya, tak ada konsistensi rencana.
>
> Kemacetan sudah ‘tersaji’ di depan mata, upaya mengatasi persoalan
> harus
> dilakukan. Salah satu cara mengatasi kemacetan lalu-lintas adalah
> kebijakan
> mengutamakan angkutan umum (massal). Tinggal pilih:
> · Kembali ke rencana triple decker; tanpa mempersoalkan lagi
> siapa
> penggagasnya, atau
> · Wujudkan monorail dengan memanfaatkan pilar-pilar yang sudah
> ada, atau
> · Hancurkan semua pilar yang ada dan susun rencana dan rancangan
> baru.
> Catatan saya;
> 1. Rencana dan rancangan yang manapun selalu mengandung sejumlah
> kelemahan
> di samping kelebihan.
>
> 2. Membangun sistem (angkutan dan lalu-lintas) harus tidak dibatasi
> lamanya masa jabatan yang hanya 5 tahun atau paling-paling 10 tahun.
> WASSALAM
>
> "SW"
>
> ________________________________
> From: Bambang Tata Samiadji 
> <[email protected]<http://id.mc771.mail.yahoo.com/mc/compose?to=btsamiadji%40yahoo.com>
> >
> To: 
> [email protected]<http://id.mc771.mail.yahoo.com/mc/compose?to=referensi%40yahoogroups.com>
> Sent: Mon, July 26, 2010 3:22:16 PM
> Subject: Re: To Cak Andri [referensi] RE: Kemacetan Jkt : DPR - Gub DKI
> Sama
> Saja
>
> Cak Andri, saya hanya ingin mengomentari sedikit soal monorail.
> Boleh jadi monorail itu tak pernah ada.
>
> DKI sebenarnya tak pernah merencanakan monorail. Kebetulan ada swasta PT
> Jakarta
> Monorail (PT JM) yang berkenan membangun Monorail. Akhirnya ide swasta itu
> diijinkan karena Pemda DKI sangat menghargai prakarsa swasta (masak ada
> swasta
> yang mau membangun sesuatu nggak boleh?). Syaratnya, PT JM harus
> meyakinkan DKI
> ada penyandang dana. PT JM diberi waktu 1 tahun. Waktu itu ada Dubai
> Islamic
> Bank (DIB) sebagai financiernya dengan menerbitkan sukuk (obligasi
> syariah),
> tapi gagal. Alasannya sukuk waktu itu belum ada UU-nya (sekarang sih sudah
> ada).
> Akhirnya diberi waktu 1 tahun lagi, tetap saja tidak mendapatkan financier
> pengganti DIB. Dalam masa persiapan itu, PT JM dengan dana dari PT Adhi
> Karya
> terus membangun pilar-pilar monorail.
>
> Karena beberapa kali gagal mengundang financier, Pemerintah menduga proyek
> monorail ini risikonya tinggi sehingga belum juga ada financier. Akhirnya
> Pemerintah memberi dukungan berupa "dukungan risiko", maksudnya, apabila
> operasi
> monorail tidak mencapai sasaran jumlah penumpang, maka Pemda DKI dan
> Pemerintah
> akan men-subsidi 50%. Tapi lagi-lagi PT JM tetap tidak bisa mengundang
> finacier
> itu. Waktu habis. Dengan demikian perjanjian antara DKI dan PT JM batal.
>
> Sekarang untuk apa pilar-pilar itu? PT JM minta supaya pilar-pilar itu
> dibeli
> Pemda DKI. Tentu Pemda DKI emoh. Tapi kasihan juga kalau nggak dibeli, PT
> Adhi
> Karya yang nota bene BUMN akan rugi besar. Untuk itu Pemda DKI minta
> diaudit,
> berapa layaknya harga pilar itu. Tentu dengan harga semurah-murahnya.
> Apabila
> harga nggak cocok antara kedua belah pihak, maka kemungkinan pilar-pilar
> itu
> akan dihancurkan.
>
> Jadi monorail bagaimana? ....... Too good to be true.
>
> Thanks. CU. BTS.
>
> --- Pada Sen, 26/7/10, Mohammad Andri Budiman <mand...@gmail. com>
> menulis:
>
> >Dari: Mohammad Andri Budiman <mand...@gmail. com>
> >Judul: Re: To Cak Andri [referensi] RE: Kemacetan Jkt : DPR - Gub DKI
> > Sama Saja
> >Kepada: refere...@yahoogrou ps.com
> >Tanggal: Senin, 26 Juli, 2010, 3:13 AM
> >
> >
> >Terima kasih atas penjelasan Al Ustadz Eyang Aby yang saya hormati.
> >Mudah-mudahan bila countermagnets yang kecil-kecil ini sama-sama ikut
> >"menarik", maka akan terjadi keadaan yang mendekati regional
> >equalities. Walaupun, tentu agak lama karena countermagnets yang
> >dibangun lebih cenderung di daerah yang masih di radius 100 km dari
> >tugu Monas. Nampaknya Pulau Weh dan Merauke bakal menunggu dua-tiga
> >generasi lagi.
> >
> >Pun demikian, saya rasa akan makin "paten" apabila para Boss yang ada
> >di Jakarta juga memikirkan bahwa akar kemacetan daerah bukanlah di
> >Jakarta sendiri, tetapi kekurangperhatian selama ini terhadap
> >pembangunan daerah non-Jakarta. Daerah tentu tidak perlu untuk
> >dibangun seperti Jakarta, namun perlu dipikir juga, apakah ada daerah
> >yang pernah "berontak" apabila pembangunan nasional telah berjalan
> >dengan adil?
> >
> >Darah, keringat, tenaga, sumber daya alam, dan air mata anak daerah
> >sudah semakin mengering ... dan sebentar lagi akan ada monorail di
> >Jakarta.
> >
> >Salam,
> >CA
> >
> >On 7/23/10, hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com> wrote:
> >> Rekan Cak Andri yg Budiman dan ysh,
> >>
> >> Saya kira justru upaya membangun countermagnet city itu ya justru
> >> sudah pd
> >> saat yg sama sdh merupakan upaya utk (mengikuti istilah anda)
> >> “mereduksi
> >> secara sistematis” “The Biggest Magnet” itu sendiri …….ya
> >> krn memang
> >> countermagnet city itulah sptnya hanya “satu2nya obat” utk
> >> mereduksi
> >> primacy dari “The Biggest Magnet” itu……..
> >> Walau bgmnpun kecil dan lambat prosesnya …namun sekali countermagnet
> >> city
> >> itu dikembangkan (dgn segala persyaratan teknis/ non teknisnya
> >> dipenuhi)
> >> ………bgmnpun juga kecilnya …namun pasti ia akan ada sumbangannya
> >> utk
> >> mereduksi/ membelokkan arus yg semula mau memilih menuju Jkt/
> >> Jabodetabek
> >> ……..kalau ia tidak pernah dimulai …lalu bgmn ia bisa diharapkan
> >> berkembang
> >> dan dpt mempengaruhi arus urbanisasi/ migrasi yg menuju Jkt?........
> >>
> >> Semuanya ini dasarnya berkait dgn pol umum migrasi/ urbanisasi manusia
> >> …….dimana ada segmen2 migran yg saling berbeda pola geraknya satu
> >> sama lain
> >> …spt misalnya migran dari desa menuju kekota kabupaten terdekat
> >> (jenis
> >> migran yg ini blm tentu mau hijrah ke Jkt) …….lalu ada pula jenis
> >> migran yg
> >> bergerak dari desa/ kota kecil menuju ibukota propinsi terdekat
> >> (misalnya
> >> penduduk kota Rembang ada yg bermigrasi/ berubanisasi kebarat hanya
> >> menuju
> >> kota Smg ….namun ada juga yg bergerak ketimur hanya menuju Surabaya
> >> (dan
> >> tidak hrs ke Jkt)…… lalu sebaliknya ada pula jenis migran yg
> >> bergerak dari
> >> desa/ kota kecil/ kota besar dari propinsi manapun dgn tujuan Jakarta/
> >> Jabodetabek sbg kota metropolitan/ megapolitan/ kosmopolitan sbg
> >> favoritnya
> >> ……dan kota sebesar Sby atau Bdg belum tentu dipilihnya ……..lalu
> >> ada juga
> >> migrasi dari kota2 besar spt Jkt/ Sby kepedalaman Kalimantan misalnya
> >> (para
> >> insinyur yg diterima bekerja diperusahaan2
> >> tambang/ perminyakan) yg jumlahnya tentu kecil ….migrasi dari
> >> Indonesia ke
> >> Malaysia, Hongkong, Arab dsb sbg TKI…dsb…….
> >>
> >> Dlm berbagai ‘kampanye’ saya …….saya maksudkan pengembangan
> >> countermagnet
> >> city “jauh dari Jakarta” (re: menurut pak BSP atau menurut bbrp
> >> teori
> >> regional planning countermagnet city itu jaraknya harus lbh dari 60km
> >> dari
> >> kota primat …..dan >60km itu artinya bisa 70km, bisa 80km namun jga
> >> bisa
> >> 1500km dst) ……adlh utk membidik sebagian dari arus migrasi/
> >> urbanisasi dari
> >> desa/ kota kecil/ kota besar diseluruh Indonesia yg semula supposed
> >> sengaja
> >> memilih Jkt sbg favoritnya …….atau kalau di Inggris ya segmen yg
> >> memilih
> >> London sbg tujuannya atau di AS yg semula hanya memilih NY sbg
> >> tujuannya……..
> >> shg bagi penduduk dari desa/ kota kecamatan Bolakme/ Walelagama di
> >> Wamena,
> >> pedalaman Papua ….atau penduduk kota kabupaten Sorong atau penduduk
> >> kota
> >> propinsi Ambon atau Kendari yg sejak semula pilihan migrasi/
> >> urbanisasinya
> >> memang ingin ke Jakarta sbg kota metro/megapolitan/ ibukota RI/ kota
> >> terbesar dan termodrn di Indonesia dan bukan sekedar kekota kecil/
> >> kekota
> >> besar lain……brkali msh dpt tertarik utk ke kota Greater Makassar
> >> misalnya
> >> yg lbh dekat …krn toh kalau tujuannya utk mencari kerja ‘dikota
> >> besar/
> >> dipabrik/ dikantor/ disektor informal ’ yg di Makassar apa yg
> >> diicarinya
> >> itu ada (kalau sekarang khan di Makasar itu nggak ada secuilpun
> >> industri
> >> manufaktur perkotaan) …atau dpl. yg lbh dekatpun ada …….dan gaji/
> >> pendapatan
> >> pada kedua kota itu (Jkt/ Mks) pun tak jauh berbeda …lalu kenapa kok
> >> orang
> >> hrs jauh2 ke Jkt yg utk mudik memerlukan biaya lbh mahal dan waktu
> >> perjalanan lbh lama? ........segmen migran jenis
> >> inilah yg a/l ingin dibidik utk dpt menuju kota countermagnet to Jkt
> >> di
> >> KTI …dan dgn cara inilah regional inequalities dpt lambat laun
> >> dikurangi……..
> >> dimana fokusnya bukan sekedar seputar masalah kemacetan lalulintas saja
> >> ……Jadi logikanya countermagnet city itu perlu ditegaskan dulu
> >> kepastiannya
> >> dan langkah konkritnya …dan setelah itu walau bgmnpun kecilnya
> >> barulah ia
> >> dpt diharapkan bekerja “secara sistematis” mengurangi arus yg
> >> menuju Jkt …….
> >> salam,
> >> aby
> >>
> >> --- On Tue, 7/20/10, mand...@gmail. com <mand...@gmail. com> wrote:
> >>
> >>
> >> From: mand...@gmail. com <mand...@gmail. com>
> >> Subject: Re: [referensi] RE: Kemacetan Jkt : DPR - Gub DKI Sama Saja
> >> To: "Referensi" <refere...@yahoogrou ps.com>
> >> Date: Tuesday, July 20, 2010, 8:27 AM
> >>
> >>
> >> Rekan-rekan yth,
> >>
> >> Saya tidak tahu apakah pembangunan berbagai counter-magnet bisa berdaya
> >> guna
> >> dalam men-solve regional inequalities sebelum kekuatan "The Biggest
> >> Magnet"
> >> direduksi secara sistematis. Jadi, maaf, kali ini tidak bisa
> >> berkomentar
> >> lebih lanjut.
> >>
> >> Salam,
> >> CA
> >> BebasOrba® TaatPajak® AntiLumpur®
> >>
> >> ------------ --------- --------- ------
> >>
> >> Komunitas Referensi
> >> http://groups. yahoo.com/ group/referensi/ Yahoo! Groups Links
> >>
> >>
> >>
> >>
> >>
> >>
> >>
> >
> >
> >------------ --------- --------- ------
> >
> >Komunitas Referensi
> >http://groups. yahoo.com/ group/referensi/ Yahoo! Groups Links
> >
> >
> >
> >
>
>
>  
>

<<360.gif>>

Kirim email ke