Pak Risfan dan rekan-rekan Ysh
Setuju pak, ya Mater Plan itu yang perlu ada; bukan sekedar asal ada yang mau.
Terma kasih

 WASSALAM


"SW"




________________________________
From: Risfan M <[email protected]>
To: referensi <[email protected]>
Sent: Tue, July 27, 2010 8:51:35 AM
Subject: Re: To Cak Andri [referensi] RE: Kemacetan Jkt : DPR - Gub DKI     
Sama  
Saja

  
Pak SW, rekans ysh,

Mungkin perlu sedikit realistis. Katanya mengundang partisipasi swasta. Katanya 
anggaran Pemda terbatas. 


Kenyataannya dari zaman Bang Ali Jakarta dibangun atas inisiatif swasta, atau 
donor seperti JICA yang merancang master plan transportasi. Apa sih yang murni 
ide Pemda? (He he he provokatif ya, lg macet krn ujan)

Mendukung Kompas hari ini, public transpor hrs diutamakan drpd jalan tol, 
flyover, underpas yg mendorong arus ke pusat kota.

Salam,
Risfan Munir


Powered by Telkomsel BlackBerry®
________________________________

From:  Irwan Prasetyo <p...@centrin. net.id> 
Sender:  refere...@yahoogrou ps.com 
Date: Tue, 27 Jul 2010 08:30:19 +0700 (WIT)
To: <refere...@yahoogrou ps.com>
ReplyTo:  refere...@yahoogrou ps.com 
Subject: Re: To Cak Andri [referensi] RE: Kemacetan Jkt : DPR - Gub DKI       
Sama  Saja
  
Ysh P Suwardjoko, P BTS, Bpk, Ibu,

Mungkin ini yang dimaksud unsolicited itu ya.  Menurut undang-undang KPS
yang ada sekarang, unsolicited itupun harus tetap melalui proses tender
oleh panitia, dan pemrakarsa awal itu diberi score awal (10% ?). Jadi
mungkin persiapannya kurang untuk menghadapi kondisi ini dan itu. Yah
namanya kita baru belajar. Hanya saya kok sedikit penasaran apa betul
pemrakarsa itu cuman dapat score awal 10? Padahal kan mereka itu buat
studi kelayakan sendiri, ide orisinal dan lain-lain.  Nanti jadi kurang
semangat swastanya. Tapi saya setuju kita tidak boleh tunduk 100% pada
swasta, namun kita musti ada visi dan opini sendiri juga, termasuk
mambandingkan dengan yang lain.

Bung BTS dan sobat-sobat Ysh
Lucu juga ya, tak ada rencana tetapi tundhuk kepada swasta. DKI sebenarnya
tak
pernah merencanakan monorail. Kebetulan ada swasta PT Jakarta Monorail (PT
JM)
yang berkenan membangun Monorail. Akhirnya ide swasta itu diijinkan karena
Pemda
DKI sangat menghargai prakarsa swasta (masak ada swasta yang mau membangun
sesuatu nggak boleh?). Apapun syaratnya, menurut saya tetap aneh, karena
membangun tanpa rencana.
Lepas dari baik-buruknya, bukankan sudah ada rencan “triple decker� ?
Di
sinilah kelemahan pejabat kita yang seolah-olah “tabu� melanjutkan
rencana
sebelumnya. Akibatnya, tak ada konsistensi rencana.

Kemacetan sudah ‘tersaji’ di depan mata, upaya mengatasi persoalan
harus
dilakukan. Salah satu cara mengatasi kemacetan lalu-lintas adalah
kebijakan
mengutamakan angkutan umum (massal). Tinggal pilih:
·         Kembali ke rencana triple decker; tanpa mempersoalkan lagi
siapa
penggagasnya, atau
·         Wujudkan monorail dengan memanfaatkan pilar-pilar yang sudah
ada, atau
·         Hancurkan semua pilar yang ada dan susun rencana dan rancangan
baru.
Catatan saya;
1.       Rencana dan rancangan yang manapun selalu mengandung sejumlah
kelemahan
di samping kelebihan.

2.       Membangun sistem (angkutan dan lalu-lintas) harus tidak dibatasi
lamanya masa jabatan yang hanya 5 tahun atau paling-paling 10 tahun.
WASSALAM

"SW"

____________ _________ _________ __
From: Bambang Tata Samiadji <btsamia...@yahoo. com>
To: refere...@yahoogrou ps.com
Sent: Mon, July 26, 2010 3:22:16 PM
Subject: Re: To Cak Andri [referensi] RE: Kemacetan Jkt : DPR - Gub DKI
Sama
Saja

Cak Andri, saya hanya ingin mengomentari sedikit soal monorail.
Boleh jadi monorail itu tak pernah ada.

DKI sebenarnya tak pernah merencanakan monorail. Kebetulan ada swasta PT
Jakarta
Monorail (PT JM) yang berkenan membangun Monorail. Akhirnya ide swasta itu
diijinkan karena Pemda DKI sangat menghargai prakarsa swasta (masak ada
swasta
yang mau membangun sesuatu nggak boleh?). Syaratnya, PT JM harus
meyakinkan DKI
ada penyandang dana. PT JM diberi waktu 1 tahun. Waktu itu ada Dubai
Islamic
Bank (DIB) sebagai financiernya dengan menerbitkan sukuk (obligasi
syariah),
tapi gagal. Alasannya sukuk waktu itu belum ada UU-nya (sekarang sih sudah
ada).
Akhirnya diberi waktu 1 tahun lagi, tetap saja tidak mendapatkan financier
pengganti DIB. Dalam masa persiapan itu, PT JM dengan dana dari PT Adhi
Karya
terus membangun pilar-pilar monorail.

Karena beberapa kali gagal mengundang financier, Pemerintah menduga proyek
monorail ini risikonya tinggi sehingga belum juga ada financier. Akhirnya
Pemerintah memberi dukungan berupa "dukungan risiko", maksudnya, apabila
operasi
monorail tidak mencapai sasaran jumlah penumpang, maka Pemda DKI dan
Pemerintah
akan men-subsidi 50%. Tapi lagi-lagi PT JM tetap tidak bisa mengundang
finacier
itu. Waktu habis. Dengan demikian perjanjian antara DKI dan PT JM batal.

Sekarang untuk apa pilar-pilar itu? PT JM minta supaya pilar-pilar itu
dibeli
Pemda DKI. Tentu Pemda DKI emoh. Tapi kasihan juga kalau nggak dibeli, PT
Adhi
Karya yang nota bene BUMN akan rugi besar. Untuk itu Pemda DKI minta
diaudit,
berapa layaknya harga pilar itu. Tentu dengan harga semurah-murahnya.
Apabila
harga nggak cocok antara kedua belah pihak, maka kemungkinan pilar-pilar
itu
akan dihancurkan.

Jadi monorail bagaimana? .......  Too good to be true.

Thanks. CU. BTS.

--- Pada Sen, 26/7/10, Mohammad Andri Budiman <mand...@gmail. com>
menulis:

>Dari: Mohammad Andri Budiman <mand...@gmail. com>
>Judul: Re: To Cak Andri [referensi] RE: Kemacetan Jkt : DPR - Gub DKI
> Sama Saja
>Kepada: refere...@yahoogrou ps.com
>Tanggal: Senin, 26 Juli, 2010, 3:13 AM
>
>
>Terima kasih atas penjelasan Al Ustadz Eyang Aby yang saya hormati.
>Mudah-mudahan bila countermagnets yang kecil-kecil ini sama-sama ikut
>"menarik", maka akan terjadi keadaan yang mendekati regional
>equalities. Walaupun, tentu agak lama karena countermagnets yang
>dibangun lebih cenderung di daerah yang masih di radius 100 km dari
>tugu Monas. Nampaknya Pulau Weh dan Merauke bakal menunggu dua-tiga
>generasi lagi.
>
>Pun demikian, saya rasa akan makin "paten" apabila para Boss yang ada
>di Jakarta juga memikirkan bahwa akar kemacetan daerah bukanlah di
>Jakarta sendiri, tetapi kekurangperhatian selama ini terhadap
>pembangunan daerah non-Jakarta. Daerah tentu tidak perlu untuk
>dibangun seperti Jakarta, namun perlu dipikir juga, apakah ada daerah
>yang pernah "berontak" apabila pembangunan nasional telah berjalan
>dengan adil?
>
>Darah, keringat, tenaga, sumber daya alam, dan air mata anak  daerah
>sudah semakin mengering ... dan sebentar lagi akan ada monorail di
>Jakarta.
>
>Salam,
>CA
>
>On 7/23/10, hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com> wrote:
>> Rekan  Cak Andri yg Budiman dan ysh,
>>
>> Saya kira justru upaya membangun countermagnet city itu  ya  justru
>> sudah pd
>> saat yg sama sdh merupakan upaya utk (mengikuti istilah anda)
>> “mereduksi
>> secara sistematis� “The Biggest Magnet� itu  sendiri …….ya
>> krn memang
>> countermagnet city itulah sptnya hanya “satu2nya obat� utk
>> mereduksi
>> primacy dari “The Biggest Magnet� itu……..
>> Walau bgmnpun kecil dan lambat prosesnya …namun sekali countermagnet
>> city
>> itu dikembangkan  (dgn segala persyaratan teknis/ non teknisnya
>> dipenuhi)
>> ………bgmnpun  juga kecilnya …namun pasti ia akan ada sumbangannya
>> utk
>> mereduksi/  membelokkan arus yg semula mau memilih menuju Jkt/
>> Jabodetabek
>> ……..kalau ia tidak pernah dimulai …lalu bgmn ia bisa diharapkan
>> berkembang
>> dan dpt mempengaruhi arus urbanisasi/ migrasi yg menuju Jkt?........
>>
>> Semuanya ini dasarnya berkait dgn pol umum migrasi/ urbanisasi manusia
>> …….dimana ada segmen2 migran yg saling berbeda pola geraknya satu
>> sama lain
>> …spt misalnya migran dari desa menuju kekota kabupaten terdekat
>> (jenis
>> migran yg ini blm tentu mau hijrah ke Jkt) …….lalu ada pula jenis
>> migran yg
>> bergerak dari desa/ kota kecil  menuju ibukota propinsi terdekat
>> (misalnya
>> penduduk kota Rembang ada yg bermigrasi/ berubanisasi kebarat  hanya
>> menuju
>> kota Smg ….namun ada juga yg bergerak ketimur  hanya menuju Surabaya
>> (dan
>> tidak hrs ke Jkt)…… lalu  sebaliknya ada pula jenis migran yg
>> bergerak dari
>> desa/ kota kecil/ kota besar dari propinsi manapun  dgn tujuan Jakarta/
>> Jabodetabek sbg kota metropolitan/ megapolitan/ kosmopolitan sbg
>> favoritnya
>> ……dan kota sebesar Sby atau Bdg belum tentu dipilihnya ……..lalu
>> ada juga
>> migrasi dari kota2 besar spt Jkt/ Sby kepedalaman Kalimantan misalnya
>> (para
>> insinyur yg diterima bekerja diperusahaan2
>>  tambang/ perminyakan) yg jumlahnya tentu kecil ….migrasi dari
>> Indonesia ke
>> Malaysia, Hongkong, Arab dsb sbg TKI…dsb…….
>>
>> Dlm berbagai ‘kampanye’ saya …….saya maksudkan pengembangan
>> countermagnet
>> city “jauh dari Jakarta� (re: menurut pak BSP atau menurut bbrp
>> teori
>> regional planning  countermagnet city  itu jaraknya harus lbh dari 60km
>> dari
>> kota primat …..dan >60km itu artinya bisa 70km, bisa 80km namun jga
>> bisa
>> 1500km  dst) ……adlh utk membidik sebagian dari arus migrasi/
>> urbanisasi dari
>> desa/ kota kecil/ kota besar  diseluruh Indonesia yg semula supposed
>> sengaja
>> memilih Jkt sbg favoritnya …….atau kalau di Inggris ya segmen yg
>> memilih
>> London sbg tujuannya atau di AS yg semula hanya memilih NY sbg
>> tujuannya……..
>> shg bagi penduduk dari desa/ kota kecamatan Bolakme/ Walelagama di
>> Wamena,
>> pedalaman Papua ….atau penduduk kota kabupaten Sorong atau penduduk
>> kota
>> propinsi Ambon atau Kendari yg sejak semula pilihan migrasi/
>> urbanisasinya
>> memang  ingin ke Jakarta  sbg kota metro/megapolitan/ ibukota RI/ kota
>> terbesar dan termodrn di Indonesia   dan bukan sekedar kekota kecil/
>> kekota
>> besar lain……brkali msh dpt tertarik  utk ke  kota Greater Makassar
>> misalnya
>> yg lbh dekat …krn toh kalau  tujuannya utk mencari kerja ‘dikota
>> besar/
>>  dipabrik/ dikantor/ disektor informal ’ yg  di Makassar apa yg
>> diicarinya
>> itu ada (kalau sekarang khan di Makasar itu nggak ada secuilpun
>> industri
>> manufaktur perkotaan) …atau dpl. yg lbh dekatpun ada …….dan gaji/
>> pendapatan
>> pada kedua kota itu (Jkt/ Mks)  pun tak jauh berbeda …lalu kenapa kok
>>  orang
>> hrs jauh2 ke Jkt yg utk mudik memerlukan biaya lbh mahal dan waktu
>> perjalanan  lbh lama? ........segmen migran jenis
>>  inilah yg a/l  ingin dibidik utk dpt menuju kota countermagnet to Jkt
>> di
>> KTI …dan dgn cara inilah regional inequalities dpt lambat laun
>> dikurangi……..
>> dimana fokusnya bukan sekedar seputar masalah kemacetan lalulintas saja
>> ……Jadi  logikanya countermagnet city itu perlu ditegaskan dulu
>> kepastiannya
>> dan langkah konkritnya …dan setelah itu walau bgmnpun kecilnya
>> barulah ia
>> dpt diharapkan bekerja  “secara sistematis� mengurangi arus yg
>> menuju Jkt …….
>> salam,
>> aby
>>
>> --- On Tue, 7/20/10, mand...@gmail. com <mand...@gmail. com> wrote:
>>
>>
>> From: mand...@gmail. com <mand...@gmail. com>
>> Subject: Re: [referensi] RE: Kemacetan Jkt : DPR - Gub DKI Sama Saja
>> To: "Referensi" <refere...@yahoogrou ps.com>
>> Date: Tuesday, July 20, 2010, 8:27 AM
>>
>>
>> Rekan-rekan yth,
>>
>> Saya tidak tahu apakah pembangunan berbagai counter-magnet bisa berdaya
>> guna
>> dalam men-solve regional inequalities sebelum kekuatan "The Biggest
>> Magnet"
>> direduksi secara sistematis. Jadi, maaf, kali ini tidak bisa
>> berkomentar
>> lebih lanjut.
>>
>> Salam,
>> CA
>> BebasOrba® TaatPajak® AntiLumpur®
>>
>> ------------ --------- --------- ------
>>
>> Komunitas Referensi
>> http://groups. yahoo.com/ group/referensi/ Yahoo! Groups Links
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>
>
>------------ --------- --------- ------
>
>Komunitas Referensi
>http://groups. yahoo.com/ group/referensi/ Yahoo! Groups Links
>
>
>
>


 


      

Kirim email ke