Pak Risfan, Pak Imam Indratno, pak H. Ekadj dan milisters ysh,
Utk pak Risfan  ….kalau anda nanya apakah ini upaya merekonstruksi, memahami, 
atau mengkritisi …lalu anda katakan ini sbg sesuatu yg acak ….dan lalu  haha 
….anda  krn nya jg berhak utk juga acak(2) …....saya  jadi ingat cucu saya yg 
skrg sudah bisa merangkak dan belajar berdiri …...kerjanya hanya menarik2 apa 
saja yg  diatas meja/ rak  ……lalu  menjatuhkannya dan ….haha tentu saja apa2 
lalu jadi acak2an……..
Saya tidak mengerti  filosofi …...saya pikir eklektika dari  teknik perencanaan 
ini saja (dikaitkan dgn pragmatisme dan tgjawab persembahan hasil nyata kpd 
masyarakat) yg sdh demikian luasnya (teknik ruang, arsitektur, ekonomi, 
geografi, geologi, geodesi, sosial, kewiraswastaan, industri, lingkungan, job 
creation dll) itu saja sdh bisa membuat kepala  jadi kopyor …… Kalau masih pake 
mau ditambah bicara filosofi segala … waduh…… blm lagi filosofi sendiri  jg sdh 
demikian luasnya …..shg pastilah saya pikir perencanaan mau teknik atau 
filosofi malah jadi kesini nggak kesana nggak…… 
Tdk mengerti filosofi …..saya hanya pikir spt kalau di Islam misalnya ….dimana 
ada tingkatan2 spt  syariah (dan fiqih), tarekat, hakikat dan makrifat …….para 
wali dahulu berpendapat bhw kalau umat masih belum paham2 amat di syariat 
…..tak usahlah dulu diajari/ belajar ttg hakikat dan apalg makrifat ……takutnya 
nanti jadi tersesat……
Kalau diperencanaan ……urusannya khan dgn masyarakat ……ada tuntutan pragmatisme 
segala ……lha kalau yg ditingkat syariatnya saja msh belepotan (debat tak 
selesai dan multitapsir bener sampai miring simpangsiur oleh planner ttg teori2 
dasar keruangan) …..lalu hasil2 nyata yg ditunggu oleh masyarakat dr semua 
lapisan sampai ke yg miskin lalu krnnya semakin tak kunjung muncul dan dpt 
dinikmati oleh masyarakat luas ……lalu apa kata masyarakat kalau tahu bhw 
planners malah ternyata sdg asyik mendiskusikan ttg filosofi planning? ......
Bergeser ke masalah kota Sofifi ……utk Mas Indratno ysh ….nah skrg saya tahu 
kalau anda adlh salah satu perancang dari kota Sofifi…… ketika melihat peta 
rancangan kota anda dan melihat Sofifi yg teramat sempit diapit oleh laut dan 
bukit sehingga lebar kota anda itu hanya 2 km/ 2000m …dan maap …kok spt hanya 
rencana masa depan peta kota kecamatan …..pdhal ia diproyeksikan utk menjadi 
ibukota propinsi Maluku Utara dan tentu diharapkan kelak dpt menjadi salah satu 
mutiara metropolitan nun jauh di timur laut ……..saya pikir kenapa sih kok bukit 
(Gozale?) dibelakang Mapolda itu samasekali tak dieksplor lbh detil data 
topografinya dan dgn sedikit kenekatan bukankah lalu dpt dibuat simulasi 
rancangan jaringan jalannya yg tentu saja ada kemungkinan besar perlu sedikit 
mengepras bukit dan lalu juga mengurug laut …….sehingga selain lebar kotanya 
menjadi lbh pantas …..Sofifi khan lalu bisa punya ‘kota bawah’ dan ‘kota atas’ 
spt
 Semarang misalnya yg dikala malam kelap-kelip lampu2nya demikian indahnya 
terlihat dari kota bawah atau bahkan dari luar kota …..atau seperti  
pemandangan that hilly terrain of Hong Kong yg indah itu shg kalau dari 
Ternate/ Tidore dpt terlihat bgmn Sofifi dimalam hari bagaikan kota Semarang 
atau kota Hongkong ditepi Pasifik/ Laut Halmahera yg eksotik?......
Dgn anda mengeksplor habis2an simulasi perencanaan kota Sofifi …..lalu 
masyarakat, presiden, Gub Maluku Utara, para gadis di Ternate dan Tidore jadi 
pada ingin kenalan dgn anda …..ingin nanya bgmn cara mewujudkan impian yg indah 
atas rencana kota Sofifi yg menawan  itu …..nah …itulah saya pikir secara 
sederhana dan awam saja ……itulah baru yg namanya filosopi perencanaan …terserah 
mau apa sajalah namanya  :-) …..salam, 
aby 
 

 


--- On Tue, 8/3/10, Risfan M <[email protected]> wrote:


From: Risfan M <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Re: PERENCANAAN TRANS RASIONAL
To: "referensi" <[email protected]>
Date: Tuesday, August 3, 2010, 9:34 AM


  



Rekans ysh,

Kalau saya ikuti diskusi ini kok sepertinya melihat Planning sebagai sesuatu 
yang acak, dengan alat filsafat ilmu dan terminologinya yang acak pula. Ini 
upaya merekonstruksi, memahami atau mengkritisi? Entahlah. Pokoknya saya jadi 
merasa berhak bicara acak pula.

PWK yang saya pahami sepertinya memang ilmu terapan, bukan ilmu murni. Bukan 
seperti geologi, fisika, tapi bolehlah dibandingkan dengan Teknik Pertambangan, 
yang merupakan aplikasi dari ilmu geologi, geofisik, mekanika, dan metode 
seperti matematik dst. 
PWK memahami fenomena kebumian (Place) melalui geologi, geografi, geodesi. 
Dinamika ekonomi (Work) melalui Ekonomi Pembangunan, Urban + Regional Economic, 
Teori Lokasi. Dinamika manusia/sosial (Folk). Melalui ramuan inilah PWK 
memahami dinamika atau fenomena Wilayah n Kota. 
Semestinya dengan memahami interaksi Folk-Work-Place ini saja (dengan alat2 
analisis) Planner sudah bisa jadi Analis Perkembangan Kota. Sudah bisa meramal 
satu kota/wilayah arah nasib ke depannya (tanpa intervensi) kemana. Mungkin ini 
sisi realitas ontologisnya (?)

Sisi berikutnya adalah intervensi. Sebagai ilmu terapan, tentu ada maksud untuk 
mengintervensi fenomena wilayah/kota itu, sesuai tujuan. Tujuannya apa, banyak 
rumusan, tapi sederhananya kesejahteraan manusia dalam ruang lingkungan 
hidupnya yang layak. 
Mengahadapi realitas wilayah/kota dengan struktur dan sebaran penduduknya; 
struktur dan karakter kegiatan ekonominya; fenomena alamnya. Maka dalam 
sejarah, PWK melahirkan konsep2, model2, pola2 untuk digunakan dalam 
mengarahkan masa depan. Di dalamnya terkandung ideals yang dicitakan, 
Sistematika pola dan strategi intervensi ini mungkin sisi epistimologis (?).

Ekuilibrium Pertumbuhan, Pemerataaan dan Sustainability merupakan pilihan 
strategi menuju ideal yang ingin dicapai. 

Kata "Perencanaan" pada PWK ini menurut saya menjadi soal. Apakah Planner 
berhenti pada "merencana" saja. Lalu berdoa agar sistem melaksanakan Rencana 
menjadi Realitas baru. Atau Planner sebagai profesional perlu mengawalnya 
sampai dilaksanakan? 

Dalam perkembangan Planner seperti ditakdirkan untuk selalu kecewa kecewa 
dengan aktor-aktor (pemerintah, swasta, masyarakat) yang 'melanggar' rencananya.

Ini tantangan bagi Pegiat ilmu PWK: untuk tetap membatasi diri pada merencana 
saja, lalu siap kecewa. Atau melebarkan ilmunya dengan menambahkan komponen 
pemahaman Kelembagaan (governance) , Strategi Aksi untuk mengawal rencana yang 
telah dibuat. Setidaknya untuk lebih memahami mengapa para aktor itu 
fenomenanya begitu. Sehingga kalau tidak mengadvokasi juga, setidaknya memberi 
saran bagaimana agar Rencana bisa jadi Kebijakan Publik, dan 
jelas langkah2 pengawalan dan aksi untuk pelaksanakannya.


Salam,
Risfan Munir



Powered by Telkomsel BlackBerry®


From: - ekadj <4ek...@gmail. com> 
Sender: refere...@yahoogrou ps.com 
Date: Tue, 3 Aug 2010 21:12:13 +0700
To: <refere...@yahoogrou ps.com>
ReplyTo: refere...@yahoogrou ps.com 
Subject: Re: [referensi] Re: PERENCANAAN TRANS RASIONAL

  


Pak Imam, saya coba lanjutkan tanggapannya:
 
Pertama, berbicara tentang ontologi maka kita masuk melalui pendekatan evolusi 
keilmuan. Kesalahan persepsi selama ini adalah diacunya paradigma lama 
keilmuan, bahwa ilmu itu harus bebas nilai, dan dapat mandiri dalam berbagai 
hubungan. Kritik Marvin Harris (1979) adalah justru kondisi seperti ini dapat 
menutup pintu-pintu pemahaman. Harris menawarkan 'strategi' untuk ilmu-ilmu 
kemasyarakatan, yang disebut dengan 'strategy of eclectics'. Sehingga ada 
pilihan prioritas melalui proses dialektik. Untuk ilmu perencanaan, dapat 
ditentukan strategi tersendiri.
 
Kedua, tidak ditanggapi.
 
Ketiga, karena itu dimasa lampau 'perencana' itu dilakoni oleh para dukun, 
shaman, ajengan, dlsb.
 
Keempat, tidak ditanggapi.
 
Sementara demikian. Salam.
 
-ekadj
 
2010/8/2 Media Multi Gerak Bandung <mmgband...@yahoo. co.id>


  




ysh rekan2 dan bpk2 yang sudah memberikan tanggapan atas preposisi saya yang 
telah lalu. sebetulnya saya sendiri belum tahu, jadi klo pa risfan minta saya 
merespon..ya sesuai yang ada dalam pikiran saya saja yang tentu harus 
difalsifikasi kebenarannya.

pertama pertanyaan tentang realitas perlu diajukan mengingat pembahasan 
ontologis harus berangkat dr sini. saya belum menemukan pembahasan ontologis 
ini dalam bidang perencanaan sehingga saya memberanikan diri untuk 
bertanya...yaa karena saya belum paham dan memang menjadi pertanyaan saya waktu 
kuliah dulu. sebagai seorang yang pernah belajar di perencanaan mestinya kita 
mempunyai "kebanggaan" keilmuan apabila dapat melihat bangunan pengetahuan 
perencanaan secara utuh dari sisi epistimologis, metodologis, axiologis maupun 
ontologis. karena saya termasuk yang kurang setuju dengan pendapat bahwa 
perencanaan hanya gabungan dari disiplin ilmu lain. saya masih punya keyakinan 
bahwa perencanaan itu merupakan bangunan tersendiri sebagai maujud pengetahuan 
dari Sang Maha Mengetahui. perkara bangunan belum terlihat utuh (hanya banyak 
berbicara dari aspek axiologis), itu yang menjadi tanggung jawab kita bersama 
untuk membangun. alangkah indahnya apabila kita bisa
 melihat bangunan yang utuh seperti bidang pengetahuan lainnya - bukan hanya 
gabungan pengetahuan lain. mohon tanggapan... .

kedua, alasan lain saya mengajukan pertanyaan tersebut mengingat perencanaan 
normatif masih belum banyak mendapat perhatian dari perencana. saat ini 
perencana masih disibukkan dengan pembahasan tentang perencanaan substansial 
dan prosedural. seperti membahas trickle down effect yang ternyata tidak 
berhasil, metropolitan, tripple decker dsb atau hegemoni perencanaan 
partisipatif sebagai turunan dari rasional komunikatif yang secara pelaksanaan 
juga masih belum sesuai dengan teori dasarnya. yang sebetulnya klo kita bisa 
lebih kritis (kritik teori) apakah model partisipasi Arnstein sendiri memang 
sudah cocok untuk diterapkan di Indonesia? ataukah kita hanya ikut saja 
sebagaian besar orang sekarang lagi sibuk berbicara partisipatif, konsensus, 
atau yang lainnya dari perencanaan rasional komunikatif. ... kita lupa bahwa 
pembicaraan tentang nilai, moralitas, norma dan sebagainya masih jarang dibahas 
dalam konteks teori dan implementasi perencanaan di
 Indonesia. jadi wajar klo produk rencana RTRW masih ada yang dilakukan dengan 
copi paste dari daerah lain karena perencana tidak memperhatikan nilai, moral 
dan norma.

ketiga, ketika kita membahas nilai, norma, dan moralitas tidak akan lepas dari 
wujud mental dari perencana. oleh karena itu, realitas yang dilihat tidak hanya 
pada realitas fisik, seperti kata pak jarot yang tampaknya masih berpandangan 
positivis, mohan maaf klo saya salah, tetapi juga realitas dalam artian univers 
ataupun kosmik bahkan dalam konteks Realitas pake R besar. dalam kacamata saya, 
setuju bahwa perencanaan menekankan pada perubahan realitas dan mengelola 
realitas dengan kriteria tertentu. jadi data dan informasi belum cukup untuk 
melakukan proses perencanaan. wajar saja klo hasil perencanaan tidak sesuai 
dengan yang direncanakan karena sang perencana belum bisa melihat realitas yang 
sebenarnya.. ..untuk melihat definisi realitas ini kita bisa merujuk pandangan 
dari Annie Besant dan Ken Wilber yang mencoba meneliti dan menulis tentang 
realitas. realitas identik dengan kehidupan (life) ataupun kesadaran 
(conciousness). dalam buku spectrum of
 conciousness dijelaskan bahwa realitas meliputi aspek transenden dan imanen 
dari manusia yang proses perubahannya tidak hanya bersifat evolusi tetapi juga 
involusi. sejalan dengan hal tersebut, Thomas Kuhn juga menekankan pentingnya 
aspek transendensi dalam bidang perencanaan. dalam pandangan Huston Smith dalam 
Ken Wilber level dari realitas terdiri atas terestrial, intermediate, celestial 
dan infinite sedangkan level diri terdiri atas body, mind, soul, dan spirit. 
dengan pandangan ini lah dibutuhkan perencanaan yang sifatnya Trans Rasional,.. 
dengan kesadaran inilah seorang perencana dapat menyaksikan "kehadiran" 
realitas atau mungkin dapat jua menyaksikan rencana keilahiaan (divine plan) 
spt yang ditulis oleh Baborka sebagai syarah dari buku secret doctrinnya M. 
Blavatsky. dalam terminologi Islam kita mungkin harus melihat realitas dari 
sudut Mulk, Malakut, Jabbarut sampe Hawiyyah Ghalb (unmanifested). artinya, 
dalam perencanaan trans rasional yang
 diperlukan adalah kesadaran dari setiap stakeholder. ..sehingga keberhasilan 
perencanaan bukan hanya karena kesepakatan atau konsensus dari pelaku tetapi 
lebih pada kesadaran dari pelaku so konsensus tidaklah cukup kali yaa...ini 
mungkin kritik saya terhadap perencanaan komunikatif ...he-he..ya coba2 kritik 
dikit salah juga ga pa pa... kan bisa diluruskan sama bapak2 referenser 
lainnya..... jadi dalam perencanaan trans rasional tidak hanya melihat secara 
horisontal alam ini tetapi juga melihat secara vertikal.... ini  jawaban buat 
kang deden kali yaa .... mudah2an tidak puas jadi bisa dilanjutkan diskusinya.. 
..   
  
keempat, dalam perencanaan trans rasional yang saya pikirkan, kita tidak hanya 
fokus pada manusia (anthropocentris) dan alam (biocentris) saja tetapi coba 
menggali pemikiran tentang cosmicentris atau teocentris. saya masih punya 
keyakinan karena ilmu perencanaan merupakan maujud atau percikan dari ilmu Sang 
Maha Mengetahui maka dengan mendalami perencanaan kitapun dapat menyaksikan 
Kehadiran Sang Realitas. jadi sayang kalo kita belajar perencanaan maaf hanya 
untuk kebutuhan lahiriyah saja-gelar doktor atau dana- semata... mestinya kita 
iri dengan ilmuwan astronomi atau fisika seperti Fritjof Capra dalam Tao of 
Physic dia bercerita tentang tarian kosmik ketika sedang mempelajari rumus2 
fisika. kita bukannya jalaluddin rumi, ibnu arabi, st agustinus, mohandas 
gandhi ataupun carlos castaneda yang sudah tidak diragukan lagi tingkat 
kesadarannya. ..kita hanya seorang perencana yang hari esok masih mencari 
nafkah untuk periuk nasi..namun yakinlah bahwa
 memperlajari hakekat perencanaan dengan sungguh2 kitapun akan mampu 
menyaksikan alunan dinamika musik alam..mungkin kali yaaa......   

sekali lagi ini baru impian saya ketika saya setuju dengan pandangan bahwa 
kedudukan theory of planning sejajar dengan filosofi sains. yakinlah bahwa 
perencanaan bukanlah sekedar gabungan teori lain. sehingga kita diharapkan 
mampu mengeksplorasi sisi ontologis perencanaan leih jauh lagi....semoga respon 
saya bisa menjadi bahan diskusi yang lebih hangat.....


salam

Imam Indratno

 







      

Kirim email ke