Pak Eka, Imam, Efha, Djarot, Deden dan Rekans ysh,
 
Tantangan dalam menekuni PWK ini adalah pada "pelintasan" disiplin/bidang 
keilmuan yang punya rasionalitas dan paradigmanya sendiri. Pada pelintasan itu 
tak jarang ada friksi, "gegar", dan mungkin salah terima. Apa boleh buat, 
memang itu tantangannya.
 
Kembali ke contoh pengembangan wilayah berbasis DAS, diawali rasionalitas ahli 
hidrologi, sipil air dkk, lalau bertemu rasionalitas pengembangan pertanian, 
lalu rasionalitas pengembangan sistem permukiman. Disitu saja untuk membuatnya 
menjadi konstruksi utuh pengembangan DAS memerlukan proses integrasi yang cukup 
lama. Patut dicatat Pak Sutami dengan "Ilmu Wilayah"nya menjadi perekat, dimana 
didalamnya beliau selalu menekankan interaksi tujuan 
"Sosial-Ekonomi-LIngkungan". Mungkin yang Pak Sutami lakukan bisa disebut 
proses "trans-rasional" itu.
 
Proses perkembangan wilayah berikutnya beralih kepada "Konsep Pengembangan 
Wilayah" yang berbasis jalan raya. Sistem kota-kota diuntai oleh sistem 
jaringan jalan raya. Ini tentu paradigma baru waktu itu. Kalau tadinya 
pengembangan DAS berbasis sumber daya air dan pengembangan pertanian. Paradigma 
berubah menjadi berbasis jalan raya, sistem kota-kota yang secara ekonomi 
berbasis kegiatan industri dan jasa.
Peralihan dari paradigma dan rasionalitas DAS kepada Jalan Raya, sepertinya 
berganti begitu saja, karena sepertinya pengusungnya berbeda.
 
Pada saat ini pengembangan sistem kota-kota sepertinya lagi slow-down 
wacananya, sementara itu isyu Ekologi, seperti pengurangan Emisi Carbon, 
Climate Change dan masalah Deficit Air kian menjadi perhatian. Maka 
kelihatannya perencana wilayah mesti siap juga dengan paradigma atau 
rasionalitas baru, dan bagaimana mengintegrasikannya menjadi sistem berpikir 
pengembangan wilayah yang utuh.
 
Jadi ada interaksi rasionalitas antar disiplin, juga pergeseran paradigma antar 
waktu. Kalau kembali kapada ajakan sdr. Imam, saya pikir secara epistimologis 
ilmu PWK cukup konsisten, begitu ontologisnya, tapi sebagai bagian dari 
kebijakan publik tak bisa lepas dari paradigma pembangunan umumnya yang 
bergeser terus.
 
Pegangan saya tetap kesetimbangan "3-Trio":
- Unsur: Folk - Place - Work (Lingkungan, Manusia/sosial, Ekonomi)
- Strategi: Pertumbuhan - Pemerataan - Sustainabilitas
- Norma: Anthroposentris - Ecosentris - Teosentris (sumber nilai)
Masing-masing bisa bergeser secara dinamis, tapi akan ada respons yang 
mengembalikannya kepada "kesetimbangan".
 
Salam,
Risfan Munir
 

--- On Wed, 8/4/10, - ekadj <[email protected]> wrote:


From: - ekadj <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Re: PERENCANAAN TRANS RASIONAL
To: [email protected]
Date: Wednesday, August 4, 2010, 7:28 PM


  




Betul Pak Risfan, hal ini disebut oleh Anthony Giddens (1984) sebagai 'double 
hermeneutic'. Dikembangkan lebih lanjut sebagai 'dual structures', 'dual 
processes', dst, dan sampai sekarang terus merebak menjadi dual bands, dual 
economics, dual paradigms, dst. Jadi memang selalu ada penafsiran ganda 
terhadap sesuatu, namun berjalan secara seiring. Contohnya istilah 'event' 
(kejadian), dapat ditafsirkan sebagai 'ruang' atau 'waktu'. Seharusnya tidak 
boleh ada konflik antar penafsiran. Salam.
 
-ekadj
 
2010/8/5 Risfan M <risf...@yahoo. com>


  



Pak Djarot, Ekadj dan Rekans ysh,

Ada istilah Pak Djarot paradigma majemuk menarik, tapi itu sudah konsekuensi 
atau tugas ilmu terapan yang multi disiplin.
Kalau dibanding Teknik Pertambangan, yang disupport berbagai ilmu bantu 
(terutama geologi dan mesin), setidaknya masih serumpun. Itupun sudah crossing 
dua disiplin.

Teknik Planologi atau PWK cakupan multi-disiplin atau paradigmanya bisa lebih 
luas. Ambil contoh pengelolaan DAS (daerah aliran sungai). Ini wilayah yang 
bisa dikaji fenomena fisik alamnya dari siklus hidrologi dari hulu hingga 
hilir. Tujuan pengendalian pembangunan pertanian dan pengendalian banjir 
mengarahkan pembangunan bendungan dan sistem irigasi, serta pembangkit listrik 
untuk perkotaan. Paradigma disini menyangkut fenomena hidrologi, morfologi, dan 
vegetasi.

Kemudian, tumbuh dan berkembangnya pertanian mendorong tumbuh kembangnya 
permukiman, desa, kota dalam DAS. Maka dikembangkan konsep penataan sistem 
permukiman berbasis pemanfaatan sumber daya air. Ini masuk paradigmanya 
perencana wilayah dan pertanian. Paradigma/ rasional ahli hidrologi tiba-tiba 
di- cross oleh rasionalnya perencana sistem permukaan.

Dalam perkembangan, sistem permukiman dalam DAS ternyata pertumbuhannya tidak 
seteratur manik-manik atau tasbih, ada yang jadi kota besar, justru menjadi 
ancaman kelestarian lingkungan. Ada pula desa-desa yang kian miskin hingga 
warganya meladang di hulu DAS. Ada masalah ketimpangan ekonomi dan dampak 
sosial dan lingkungan. Tiba2 paradigma sosial-ekonomi berbicara disini, 
crossing atas paradigma permukiman di atas.

Berikutnya, perkembangan fisik sulit dikendalikan, daerah hulu sebagai kws 
konservasi kian tidak hijau. sehingga terjadi defisit sumber daya air (SDA). 
Ini mendorong concern lagi pada alam.

Dari contoh-contoh tersebut perencanaan wilayah sifatnya lintas paradigma (?). 
Cross antar bidang sering menegangkan, karena paradigma satu sulit memahami 
lainnya.

Tapi trans (beyond)-rasional, lebih dari multi-disiplin (rasional), tentu jadi 
tantangan bisa melihat DAS utuh dari berbagai paradigma. Apa lagi kalau secara 
intuitif harus memberi saran masa depan. 


Salam,
Risfan Munir



Powered by Telkomsel BlackBerry®


From: Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com> 
Sender: refere...@yahoogrou ps.com 
Date: Wed, 4 Aug 2010 08:54:53 +0800 (SGT)
To: <refere...@yahoogrou ps.com>
ReplyTo: refere...@yahoogrou ps.com 



Subject: Re: [referensi] Re: PERENCANAAN TRANS RASIONAL

  





Pak Risfan dan Sahabats,

Sebenarnya bukan acak, meskipun tampaknya begitu karena mungkin kita belum 
pernah "memetakan" ilmu-ilmu yang berkaitan. Dalam tradisi Jerman, misalnya, 
Ilmu Lingkungan disebut ilmu integrasi, saya kira Planning dan Arsitektur 
begitu juga. Artinya, ia ilmu terapan dengan banyak ilmu lain yang mendukung 
atau menopangnya. Jika dibagankan, mirip tasbih atau rosario dengan untaian 
manik-maniknya, setiap manik-manik adalah ilmu yang mendukung nya.

Cara lain melihatnya adalah dengan menggunakan paradigma, maka planning atau 
arsitektur sebagai "sebuah entitas" ilmu bisa dipandang menurut berbagai 
paradigma. Jumlah paradigma tentunya minimal sama dengan butir manik-manik ilmu 
yang saya sebutkan tadi. Arsitektur dapat dilihat dengan kacamata psikologi, 
maka akan muncul karakter "psikologi lingkungan" padanya. Orang yang menghayati 
paradigma itu untuk memandang arsitektur akan menemukan arsitektur berkaitan 
dengan psikologi. Arsitektur dapat dilihat dengan kacamata ilmu fisika, maka 
karakternya akan sangat "fisika bangunan", dengan implikasi yang konsisten. 
Dengan demikian, dalam pandangan saya, arsitektur (juga planning ?) terkait 
dengan paradigma majemuk, maka dialog antar paradigma menjadi sangat menarik 
dan sangat dimungkinkan.

Apakah karakter multi-paradigma ini cenderung mendorong kita untuk mengatakan 
trans-rasional ? saya belum menyelidikinya dengan serius.

Salam,

Djarot Purbadi

--- On Tue, 8/3/10, Risfan M <risf...@yahoo. com> wrote:


From: Risfan M <risf...@yahoo. com>
Subject: Re: [referensi] Re: PERENCANAAN TRANS RASIONAL
To: "referensi" <refere...@yahoogrou ps.com>
Date: Tuesday, August 3, 2010, 11:34 PM


  

Rekans ysh,

Kalau saya ikuti diskusi ini kok sepertinya melihat Planning sebagai sesuatu 
yang acak, dengan alat filsafat ilmu dan terminologinya yang acak pula. Ini 
upaya merekonstruksi, memahami atau mengkritisi? Entahlah. Pokoknya saya jadi 
merasa berhak bicara acak pula.

PWK yang saya pahami sepertinya memang ilmu terapan, bukan ilmu murni. Bukan 
seperti geologi, fisika, tapi bolehlah dibandingkan dengan Teknik Pertambangan, 
yang merupakan aplikasi dari ilmu geologi, geofisik, mekanika, dan metode 
seperti matematik dst. 
PWK memahami fenomena kebumian (Place) melalui geologi, geografi, geodesi. 
Dinamika ekonomi (Work) melalui Ekonomi Pembangunan, Urban + Regional Economic, 
Teori Lokasi. Dinamika manusia/sosial (Folk). Melalui ramuan inilah PWK 
memahami dinamika atau fenomena Wilayah n Kota. 
Semestinya dengan memahami interaksi Folk-Work-Place ini saja (dengan alat2 
analisis) Planner sudah bisa jadi Analis Perkembangan Kota. Sudah bisa meramal 
satu kota/wilayah arah nasib ke depannya (tanpa intervensi) kemana. Mungkin ini 
sisi realitas ontologisnya (?)

Sisi berikutnya adalah intervensi. Sebagai ilmu terapan, tentu ada maksud untuk 
mengintervensi fenomena wilayah/kota itu, sesuai tujuan. Tujuannya apa, banyak 
rumusan, tapi sederhananya kesejahteraan manusia dalam ruang lingkungan 
hidupnya yang layak. 
Mengahadapi realitas wilayah/kota dengan struktur dan sebaran penduduknya; 
struktur dan karakter kegiatan ekonominya; fenomena alamnya. Maka dalam 
sejarah, PWK melahirkan konsep2, model2, pola2 untuk digunakan dalam 
mengarahkan masa depan. Di dalamnya terkandung ideals yang dicitakan, 
Sistematika pola dan strategi intervensi ini mungkin sisi epistimologis (?).

Ekuilibrium Pertumbuhan, Pemerataaan dan Sustainability merupakan pilihan 
strategi menuju ideal yang ingin dicapai. 

Kata "Perencanaan" pada PWK ini menurut saya menjadi soal. Apakah Planner 
berhenti pada "merencana" saja. Lalu berdoa agar sistem melaksanakan Rencana 
menjadi Realitas baru. Atau Planner sebagai profesional perlu mengawalnya 
sampai dilaksanakan? 

Dalam perkembangan Planner seperti ditakdirkan untuk selalu kecewa kecewa 
dengan aktor-aktor (pemerintah, swasta, masyarakat) yang 'melanggar' rencananya.

Ini tantangan bagi Pegiat ilmu PWK: untuk tetap membatasi diri pada merencana 
saja, lalu siap kecewa. Atau melebarkan ilmunya dengan menambahkan komponen 
pemahaman Kelembagaan (governance) , Strategi Aksi untuk mengawal rencana yang 
telah dibuat. Setidaknya untuk lebih memahami mengapa para aktor itu 
fenomenanya begitu. Sehingga kalau tidak mengadvokasi juga, setidaknya memberi 
saran bagaimana agar Rencana bisa jadi Kebijakan Publik, dan 
jelas langkah2 pengawalan dan aksi untuk pelaksanakannya.


Salam,
Risfan Munir



Powered by Telkomsel BlackBerry®


From: - ekadj <4ek...@gmail. com> 
Sender: refere...@yahoogrou ps.com 
Date: Tue, 3 Aug 2010 21:12:13 +0700
To: <refere...@yahoogrou ps.com>
ReplyTo: refere...@yahoogrou ps.com 
Subject: Re: [referensi] Re: PERENCANAAN TRANS RASIONAL

  


Pak Imam, saya coba lanjutkan tanggapannya:
 
Pertama, berbicara tentang ontologi maka kita masuk melalui pendekatan evolusi 
keilmuan. Kesalahan persepsi selama ini adalah diacunya paradigma lama 
keilmuan, bahwa ilmu itu harus bebas nilai, dan dapat mandiri dalam berbagai 
hubungan. Kritik Marvin Harris (1979) adalah justru kondisi seperti ini dapat 
menutup pintu-pintu pemahaman. Harris menawarkan 'strategi' untuk ilmu-ilmu 
kemasyarakatan, yang disebut dengan 'strategy of eclectics'. Sehingga ada 
pilihan prioritas melalui proses dialektik. Untuk ilmu perencanaan, dapat 
ditentukan strategi tersendiri.
 
Kedua, tidak ditanggapi.
 
Ketiga, karena itu dimasa lampau 'perencana' itu dilakoni oleh para dukun, 
shaman, ajengan, dlsb.
 
Keempat, tidak ditanggapi.
 
Sementara demikian. Salam.
 
-ekadj
 
2010/8/2 Media Multi Gerak Bandung <mmgband...@yahoo. co.id>


  




ysh rekan2 dan bpk2 yang sudah memberikan tanggapan atas preposisi saya yang 
telah lalu. sebetulnya saya sendiri belum tahu, jadi klo pa risfan minta saya 
merespon..ya sesuai yang ada dalam pikiran saya saja yang tentu harus 
difalsifikasi kebenarannya.

pertama pertanyaan tentang realitas perlu diajukan mengingat pembahasan 
ontologis harus berangkat dr sini. saya belum menemukan pembahasan ontologis 
ini dalam bidang perencanaan sehingga saya memberanikan diri untuk 
bertanya...yaa karena saya belum paham dan memang menjadi pertanyaan saya waktu 
kuliah dulu. sebagai seorang yang pernah belajar di perencanaan mestinya kita 
mempunyai "kebanggaan" keilmuan apabila dapat melihat bangunan pengetahuan 
perencanaan secara utuh dari sisi epistimologis, metodologis, axiologis maupun 
ontologis. karena saya termasuk yang kurang setuju dengan pendapat bahwa 
perencanaan hanya gabungan dari disiplin ilmu lain. saya masih punya keyakinan 
bahwa perencanaan itu merupakan bangunan tersendiri sebagai maujud pengetahuan 
dari Sang Maha Mengetahui. perkara bangunan belum terlihat utuh (hanya banyak 
berbicara dari aspek axiologis), itu yang menjadi tanggung jawab kita bersama 
untuk membangun. alangkah indahnya apabila kita bisa
 melihat bangunan yang utuh seperti bidang pengetahuan lainnya - bukan hanya 
gabungan pengetahuan lain. mohon tanggapan... .

kedua, alasan lain saya mengajukan pertanyaan tersebut mengingat perencanaan 
normatif masih belum banyak mendapat perhatian dari perencana. saat ini 
perencana masih disibukkan dengan pembahasan tentang perencanaan substansial 
dan prosedural. seperti membahas trickle down effect yang ternyata tidak 
berhasil, metropolitan, tripple decker dsb atau hegemoni perencanaan 
partisipatif sebagai turunan dari rasional komunikatif yang secara pelaksanaan 
juga masih belum sesuai dengan teori dasarnya. yang sebetulnya klo kita bisa 
lebih kritis (kritik teori) apakah model partisipasi Arnstein sendiri memang 
sudah cocok untuk diterapkan di Indonesia? ataukah kita hanya ikut saja 
sebagaian besar orang sekarang lagi sibuk berbicara partisipatif, konsensus, 
atau yang lainnya dari perencanaan rasional komunikatif. ... kita lupa bahwa 
pembicaraan tentang nilai, moralitas, norma dan sebagainya masih jarang dibahas 
dalam konteks teori dan implementasi perencanaan di
 Indonesia. jadi wajar klo produk rencana RTRW masih ada yang dilakukan dengan 
copi paste dari daerah lain karena perencana tidak memperhatikan nilai, moral 
dan norma.

ketiga, ketika kita membahas nilai, norma, dan moralitas tidak akan lepas dari 
wujud mental dari perencana. oleh karena itu, realitas yang dilihat tidak hanya 
pada realitas fisik, seperti kata pak jarot yang tampaknya masih berpandangan 
positivis, mohan maaf klo saya salah, tetapi juga realitas dalam artian univers 
ataupun kosmik bahkan dalam konteks Realitas pake R besar. dalam kacamata saya, 
setuju bahwa perencanaan menekankan pada perubahan realitas dan mengelola 
realitas dengan kriteria tertentu. jadi data dan informasi belum cukup untuk 
melakukan proses perencanaan. wajar saja klo hasil perencanaan tidak sesuai 
dengan yang direncanakan karena sang perencana belum bisa melihat realitas yang 
sebenarnya.. ..untuk melihat definisi realitas ini kita bisa merujuk pandangan 
dari Annie Besant dan Ken Wilber yang mencoba meneliti dan menulis tentang 
realitas. realitas identik dengan kehidupan (life) ataupun kesadaran 
(conciousness). dalam buku spectrum of
 conciousness dijelaskan bahwa realitas meliputi aspek transenden dan imanen 
dari manusia yang proses perubahannya tidak hanya bersifat evolusi tetapi juga 
involusi. sejalan dengan hal tersebut, Thomas Kuhn juga menekankan pentingnya 
aspek transendensi dalam bidang perencanaan. dalam pandangan Huston Smith dalam 
Ken Wilber level dari realitas terdiri atas terestrial, intermediate, celestial 
dan infinite sedangkan level diri terdiri atas body, mind, soul, dan spirit. 
dengan pandangan ini lah dibutuhkan perencanaan yang sifatnya Trans Rasional,.. 
dengan kesadaran inilah seorang perencana dapat menyaksikan "kehadiran" 
realitas atau mungkin dapat jua menyaksikan rencana keilahiaan (divine plan) 
spt yang ditulis oleh Baborka sebagai syarah dari buku secret doctrinnya M. 
Blavatsky. dalam terminologi Islam kita mungkin harus melihat realitas dari 
sudut Mulk, Malakut, Jabbarut sampe Hawiyyah Ghalb (unmanifested). artinya, 
dalam perencanaan trans rasional yang
 diperlukan adalah kesadaran dari setiap stakeholder. ..sehingga keberhasilan 
perencanaan bukan hanya karena kesepakatan atau konsensus dari pelaku tetapi 
lebih pada kesadaran dari pelaku so konsensus tidaklah cukup kali yaa...ini 
mungkin kritik saya terhadap perencanaan komunikatif ...he-he..ya coba2 kritik 
dikit salah juga ga pa pa... kan bisa diluruskan sama bapak2 referenser 
lainnya..... jadi dalam perencanaan trans rasional tidak hanya melihat secara 
horisontal alam ini tetapi juga melihat secara vertikal.... ini  jawaban buat 
kang deden kali yaa .... mudah2an tidak puas jadi bisa dilanjutkan diskusinya.. 
..   
  
keempat, dalam perencanaan trans rasional yang saya pikirkan, kita tidak hanya 
fokus pada manusia (anthropocentris) dan alam (biocentris) saja tetapi coba 
menggali pemikiran tentang cosmicentris atau teocentris. saya masih punya 
keyakinan karena ilmu perencanaan merupakan maujud atau percikan dari ilmu Sang 
Maha Mengetahui maka dengan mendalami perencanaan kitapun dapat menyaksikan 
Kehadiran Sang Realitas. jadi sayang kalo kita belajar perencanaan maaf hanya 
untuk kebutuhan lahiriyah saja-gelar doktor atau dana- semata... mestinya kita 
iri dengan ilmuwan astronomi atau fisika seperti Fritjof Capra dalam Tao of 
Physic dia bercerita tentang tarian kosmik ketika sedang mempelajari rumus2 
fisika. kita bukannya jalaluddin rumi, ibnu arabi, st agustinus, mohandas 
gandhi ataupun carlos castaneda yang sudah tidak diragukan lagi tingkat 
kesadarannya. ..kita hanya seorang perencana yang hari esok masih mencari 
nafkah untuk periuk nasi..namun yakinlah bahwa
 memperlajari hakekat perencanaan dengan sungguh2 kitapun akan mampu 
menyaksikan alunan dinamika musik alam..mungkin kali yaaa......   

sekali lagi ini baru impian saya ketika saya setuju dengan pandangan bahwa 
kedudukan theory of planning sejajar dengan filosofi sains. yakinlah bahwa 
perencanaan bukanlah sekedar gabungan teori lain. sehingga kita diharapkan 
mampu mengeksplorasi sisi ontologis perencanaan leih jauh lagi....semoga respon 
saya bisa menjadi bahan diskusi yang lebih hangat.....


salam

Imam Indratno

 







      

Kirim email ke