Pak Djarot dan Rekans ysh, Setuju Pak Djarot. Kalau saya intip google, kelihatannya Trans-rational itu dalam konteks "PreRational - Rational - TransRational". Tapi mungkin istilah Trans-Rasional itu tidak usah kta risaukan betul, tapi ajakan sdr Imam untuk membahas "ilmu"nya PWK layak kita respons. Saya jadi ingat Permukiman Suku Naga atau Kampung Naga di selatan Jawa Barat. Kita tidak membayangkan ilmu bangunan, fisika bangunan, tata letak, planning method (seperti yang kita pelajari) pernah masuk kesana. Tapi siapa yang tidak mengakui Kearifan Lokal yang membuat Kampung Naga itu secara sosial, ekonomi, ekologis sempurna. Saat terjadi gempa tahun lalu, kian membuktikan bahwa perumahan dan permukiman Kampung Naga, bangunannya relatif tahan gempa (bambu), dan social capital nya memungkinkan mereka menanggapi setiap bencana atau perubahan secara kompak. Rasionalkah (dengan epistimologi yang bisa dilacak?), atau mungkin ini contoh Trans-rasional? Salam, Risfan Munir , --- On Tue, 8/3/10, Djarot Purbadi <[email protected]> wrote:
From: Djarot Purbadi <[email protected]> Subject: Re: [referensi] Re: PERENCANAAN TRANS RASIONAL To: [email protected] Date: Tuesday, August 3, 2010, 7:54 PM Pak Risfan dan Sahabats, Sebenarnya bukan acak, meskipun tampaknya begitu karena mungkin kita belum pernah "memetakan" ilmu-ilmu yang berkaitan. Dalam tradisi Jerman, misalnya, Ilmu Lingkungan disebut ilmu integrasi, saya kira Planning dan Arsitektur begitu juga. Artinya, ia ilmu terapan dengan banyak ilmu lain yang mendukung atau menopangnya. Jika dibagankan, mirip tasbih atau rosario dengan untaian manik-maniknya, setiap manik-manik adalah ilmu yang mendukung nya. Cara lain melihatnya adalah dengan menggunakan paradigma, maka planning atau arsitektur sebagai "sebuah entitas" ilmu bisa dipandang menurut berbagai paradigma. Jumlah paradigma tentunya minimal sama dengan butir manik-manik ilmu yang saya sebutkan tadi. Arsitektur dapat dilihat dengan kacamata psikologi, maka akan muncul karakter "psikologi lingkungan" padanya. Orang yang menghayati paradigma itu untuk memandang arsitektur akan menemukan arsitektur berkaitan dengan psikologi. Arsitektur dapat dilihat dengan kacamata ilmu fisika, maka karakternya akan sangat "fisika bangunan", dengan implikasi yang konsisten. Dengan demikian, dalam pandangan saya, arsitektur (juga planning ?) terkait dengan paradigma majemuk, maka dialog antar paradigma menjadi sangat menarik dan sangat dimungkinkan. Apakah karakter multi-paradigma ini cenderung mendorong kita untuk mengatakan trans-rasional ? saya belum menyelidikinya dengan serius. Salam, Djarot Purbadi --- On Tue, 8/3/10, Risfan M <risf...@yahoo. com> wrote: From: Risfan M <risf...@yahoo. com> Subject: Re: [referensi] Re: PERENCANAAN TRANS RASIONAL To: "referensi" <refere...@yahoogrou ps.com> Date: Tuesday, August 3, 2010, 11:34 PM Rekans ysh, Kalau saya ikuti diskusi ini kok sepertinya melihat Planning sebagai sesuatu yang acak, dengan alat filsafat ilmu dan terminologinya yang acak pula. Ini upaya merekonstruksi, memahami atau mengkritisi? Entahlah. Pokoknya saya jadi merasa berhak bicara acak pula. PWK yang saya pahami sepertinya memang ilmu terapan, bukan ilmu murni. Bukan seperti geologi, fisika, tapi bolehlah dibandingkan dengan Teknik Pertambangan, yang merupakan aplikasi dari ilmu geologi, geofisik, mekanika, dan metode seperti matematik dst. PWK memahami fenomena kebumian (Place) melalui geologi, geografi, geodesi. Dinamika ekonomi (Work) melalui Ekonomi Pembangunan, Urban + Regional Economic, Teori Lokasi. Dinamika manusia/sosial (Folk). Melalui ramuan inilah PWK memahami dinamika atau fenomena Wilayah n Kota. Semestinya dengan memahami interaksi Folk-Work-Place ini saja (dengan alat2 analisis) Planner sudah bisa jadi Analis Perkembangan Kota. Sudah bisa meramal satu kota/wilayah arah nasib ke depannya (tanpa intervensi) kemana. Mungkin ini sisi realitas ontologisnya (?) Sisi berikutnya adalah intervensi. Sebagai ilmu terapan, tentu ada maksud untuk mengintervensi fenomena wilayah/kota itu, sesuai tujuan. Tujuannya apa, banyak rumusan, tapi sederhananya kesejahteraan manusia dalam ruang lingkungan hidupnya yang layak. Mengahadapi realitas wilayah/kota dengan struktur dan sebaran penduduknya; struktur dan karakter kegiatan ekonominya; fenomena alamnya. Maka dalam sejarah, PWK melahirkan konsep2, model2, pola2 untuk digunakan dalam mengarahkan masa depan. Di dalamnya terkandung ideals yang dicitakan, Sistematika pola dan strategi intervensi ini mungkin sisi epistimologis (?). Ekuilibrium Pertumbuhan, Pemerataaan dan Sustainability merupakan pilihan strategi menuju ideal yang ingin dicapai. Kata "Perencanaan" pada PWK ini menurut saya menjadi soal. Apakah Planner berhenti pada "merencana" saja. Lalu berdoa agar sistem melaksanakan Rencana menjadi Realitas baru. Atau Planner sebagai profesional perlu mengawalnya sampai dilaksanakan? Dalam perkembangan Planner seperti ditakdirkan untuk selalu kecewa kecewa dengan aktor-aktor (pemerintah, swasta, masyarakat) yang 'melanggar' rencananya. Ini tantangan bagi Pegiat ilmu PWK: untuk tetap membatasi diri pada merencana saja, lalu siap kecewa. Atau melebarkan ilmunya dengan menambahkan komponen pemahaman Kelembagaan (governance) , Strategi Aksi untuk mengawal rencana yang telah dibuat. Setidaknya untuk lebih memahami mengapa para aktor itu fenomenanya begitu. Sehingga kalau tidak mengadvokasi juga, setidaknya memberi saran bagaimana agar Rencana bisa jadi Kebijakan Publik, dan jelas langkah2 pengawalan dan aksi untuk pelaksanakannya. Salam, Risfan Munir Powered by Telkomsel BlackBerry® From: - ekadj <4ek...@gmail. com> Sender: refere...@yahoogrou ps.com Date: Tue, 3 Aug 2010 21:12:13 +0700 To: <refere...@yahoogrou ps.com> ReplyTo: refere...@yahoogrou ps.com Subject: Re: [referensi] Re: PERENCANAAN TRANS RASIONAL Pak Imam, saya coba lanjutkan tanggapannya: Pertama, berbicara tentang ontologi maka kita masuk melalui pendekatan evolusi keilmuan. Kesalahan persepsi selama ini adalah diacunya paradigma lama keilmuan, bahwa ilmu itu harus bebas nilai, dan dapat mandiri dalam berbagai hubungan. Kritik Marvin Harris (1979) adalah justru kondisi seperti ini dapat menutup pintu-pintu pemahaman. Harris menawarkan 'strategi' untuk ilmu-ilmu kemasyarakatan, yang disebut dengan 'strategy of eclectics'. Sehingga ada pilihan prioritas melalui proses dialektik. Untuk ilmu perencanaan, dapat ditentukan strategi tersendiri. Kedua, tidak ditanggapi. Ketiga, karena itu dimasa lampau 'perencana' itu dilakoni oleh para dukun, shaman, ajengan, dlsb. Keempat, tidak ditanggapi. Sementara demikian. Salam. -ekadj 2010/8/2 Media Multi Gerak Bandung <mmgband...@yahoo. co.id> ysh rekan2 dan bpk2 yang sudah memberikan tanggapan atas preposisi saya yang telah lalu. sebetulnya saya sendiri belum tahu, jadi klo pa risfan minta saya merespon..ya sesuai yang ada dalam pikiran saya saja yang tentu harus difalsifikasi kebenarannya. pertama pertanyaan tentang realitas perlu diajukan mengingat pembahasan ontologis harus berangkat dr sini. saya belum menemukan pembahasan ontologis ini dalam bidang perencanaan sehingga saya memberanikan diri untuk bertanya...yaa karena saya belum paham dan memang menjadi pertanyaan saya waktu kuliah dulu. sebagai seorang yang pernah belajar di perencanaan mestinya kita mempunyai "kebanggaan" keilmuan apabila dapat melihat bangunan pengetahuan perencanaan secara utuh dari sisi epistimologis, metodologis, axiologis maupun ontologis. karena saya termasuk yang kurang setuju dengan pendapat bahwa perencanaan hanya gabungan dari disiplin ilmu lain. saya masih punya keyakinan bahwa perencanaan itu merupakan bangunan tersendiri sebagai maujud pengetahuan dari Sang Maha Mengetahui. perkara bangunan belum terlihat utuh (hanya banyak berbicara dari aspek axiologis), itu yang menjadi tanggung jawab kita bersama untuk membangun. alangkah indahnya apabila kita bisa melihat bangunan yang utuh seperti bidang pengetahuan lainnya - bukan hanya gabungan pengetahuan lain. mohon tanggapan... . kedua, alasan lain saya mengajukan pertanyaan tersebut mengingat perencanaan normatif masih belum banyak mendapat perhatian dari perencana. saat ini perencana masih disibukkan dengan pembahasan tentang perencanaan substansial dan prosedural. seperti membahas trickle down effect yang ternyata tidak berhasil, metropolitan, tripple decker dsb atau hegemoni perencanaan partisipatif sebagai turunan dari rasional komunikatif yang secara pelaksanaan juga masih belum sesuai dengan teori dasarnya. yang sebetulnya klo kita bisa lebih kritis (kritik teori) apakah model partisipasi Arnstein sendiri memang sudah cocok untuk diterapkan di Indonesia? ataukah kita hanya ikut saja sebagaian besar orang sekarang lagi sibuk berbicara partisipatif, konsensus, atau yang lainnya dari perencanaan rasional komunikatif. ... kita lupa bahwa pembicaraan tentang nilai, moralitas, norma dan sebagainya masih jarang dibahas dalam konteks teori dan implementasi perencanaan di Indonesia. jadi wajar klo produk rencana RTRW masih ada yang dilakukan dengan copi paste dari daerah lain karena perencana tidak memperhatikan nilai, moral dan norma. ketiga, ketika kita membahas nilai, norma, dan moralitas tidak akan lepas dari wujud mental dari perencana. oleh karena itu, realitas yang dilihat tidak hanya pada realitas fisik, seperti kata pak jarot yang tampaknya masih berpandangan positivis, mohan maaf klo saya salah, tetapi juga realitas dalam artian univers ataupun kosmik bahkan dalam konteks Realitas pake R besar. dalam kacamata saya, setuju bahwa perencanaan menekankan pada perubahan realitas dan mengelola realitas dengan kriteria tertentu. jadi data dan informasi belum cukup untuk melakukan proses perencanaan. wajar saja klo hasil perencanaan tidak sesuai dengan yang direncanakan karena sang perencana belum bisa melihat realitas yang sebenarnya.. ..untuk melihat definisi realitas ini kita bisa merujuk pandangan dari Annie Besant dan Ken Wilber yang mencoba meneliti dan menulis tentang realitas. realitas identik dengan kehidupan (life) ataupun kesadaran (conciousness). dalam buku spectrum of conciousness dijelaskan bahwa realitas meliputi aspek transenden dan imanen dari manusia yang proses perubahannya tidak hanya bersifat evolusi tetapi juga involusi. sejalan dengan hal tersebut, Thomas Kuhn juga menekankan pentingnya aspek transendensi dalam bidang perencanaan. dalam pandangan Huston Smith dalam Ken Wilber level dari realitas terdiri atas terestrial, intermediate, celestial dan infinite sedangkan level diri terdiri atas body, mind, soul, dan spirit. dengan pandangan ini lah dibutuhkan perencanaan yang sifatnya Trans Rasional,.. dengan kesadaran inilah seorang perencana dapat menyaksikan "kehadiran" realitas atau mungkin dapat jua menyaksikan rencana keilahiaan (divine plan) spt yang ditulis oleh Baborka sebagai syarah dari buku secret doctrinnya M. Blavatsky. dalam terminologi Islam kita mungkin harus melihat realitas dari sudut Mulk, Malakut, Jabbarut sampe Hawiyyah Ghalb (unmanifested). artinya, dalam perencanaan trans rasional yang diperlukan adalah kesadaran dari setiap stakeholder. ..sehingga keberhasilan perencanaan bukan hanya karena kesepakatan atau konsensus dari pelaku tetapi lebih pada kesadaran dari pelaku so konsensus tidaklah cukup kali yaa...ini mungkin kritik saya terhadap perencanaan komunikatif ...he-he..ya coba2 kritik dikit salah juga ga pa pa... kan bisa diluruskan sama bapak2 referenser lainnya..... jadi dalam perencanaan trans rasional tidak hanya melihat secara horisontal alam ini tetapi juga melihat secara vertikal.... ini jawaban buat kang deden kali yaa .... mudah2an tidak puas jadi bisa dilanjutkan diskusinya.. .. keempat, dalam perencanaan trans rasional yang saya pikirkan, kita tidak hanya fokus pada manusia (anthropocentris) dan alam (biocentris) saja tetapi coba menggali pemikiran tentang cosmicentris atau teocentris. saya masih punya keyakinan karena ilmu perencanaan merupakan maujud atau percikan dari ilmu Sang Maha Mengetahui maka dengan mendalami perencanaan kitapun dapat menyaksikan Kehadiran Sang Realitas. jadi sayang kalo kita belajar perencanaan maaf hanya untuk kebutuhan lahiriyah saja-gelar doktor atau dana- semata... mestinya kita iri dengan ilmuwan astronomi atau fisika seperti Fritjof Capra dalam Tao of Physic dia bercerita tentang tarian kosmik ketika sedang mempelajari rumus2 fisika. kita bukannya jalaluddin rumi, ibnu arabi, st agustinus, mohandas gandhi ataupun carlos castaneda yang sudah tidak diragukan lagi tingkat kesadarannya. ..kita hanya seorang perencana yang hari esok masih mencari nafkah untuk periuk nasi..namun yakinlah bahwa memperlajari hakekat perencanaan dengan sungguh2 kitapun akan mampu menyaksikan alunan dinamika musik alam..mungkin kali yaaa...... sekali lagi ini baru impian saya ketika saya setuju dengan pandangan bahwa kedudukan theory of planning sejajar dengan filosofi sains. yakinlah bahwa perencanaan bukanlah sekedar gabungan teori lain. sehingga kita diharapkan mampu mengeksplorasi sisi ontologis perencanaan leih jauh lagi....semoga respon saya bisa menjadi bahan diskusi yang lebih hangat..... salam Imam Indratno

