ysh rekan2 dan bpk2 yang sudah memberikan tanggapan atas preposisi saya yang telah lalu. sebetulnya saya sendiri belum tahu, jadi klo pa risfan minta saya merespon..ya sesuai yang ada dalam pikiran saya saja yang tentu harus difalsifikasi kebenarannya.
pertama pertanyaan tentang realitas perlu diajukan mengingat pembahasan ontologis harus berangkat dr sini. saya belum menemukan pembahasan ontologis ini dalam bidang perencanaan sehingga saya memberanikan diri untuk bertanya...yaa karena saya belum paham dan memang menjadi pertanyaan saya waktu kuliah dulu. sebagai seorang yang pernah belajar di perencanaan mestinya kita mempunyai "kebanggaan" keilmuan apabila dapat melihat bangunan pengetahuan perencanaan secara utuh dari sisi epistimologis, metodologis, axiologis maupun ontologis. karena saya termasuk yang kurang setuju dengan pendapat bahwa perencanaan hanya gabungan dari disiplin ilmu lain. saya masih punya keyakinan bahwa perencanaan itu merupakan bangunan tersendiri sebagai maujud pengetahuan dari Sang Maha Mengetahui. perkara bangunan belum terlihat utuh (hanya banyak berbicara dari aspek axiologis), itu yang menjadi tanggung jawab kita bersama untuk membangun. alangkah indahnya apabila kita bisa melihat bangunan yang utuh seperti bidang pengetahuan lainnya - bukan hanya gabungan pengetahuan lain. mohon tanggapan.... kedua, alasan lain saya mengajukan pertanyaan tersebut mengingat perencanaan normatif masih belum banyak mendapat perhatian dari perencana. saat ini perencana masih disibukkan dengan pembahasan tentang perencanaan substansial dan prosedural. seperti membahas trickle down effect yang ternyata tidak berhasil, metropolitan, tripple decker dsb atau hegemoni perencanaan partisipatif sebagai turunan dari rasional komunikatif yang secara pelaksanaan juga masih belum sesuai dengan teori dasarnya. yang sebetulnya klo kita bisa lebih kritis (kritik teori) apakah model partisipasi Arnstein sendiri memang sudah cocok untuk diterapkan di Indonesia? ataukah kita hanya ikut saja sebagaian besar orang sekarang lagi sibuk berbicara partisipatif, konsensus, atau yang lainnya dari perencanaan rasional komunikatif.... kita lupa bahwa pembicaraan tentang nilai, moralitas, norma dan sebagainya masih jarang dibahas dalam konteks teori dan implementasi perencanaan di Indonesia. jadi wajar klo produk rencana RTRW masih ada yang dilakukan dengan copi paste dari daerah lain karena perencana tidak memperhatikan nilai, moral dan norma. ketiga, ketika kita membahas nilai, norma, dan moralitas tidak akan lepas dari wujud mental dari perencana. oleh karena itu, realitas yang dilihat tidak hanya pada realitas fisik, seperti kata pak jarot yang tampaknya masih berpandangan positivis, mohan maaf klo saya salah, tetapi juga realitas dalam artian univers ataupun kosmik bahkan dalam konteks Realitas pake R besar. dalam kacamata saya, setuju bahwa perencanaan menekankan pada perubahan realitas dan mengelola realitas dengan kriteria tertentu. jadi data dan informasi belum cukup untuk melakukan proses perencanaan. wajar saja klo hasil perencanaan tidak sesuai dengan yang direncanakan karena sang perencana belum bisa melihat realitas yang sebenarnya....untuk melihat definisi realitas ini kita bisa merujuk pandangan dari Annie Besant dan Ken Wilber yang mencoba meneliti dan menulis tentang realitas. realitas identik dengan kehidupan (life) ataupun kesadaran (conciousness). dalam buku spectrum of conciousness dijelaskan bahwa realitas meliputi aspek transenden dan imanen dari manusia yang proses perubahannya tidak hanya bersifat evolusi tetapi juga involusi. sejalan dengan hal tersebut, Thomas Kuhn juga menekankan pentingnya aspek transendensi dalam bidang perencanaan. dalam pandangan Huston Smith dalam Ken Wilber level dari realitas terdiri atas terestrial, intermediate, celestial dan infinite sedangkan level diri terdiri atas body, mind, soul, dan spirit. dengan pandangan ini lah dibutuhkan perencanaan yang sifatnya Trans Rasional,.. dengan kesadaran inilah seorang perencana dapat menyaksikan "kehadiran" realitas atau mungkin dapat jua menyaksikan rencana keilahiaan (divine plan) spt yang ditulis oleh Baborka sebagai syarah dari buku secret doctrinnya M. Blavatsky. dalam terminologi Islam kita mungkin harus melihat realitas dari sudut Mulk, Malakut, Jabbarut sampe Hawiyyah Ghalb (unmanifested). artinya, dalam perencanaan trans rasional yang diperlukan adalah kesadaran dari setiap stakeholder...sehingga keberhasilan perencanaan bukan hanya karena kesepakatan atau konsensus dari pelaku tetapi lebih pada kesadaran dari pelaku so konsensus tidaklah cukup kali yaa...ini mungkin kritik saya terhadap perencanaan komunikatif ...he-he..ya coba2 kritik dikit salah juga ga pa pa... kan bisa diluruskan sama bapak2 referenser lainnya..... jadi dalam perencanaan trans rasional tidak hanya melihat secara horisontal alam ini tetapi juga melihat secara vertikal.... ini jawaban buat kang deden kali yaa .... mudah2an tidak puas jadi bisa dilanjutkan diskusinya.... keempat, dalam perencanaan trans rasional yang saya pikirkan, kita tidak hanya fokus pada manusia (anthropocentris) dan alam (biocentris) saja tetapi coba menggali pemikiran tentang cosmicentris atau teocentris. saya masih punya keyakinan karena ilmu perencanaan merupakan maujud atau percikan dari ilmu Sang Maha Mengetahui maka dengan mendalami perencanaan kitapun dapat menyaksikan Kehadiran Sang Realitas. jadi sayang kalo kita belajar perencanaan maaf hanya untuk kebutuhan lahiriyah saja-gelar doktor atau dana- semata... mestinya kita iri dengan ilmuwan astronomi atau fisika seperti Fritjof Capra dalam Tao of Physic dia bercerita tentang tarian kosmik ketika sedang mempelajari rumus2 fisika. kita bukannya jalaluddin rumi, ibnu arabi, st agustinus, mohandas gandhi ataupun carlos castaneda yang sudah tidak diragukan lagi tingkat kesadarannya...kita hanya seorang perencana yang hari esok masih mencari nafkah untuk periuk nasi..namun yakinlah bahwa memperlajari hakekat perencanaan dengan sungguh2 kitapun akan mampu menyaksikan alunan dinamika musik alam..mungkin kali yaaa...... sekali lagi ini baru impian saya ketika saya setuju dengan pandangan bahwa kedudukan theory of planning sejajar dengan filosofi sains. yakinlah bahwa perencanaan bukanlah sekedar gabungan teori lain. sehingga kita diharapkan mampu mengeksplorasi sisi ontologis perencanaan leih jauh lagi....semoga respon saya bisa menjadi bahan diskusi yang lebih hangat..... salam Imam Indratno ________________________________ Dari: Risfan M <[email protected]> Kepada: referensi <[email protected]> Terkirim: Ming, 1 Agustus, 2010 02:46:44 Judul: Re: [referensi] Re: PERENCANAAN TRANS RASIONAL Saya pikir sekarang giliran rekan Imam Indratno untuk merespons balik tanggapan teman2. Kalau menggunakan pengertian: pre-rational, rational, trans-rational. Maka secara umum pendekatan planning karena menyangkut apa yang dipahami bersama oleh publik, dan planner bisa mempertanggung jawabkannya sesuai berbagai disiplin ilmu yang biasa dipakai ya ada di aras "rational" (rational planning method?). Namun dalam perencanaan komunitas Mulai banyak digunakan pendekatan partisipatif yang menggali visi bersama, dari mulai visi individual tentang masa depan komunitas dan lingkungannya. mulainya perencanaan bukan dari analis fakta secara rational, tapi justru dari "impian masa depan" yang beyond rational dari prediksi tiap disiplin ilmu. Planner (urban planning) dalam hal ini kadang beda dengan arsitek (urban design). Arsitek sebagai designer sering datang dengan imaginasinya (trans-rational? ) tentang desain masa depan suatu bagian kota, semata-mata dari imajinasinya. Tapi urban planner umumnya pendekatannya mengandalkan analisis rational atas veriabel2 seperti perkembangan penduduk, kegiatan ekonomi, pergerakan, kebutuhan, dan daya dukung lingkungan. Baru setelah itu merancang pola landuse dan jaringan yang sesuai. Tapi itu penyederhanaan saya saja, dalam kasus kawasan baru, kota yang sama sekali baru, pola kerja keduanya bisa sama. Mulai dari imajinasi bentuk masa depan, walau tentu berbasis rational analisis target penghuni, kapasistas, daya dukung lingkungan, skenario sustainability dst. Planner yang berpengalaman bisa jadi memiliki kemampuan seperti yang disebut Howard Gardner "Five Minds of the Future" yaitu: disciplined mind, synthesizing mind, creating mind, respectful mind, dan ethical mind. Dari pengalaman kerjanya yang memang beyond (trans?) rational dari tiap disiplin ilmu. Namun tetap saja produk rencana adalah buah pikiran dan kesepakatan publik, bukan karangan si planner. Salam, Risfan Munir Powered by Telkomsel BlackBerry® ________________________________ From: Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com> Sender: refere...@yahoogrou ps.com Date: Sat, 31 Jul 2010 14:30:45 +0800 (SGT) To: <refere...@yahoogrou ps.com> ReplyTo: refere...@yahoogrou ps.com Subject: Re: [referensi] Re: PERENCANAAN TRANS RASIONAL Dear Sahabat, Ikutan nimbrung nih. Sejauh saya mengerti, realitas adalah apa yang dialami manusia sehari-hari, yang teraba maupun yang tidak dapat diraba, namun dapat ditangkap dengan panca indra (meskipun ada yang yakin indra manusia lebih dari lima). Realitas adalah seluruh ruang kehidupan manusia dan pengalaman-pengalam annya, termasuk diri manusia yang mengalaminya. Filsuf fenomenologi menyebutnya fenomena, sementara filsuf yang lain lebih senang menggunakan kata realitas. Jadi keduanya sama. Para ilmuwan umumnya melihat keteraturan- keteraturan di dalam realitas/fenomena sehari-hari itu, ia melihat interaksi antar unsur-unsur dari realitas dan menghasilkan sesuatu yang melengkapi realitas. Ia melihat lebih dari sekedar yang tampak, dan apa yang dilihatnya itu adalah sesuatu di balik realitas, dalam pikiran tertentu (rasionalisme) ilmuwan melihat "prinsip, hukum, kaidah, teori" atau semacam kekuatan yang mengatur interaksi antar elemen realitas. Ia melihat sesuatu yang lebih abstrak di dalam realitas yang mengendalikannya. Cara berpikir semacam itu sering disebut rasional, yang cenderung melihat realitas ditekankan pada hal-hal yang teratur atau berulang. Filsuf lain justru ingin melihat bukan pada keteraturannya, melainkan keunikannya, khususnya karena dia melihat kehidupan sebagai hal yang sangat beragam (bukan keseragaman yang menonjol atau yang menarik baginya). Ketika di lapangan, bukan keterulangan yang dilihatnya, melainkan kebermaknaan sesuatu dalam keseluruhan. Cara pikir ini sangat berbeda dari cara pikir "rasional", yang mementingkan keseragaman dan keterulangan secara nyaris persis sama. Salah satu yang saya kenal adalah pemahaman mendalam sesuatu menurut konteksnya, lebih melihat maknanya, maka saya cenderung menyebutnya supra-rasional, bukan trans-rasional. Supra artinya, melampaui, maka ia melampaui cara pandang sebelumnya. Ia bukan kacamata biasa, lebih dari sekedar melihat keteraturan, karena mampu menangkap transendensi (suatu penyeberangan makna). Supra karena ia mampu melihat yang ada di seberang sana, yang secara otomatis tidak tampak oleh pikiran rasional, meskipun semuanya harus dibuktikan juga. Supra karena akalnya menggunakan akal transenden, bukan akal biasa (bukan logika aristotelian, melainkan logika transenden ala Hegel). Jika kita disodori sebuah sepatu kiri, maka logika transenden akan berkata, ada sepatu kanannya ya, Jika kita melihat tampak depan bangunan, pasti ada tampak belakangnya. Jika seorang detektif menemukan sebuah sepeda di tepi jalan, ia akan segera membayangkan pasti ada pihak-pihak (banyak kemungkinan) yang terkait dengan temuannya itu, meskipun semuanya belum tampak dan masih dalam status "kemungkinan" . Kita tentu bisa membayangkan, bagaimana kerja pikiran arsitek atau planner ketika menggunakan cara rasional dan cara yang supra-rasional itu !!! Sementara demikian, supaya makin ramai diskusinya. Salam, Djarot Purbadi --- On Sat, 7/31/10, dedenrukmana <dedenrukmana@ yahoo.com> wrote: >From: dedenrukmana <dedenrukmana@ yahoo.com> >Subject: [referensi] Re: PERENCANAAN TRANS RASIONAL >To: refere...@yahoogrou ps.com >Date: Saturday, July 31, 2010, 11:47 AM > > > > >Mas Imam Indratno, > >Saya disini tidak bermaksud utk menjawab pertanyaannya yg sama sekali >bukan pertanyaan yg mudah. Tapi sedikit meramaikan diskusi kita. Saya >malah sekarang ingin tahu, kenapa pertanyaan spt ini muncul? Mesti ada >latar belakangnya? Penelusuran filsafat spt apa yg sudah dilakukan shg >sampai ke pertanyaan spt ini? Kalau saya sbg gurunya, mestinya Mas Imam >sudah mendapat extrapoint karena pertanyaan ini. > >Pertanyaan "apakah planning adakah suatu reality?" Kenapa pertanyaannya >spt ini dan kemudian dikaitkan dg perencanaan transrational? >Transrational sendiri saya terjemahkan sebagai sesuatu diluar atau >sesudah rational. Spt kita ketahui ada pre-rational, rational dan >transrational. Kalau kita analogikan dg posmo, kalau rational adalah >kata kunci dari modernism, maka transrational bisa jadi kata kunci dari >posmo. Tolong bantu saya bgm mengkaitkan reality ke transrational? > >Sepemahaman saya, reality sering disandingkan dg theory, i.e. theory >versus reality, theory meets reality, from theory to reality, etc. Shg >pertanyaannya bisa saya rephrase menjadi "apakah planning adalah suatu >theory?", dan jawabannya adalah bukan, tapi planning punya beragam >teori, theories of planning. Analogi yg sama bisa kita pakai utk >reality, planning punya beragam realities, realities of planning. Spt >pernah saya sampaikan sebelumnya, planning menurut saya adalah kegiatan >sistematis utk membentuk masa depan di ranah publik (systematic attempts >to shape the future in the public domain). > >Mungkin jawaban spt ini, bukanlah yg diharapkan. Btw, saya berharapan >respon ini bisa memancing diskusi lebih lanjut utk pengembangan >pengetahuan kita bersama. > >Deden Rukmana > >--- In refere...@yahoogrou ps.com, Media Multi Gerak Bandung ><mmgband...@. ..> wrote: >> >> perkenalkan saya imam... selama ini hanya melihat-lihat mailist ini... >tapi ada >> kegundahan yang tidak bisa saya tahan dan butuh bantuan dari >pakar-pakar dan >> orang pinter di sini. mudah-mudahan kehausan saya bisa terobati.... >> >> saat ini saya sedang berpikir tentang konsepsi PERENCANAAN TRANS >RASIONAL, >> karena selama ini saya melihat bahwa teori perencanaan yang berkembang >masih >> mendasarkan pada pandangan positivism. memang benar perkembangkan >perencanaan >> saat ini sudah sampai pada perenc berbasis rasional komunikatif yang >berlandas >> pada Habermas. yang kalo saya tidak salah dia sudah mengembangkan >teori berbasis >> [post]modernisme yang banyak menjadi insipirasi buat perncanaan >komunikatif. ... >> mohon koreksi klo saya salah... >> >> saya berpikir bahwa perencanaan sebagai sebuah pengetahuan tentu >merupakan >> maujud pengetahuan dari Sang Maha Pengetahuan. oleh karena itu, >perencanaan >> tidak hanya dilihat dari konteks materialism. .tetapi harus beyond >> rasionality. ...seperti bagaimana Ken Wilber mengembangkan konsep >> integralistiknya. . >> >> >> pertanyaan pada bapak-bapak atau rekan-rekan. .. >> >> 1. apakah perencanaan merupakan sebuah realitas???? >> >> 2. bila perencanaan merupakan realitas, bagaimana eksistensi ilmu >perencanaan? >> apakah ada di alam mental sang perencana dan stakeholder ataukah >memang ada >> eksistensi di alam nyata? >> >> mungkin 2 pertanyaan dulu yang saya tanyakan sebelum ada rangkaian >pertanyaan >> lainnya..... >> >> maaf atas pertanyaan bodo saya karena selama ini saya mencoba mencari >buku >> filsafat perencanaan belum ketemu aja.... mohon info klo ada yang bs >bantu >> memberikan buku2 tersebut >> >> thanks >> >> >> Imam Indratno >> >> > >

