Pak Risfan ysh. Sambil menunggu pandangan rekan-rekan yang lain, saya tanggapi dulu pandangan bapak. Karena telah menemukan "perlintasan", maka sebenarnya bapak telah menungkapkan 'paradigma praktis' dari pwk. Dari contoh yang bapak sampaikan, sebenarnya ada paradigma lain lagi, yaitu ketika contoh tentang sumber daya air, dalam pandangan awam hal itu merupakan pemandangan alam yang dapat dinikmati, atau disentuh untuk dirasakan. Namun dalam beberapa sudut pandang, hal itu dimaknakan sebagai sumber untuk penghasil energi, atau dialirkan untuk irigasi pertanian, atau dikonsumsi untuk kebutuhan rumah tangga. Dalam hal ini paradigmanya adalah "perubahan", yang dapat dikembangkan secara teoritik. Sehingga ada dual paradigms, yang berangkat secara praktis maupun teoritis.
Dalam paradigma perlintasan, cenderung mengarah pada seni dan manajemen. Kalaupun ada aransemen, maka masuk dalam teknis engineering, dan dapat dimodelkan seperti SD. Ontologinya diskrit. Bagi ilmuwan epistemologi, hal ini tidak terkategori ilmu, dan hanya dikategorikan inter-, multi-, atau meta-disipliner. Pelaksananya adalah engineer, atau sering disebut : tukang<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/11454> . Dalam paradigma perubahan, cenderung mendalami hakikat perubahan sebagai sains, dan dalam beberapa bulan yang lalu kita mendiskusikan tentang perubahan itu. Saya belum menemukan istilah yang pas, seperti improvement dll; ada istilah dalam Bahasa Arab yang lebih tepat: hanif. Bila ini didalami dan dikembangkan, maka bisa terlihat bangun epistemologinya, potensial sebagai -logi, sebagaimana yang diharapkan Pak Imam, saya kira. Sementara demikian pak. Salam. -ekadj On 8/5/10, Risfan M <[email protected]> wrote: > > > > Pak Eka, Imam, Efha, Djarot, Deden dan Rekans ysh, > > Tantangan dalam menekuni PWK ini adalah pada "pelintasan" disiplin/bidang > keilmuan yang punya rasionalitas dan paradigmanya sendiri. Pada pelintasan > itu tak jarang ada friksi, "gegar", dan mungkin salah terima. Apa boleh > buat, memang itu tantangannya. > > Kembali ke contoh pengembangan wilayah berbasis DAS, diawali rasionalitas > ahli hidrologi, sipil air dkk, lalau bertemu rasionalitas pengembangan > pertanian, lalu rasionalitas pengembangan sistem permukiman. Disitu saja > untuk membuatnya menjadi konstruksi utuh pengembangan DAS memerlukan proses > integrasi yang cukup lama. Patut dicatat Pak Sutami dengan "Ilmu Wilayah"nya > menjadi perekat, dimana didalamnya beliau selalu menekankan interaksi tujuan > "Sosial-Ekonomi-LIngkungan". Mungkin yang Pak Sutami lakukan bisa disebut > proses "trans-rasional" itu. > > Proses perkembangan wilayah berikutnya beralih kepada "Konsep Pengembangan > Wilayah" yang berbasis jalan raya. Sistem kota-kota diuntai oleh sistem > jaringan jalan raya. Ini tentu paradigma baru waktu itu. Kalau tadinya > pengembangan DAS berbasis sumber daya air dan pengembangan pertanian. > Paradigma berubah menjadi berbasis jalan raya, sistem kota-kota yang secara > ekonomi berbasis kegiatan industri dan jasa. > Peralihan dari paradigma dan rasionalitas DAS kepada Jalan Raya, sepertinya > berganti begitu saja, karena sepertinya pengusungnya berbeda. > > Pada saat ini pengembangan sistem kota-kota sepertinya lagi slow-down > wacananya, sementara itu isyu Ekologi, seperti pengurangan Emisi Carbon, > Climate Change dan masalah Deficit Air kian menjadi perhatian. Maka > kelihatannya perencana wilayah mesti siap juga dengan paradigma atau > rasionalitas baru, dan bagaimana mengintegrasikannya menjadi sistem berpikir > pengembangan wilayah yang utuh. > > Jadi ada interaksi rasionalitas antar disiplin, juga pergeseran paradigma > antar waktu. Kalau kembali kapada ajakan sdr. Imam, saya pikir secara > epistimologis ilmu PWK cukup konsisten, begitu ontologisnya, tapi sebagai > bagian dari kebijakan publik tak bisa lepas dari paradigma pembangunan > umumnya yang bergeser terus. > > Pegangan saya tetap kesetimbangan "3-Trio": > - Unsur: Folk - Place - Work (Lingkungan, Manusia/sosial, Ekonomi) > - Strategi: Pertumbuhan - Pemerataan - Sustainabilitas > - Norma: Anthroposentris - Ecosentris - Teosentris (sumber nilai) > Masing-masing bisa bergeser secara dinamis, tapi akan ada respons yang > mengembalikannya kepada "kesetimbangan". > > Salam, > Risfan Munir > > > --- On *Wed, 8/4/10, - ekadj <[email protected]>* wrote: > > > > From: - ekadj <[email protected]> > Subject: Re: [referensi] Re: PERENCANAAN TRANS RASIONAL > To: [email protected] > Date: Wednesday, August 4, 2010, 7:28 PM > > > Betul Pak Risfan, hal ini disebut oleh Anthony Giddens (1984) sebagai > 'double hermeneutic'. Dikembangkan lebih lanjut sebagai 'dual structures', > 'dual processes', dst, dan sampai sekarang terus merebak menjadi dual bands, > dual economics, dual paradigms, dst. Jadi memang selalu ada penafsiran ganda > terhadap sesuatu, namun berjalan secara seiring. Contohnya istilah 'event' > (kejadian), dapat ditafsirkan sebagai 'ruang' atau 'waktu'. Seharusnya tidak > boleh ada konflik antar penafsiran. Salam. > > -ekadj > > 2010/8/5 Risfan M <risf...@yahoo. > com<http://us.mc768.mail.yahoo.com/mc/[email protected]> > > > > > Pak Djarot, Ekadj dan Rekans ysh, > > Ada istilah Pak Djarot paradigma majemuk menarik, tapi itu sudah > konsekuensi atau tugas ilmu terapan yang multi disiplin. > Kalau dibanding Teknik Pertambangan, yang disupport berbagai ilmu bantu > (terutama geologi dan mesin), setidaknya masih serumpun. Itupun sudah > crossing dua disiplin. > > Teknik Planologi atau PWK cakupan multi-disiplin atau paradigmanya bisa > lebih luas. Ambil contoh pengelolaan DAS (daerah aliran sungai). Ini wilayah > yang bisa dikaji fenomena fisik alamnya dari siklus hidrologi dari hulu > hingga hilir. Tujuan pengendalian pembangunan pertanian dan pengendalian > banjir mengarahkan pembangunan bendungan dan sistem irigasi, serta > pembangkit listrik untuk perkotaan. Paradigma disini menyangkut fenomena > hidrologi, morfologi, dan vegetasi. > > Kemudian, tumbuh dan berkembangnya pertanian mendorong tumbuh kembangnya > permukiman, desa, kota dalam DAS. Maka dikembangkan konsep penataan sistem > permukiman berbasis pemanfaatan sumber daya air. Ini masuk paradigmanya > perencana wilayah dan pertanian. Paradigma/ rasional ahli hidrologi > tiba-tiba di- cross oleh rasionalnya perencana sistem permukaan. > > Dalam perkembangan, sistem permukiman dalam DAS ternyata pertumbuhannya > tidak seteratur manik-manik atau tasbih, ada yang jadi kota besar, justru > menjadi ancaman kelestarian lingkungan. Ada pula desa-desa yang kian miskin > hingga warganya meladang di hulu DAS. Ada masalah ketimpangan ekonomi dan > dampak sosial dan lingkungan. Tiba2 paradigma sosial-ekonomi berbicara > disini, crossing atas paradigma permukiman di atas. > > Berikutnya, perkembangan fisik sulit dikendalikan, daerah hulu sebagai kws > konservasi kian tidak hijau. sehingga terjadi defisit sumber daya air (SDA). > Ini mendorong concern lagi pada alam. > > Dari contoh-contoh tersebut perencanaan wilayah sifatnya lintas paradigma > (?). Cross antar bidang sering menegangkan, karena paradigma satu sulit > memahami lainnya. > > Tapi trans (beyond)-rasional, lebih dari multi-disiplin (rasional), tentu > jadi tantangan bisa melihat DAS utuh dari berbagai paradigma. Apa lagi kalau > secara intuitif harus memberi saran masa depan. > > > Salam, > Risfan Munir > > > Powered by Telkomsel BlackBerry® > ------------------------------ > *From: *Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. > com<http://us.mc768.mail.yahoo.com/mc/[email protected]>> > > *Sender: *refere...@yahoogrou > ps.com<http://us.mc768.mail.yahoo.com/mc/[email protected]> > *Date: *Wed, 4 Aug 2010 08:54:53 +0800 (SGT) > *To: *<refere...@yahoogrou > ps.com<http://us.mc768.mail.yahoo.com/mc/[email protected]> > > > *ReplyTo: *refere...@yahoogrou > ps.com<http://us.mc768.mail.yahoo.com/mc/[email protected]> > *Subject: *Re: [referensi] Re: PERENCANAAN TRANS RASIONAL > > > > Pak Risfan dan Sahabats, > > Sebenarnya bukan acak, meskipun tampaknya begitu karena mungkin kita belum > pernah "memetakan" ilmu-ilmu yang berkaitan. Dalam tradisi Jerman, misalnya, > Ilmu Lingkungan disebut ilmu integrasi, saya kira Planning dan Arsitektur > begitu juga. Artinya, ia ilmu terapan dengan banyak ilmu lain yang mendukung > atau menopangnya. Jika dibagankan, mirip tasbih atau rosario dengan untaian > manik-maniknya, setiap manik-manik adalah ilmu yang mendukung nya. > > Cara lain melihatnya adalah dengan menggunakan paradigma, maka planning > atau arsitektur sebagai "sebuah entitas" ilmu bisa dipandang menurut > berbagai paradigma. Jumlah paradigma tentunya minimal sama dengan butir > manik-manik ilmu yang saya sebutkan tadi. Arsitektur dapat dilihat dengan > kacamata psikologi, maka akan muncul karakter "psikologi lingkungan" > padanya. Orang yang menghayati paradigma itu untuk memandang arsitektur akan > menemukan arsitektur berkaitan dengan psikologi. Arsitektur dapat dilihat > dengan kacamata ilmu fisika, maka karakternya akan sangat "fisika bangunan", > dengan implikasi yang konsisten. Dengan demikian, dalam pandangan saya, > arsitektur (juga planning ?) terkait dengan paradigma majemuk, maka dialog > antar paradigma menjadi sangat menarik dan sangat dimungkinkan. > > Apakah karakter multi-paradigma ini cenderung mendorong kita untuk > mengatakan trans-rasional ? saya belum menyelidikinya dengan serius. > > Salam, > > Djarot Purbadi > > --- On *Tue, 8/3/10, Risfan M <risf...@yahoo. > com<http://us.mc768.mail.yahoo.com/mc/[email protected]> > >* wrote: > > > From: Risfan M <risf...@yahoo. > com<http://us.mc768.mail.yahoo.com/mc/[email protected]> > > > Subject: Re: [referensi] Re: PERENCANAAN TRANS RASIONAL > To: "referensi" <refere...@yahoogrou > ps.com<http://us.mc768.mail.yahoo.com/mc/[email protected]>> > > > Date: Tuesday, August 3, 2010, 11:34 PM > > > Rekans ysh, > > Kalau saya ikuti diskusi ini kok sepertinya melihat Planning sebagai > sesuatu yang acak, dengan alat filsafat ilmu dan terminologinya yang acak > pula. Ini upaya merekonstruksi, memahami atau mengkritisi? Entahlah. > Pokoknya saya jadi merasa berhak bicara acak pula. > > PWK yang saya pahami sepertinya memang ilmu terapan, bukan ilmu murni. > Bukan seperti geologi, fisika, tapi bolehlah dibandingkan dengan Teknik > Pertambangan, yang merupakan aplikasi dari ilmu geologi, geofisik, mekanika, > dan metode seperti matematik dst. > PWK memahami fenomena kebumian (Place) melalui geologi, geografi, geodesi. > Dinamika ekonomi (Work) melalui Ekonomi Pembangunan, Urban + Regional > Economic, Teori Lokasi. Dinamika manusia/sosial (Folk). Melalui ramuan > inilah PWK memahami dinamika atau fenomena Wilayah n Kota. > Semestinya dengan memahami interaksi Folk-Work-Place ini saja (dengan alat2 > analisis) Planner sudah bisa jadi Analis Perkembangan Kota. Sudah bisa > meramal satu kota/wilayah arah nasib ke depannya (tanpa intervensi) kemana. > Mungkin ini sisi realitas ontologisnya (?) > > Sisi berikutnya adalah intervensi. Sebagai ilmu terapan, tentu ada maksud > untuk mengintervensi fenomena wilayah/kota itu, sesuai tujuan. Tujuannya > apa, banyak rumusan, tapi sederhananya kesejahteraan manusia dalam ruang > lingkungan hidupnya yang layak. > Mengahadapi realitas wilayah/kota dengan struktur dan sebaran penduduknya; > struktur dan karakter kegiatan ekonominya; fenomena alamnya. Maka dalam > sejarah, PWK melahirkan konsep2, model2, pola2 untuk digunakan dalam > mengarahkan masa depan. Di dalamnya terkandung ideals yang dicitakan, > Sistematika pola dan strategi intervensi ini mungkin sisi epistimologis (?). > > Ekuilibrium Pertumbuhan, Pemerataaan dan Sustainability merupakan pilihan > strategi menuju ideal yang ingin dicapai. > > Kata "Perencanaan" pada PWK ini menurut saya menjadi soal. Apakah Planner > berhenti pada "merencana" saja. Lalu berdoa agar sistem melaksanakan Rencana > menjadi Realitas baru. Atau Planner sebagai profesional perlu mengawalnya > sampai dilaksanakan? > > Dalam perkembangan Planner seperti ditakdirkan untuk selalu kecewa kecewa > dengan aktor-aktor (pemerintah, swasta, masyarakat) yang 'melanggar' > rencananya. > > Ini tantangan bagi Pegiat ilmu PWK: untuk tetap membatasi diri pada > merencana saja, lalu siap kecewa. Atau melebarkan ilmunya dengan menambahkan > komponen pemahaman Kelembagaan (governance) , Strategi Aksi untuk mengawal > rencana yang telah dibuat. Setidaknya untuk lebih memahami mengapa para > aktor itu fenomenanya begitu. Sehingga kalau tidak mengadvokasi juga, > setidaknya memberi saran bagaimana agar Rencana bisa jadi Kebijakan Publik, > dan > jelas langkah2 pengawalan dan aksi untuk pelaksanakannya. > > > Salam, > Risfan Munir > > > > Powered by Telkomsel BlackBerry® > ------------------------------ > *From: *- ekadj <4ek...@gmail. com> > *Sender: *refere...@yahoogrou ps.com > *Date: *Tue, 3 Aug 2010 21:12:13 +0700 > *To: *<refere...@yahoogrou ps.com> > *ReplyTo: *refere...@yahoogrou ps.com > *Subject: *Re: [referensi] Re: PERENCANAAN TRANS RASIONAL > > > > Pak Imam, saya coba lanjutkan tanggapannya: > > Pertama, berbicara tentang ontologi maka kita masuk melalui pendekatan > evolusi keilmuan. Kesalahan persepsi selama ini adalah diacunya paradigma > lama keilmuan, bahwa ilmu itu harus bebas nilai, dan dapat mandiri dalam > berbagai hubungan. Kritik Marvin Harris (1979) adalah justru kondisi seperti > ini dapat menutup pintu-pintu pemahaman. Harris menawarkan 'strategi' untuk > ilmu-ilmu kemasyarakatan, yang disebut dengan 'strategy of eclectics'. > Sehingga ada pilihan prioritas melalui proses dialektik. Untuk ilmu > perencanaan, dapat ditentukan strategi tersendiri. > > Kedua, tidak ditanggapi. > > Ketiga, karena itu dimasa lampau 'perencana' itu dilakoni oleh para dukun, > shaman, ajengan, dlsb. > > Keempat, tidak ditanggapi. > > Sementara demikian. Salam. > > -ekadj > > 2010/8/2 Media Multi Gerak Bandung <mmgband...@yahoo. > co.id<http://mc/[email protected]> > > > > > ysh rekan2 dan bpk2 yang sudah memberikan tanggapan atas preposisi saya > yang telah lalu. sebetulnya saya sendiri belum tahu, jadi klo pa risfan > minta saya merespon..ya sesuai yang ada dalam pikiran saya saja yang tentu > harus difalsifikasi kebenarannya. > > pertama pertanyaan tentang realitas perlu diajukan mengingat pembahasan > ontologis harus berangkat dr sini. saya belum menemukan pembahasan ontologis > ini dalam bidang perencanaan sehingga saya memberanikan diri untuk > bertanya...yaa karena saya belum paham dan memang menjadi pertanyaan saya > waktu kuliah dulu. sebagai seorang yang pernah belajar di perencanaan > mestinya kita mempunyai "kebanggaan" keilmuan apabila dapat melihat bangunan > pengetahuan perencanaan secara utuh dari sisi epistimologis, metodologis, > axiologis maupun ontologis. karena saya termasuk yang kurang setuju dengan > pendapat bahwa perencanaan hanya gabungan dari disiplin ilmu lain. saya > masih punya keyakinan bahwa perencanaan itu merupakan bangunan tersendiri > sebagai maujud pengetahuan dari Sang Maha Mengetahui. perkara bangunan belum > terlihat utuh (hanya banyak berbicara dari aspek axiologis), itu yang > menjadi tanggung jawab kita bersama untuk membangun. alangkah indahnya > apabila kita bisa melihat bangunan yang utuh seperti bidang pengetahuan > lainnya - bukan hanya gabungan pengetahuan lain. mohon tanggapan... . > > kedua, alasan lain saya mengajukan pertanyaan tersebut mengingat > perencanaan normatif masih belum banyak mendapat perhatian dari perencana. > saat ini perencana masih disibukkan dengan pembahasan tentang perencanaan > substansial dan prosedural. seperti membahas trickle down effect yang > ternyata tidak berhasil, metropolitan, tripple decker dsb atau hegemoni > perencanaan partisipatif sebagai turunan dari rasional komunikatif yang > secara pelaksanaan juga masih belum sesuai dengan teori dasarnya. yang > sebetulnya klo kita bisa lebih kritis (kritik teori) apakah model > partisipasi Arnstein sendiri memang sudah cocok untuk diterapkan di > Indonesia? ataukah kita hanya ikut saja sebagaian besar orang sekarang lagi > sibuk berbicara partisipatif, konsensus, atau yang lainnya dari perencanaan > rasional komunikatif. ... kita lupa bahwa pembicaraan tentang nilai, > moralitas, norma dan sebagainya masih jarang dibahas dalam konteks teori dan > implementasi perencanaan di Indonesia. jadi wajar klo produk rencana RTRW > masih ada yang dilakukan dengan copi paste dari daerah lain karena perencana > tidak memperhatikan nilai, moral dan norma. > > ketiga, ketika kita membahas nilai, norma, dan moralitas tidak akan lepas > dari wujud mental dari perencana. oleh karena itu, realitas yang dilihat > tidak hanya pada realitas fisik, seperti kata pak jarot yang tampaknya masih > berpandangan positivis, mohan maaf klo saya salah, tetapi juga realitas > dalam artian univers ataupun kosmik bahkan dalam konteks Realitas pake R > besar. dalam kacamata saya, setuju bahwa perencanaan menekankan pada > perubahan realitas dan mengelola realitas dengan kriteria tertentu. jadi > data dan informasi belum cukup untuk melakukan proses perencanaan. wajar > saja klo hasil perencanaan tidak sesuai dengan yang direncanakan karena sang > perencana belum bisa melihat realitas yang sebenarnya.. ..untuk melihat > definisi realitas ini kita bisa merujuk pandangan dari Annie Besant dan Ken > Wilber yang mencoba meneliti dan menulis tentang realitas. realitas identik > dengan kehidupan (life) ataupun kesadaran (conciousness). dalam buku spectrum > of conciousness dijelaskan bahwa realitas meliputi aspek transenden dan > imanen dari manusia yang proses perubahannya tidak hanya bersifat evolusi > tetapi juga involusi. sejalan dengan hal tersebut, Thomas Kuhn juga > menekankan pentingnya aspek transendensi dalam bidang perencanaan. dalam > pandangan Huston Smith dalam Ken Wilber level dari realitas terdiri atas > terestrial, > intermediate, celestial dan infinite sedangkan level diri terdiri atas body, > mind, soul, dan spirit. dengan pandangan ini lah dibutuhkan perencanaan > yang sifatnya Trans Rasional,.. dengan kesadaran inilah seorang perencana > dapat menyaksikan "kehadiran" realitas atau mungkin dapat jua menyaksikan > rencana keilahiaan (divine plan) spt yang ditulis oleh Baborka sebagai > syarah dari buku secret doctrinnya M. Blavatsky. dalam terminologi Islam > kita mungkin harus melihat realitas dari sudut Mulk, Malakut, Jabbarutsampe > Hawiyyah > Ghalb (unmanifested). artinya, dalam perencanaan trans rasional yang > diperlukan adalah kesadaran dari setiap stakeholder. ..sehingga keberhasilan > perencanaan bukan hanya karena kesepakatan atau konsensus dari pelaku tetapi > lebih pada kesadaran dari pelaku so konsensus tidaklah cukup kali yaa...ini > mungkin kritik saya terhadap perencanaan komunikatif ...he-he..ya coba2 > kritik dikit salah juga ga pa pa... kan bisa diluruskan sama bapak2 > referenser lainnya..... jadi dalam perencanaan trans rasional tidak hanya > melihat secara horisontal alam ini tetapi juga melihat secara vertikal.... > ini jawaban buat kang deden kali yaa .... mudah2an tidak puas jadi bisa > dilanjutkan diskusinya.. .. > > keempat, dalam perencanaan trans rasional yang saya pikirkan, kita tidak > hanya fokus pada manusia (anthropocentris) dan alam (biocentris) saja > tetapi coba menggali pemikiran tentang cosmicentris atau teocentris. saya > masih punya keyakinan karena ilmu perencanaan merupakan maujud atau percikan > dari ilmu Sang Maha Mengetahui maka dengan mendalami perencanaan kitapun > dapat menyaksikan Kehadiran Sang Realitas. jadi sayang kalo kita belajar > perencanaan maaf hanya untuk kebutuhan lahiriyah saja-gelar doktor atau > dana- semata... mestinya kita iri dengan ilmuwan astronomi atau fisika > seperti Fritjof Capra dalam Tao of Physic dia bercerita tentang tarian > kosmik ketika sedang mempelajari rumus2 fisika. kita bukannya jalaluddin > rumi, ibnu arabi, st agustinus, mohandas gandhi ataupun carlos castaneda > yang sudah tidak diragukan lagi tingkat kesadarannya. ..kita hanya seorang > perencana yang hari esok masih mencari nafkah untuk periuk nasi..namun > yakinlah bahwa memperlajari hakekat perencanaan dengan sungguh2 kitapun akan > mampu menyaksikan alunan dinamika musik alam..mungkin kali yaaa...... > > sekali lagi ini baru impian saya ketika saya setuju dengan pandangan bahwa > kedudukan theory of planning sejajar dengan filosofi sains. yakinlah bahwa > perencanaan bukanlah sekedar gabungan teori lain. sehingga kita diharapkan > mampu mengeksplorasi sisi ontologis perencanaan leih jauh lagi....semoga > respon saya bisa menjadi bahan diskusi yang lebih hangat..... > > > salam > > Imam Indratno > > > > >

