Benar sekali pak, seharusnya lembaga macam bps ini berdiri sendiri seperti 
lembaga tinggi lainnya, bukan dibawah presiden! Dgn dmkn bps hanya dijadikan 
alat pemerintah, bekerja berdasarkan pesanan, tidak lagi mencerminkan data dan 
situasi sesungguhnya... 

-----Original Message-----
From: frans suwardi <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Thu, 10 May 2012 01:10:27 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: [saham] Bagaimana Cara Kerja BPS ?

jaman sekarang hasil survey sesuai dgn selera pemesan pak Oguds. jumlah rakyat 
miskin katanya berkurang, padahal hampir diseluruh negeri rakyat lapar 
bertambah. Kalau perlu tambahkan satu kriteria yang tidak pernah dikenal di 
negara lain, yaitu hampir miskin, hanya sekedar agar jumlah orang miskinnya 
bisa berkurang.

--- On Wed, 5/9/12, Oguds <[email protected]> wrote:

From: Oguds <[email protected]>
Subject: [saham] Bagaimana Cara Kerja BPS ?
To: [email protected]
Date: Wednesday, May 9, 2012, 11:37 AM
















 



  


    
      
      
      Hello Saham,



Membaca laporan BPS tentang angka pengangguran di Indonesia, saya jadi

teringat ada yg meragukan cara kerja BPS. Sebetulnya, saya juga tidak

tahu bagaimana BPS menghitung angka2 tersebut. Hasil survei BPS sangat

banyak, dari inflasi, pertumbuhan ekonomi, besar ekspor / impor,

produksi pangan, jumlah rakyat miskin, dst. Bahkan, seringkali

instansi pemerintah sektor ybs menyerahkan bulat2 tugas survei ke BPS.



Hanya kita perlu tahu, statistik itu ada ilmu2nya. Technical Analysis

di saham sejatinya termasuk ilmu2 statistik, akurasinya ya tergantung

keahlian pemakainya. Penentuan angka2 juga seringkali didasarkan

sampling, karena inilah cara2 yg paling mungkin dan ekonomis. Dengan

tugas sangat spesifik, yaitu membuat statistik, sangat mungkin tingkat

keahlian terbangun dengan baik. Jadi walaupun terkesan bekerja dalam

gelap, tidak bisa diartikan akurasinya buruk. Semua ada teknik2nya.



Saya baru survei sebentar di Google, kekuatan BPS sekitar 16rb-an

pegawai, mempunyai kantor perwakilan di setiap Kabupaten, dan ada

perwakilan aparat hingga tingkat Kecamatan. Anggaran BPS di 2012

adalah Rp 2,2 trilyun. Bicara soal akurasi pasti membandingkan dua

data. Nah, masalahnya lembaga mana yg bisa setara dengan kekuatan BPS

ini? Data mana yg lebih bisa dipercaya? Bagaimana tolok ukurnya? Dst.



Kasus yg mengemuka, misalnya data perdagangan Indonesia dan China.

China menyatakan defisit perdagangan dengan Indonesia. Sedangkan BPS

juga menyatakan Indonesia defisit. Nah, ini mana yg benar? Bisa jadi

keduanya sama2 benar, tapi hasil berbeda karena tolok ukurnya beda.

Atau malah dua-duanya salah. Menghitung barang keluar masuk negara

juga bukan soal gampang. Celah2nya terlalu banyak.



Barangkali kita bisa melihat akurasi BPS dari satu kegiatan yg

dihitung sangat detil, orang per orang. Yaitu sensus penduduk setiap

10 tahun. Prediksi BPS menjelang sensus 2010, jumlah penduduk

Indonesia adalah 235 juta. Setelah sensus, hasilnya adalah 237 juta.

Prediksi 10th dengan selisih kurang dari 1%, tentu cukup atau bahkan

sangat akurat. Tinggal dibalik saja, adakah yg merasa tidak disensus?



Barangkali kapan2, saya juga bertanya lebih serius ke BPS. Kalau

meminta data survei sih pernah beberapa kali. Bertanya2, bagaimana

mereka melakukan survei, sampling, sensus, dst. Saya hanya berpraduga

positif, mereka tidak boleh bermain2 dengan indikator yg salah.

Mengingat efeknya sangat berbahaya. Jangan disamakan dengan instansi

lain yg toleransinya mungkin rendah. Tak kenal maka tak sayang.



-- 

Tertanda,

Oguds [960000031]





    
     

    
    






  









Kirim email ke