Dear P. Oguds dan rekan milis Yth,
Mohon maaf sebelmnya jk saya over-looked tetapi tampaknya comment P.Oguds 
terkait dg kinerja BPS agak berbeda dibandingkan dengan comment di milis yg 
lain untuk issues yang terkait dengan "inflasi" pada waktu yang tidak jauh 
berbeda (email dari P.Oguds terlampir).
Hy ingin bertanya sedikit saja Pak Oguds, bagaimana dalam waktu yg relatif 
singkat, Bapak bisa berbeda pendapat 180% dibandingkan pendapat Bapak sebelmnya 
terkait dengan kualitas data BPS terkait dengan inflasi?
Apakah karena issue-nya yg berbeda (untuk inflasi P.Oguds cenderung lebih 
"percaya" terhadap hasil BPS sementara untuk data pengangguran, ekspor-impor 
tingkat believes Bapak cenderung lebih rendah). Hal apa ya kira2 yang 
melatarbelakangi perbedaan comment ini? Kalau pendapat saya pak, masih sama. 
Mudah2an Bapak berkenan memberikan penjelasan meski lebih bersifat "informal" 
pak.....

cheers,


From: Oguds <[email protected]>
To: kangduren <[email protected]> 
Sent: Tuesday, May 1, 2012 9:04 PM
Subject: Re: [saham] Re: Dalam 3 Bulan RI Masih Surplus Dagang US$ 2,68 Miliar

  
Makanya, gak bisa serampangan begitu menyajikan fakta. Betul PLN ingin
membeli listrik dari Malaysia untuk wilayah Kalimantan, karena
pembangkit di sana masih memakai BBM, bisa Rp 3000/KwH. Namun
sebaliknya, PLN pun berniat menjual listrik ke Malaysia dari Sumatera,
karena pembangkit di sana memakai batubara dan banyak cadangannya.

Ini tulisan yg cukup komprehensif:
http://www.bisnis.com/articles/bisnis-listrik-tnb-malaysia-dekati-pln-untuk-beli-listrik

Namun dari sisi retail, harga listrik TNB lebih tinggi dari PLN,
seperti yg saya bahas di posting sebelumnya. Ini fakta, bukan
karangan. Jelas2 salah kalau bilang listrik Malaysia lebih murah dari
Indonesia. Sama halnya dengan harga beras di pasar sebelah, tidak bisa
dijadikan patokan inflasi secara menyeluruh. Itu dagelan Srimulat.

Hello kangduren,

Tuesday, May 1, 2012, 8:30:39 PM, you wrote:

k> sekarepmu lah, PLN aja beli dr
 malay....

k> --- In [email protected], Oguds <oguds@...> wrote:
>>
>> 
>> Sederhana begini nih yg ujung2nya pasti ngawur. Wong harga listrik di
>> Malaysia saja dibilang lebih rendah dari Indonesia. Padahal ngarang.
>> 
>> Tuesday, May 1, 2012, 7:53:33 PM, you wrote:
>> 
>> k> ente coba deh tanya ke pasar harga beras naek ga? sederhana aja 
>> koq........
>> 
>> k> --- In [email protected], Oguds <oguds@> wrote:
>> >>
>> >> 
>> >> Lho, wacana BBM naik itu baru muncul akhir Februari 2012, kenapa
>> >> dibandingkan mulai Januari ? Ini yg merekayasa siapa?
 Saya kerja di
>> >> bagian monitoring isu publik, kerjanya memang memantau isu2 publik.
>> >> Isu BBM naik mulai rally di awal2 Maret, puncaknya ketika RUU-nya
>> >> diajukan ke DPR, kira2 dua mingguan sebelum April. Silakan cross check
>> >> di Google Trends. Kesempatan spekulan menaikkan harga, ya mulai
>> >> pertengahan Maret ini. Dibandingkan Maret 2011 yg inflasi -0.32%
>> >> (deflasi), inflasi Maret 2012 yg 0.07% jelas terlihat dampak isu BBM.
>> >> 
>> >> Inflasi April 2012 yg 0.21% juga jauh dibanding deflasi 0.31% di April
>> >> 2011. Selisih 0.52% bukan angka yg kecil. Sekarang apanya yg tidak
>> >> bisa dipercaya? Kalau ingin merekayasa, kenapa tidak dari dulu2 saja?
>> >> 
>> >> Hemat saya, perhitungan inflasi dari BPS ini adalah instrumen bagi
>> >>
 pemerintah dalam menyusun kebijakan. Terlalu beresiko dan sangat
>> >> berbahaya bila direkayasa atau akurasinya lemah. Statistik itu juga
>> >> bukan ilmu yg mudah dan sembarangan. Coba lihat hasil lembaga2 survei
>> >> di pemilu 2009 (quick count), ada yg akurasinya sampai dekat sekali
>> >> dengan kenyataan. Sampai kita sendiri bingung, ini pemilunya
>> >> direkayasa atau surveinya benar2 akurat. Padahal itu sampling.
>> >> 
>> >> Sekarang lihat di BEI saja. IHSG naik tidak banyak sejak awal 2012.
>> >> Nah, apakah portofolionya juga sejalan dengan IHSG? Kalau ya, berarti
>> >> itu investor / tradernya yg lemot. Banyak saham2 yg melonjak di atas
>> >> 100%, terutama property. Lalu apakah gara2 saham2 tersebut IHSG-nya
>> >> dianggap tidak valid? Tidak riil sesuai situasi pasar? Kalau anda
 tahu
>> >> cara menghitung IHSG, tentu bukan begitu toh.
>> >> 
>> >> Kalau saya menangkap kecemasan publik, tidak banyak terlihat adanya
>> >> dampak rencana kenaikan BBM. Bahkan, saya malah memprediksi DPR bakal
>> >> meng-iya-kan, bila tidak ada manuver dari Golkar di last minute. Dari
>> >> sehari2, tidak ada yg naik. Tiket KRL, busway, ongkos angkot, nasi
>> >> padang, dst. Saya ingat betul, kenaikan 2005 itu khan benar2 gerah,
>> >> dan betul terasa di ubun2 efek kenaikan 100%-an. Situasi sekarang
>> >> sangat beda. Bukankah bursa juga rally tidak peduli BBM naik?
>> >> 
>> >> 
>> >> Tuesday, May 1, 2012, 2:24:58 PM, you wrote:
>> >> 
>> >> ps> Mpu Gondrong yg baik, mo tanya aja. Apakah Mpu yakin sama data BPS? 
>> >>
 ps> Apa bener sih harga bulan Maret 2012 hy naik secara umum pada
>> >> ps> Maret vs Februari 2012 (mtm) hy 0.07%. Feb vs Januari 0.05% dan jan 
>> >> vs des 0.76%.
>> >> ps> Klo Mpu Gondrong mo bandingkan, di tahun 2011, inflasi januari
>> >> ps> (dg mekanisme yg sama, or mtm) = 0.89%; Feb = 0.13% dan Maret = 
>> >> -0.32%.
>> >> 
>> >> ps> Kira2, apakah mungkin yah, di Januari dan Februari 2012 yang
>> >> ps> punya isu BBM dinaikin dan banyak sekali info di media + google,
>> >> ps> inflasinya lebih rendah dibandingkan kondisi di 2011 yg isu 
>> >> domestiknya relatif tidak ada?
>> >> 
>> >> ps> Ini sdh pake data Mpu (terlampir)....klo Mpu lagi iseng2 dan
>> >> ps> punya info ttg kenaikan BBM di 2005, cek deh kapan isunya
>> >> ps> digulirkan (jangan2 wkt itu lgs dinaikin
 hehehehehehe..dugaan saya
>> >> ps> sih di Oktober 2005), inflasi bulanan ngga pernah nyentuh dibawah
>> >> ps> 0,5 (kecuali Feb, Apr, Mei dan Des 2005, tp mhn dipahami ini
>> >> ps> growth mtm jadi inflasi bulanan ini boleh jadi lebih rendah vs
>> >> ps> bulan lalu karena bulan lalu naiknya lebih gila).
>> >> ps> Mencermati data ini, apakah Mpu Gondrong masih tuh yakin BPS bagus 
>> >> itungannya?
>> >> ps> 
>> >> ps> salam,
>> >> ps> 
>> >> ps> Indeks Harga Konsumen dan Inflasi Bulanan Indonesia,
>> >> ps> Januari 2005-Mei 2008 ( 2002=100 ), Juni 2008-Februari 2012( 2007 = 
>> >> 100 )
>> >> 
>> >> 
>> >> -- 
>> >> Tertanda,
>> >> Oguds [960000031]
>> >>
>> 
>> 
>> 
>> 
>> k> ------------------------------------
>> 
>> k> Kunjungi situs http://www.info-saham.com untuk informasi seputar saham.
>> 
>> k> SEMUA POSTING DI MILIS INI TANGGUNG JAWAB PENGIRIM EMAIL DAN BUKAN
>> k> ADMIN MILIS. SEMUA POSTING DI MILIS INI BUKAN UNTUK MENGAJAK
>> k> MEMBELI ATAU MENJUAL EFEK. SETIAP KEPUTUSAN INVESTASI MENJADI
>> k> TANGGUNG JAWAB PIHAK PEMILIK INVESTASI ATAU PEMILIK MODAL.
>> 
>> k> [email protected] untuk berhenti dari milis saham
>> k> [email protected] untuk bergabung ke milis saham
>> k> Yahoo! Groups Links
>> 
>> 
>> 
>> 
>> 
>> 
>> -- 
>> Tertanda,
>> Oguds [960000031]
>>

-- 
Tertanda,
Oguds [960000031]


________________________________
 From: Oguds <[email protected]>
To: [email protected] 
Sent: Wednesday, May 9, 2012 10:37 PM
Subject: [saham] Bagaimana Cara Kerja BPS ?
 

  
Hello Saham,

Membaca laporan BPS tentang angka pengangguran di Indonesia, saya jadi
teringat ada yg meragukan cara kerja BPS. Sebetulnya, saya juga tidak
tahu bagaimana BPS menghitung angka2 tersebut. Hasil survei BPS sangat
banyak, dari inflasi, pertumbuhan ekonomi, besar ekspor / impor,
produksi pangan, jumlah rakyat miskin, dst. Bahkan, seringkali
instansi pemerintah sektor ybs menyerahkan bulat2 tugas survei ke BPS.

Hanya kita perlu tahu, statistik itu ada ilmu2nya. Technical Analysis
di saham sejatinya termasuk ilmu2 statistik, akurasinya ya tergantung
keahlian pemakainya. Penentuan angka2 juga seringkali didasarkan
sampling, karena inilah cara2 yg paling mungkin dan ekonomis. Dengan
tugas sangat spesifik, yaitu membuat statistik, sangat mungkin tingkat
keahlian terbangun dengan baik. Jadi walaupun terkesan bekerja dalam
gelap, tidak bisa diartikan akurasinya buruk. Semua ada teknik2nya.

Saya baru survei sebentar di Google, kekuatan BPS sekitar 16rb-an
pegawai, mempunyai kantor perwakilan di setiap Kabupaten, dan ada
perwakilan aparat hingga tingkat Kecamatan. Anggaran BPS di 2012
adalah Rp 2,2 trilyun. Bicara soal akurasi pasti membandingkan dua
data. Nah, masalahnya lembaga mana yg bisa setara dengan kekuatan BPS
ini? Data mana yg lebih bisa dipercaya? Bagaimana tolok ukurnya? Dst.

Kasus yg mengemuka, misalnya data perdagangan Indonesia dan China.
China menyatakan defisit perdagangan dengan Indonesia. Sedangkan BPS
juga menyatakan Indonesia defisit. Nah, ini mana yg benar? Bisa jadi
keduanya sama2 benar, tapi hasil berbeda karena tolok ukurnya beda.
Atau malah dua-duanya salah. Menghitung barang keluar masuk negara
juga bukan soal gampang. Celah2nya terlalu banyak.

Barangkali kita bisa melihat akurasi BPS dari satu kegiatan yg
dihitung sangat detil, orang per orang. Yaitu sensus penduduk setiap
10 tahun. Prediksi BPS menjelang sensus 2010, jumlah penduduk
Indonesia adalah 235 juta. Setelah sensus, hasilnya adalah 237 juta.
Prediksi 10th dengan selisih kurang dari 1%, tentu cukup atau bahkan
sangat akurat. Tinggal dibalik saja, adakah yg merasa tidak disensus?

Barangkali kapan2, saya juga bertanya lebih serius ke BPS. Kalau
meminta data survei sih pernah beberapa kali. Bertanya2, bagaimana
mereka melakukan survei, sampling, sensus, dst. Saya hanya berpraduga
positif, mereka tidak boleh bermain2 dengan indikator yg salah.
Mengingat efeknya sangat berbahaya. Jangan disamakan dengan instansi
lain yg toleransinya mungkin rendah. Tak kenal maka tak sayang.

-- 
Tertanda,
Oguds [960000031]


 

Kirim email ke