Teman, Menarik juga membaca tulisan teman-teman mengenai penembakan kowak di KRB.Saya coba melihat dari sudut pandang lain. Sekedar informasi saja sebenarnya juga ini bukan satu-satunya satwa yang pernah dimusanahkan oleh pihak kebun raya. Ketika saya masih mahasiswa saya dan mengambil kuliah ornithologi, sempat berkunjung ke Bapak Dedy Darnaedi yang waktu itu direktur KRB. Dalam pertemuan itu pak Dedy sempat dipusingkan oleh ulah monyet-monyet nakal yang dilepas oleh pengunjung dan berkembang biak baik di KR Bogor dan KR Cibodas. Dampak kehadiran monyet-monyet tersebut sangat besar karena merusak koleksi tanaman yang ada dan sangat merugikan upaya konservasi ex situ yang dilakukan oleh pihak KRB. (Bisa dibayangkan kalau ternyata mereka mengkoleksi suatu spesimen hidup yang sangat langka dan akhirnya musnah gara-gara sekawanan monyet, Atau misalnya bunga amorpophalus titanum mereka mati karena monyet..... ) Meliha tkondisi ini pihak KRB melakukan upaya eliminasi terhadap monyet-monyet yang ada demi tercapainya upaya konservasi. Ternyata kasus yang serupa juga terjadi lagi meskipun dengan satwa yang berbeda yaitu kowak malam.
Saya pikir bagaimanpun juga upaya pengurangan populasi burung kowak di KRB tidak sepenuhnya salah dan juga barangkali tidak sepenuhnya benar. Namun yang pasti pihak KRB memiliki kewajiban dan kewenangan untuk menjaga kelangsungan hidup koleksi tumbuhan mereka dengan segala upaya. Selain itu perlu juga kita lihat dari segi daya dukung areal danau gunting. Daya dukung ini kalau kata dosen saya istilah yang mengawang-ngawang dan rumit menghitungnya. Tapi kita bisa mengetahui apakah daya dukung lingkungan danau situ gunting sudah terlampaui cukup dengan melihat kondisi lingkungannya, apakah ada pohon yang menjadi rusak karena kotoran burung atau kepadatan burung yang terlalu tinggi dalam satu pohon dan lain-lain (saya pikir teman2 yang suka ngamatin burung lebih paham kalau untuk soal ini). Barangkali ini yang perlu teman2 pikirkan sebelum menilai upaya yang dilakukan KRB adalah salah atau tidak pantas. Selain itu ada hal lain yang perlu teman-tema ketahui bahwa dalam suatu pengelolaan kawasan konservasi baik ex situ maupun in situ, yang namanya pengurangan populasi adalah hal yang diperbolehkan untuk dilakukan agar daya dukung lingkungan tidak terlampaui. Salah satu kasus yang bisa saya ungkapkan misalnya: pada tahun 70 an (kalau gak salah) Departemen Kehutanan pernah melakukan pengurangan populasi kerbau liar di Taman Nasional Baluran demi melindungi populasi banteng jawa. Tentu saja caranya dengan ditembak. Lain lagi kasus di negara tetangga, kata teman saya yang orang singapura, pihak kota singapur dalam hal ini kementrian lingkungan hidup, secara rutin mengurangi populasi gagak rumah agar tidak menggangu kehidupan penduduk kota singapur. Meskipun kita tahu yang namanya kota singapura lebih ramah bagi kehidupan burung secara keseluruhan. Tetapi tetap mereka melihat kehadiran burung dan kaitannya dengan kenyamanan hidup warganya. Barangkali kalo menurut versi KRB "warga" mereka ya tanaman-tanaman langka itu...... Barangkali ini saja yang bisa saya sampaikan, tidak ada maksud membela siapa-siapa, hanya berusaha melihat dari sudut pandang yang lain. salam Iman ----- Original Message ---- From: adefadli <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Wednesday, October 3, 2007 10:38:31 AM Subject: Re: [SBI-InFo] Penembakan di KRB mungkinkah penembakan tersebut dikomunikasikan ke KRB agar tak lagi ditembak? atau karena masalah virus ya... sehingga harus ditembak :-) ataukah sbi masih belum menyentuh masalah pengurangan burung di alam? af Kutilang Indonesia wrote: > Weh....weh.. .maksud hati mau cari kabar flagnya londo, tapi malah lagi > ada diskusi yang menarik.... > > kasus ini bisa jadi virus baru, tunggu aja sebentar lagi pasti akan > menular ke kompleks-kompleks kampus yang saat ini juga di tongkrongin > sama banyak ardeide (mulai dari kuntul, cangak sampai kowak)..... > > mungkin kalau kita mau sedikit jauh merenung, kesalahan ini sebenarnya > bukan hanya kesalahan si penembak atau yang menyuruh menembak tapi > kita-kita ini juga salah....kecuali kita bisa memberikan solusi (yang > artinya bukan omong doang) atas persoalan ikutan yang sebenarnya kita > juga berperan di dalamnya.... .jangan tidak pernah mengaku bahwa > kerusakan habitat burung di Jawa ini....kita juga menjadi bagian di > dalamnya.... karena ketika ada persoalan di depan mata dan kita tidak > terlibat dalam penyelesaiannya maka kita sebenarnya menjadi bagian > dari persoalan itu.....weh. ..weh.... udah jadi simbah-simbah saya ya.... > > kalau ingat waktu masih muda dulu....ketika ada 3 ekor merak dikurung > di kampus maka....munculah hari berkabung bagi puspa dan satwa.... > segera bikin pasukan ! 5 orang cukup. pakai pakaian hitam-hitam, lebih > bagus satu orang didandani seperti kowak ! trus jalan kaki dengan > spanduk dan leaflat keliling kebun raya.....jangan lupa barisan media > diundang semua......peringat an keras ! kegiatan ini hanya untuk yang > muda....yang sudah menua seperti saya ngak ikutan ya.... hehehe...... > > setelah itu baru buka dialog publik di radio atau jaktv..... rawe-rawe > rantas mbok sikile' buntung ! (maaf; maksudnya apapun yang terjadi > LAWAN ! bahkan ketika kaki sudah patah ) > > kompornjeblukdarija uh > > ige > Personal: http://adefadli. hijaubiru. org Blog: http://timpakul. hijaubiru. org Mirror Blog: http://timpakul. multiply. com PLH: http://pendidikan. lingkungan. org Diskusi: http://cinta. lingkungan. org ____________________________________________________________________________________ Need a vacation? Get great deals to amazing places on Yahoo! Travel. http://travel.yahoo.com/
