Ass.
buat temen2, ikutan nimbrung. Kbetulan tugas akhir saya kemaren tentang kowak
malem juga yang ada di Bandung. Kebun Binatang Bandung memang menggunakan
"gelombrengan kaleng" buat mengusir kowak maling itu. Pada awalnya pemakaian
kaleng tersebut memang cukup efektif soalnya si kowak maling sensi ama
bunyi-bunyian keras. KAbar menarik pernah saya dapatkan ketika wawancara dengan
bag sarana prasarana ITB. Beliau bilang, pernah ada satu insiden dimana pada
suatu siang ada suara ledakan keras dari ban mobil yang pecah. Sontak, ketika
itu puluhan individu koak maling terjatuh dari sarang dan pingsan. Beberapa
yang jatuh ke aspal langsung mati.
Di sisi lain, efektifitas ini juga dirasakan tidak bertahan lama. pada awal
pemasangan memang terlihat dampak yang signifikan terhadap koak maling. amun
lama- kelamaan ternyata si koak nya juga jadi cuek bebek. Kaleng2 ituh udah
ngga ngaruh sama dia. Jadi dia udah resisten gitu ajah. Bayangin, pas ada momen
Pasar Seni ITB yang diadakan sama anak Seni Rupa, kan ada juga pensinya di
jalan Ganeca pake Sounsystem dengan kekuatan sekitar 6000 watt. koak yang
bersarang di pohon terdekat itu juga cuek2 gt.
Trus solusinya?
sebenernya saya juga ngga kebayang. tapi sepertinya bisa dilakukan dengan
cara pemecahan konsetrasi populasi semacam mengurangi keberhasilan reproduksi
(mengambil telur) atau merusak sarang (tapi apa boleh?) trus dikombinasikan
sama glombrengan kaleng tadi.Sepertinya cukup efektif karena dulu koak maling
di Bonbin Bandung sempet pindah ke Pindad untuk rentang waktu sekitar 1-2 tahun.
Trus menanggapi juga masalah kematian pohon akibat kotoran, sepanjang saya
mengamati sama sekali ngga kebukti ada pohon yang mati. Paling juga meranggas
itu pun ngga terlalu lama. padahal sebagai contoh saja, pada salah satu pohon
di jalan Ganeca Bandung jumlah individu yang menghuninya sampai sekitar 300
individu.
Sekian dulu tanggapan dari saya. mohon maaf jika kurang terstruktur
tanbggapannya.
Wass.
www.dasarburung.wordpress.com
noor <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Teman-teman,
Kalau tidak salah, Kebun Binatang Bandung berhasil mengusir kawanan berbiak
kowak menggunakan kolecer (kincir ?) dan gelombrengan kaleng. Ada orang Bandung
yang bisa kasih penjelasan lebih?
Yus
---------------------------------
From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of
Imanuddin Imanuddin
Sent: Wednesday, October 03, 2007 11:56 AM
To: [email protected]
Subject: Re: [SBI-InFo] Penembakan di KRB
Teman,
Menarik juga membaca tulisan teman-teman mengenai penembakan kowak di
KRB.Saya coba melihat dari sudut pandang lain. Sekedar informasi saja
sebenarnya juga ini bukan satu-satunya satwa yang pernah dimusanahkan oleh
pihak kebun raya. Ketika saya masih mahasiswa saya dan mengambil kuliah
ornithologi, sempat berkunjung ke Bapak Dedy Darnaedi yang waktu itu direktur
KRB. Dalam pertemuan itu pak Dedy sempat dipusingkan oleh ulah monyet-monyet
nakal yang dilepas oleh pengunjung dan berkembang biak baik di KR Bogor dan KR
Cibodas. Dampak kehadiran monyet-monyet tersebut sangat besar karena merusak
koleksi tanaman yang ada dan sangat merugikan upaya konservasi ex situ yang
dilakukan oleh pihak KRB. (Bisa dibayangkan kalau ternyata mereka mengkoleksi
suatu spesimen hidup yang sangat langka dan akhirnya musnah gara-gara sekawanan
monyet, Atau misalnya bunga amorpophalus titanum mereka mati karena monyet.....
) Meliha tkondisi ini pihak KRB melakukan upaya eliminasi terhadap
monyet-monyet yang ada demi tercapainya upaya konservasi. Ternyata kasus yang
serupa juga terjadi lagi meskipun dengan satwa yang berbeda yaitu kowak malam.
Saya pikir bagaimanpun juga upaya pengurangan populasi burung kowak di KRB
tidak sepenuhnya salah dan juga barangkali tidak sepenuhnya benar. Namun yang
pasti pihak KRB memiliki kewajiban dan kewenangan untuk menjaga kelangsungan
hidup koleksi tumbuhan mereka dengan segala upaya. Selain itu perlu juga kita
lihat dari segi daya dukung areal danau gunting.
Daya dukung ini kalau kata dosen saya istilah yang mengawang-ngawang dan
rumit menghitungnya. Tapi kita bisa mengetahui apakah daya dukung lingkungan
danau situ gunting sudah terlampaui cukup dengan melihat kondisi lingkungannya,
apakah ada pohon yang menjadi rusak karena kotoran burung atau kepadatan burung
yang terlalu tinggi dalam satu pohon dan lain-lain (saya pikir teman2 yang suka
ngamatin burung lebih paham kalau untuk soal ini). Barangkali ini yang perlu
teman2 pikirkan sebelum menilai upaya yang dilakukan KRB adalah salah atau
tidak pantas.
Selain itu ada hal lain yang perlu teman-tema ketahui bahwa dalam suatu
pengelolaan kawasan konservasi baik ex situ maupun in situ, yang namanya
pengurangan populasi adalah hal yang diperbolehkan untuk dilakukan agar daya
dukung lingkungan tidak terlampaui. Salah satu kasus yang bisa saya ungkapkan
misalnya: pada tahun 70 an (kalau gak salah) Departemen Kehutanan pernah
melakukan pengurangan populasi kerbau liar di Taman Nasional Baluran demi
melindungi populasi banteng jawa. Tentu saja caranya dengan ditembak.
Lain lagi kasus di negara tetangga, kata teman saya yang orang singapura,
pihak kota singapur dalam hal ini kementrian lingkungan hidup, secara rutin
mengurangi populasi gagak rumah agar tidak menggangu kehidupan penduduk kota
singapur. Meskipun kita tahu yang namanya kota singapura lebih ramah bagi
kehidupan burung secara keseluruhan. Tetapi tetap mereka melihat kehadiran
burung dan kaitannya dengan kenyamanan hidup warganya. Barangkali kalo menurut
versi KRB "warga" mereka ya tanaman-tanaman langka itu......
Barangkali ini saja yang bisa saya sampaikan, tidak ada maksud membela
siapa-siapa, hanya berusaha melihat dari sudut pandang yang lain.
salam
Iman
----- Original Message ----
From: adefadli <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Wednesday, October 3, 2007 10:38:31 AM
Subject: Re: [SBI-InFo] Penembakan di KRB
mungkinkah penembakan tersebut dikomunikasikan ke KRB agar tak lagi
ditembak?
atau karena masalah virus ya... sehingga harus ditembak :-)
ataukah sbi masih belum menyentuh masalah pengurangan burung di alam?
af
Kutilang Indonesia wrote:
> Weh....weh.. .maksud hati mau cari kabar flagnya londo, tapi malah lagi
> ada diskusi yang menarik....
>
> kasus ini bisa jadi virus baru, tunggu aja sebentar lagi pasti akan
> menular ke kompleks-kompleks kampus yang saat ini juga di tongkrongin
> sama banyak ardeide (mulai dari kuntul, cangak sampai kowak).....
>
> mungkin kalau kita mau sedikit jauh merenung, kesalahan ini sebenarnya
> bukan hanya kesalahan si penembak atau yang menyuruh menembak tapi
> kita-kita ini juga salah....kecuali kita bisa memberikan solusi (yang
> artinya bukan omong doang) atas persoalan ikutan yang sebenarnya kita
> juga berperan di dalamnya.... .jangan tidak pernah mengaku bahwa
> kerusakan habitat burung di Jawa ini....kita juga menjadi bagian di
> dalamnya.... karena ketika ada persoalan di depan mata dan kita tidak
> terlibat dalam penyelesaiannya maka kita sebenarnya menjadi bagian
> dari persoalan itu.....weh. ..weh.... udah jadi simbah-simbah saya ya....
>
> kalau ingat waktu masih muda dulu....ketika ada 3 ekor merak dikurung
> di kampus maka....munculah hari berkabung bagi puspa dan satwa....
> segera bikin pasukan ! 5 orang cukup. pakai pakaian hitam-hitam, lebih
> bagus satu orang didandani seperti kowak ! trus jalan kaki dengan
> spanduk dan leaflat keliling kebun raya.....jangan lupa barisan media
> diundang semua......peringat an keras ! kegiatan ini hanya untuk yang
> muda....yang sudah menua seperti saya ngak ikutan ya.... hehehe......
>
> setelah itu baru buka dialog publik di radio atau jaktv..... rawe-rawe
> rantas mbok sikile' buntung ! (maaf; maksudnya apapun yang terjadi
> LAWAN ! bahkan ketika kaki sudah patah )
>
> kompornjeblukdarija uh
>
> ige
>
Personal: http://adefadli. hijaubiru. org
Blog: http://timpakul. hijaubiru. org
Mirror Blog: http://timpakul. multiply. com
PLH: http://pendidikan. lingkungan. org
Diskusi: http://cinta. lingkungan. org
---------------------------------
Luggage? GPS? Comic books?
Check out fitting gifts for grads at Yahoo! Search.
---------------------------------
Boardwalk for $500? In 2007? Ha!
Play Monopoly Here and Now (it's updated for today's economy) at Yahoo! Games.