Wah, diskusi ini jadi menarik, euy. Kebetulan saat “peristiwa” terjadi saya 
sempat ikut nonton dari kejauhan (seberang danau sambil pinjam monokuler Mas 
Londo). Itu pun nontonnya dengan mengendap-endap dekat pohon. Halah! Soalnya 
takut, kalau ikut-ikutan negur “petugas” (apalagi yang berseragam coklat itu) 
bersenjata senapan angin itu, saya nanti ikut ditembak pakai mimis. Serem kan? 
^_^

 

Dan terus terang, saya tidak begitu mengerti tentang burung, konservasi dan 
sebagainya. Maklumlah saya lebih khawatir listrik mati (komputer/server ikutan 
mati atau batere laptop tidak dapat di-charge), ketimbang kowak yang mati. 
Becanda. Jadi mohon maaf kalau pendapat saya salah.

 

Saya sangat sependapat dengan pendapat Mas Yudhi Kurniawan. Membawa satwa-satwa 
lain ke lokasi lain (bukan dengan cara alami), sangat tidak tepat. Alasannya 
seperti yang diungkapkan oleh Mas Yudhi Kurniawan di posting sebelumnya. 

 

Saya juga sependapat dengan pendapat Mas Imanuddin, yang “melihat” salah satu 
jenis satwa sudah menjadi “hama” karena overpopulasi. Artinya saya sependapat 
pengurangan satwa “hama” itu dilakukan dengan cara dibunuh, yang salah satu 
caranya DITEMBAK. Tapi yang saya tidak “sreg” adalah WAKTU menembaknya. Karena 
setahu saya, penembakan itu berlangsung saat KRB masih dikunjungi para 
pengunjung (Lupa. Apakah original poster: Mbak Irma, kalau tidak salah, sudah 
menyampaikan hal ini atau belum). 

 

Jadi menurut saya, silahkan saja otoritas KRB menembaki kowak yang sudah 
mengganggu itu. Tapi mohon dilihat situasi dan kondisinya. Bukankah ada 
baiknya, bila akan membunuh kowak itu, KRB-nya ditutup (sementara) untuk umum 
dulu? Ini saya rasa jadi penting. Karena menembaki kowak yang seharusnya HALAL, 
jadi TIDAK HALAL, sebab dilakukan di depan umum. Ibarat melakukan hubungan 
suami-istri (yang terikat secara hukum dan agama), itu halal. Tapi kalau 
dilakukan di muka umum, apakah halal juga? Ehm, Pak Uztad, Pastor, Pendeta, 
Biksu, mohon dikoreksi kalau saya salah.

 

Setahu saya, KRB adalah salah satu kawasan konservasi (juga pendidikan). Apakah 
pantas, cara menembaki kowak dapat ditonton oleh siapa saja (umum yang memang 
awam dengan konservasi, apalagi anak-anak). Kalau memang pantas, besok-besok 
saya juga mau belajar nembak pakai senapan angin di KRB, ah. Toh, saya bisa 
berdalih. Toh, yang ditembak juga sama: kowak. Siapa tahu, saya dapat medali 
penghargaan karena sudah membantu KRB dalam mengurangi populasi kowak. ^_^

 

Mas Iman, saya ingin tahu, apakah sewaktu di TN Baluran itu, pengurangan kerbau 
liar (ditembaki) itu pihak umum boleh nonton prosesnya juga? Kok, saya merasa 
yakin saat kerbau liar itu ditembaki, tidak ada pihak umum yang nonton, ya? 
Soalnya setahu saya, taman nasional memang sangat terbatas dikunjungi oleh 
pengunjung umum. Jadi yang ini halal. ^_^

 

Salam,

Hadi Dana

yangtidakngertikonservasi

 

 

From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of yudhi 
kurniawan
Sent: Thursday, October 04, 2007 11:47 AM
To: [email protected]
Subject: Balasan: Re: [SBI-InFo] Penembakan di KRB

 

makasih mas iman...!

saya sangat mendukung pendapat mas iman dalam menanggapi masalah penembakan di 
KRB. saya rasa itu tindakan yang pantas untuk menjaga keseimbangan alam.

kemarin ada pendapat dari saudara agus supaya (kowak di tangkap dan di bawa aja 
ke aceh). saya berharap saudara saya agus cuma bercanda, menurut saya jangan 
pernah membawa satwa-satwa lain untuk masuk ke hutan aceh apabila di hutan aceh 
memang tidak ada jenis tadi, karena saya takut satwa yang di datangkan tadi 
akan menjadi predator dan menggangu keseimbangan alam aceh dengan hadirnya 
satwa baru dengan pola hidup yang baru dan itu akan menggangu rantai makanan 
yang sudah terbentuk di alam aceh. 

MAKASIH,  

 

Imanuddin Imanuddin <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Teman,

Menarik juga membaca tulisan teman-teman mengenai penembakan kowak di KRB.Saya 
coba melihat dari sudut pandang lain. Sekedar informasi saja sebenarnya juga 
ini bukan satu-satunya satwa yang pernah dimusanahkan oleh pihak kebun raya. 
Ketika saya masih mahasiswa saya dan mengambil kuliah ornithologi, sempat 
berkunjung ke Bapak Dedy Darnaedi yang waktu itu direktur KRB. Dalam pertemuan 
itu pak Dedy sempat dipusingkan oleh ulah monyet-monyet nakal yang dilepas oleh 
pengunjung dan berkembang biak baik di KR Bogor dan KR Cibodas. Dampak 
kehadiran monyet-monyet tersebut sangat besar karena merusak koleksi tanaman 
yang ada dan sangat merugikan upaya konservasi ex situ yang dilakukan oleh 
pihak KRB. (Bisa dibayangkan kalau ternyata mereka mengkoleksi suatu spesimen 
hidup yang sangat langka dan akhirnya musnah gara-gara sekawanan monyet, Atau 
misalnya bunga amorpophalus titanum mereka mati karena monyet..... ) Meliha 
tkondisi ini pihak KRB melakukan upaya eliminasi terhadap monyet-monyet yang 
ada demi tercapainya upaya konservasi. Ternyata kasus yang serupa juga terjadi 
lagi meskipun dengan satwa yang berbeda yaitu kowak malam. 

 

== deleted ==

 

Selain itu ada hal lain yang perlu teman-tema ketahui bahwa dalam suatu 
pengelolaan kawasan konservasi baik ex situ maupun in situ, yang namanya 
pengurangan populasi adalah hal yang diperbolehkan untuk dilakukan agar daya 
dukung lingkungan tidak terlampaui. Salah satu kasus yang bisa saya ungkapkan 
misalnya: pada tahun 70 an (kalau gak salah) Departemen Kehutanan pernah 
melakukan pengurangan  populasi kerbau liar di Taman Nasional Baluran demi 
melindungi populasi banteng jawa. Tentu saja caranya dengan ditembak.

 

== deleted ==

 

salam

 

Iman

Attachment: smime.p7s
Description: S/MIME cryptographic signature

Kirim email ke