Assalaamu'alaikum wr. wb.
--- aris solikhah <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Insya Allah, Akh kita mengikuti metode Rasulullah yang anti
> kekerasan dan bukan bughat (atau separatis). Metode yang ditempuh HT
> berasal dari pengkajian mendalam mengenai Sirah Nabawiyah. Soal anda
> setuju atau berbeda itu soal lain, silakan saja. Metode yang diadopsi
> HT sebenarnya ada 3 tahapan yang tak kentara dirasakan pihak
> eksternal. Ini panjang sekali kalau dijelaskan.
Nah yang begini ini yang saya lihat sebagai paradoks dari para aktivis
yang ingin menegakkan khilafah. Lihat "Soal anda setuju atau berbeda
itu soal lain, silahkan saja." Apalogi untuk soal ini tentu saja bisa
dicarikan, tetapi kenyataannya hal seperti akan menjadi penghalang
untuk bersatu.
Soal bughat, hati-hati lho, istilah ini kan dipergunakan khusus untuk
mereka yang memberontak kepada pemerintahan yang islami:-)
> Semuanya ada di kitab At Takatul. Di sana juga dibahas kenapa
> harakah-harakah mengalami kegagalan dalam membangkitkan umat.
Ini juga penyakit:-) HT sendiri merupakan sebuah harakah, jadi HT
termasuk yang mengalami kegagalan atau tidak? Kalau At Takatul buku
resmi HT, hampir pasti jawabannya tidak!
Untuk berjalan bersama, harakah-harakah harus mulai sadar, bahwa mereka
semuanya masih gagal! Atau, dalam bahasa yang lebih positif dan
menyemangatkan, belum berhasil! Harakah saya belum berhasil, harakah
Anda rasanya juga begitu, jadi mari kita duduk bersama, menganalisis
masalah-masalah, menemukan solusi, dan mengimplementasikannya
bersama-sama.
> Aksi adalah salah satu uslub (cara) dalam proses muhasabah lil hukm
> (kontrol pada pemerintah) agar pemerintah mengatur sesuai syariat
> Islam dan merupakan proses pencerdasan dan pembentukan kesadaran pada
> umat.
Kontrol terhadap pemerintah sepanjang yang saya tahu berlaku untuk
suatu negara yang bersistem islami, bila tidak, cara pandangnya akan
berbeda. Kalau di Indonesia, IMHO, aksi-aksi itu masuk ke wilayah
dakwah atau amar ma'ruf nahi munkar saja. Atau, masuk ke wilayah
membela hak-hak keber-agama-an kita, karena di Indonesia kita hidup di
ruang, yang - mau tidak mau - disepakati desainnya demokrasi.
BTW, yang diangkat menjadi khilafah tuh awalnya adalah semua manusia
(lihat ayat rencana penciptaan manusia). Lalu, Allah mengecilkan
lingkupnya menjadi dipusakakan kepada hamba-hamba-nya yang sholeh (cari
sendiri ayatnya). Nah, hamba-hambanya yang soleh untuk hidup diberi
manual, yang edisi terakhirnya adalah Al Qur'an. Konsekuensinya,
persoalan menjalankan fungsi kekhilafahan harus diatur berdasarkan Al
Qur'an.
Pada level individu, bila Anda mengatur diri Anda dengan Al Qur'an
secara menyeluruh, Anda adalah seorang yang khilafah, yang sedang
menjalankan fungsi kekhilafahan. Pun begitu Anda, bila Anda jadi
presiden sebuah negara, dan memenej negara Anda secara menyeluruh
dengan Al Qur'an, Anda adalah seorang khalifah yang sedang menjalankan
fungsi kekhilafahan bersama-sama dengan warga negara Anda. Dan, begitu
seterusnya ...
Jadi, IMHO, khilafah dan kekhilafahan tuh dinamis ruangnya. Tahap
implementasinya juga dinamis. Dia tak harus langsung mendunia dan
tunggal.
Wassalaamu'alaikum wr. wb.
B. Samparan
____________________________________________________________________________________
Got a little couch potato?
Check out fun summer activities for kids.
http://search.yahoo.com/search?fr=oni_on_mail&p=summer+activities+for+kids&cs=bz