Assalaamu'alaikum wr. wb.

--- suhana032003 <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> hmm..aku paling anti memakai atribut, karena aku menjaga diriku dari
> pembiasaan  dasar yg sebenarnya ingin aku tuju, dan itu membuatku
> bebas bergerak dan berdiri dimanapun yg memang benar. (benar dalam
> arti tidak keluar dari al-qur'an dan sunnah)

Orang tuh nggak bisa lepas dari atribut, dengan pernyataan Anda di
atas, Anda sebetulnya juga beratribut. Atribut yang Anda pilih itu pun
jelas akan melatar belakangi bagaimana Anda memandang saudara muslim
Anda? Saya pernah singgung, ada lho "kelompok yang bersepakat untuk
tidak berkelompok."

Just curious, gimana Anda menilai bahwa Anda tak keluar dari al Qur'an
dan Sunnah. Sebuah hadist menyatakan kurang lebihnya "Tidak bisa tenang
seorang muslim, sampai dia masuk sorga." Karena itu, saya pernah
katakan iman tuh adalah pertengahan antara harap (raja) dan cemas
(khauf). Dalam hadist lain, ada tiga personal yang yakin masuk sorga,
eh tapi justru ditolak semua untuk masuk sorga.

...
> "aahh..aku enggak perlu itu, sekarang bapak baca aja kitabnya
> pencetus
> HT itu, dan ganti sana protes sama orang yg protes pada gerakan HT,
> karena selama ini yg jadi rujukan protes pendakwah itu adalah
> berdasarkan kitabnya taqyuddin albani sendiri. Sekarang tugas bapak,
> adalah membaca kitab itu, dan cari tahu dimana letak salahnya dan
> membuat mereka semua protes..?! enggak usah sibuk menyakini aku,
> karena aku nda berdiri dipihak manapun kecuali islam dan orang2 yg
> berdiri di jalan islam dan bukan jalannya orang2 yg punya
> kepentingan." Kataku acuh sambil tetap focus pada kerjaanku dan
> mendengarkan isi ceramah.

Langgam sikap yang seperti ini juga bikin susah orang:-) Dan, rasanya
inilah tipikal dari atribut yang Anda pilih.

Kalau saya simpel saja. Secara empirik kita hampir selalu harus
berbaju, berkelompok, atau yang lainnya. Cuman sejak awal saya terus
menyadarkan diri saya, ini sebuah alat, bukan ISLAM itu sendiri. Alat
saya tentu saja mengandung kekuatan dan kelemahan. Oleh karena itu,
saya nggak pernah memandang alat saya sebagai mutually exclusive dari
alat-alat yang lainnya. Sebab, alat-alat yang lain, juga mengandung
kekuatan dan kelemahan.

Bukan perkara yang mudah untuk menyatukan alat-alat ini sehingga
menjadi alat baru yang lebih maksimum kekuatan dan minimum
kelemahannya. Tapi, kita harus selalu upayakan. Islam sendiri
sebetulnya punya konsep pemersatu untuk itu, namanya Firqatun Najiah
dan Thaifah Mansurah. Dengan segala risiko perbedaan interpretasi, dua
konsep ini rasanya bisa menjadi awal untuk mencari titik awal untuk
melenggang bersama.

Wassalaamu'alaikum wr. wb.
B. Samparan

NB.
Banyak salah ketik di posting-posting saya, semoga rekan-rekan bisa
memaklumi. Biasa, harus ngebut, dan saya memang nggak punya banyak
waktu untuk menulis secara urut dan sistematis.




       
____________________________________________________________________________________
Take the Internet to Go: Yahoo!Go puts the Internet in your pocket: mail, news, 
photos & more. 
http://mobile.yahoo.com/go?refer=1GNXIC

Kirim email ke