Mejuah-juah Impal Kikin bagepe kerina Permilis, Kerna akronim KARO enggo me banci i pajekken i Kab. Karo gia lebe. Pajekken bas perbatasen penatapen ah.
Karo Pusat (Kab. Karo), saya kira tidak bisa mengarahkan daerah Karo yang lain karena posisi mereka sederjad. Hal ini bisa diatasi seandainya ada pemerintahan yang lebih tinggi, dalam hal ini Propinsi Karo. Sudahkah kita siap?. Satu hal, sekaranglah saatnya mengambil kembali Langkat Hulu. Teori dasar ekonomi mengenai peningkatan pendapatan setahu saya ada dua: 1. Meningkatkan penghasilan 2. Mengurangi biaya Dalam hal meningkatkan penghasilan disitulah kita butuhkan peningkatan produksi (tanah tidak bisa kita perluas, ingat khusus untuk Kab. Karo tanah sudah sangat sempit untuk tiap keluarga, saya tidak bisa bayangkan untuk 2 generasi kedepan). Dalam hal mengurangi biaya selain teknologi juga perlu diperhatikan pasca panen, disinilah perlunya tindakan tegas dari yang berkuasa untuk mengurangi segala kutipan yang ada. Beberapa tahun yang lalu saya ke Lau Sidebuk-dibuk, 50 meter masuk kedalam langsung ada kutipan. Dan ini jugalah salah satu yang menyebabkan terpuruknya industri pariwisata Kab. Karo. Hal yang sama ketika saya pulang kampung ke Lau Kawar, anak kutangku kerina je gia la aku tandaisa, kutipan juga. Peran Pemerintah Pemerintah sebagai pemegang kekuasaaan tentunya sangat dibutuhkan perannya, sudah ada apa belum saya kurang tahu. Peran Swasta Saya kira telah banyak pengusaha Karo pulang kampung dan menanamkan uangnya di Karo, misalnya Petrus Sitepu dll. Ada teman saya asalnya dari Sidikalang, Dairi. Dia bercerita bahwa mereka disana telah banyak melakukan kerja sama dengan pengusaha luar negeri, Australia salah satunya. Di Tapanuli juga begitu. Peran Peguruan Tinggi Idealnya Universitas Karo salah satunya unggul di Fakultas Pertanian dan membuat percontohan disana. USU dan Universitas lain di Medan juga semestinya memberikan peran yang signifikan ke industri pertanian Karo. Setiap orang Medan makan sayur kan.? Sudah ada yang mereka lakukan apa belum saya tidak tahu. Sibar em dage lebe, Moses ________________________________ Dari: Kikin Tarigan <[email protected]> Kepada: Tanah Karo <[email protected]> Terkirim: Ming, 4 April, 2010 10:09:09 Judul: Re: Bls: [tanahkaro] Re: Tekhnologi akan ulangi kejayaan pertanian Karo Mjjh man kam Kalimbubu Moses Sitepu ras permilis, Enggo tambahindu SWOT na kerna pertanian Tanah Karo, Arah etnopolitikna (ada gak ya istilahnya?? ) payo me definisi Tanah Karondu ndai, selanjutna uga me siarahken entnopolitik ena ku entnoekonomik. Bukan semata2 hanya Karo yg dimajukan, tetapi dg pendekatan kultur Karo mencoba mengubah Sumatera Utara bage nina ukurku. Enggo lit akronim baru KARO, lanai ACC enda pe banci jadi sada gerakan penyadaran dan perubahan sebelang-belang Kalak Karo ringan. Sada kekuatan Karo enda ndai emekap arah profesina sebagai petani (baca: entepreneur) . I celemkenna sitek modal pertanian, yg dalam jangka waktu tertentu diharapkan menghasilkan keuntungan/kerugian . Tanpa bantuan modal, proteksi, tanpa penjamin, semuanya mengandalkan 'kebiasaan' sedikit 'teknik' dan sedikit pengalaman. Sebagai modal dasar enggo me biasna petani enda erpasang. Lanai bo terpindoken terdauhen. Selanjutna peran swasta, perguruan tinggi, asosiasi (perkumpulan) dan pemerintah. Sitek lebe arah pemerintah, adi sipake pendekatan Tanah Karo si la erbaleng ena ndai.., enggo me lit piga2 kendala tah pe masalah sibakal dihadapi. Mentas me jong Lau Deski (Aceh Tenggara) nari, i Lau Pakam nggo ipajaki (baca: retribusi) seh Lau Baleng, keparinaka Kutabuluh, jembatan timbang terus asa seh Medan melala nge kutipan2 resmi, selain yg tidak resmi. Bicara Rp 2700 pe erga jong I Medan, sehna ku kuta kami Rp 1700 nari ngenca per kilo. Banci nge ndia lit sada kesatuan strategi pertanian gelahna erga enda la ndauhsa bagi erga i Medan?? Ter pepulung Karo (Pusat) nge simada komando Aceh Tenggara nari, Dairi, Deli Serdang ras Kota Medan gelahna enda banci jadi nilai tambah Etnoekonomik Karo?? Bage kang masalah Jeruk Karo, mulai dr penamaan, pasca panen, packing, jalur distribusi dsb..., uga nina Karo (Pusat) ku Simalungun, Deli Serdang ras Medan?? Kelapa sawit...ubi kayu dll...., termasuk industri peternakan dlsb. Tidak semua fasilitas (tehnologi) harus di Kab Karo. tetapi bagaimana industri pertanian 'Tanah Karo' terintegrasi dr kebun hingga konsumen...ini tantangan yg menarik. Uga nina swasta, perguruan tinggi ras asosiasina?? Bujur... Nd Kampil (sahabat Pa Kampoh) Karo Ateta Mari Pesikap Iyah Lompatken... Bangkit dan Bergerak... Igan Brecca® ________________________________ From: Moses S <moshe_...@yahoo. com> Date: Sat, 3 Apr 2010 18:51:29 +0800 (SGT) To: <tanahk...@yahoogrou ps.com> Subject: Bls: [tanahkaro] Re: Tekhnologi akan ulangi kejayaan pertanian Karo Mejuah-juah Kikin ras Kerina Permilis, Taneh Karo Meliputi : Kab. Karo (Pusat), Kab. Deliserdang, Kab. Langkat, Sebagian Dairi, Sebagian Aceh Tenggara, Sebagian Simalungun, Kota Medan dan Kota Binjai. Tanaman Kabupaten Karo misalnya, jenis pertaniannya bisa digolongkan menjadi 3: 1. Kenjulu, fokus kepada tanaman muda: tomat, kentang, kol dll 2. Kenjahe, dulunya tanaman keras: cengkeh, fanili dan cokelat, tanaman mudanya biasanya: cabe, padi, jagung, kacang tanah dll. 3. Singalor Lau (Berneh juga?): jagung, pisang dll. Sebagai informasi, pusat pertanian di Indonesia: Brastagi di Karo, Bukit Tinggi di Padang, Lembang di Jawa Barat dan Brebes di jawa Tengah, untuk Sumatera dan Jawa. Teknologi 1. Menggunakan pupuk maupun pestisida segala jenis baik produk lokal maupun impor tapi sering beredar pupuk palsu disana. 2. Teknologi modern yang sudah digunakan di Kab. Karo: traktor, mesin babat, pompa, dan mesin giling untuk paska panen, ada yang lain? Perbaikan: Saya kurang tahu teknologi apa kira-kira yang sangat perlu, sebagai contoh, katanya di Filipina mereka telah menggunakan mesin untuk mmemanen padi. Itu sedikit yang saya tahu.. Selamat Paskah Tuhan Yesus Memberkati. ________________________________ Dari: Kikin Tarigan <kikintarigan@ yahoo.com> Kepada: Tanah Karo <tanahk...@yahoogrou ps.com>; KOMUNITAS KARO <komunitaskaro@ yahoogroups. com>; Infokaro <infok...@yahoogroup s.com> Terkirim: Sab, 3 April, 2010 10:27:28 Judul: Re: [tanahkaro] Re: Tekhnologi akan ulangi kejayaan pertanian Karo Mjjh, Konon booming minyak diikuti dg berkembangnya industri pupuk seantero nusantara. Mulai PIM di Aceh, Pusri di Sumsel, Petrokimia di Gresik. juga Pupuk Kaltim. Melimpahnya pupuk membutuhkan pasar dalam jumlah besar, sehingga muncullah intensifikasi pertanian salah satunya dengan jalan 'pemupukan'. Konon lagi sejak itulah Tanah Karo menggunakan pupuk sebagai ornamen budidaya pertanian. Tumbuhnya kesadaran global ekofarming, menjadi masalah besar bagi komodoti ekspor pertanian Indonesia. Hambatan teknis negara importir tdk mampu dilobby diplomat2 kita di luar sana. Sementara pemangku kuasa dalam negeri dg mudah (tanpa mengenakan hambatan) menerima apa saja yg berbau impor dr negara lain. Lobby pedagang (importir) dalam negeri jauh lebih hebat. Era minyak (perang minyak), akan segera berakhir. Energi alternatif yg ramah lingkungan mulai dilirik. Negara2 Arab (Timur Tengah) mulai menyiapkan wisata dan teknologi pertanian sebagai alternatif, berikut perangkat hukum dan syariahnya (barangkali) . Luasan wilayah menjadi kata kunci, kesesuaian musim juga tetap menjadi kata kunci. Indonesia tetap menjadi primadona. Kembali ke Tanah Karo, apakah Tanah Karo identik dg dataran tinggi Karo, dengan sayur-mayurnya? ? Kapan pertanian Karo bergeser ke 'industri pertanian strategis'?? Kalau mau, mungkin ini yg perlu di SWOT.... Tehnologi yg seperti apa??? Bujur .... Selamat Paskah bagi umat Kristiani... Igan Brecca� ________________________________ From: "cpatriawgmail" <cpatr...@gmail. com> Date: Wed, 31 Mar 2010 20:48:53 -0000 To: <tanahk...@yahoogrou ps.com> Subject: [tanahkaro] Re: Tekhnologi akan ulangi kejayaan pertanian Karo Di Indonesia termasuk sumatra , kemajuan memang dirasakan sejak pada era 1970an. Sebenarnya bukan karena kemajuan itu sendiri tetapi karena era 1940-1960an merupakan era dengan kesejahteraan yang relatif rendah di Indonesia. Masyrakat Indonesia lumayan sejahtera pada 1930an , lalu mendadak sangat miskin pada era 1940an akibat penjajahan Jepang. Setelah merdeka dan berdaulat penuh tahun 1950an juga tidak berarti kesejehtaraan membaik. Bahkan era 1930an lebih baik secara relatif dibanding era 1950an. Masuk 1960an gitu lagi , tidak ada peningkatan kesejahteraan. Lalu pelan2 orba masuk dan "kesejahteraan" melonjak drastis sejak era 1970an terutama sejak booming oil dunia..kesejahteraa n tersebut kian naik di era 80an dan puncaknya pada 1990an...... ..kalau sekarang dari daya beli dan indeks kesejahteraan kt balik lagi ke era 1960an... carlos --- In tanahk...@yahoogrou ps.com, "gintingmu" <gintin...@. ..> wrote: > > Kelihatannya gedungnya sangat dipentingkan dan dibanggakan, > th 70-80 an pertanian Karo termasuk bagus tanpa peresmian gedung BPP. > Sekiranya peningkatam gedung BPP bisa sejajar dengan peningkatan > atau dengan kemerosotan pertanian Karo sekarang . . . > MUG > > --- In tanahk...@yahoogrou ps.com, Alexander Firdaust <daustcoker@ > wrote: > Untuk mengulangi zaman keemasan produk pertanian Karo seperti dekade 70 > hingga 80-an, pola pertanian di Karo harus diubah. Salah satunya dengan > penerapan sistem pola teknologi pertanian, khususnya menghadapi pasar global > seperti saat ini. > > “Pemanfaatan Balai Penyuluh Pertanian (BPP) merupakan salah satu sarana untuk > mendukung penerapan sistem pola tekhnologi pertanian,” ujar bupati Karo, > Daulat Daniel Sinulingga pada peresmian sembilan Gedung BPP di Karo, di desa > Melas kecamatan Dolat Rayat, malam ini. > > Dikatakannya, dari 212.725 ha luas daerah tersebut, 129.222 ha diantaranya > atau mencapai 60 persen merupakan terdiri dari areal pertanian, diantaranya > jenis tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan dan perikanan. > > “Hal tersebut didukung pula dengan iklim dan kondisi tanah yang cukup subur. > Kenyataan ini membuat sekitar 75 persen masyarakat Karo menggantungkan > hidupnya di sektor pertanian,” ujarnya. > > Bupati menambahkan, pada era 70 hingga 80-an, ekspor komoditi pertanian dari > Karo merupakan yang terunggul dari daerah lain di Sumatera Utara. Pada masa > itu, 75 persen dari total ekspor komoditi pertanian Sumut berasal dari > kabupaten Karo. > > Bila dibandingkan dengan saat ini, imbuhnya, kondisi pertanian Karo cukup > memprihatinkan. Karo hanya mampu menyumbang 10 persen, itu pun digabung > dengan daerah lain seperti Simalungun, Dairi, Taput dan daerah lainnya. > > “Oleh karenanya pola pertanian di Karo memerlukan pembenahan untuk mengejar > ketinggalan, yaitu dengan banyak belajar dan menggali pengalaman dari > berbagai sumber tekhnologi,” pungkas Bupati. > > Bupati Karo meresmikan sembilan Gedung BPP yang tersebar di beberapa > kecamatan melalui dana APBN dan Dana DAK pada 2009 lalu, yaitu, kecamatan > Kabanjahe, Dolat Rayat, Naman Teran, Merdeka, Kutabuluh, Barusjahe, Merek, > Tigabinanga dan BPP kecamatan Juhar. > > Sementara, BPP yang sudah tersedia sebelumnya adalah BPP Kutagadung kecamatan > Berastagi, Tigapanah, Simpang Empat, Tiganderket, Munte dan BPP Kecamatan > Laubaleng. Khusus untuk dua kecamatan, yakni Mardinding dan Payung, belum > memiliki gedung BPP. > > Sumber: http://www.waspada. co.id/index. php?option= com_content& > view=article& id=101542: tekhnologi- akan-ulangi- kejayaan- pertanian- > karo-&catid= 15:sumut& Itemid=28 > > Salam Mejuah Juah > > Karo Cyber Community > ________________________________ Berselancar lebih cepat. Internet Explorer 8 yang dioptimalkan untuk Yahoo! otomatis membuka 2 halaman favorit Anda setiap kali Anda membuka browser.Dapatkan IE8 di sini! (Gratis) Bersenang-senang di Yahoo! Messenger dengan semua teman. Tambahkan mereka dari email atau jaringan sosial Anda sekarang! http://id.messenger.yahoo.com/invite/
