Assalamu 'Alaikum,

Nuwun sewu. Saya punya pertanyaan kecil, apakah mereka itu benar-benar massa
Mega atau jangan-jangan khalayak ramai yang diberi baju merah saja. Harap
diingat waktu penyerbuan kantor DPP PDI beberapa tahun yang lalu penyerbunya
juga berkedok warga PDI kubu non-Mega. Belakangan ternyata mereka adalah
...... . Tujuannya tak lain dan tak bukan ialah untuk mengadu kambing dan
mendiskreditkan untuk kepentingan .... .

Lalu Gus Dur mengancam (entah 'tenanan' entah 'ethok-ethok') mengerahkan
Banser. Kepriye to iki?. Katanya embah-embah dulu, panas jangan dilawan
dengan panas. Mengko dadi kobongan.

Selanjutnya tentang rasa keadilan yang di dunia ini susah didapatnya.
Menurut logika demokrasi, kalau partai pemenang Pemilu malah jadi golongan
paria yang 'disiya-siya lan dimungsuhi' itu kan ya susah masuk akalnya para
kawula alit. Mbuh nek akale para elit sing pating penthalit itu.

Mohon mafhum, saya bukanlah anggota PDIP. Saya adalah warganegara
independen. Jadi jangan dianggap membela siapa-siapa.

Barangkali ada baiknya forum ini mengundang seseorang yang arif bijak
bestari untuk memberikan fatwanya. Setidak-tidaknya kita undang saja Mas
Darmanto "Ki Blokosuto Bla Bla" Jatman (saya kurang tahu apakah beliau
sekarang sudah menjadi bijaksana) untuk memberikan pandangannya. Dari sudut
pandang ilmu psikologi atau kepenyairan juga boleh.

Salam penuh damai untuk kita semua.

> ----------
> From:         Moch. Mustofa[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> Reply To:     [EMAIL PROTECTED]
> Sent:         Friday, October 15, 1999 2:48 PM
> To:   [EMAIL PROTECTED]
> Subject:      [UNDIP] PDI-P
> 
> 
> Pengerahan massa pendukung Mega mendapat reaksi keras dari berbagai pihak.
> 
> 1. K.H. Abdurrahman Wahid ( Gus Dur ), anggota MPR dari Fraksi Utusan
> Golongan, menyatakan hendaknya semua elit partai dapat mengendalikan diri
> dan dapat mengerahkan massanya agar tidak bergerak secara anarkis. Menurut
> Gus Dur , boleh-boleh saja melakukan unjuk rasa namun tetap harus
> memperhatikan koridor hukum dan menjaga aspek ketentraman masyarakat.
> "Karena itu, kalau massa nanti terus merangsek dan bergerak mendekati
> senayan , saya tak segan-segan menurunkan banser untuk menghadapi mereka,"
> tegas Gus Dur kepada para wartawan di Gedung DPR/MPR senayan , kemarin.
> 
> 2. Pengamat politik, DR. Moh. Mahfud menganggap pengerahan massa itu
> sebagai teror politik. " Tak mungkin bersifat spontan," katanya.
> Pengerahan massa PDI-P yang bergabung dengan Forkot dan Famred itu pasti
> dikoordinir oleh elit-elit partai tersebut. Dan ditinjau dari tujuan,
> pernyataan dan seruan yang dikeluarkan, praktek pengerahan semacam ini
> sudah dapat dikategorikan sebagai suatu teror politik, katanya.
> 
> 3. PARMUSI Jabar menyatakan, "Budaya politik mobolisasi merupakan pola
> politik Orde Lama dan Orde Baru yang bertentangan dengan pembaharuan
> budaya politik yang kita inginkan". 
> 
> =====> Sumbe Republika hari ini.
> 
> 
> mustofa
> 
> ______________________________________________________________
> >From "Moch. Mustofa" <[EMAIL PROTECTED]> to UNDIP List
> Milis Archive: http://messages.to/archives or http://messages.to/archives2
> DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList               http://www.undip.ac.id
> 
______________________________________________________________
>From Rustanto <[EMAIL PROTECTED]> to UNDIP List
Milis Archive: http://messages.to/archives or http://messages.to/archives2
DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList               http://www.undip.ac.id

Kirim email ke