On Fri, 15 Oct 1999, Rustanto wrote:

> Assalamu 'Alaikum,
> 
> Nuwun sewu. Saya punya pertanyaan kecil, apakah mereka itu benar-benar massa
> Mega atau jangan-jangan khalayak ramai yang diberi baju merah saja. Harap
> diingat waktu penyerbuan kantor DPP PDI beberapa tahun yang lalu penyerbunya
> juga berkedok warga PDI kubu non-Mega. Belakangan ternyata mereka adalah
> ...... . Tujuannya tak lain dan tak bukan ialah untuk mengadu kambing dan
> mendiskreditkan untuk kepentingan .... .


Silakan diselidiki....
Angan-angan kecil anda adalah sebuah hiphotesis..
hipothesis harus dibuktikan dengan data yang benar.. baru bisa ditarik
kesimpulan
Jadi keragu-raguan anda bukanlah kesimpulan apalgi kebenaran...

> 
> Lalu Gus Dur mengancam (entah 'tenanan' entah 'ethok-ethok') mengerahkan
> Banser. Kepriye to iki?. Katanya embah-embah dulu, panas jangan dilawan
> dengan panas. Mengko dadi kobongan.


Pernyataan Gus Dur menunjukkan bahwa beliau tidak suka kekerasan, 
tidak suka kegiatan yang mengganggu ketentraman masyarakat.
Jadi kita punya hak untuk mengemukakan pendapat, untuk unjuk rasa, tapi
hak kita itu jangan sampai mengganggu hak orang lain....


> 
> Selanjutnya tentang rasa keadilan yang di dunia ini susah didapatnya.
> Menurut logika demokrasi, kalau partai pemenang Pemilu malah jadi golongan
> paria yang 'disiya-siya lan dimungsuhi' itu kan ya susah masuk akalnya para
> kawula alit. Mbuh nek akale para elit sing pating penthalit itu.


Yang menang bukan golongan tapi seluruh rakyat indonesia, karena negeri
ini adalah milik rakyat Indonesia.
Semua rakyat Indonesia berhak atas negeri ini...
Tidak lalu pemenang pemilu merampas negeri ini...? Yang nota bene adalah
golongan ...Yang kalah ataupun yang menang tetap berhak atas negeri ini...
Oleh karena itu hendaknya negeri ini kita bangun bersama-sama...jangan
keras kepala  bahwa ini adalah milik saya , milik pemenang pemilu.. lalu
dikemanakan yang lainnya..
apakah yang 66% menjadi hilang haknya oleh yang 33 %...?
Logika apa ini....?


> 
> Mohon mafhum, saya bukanlah anggota PDIP. Saya adalah warganegara
> independen. Jadi jangan dianggap membela siapa-siapa.


Hal ini tak perlu disebutkan....
Orang dinilai pendapatnya bukan dari siapa dia, atau apa kedudukannya..
tetapi dari apa yang dikemukakan...
Tidak otomatis pendapat anda menjadi benar hanya dengan menyatakan bahwa
anda independen... bukan simpatisan PDI-P....tidak...tidak...


> 
> Barangkali ada baiknya forum ini mengundang seseorang yang arif bijak
> bestari untuk memberikan fatwanya. Setidak-tidaknya kita undang saja Mas
> Darmanto "Ki Blokosuto Bla Bla" Jatman (saya kurang tahu apakah beliau
> sekarang sudah menjadi bijaksana) untuk memberikan pandangannya. Dari sudut
> pandang ilmu psikologi atau kepenyairan juga boleh.

Saya setuju...
Kita perlu mendengar pendapat juga dari Anak Jalanan, para pengamen...
,para pengemis ..., para pedagang kaki lima...

Sumber kebenaran bukan hanya datang dari Darmanto Jatman....
Bukan hanya bisa datang dari ilmu psikilogi dan lain-lainnya...

Tetapi dari mana saja kita mau menggalinya....


> 
> Salam penuh damai untuk kita semua.
> 
> > ----------
> > From:       Moch. Mustofa[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> > Reply To:   [EMAIL PROTECTED]
> > Sent:       Friday, October 15, 1999 2:48 PM
> > To:         [EMAIL PROTECTED]
> > Subject:    [UNDIP] PDI-P
> > 
> > 
> > Pengerahan massa pendukung Mega mendapat reaksi keras dari berbagai pihak.
> > 
> > 1. K.H. Abdurrahman Wahid ( Gus Dur ), anggota MPR dari Fraksi Utusan
> > Golongan, menyatakan hendaknya semua elit partai dapat mengendalikan diri
> > dan dapat mengerahkan massanya agar tidak bergerak secara anarkis. Menurut
> > Gus Dur , boleh-boleh saja melakukan unjuk rasa namun tetap harus
> > memperhatikan koridor hukum dan menjaga aspek ketentraman masyarakat.
> > "Karena itu, kalau massa nanti terus merangsek dan bergerak mendekati
> > senayan , saya tak segan-segan menurunkan banser untuk menghadapi mereka,"
> > tegas Gus Dur kepada para wartawan di Gedung DPR/MPR senayan , kemarin.
> > 
> > 2. Pengamat politik, DR. Moh. Mahfud menganggap pengerahan massa itu
> > sebagai teror politik. " Tak mungkin bersifat spontan," katanya.
> > Pengerahan massa PDI-P yang bergabung dengan Forkot dan Famred itu pasti
> > dikoordinir oleh elit-elit partai tersebut. Dan ditinjau dari tujuan,
> > pernyataan dan seruan yang dikeluarkan, praktek pengerahan semacam ini
> > sudah dapat dikategorikan sebagai suatu teror politik, katanya.
> > 
> > 3. PARMUSI Jabar menyatakan, "Budaya politik mobolisasi merupakan pola
> > politik Orde Lama dan Orde Baru yang bertentangan dengan pembaharuan
> > budaya politik yang kita inginkan". 
> > 
> > =====> Sumbe Republika hari ini.
> > 
> > 
> > mustofa
> > 
> > ______________________________________________________________
> > >From "Moch. Mustofa" <[EMAIL PROTECTED]> to UNDIP List
> > Milis Archive: http://messages.to/archives or http://messages.to/archives2
> > DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList               http://www.undip.ac.id
> > 
> ______________________________________________________________
> >From Rustanto <[EMAIL PROTECTED]> to UNDIP List
> Milis Archive: http://messages.to/archives or http://messages.to/archives2
> DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList               http://www.undip.ac.id
> 

______________________________________________________________
>From "Moch. Mustofa" <[EMAIL PROTECTED]> to UNDIP List
Milis Archive: http://messages.to/archives or http://messages.to/archives2
DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList               http://www.undip.ac.id

Kirim email ke