Saya tambah bingung lagi waktu baca mail anda ini (saya kasih tanda <<<
pada awal dan >>> pada akhir mail ). Kok nggak diceritakan isi
interupsinya, tapi cuma dicuplik kalimat -kalimat yang malah bisa
menimbulkan salah persepsi aja. Saya juga punya pertanyaan sama ....'Apa
maksudnya ' ....kalo kita mau berpikir jernih, jangan terpancing emosi (I
agree) tapi juga jangan sepotong-sepotong ... kalo mau membahas masalah
karena nanti konklusinya juga nggak utuh ....
Regard
Benny
----------
From: EXT Moch. Mustofa
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: RE: [UNDIP] PDI-P
Date: Friday, October 15, 1999 12:24PM
<<<Salah seorang temen saya menulis :
Saya tadi malem agak bingung dengan interupsi dari PDIP, karena apa yang
disampaikan kok enggak nyambung. Bagaimana bisa Majelis yang sedang
bersidang, disuruh menanggapi hal diluar pengetahuannya. Karena kondisi
di luar, majelis sama sekali tidak tahu, bahkan yang sibuk telpun
sana-sini pun belum tentu mendapatkan gambaran sebenarnya.
Apalagi ditambah-tambah ungkapan "JANGAN MENGKHIANATI RAKYAT". Apa
maksudnya?
Saya pikir, kita harus melihat suatu hal dengan jernih, jangan
terpancing emosi. Pada saat emosi sudah menguasai, saya jamin kita sudah
tidak dapat berpikir jernih.
Bagaimana menurut anda?
Apakah yang demonstrasi bukan orang PDI-P ?>>>
On Fri, 15 Oct 1999, Rustanto wrote:
> Assalamu 'Alaikum,
>
> Nuwun sewu. Saya punya pertanyaan kecil, apakah mereka itu benar-benar
massa
> Mega atau jangan-jangan khalayak ramai yang diberi baju merah saja. Harap
> diingat waktu penyerbuan kantor DPP PDI beberapa tahun yang lalu
penyerbunya
> juga berkedok warga PDI kubu non-Mega. Belakangan ternyata mereka adalah
> ...... . Tujuannya tak lain dan tak bukan ialah untuk mengadu kambing dan
> mendiskreditkan untuk kepentingan .... .
>
> Lalu Gus Dur mengancam (entah 'tenanan' entah 'ethok-ethok') mengerahkan
> Banser. Kepriye to iki?. Katanya embah-embah dulu, panas jangan dilawan
> dengan panas. Mengko dadi kobongan.
>
> Selanjutnya tentang rasa keadilan yang di dunia ini susah didapatnya.
> Menurut logika demokrasi, kalau partai pemenang Pemilu malah jadi golongan
> paria yang 'disiya-siya lan dimungsuhi' itu kan ya susah masuk akalnya
para
> kawula alit. Mbuh nek akale para elit sing pating penthalit itu.
>
> Mohon mafhum, saya bukanlah anggota PDIP. Saya adalah warganegara
> independen. Jadi jangan dianggap membela siapa-siapa.
>
> Barangkali ada baiknya forum ini mengundang seseorang yang arif bijak
> bestari untuk memberikan fatwanya. Setidak-tidaknya kita undang saja Mas
> Darmanto "Ki Blokosuto Bla Bla" Jatman (saya kurang tahu apakah beliau
> sekarang sudah menjadi bijaksana) untuk memberikan pandangannya. Dari
sudut
> pandang ilmu psikologi atau kepenyairan juga boleh.
>
> Salam penuh damai untuk kita semua.
>
> > ----------
> > From: Moch. Mustofa[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> > Reply To: [EMAIL PROTECTED]
> > Sent: Friday, October 15, 1999 2:48 PM
> > To: [EMAIL PROTECTED]
> > Subject: [UNDIP] PDI-P
> >
> >
> > Pengerahan massa pendukung Mega mendapat reaksi keras dari berbagai
pihak.
> >
> > 1. K.H. Abdurrahman Wahid ( Gus Dur ), anggota MPR dari Fraksi Utusan
> > Golongan, menyatakan hendaknya semua elit partai dapat mengendalikan
diri
> > dan dapat mengerahkan massanya agar tidak bergerak secara anarkis.
Menurut
> > Gus Dur , boleh-boleh saja melakukan unjuk rasa namun tetap harus
> > memperhatikan koridor hukum dan menjaga aspek ketentraman masyarakat.
> > "Karena itu, kalau massa nanti terus merangsek dan bergerak mendekati
> > senayan , saya tak segan-segan menurunkan banser untuk menghadapi
mereka,"
> > tegas Gus Dur kepada para wartawan di Gedung DPR/MPR senayan , kemarin.
> >
> > 2. Pengamat politik, DR. Moh. Mahfud menganggap pengerahan massa itu
> > sebagai teror politik. " Tak mungkin bersifat spontan," katanya.
> > Pengerahan massa PDI-P yang bergabung dengan Forkot dan Famred itu pasti
> > dikoordinir oleh elit-elit partai tersebut. Dan ditinjau dari tujuan,
> > pernyataan dan seruan yang dikeluarkan, praktek pengerahan semacam ini
> > sudah dapat dikategorikan sebagai suatu teror politik, katanya.
> >
> > 3. PARMUSI Jabar menyatakan, "Budaya politik mobolisasi merupakan pola
> > politik Orde Lama dan Orde Baru yang bertentangan dengan pembaharuan
> > budaya politik yang kita inginkan".
> >
> > =====> Sumbe Republika hari ini.
> >
> >
> > mustofa
> >
> > ______________________________________________________________
> > >From "Moch. Mustofa" <[EMAIL PROTECTED]> to UNDIP List
> > Milis Archive: http://messages.to/archives or
http://messages.to/archives2
> > DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id
> >
> ______________________________________________________________
> >From Rustanto <[EMAIL PROTECTED]> to UNDIP List
> Milis Archive: http://messages.to/archives or http://messages.to/archives2
> DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id
>
______________________________________________________________
>From "Moch. Mustofa" <[EMAIL PROTECTED]> to UNDIP List
Milis Archive: http://messages.to/archives or http://messages.to/archives2
DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id
______________________________________________________________
>From "Murdianto Benny (NTC/KW)" <[EMAIL PROTECTED]> to UNDIP List
Milis Archive: http://messages.to/archives or http://messages.to/archives2
DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id