Hai Mbak Grace... Kayaknya saya punya "hutang" info soal tempat di sby, ya...... Sekalian aja, deh........temenku dan kakak ku gak tahu semua. Sepengetahuan mereka gak ada tempat yg friendly utk bayi.
Nah.....klu soal awal mulanya kami dtg rutin ke psikolog.......dulu, saat bagas usia 4 thn, terdeteksi oleh psikolog anak di TK nya bahwa dia mempunyai rentang konsentrasi yg pendek (kurang dari 5 menit). Saat itu kami disarankan utk membawa bagas mencari second opinion kepada psikolog anak lain. Stlh tanya "kanan kiri", akhirnya kami bertemu dengan ibu sheny. Dan benar...bahwa bagas mengalami rentang konsentrasi pendek. Ujung2nya....kami merutinkan dia utk diterapi oleh ibu sheny. Selama 4 bln, seminggu sekali, kami rutin membawa bagas ke kliniknya (saat itu di pasar minggu). Nah.....setelah itu, kami rutin membawa anak2 kami utk "mengobrol" dengan beliau minimal 6 bln sekali....saat setelah dibagikan raport (biasanya....dalam raport anak2 ada uraian ttg perkembangan psikologis nya). Dan itu saya bahas dengan beliau. Klu.....ada kasus2 tertentu yg kami temui dalam pergaulan atau perkembangan anak2, kami akan berkonsultasi dengan beliau, walaupun bukan saatnya konsultasi. Misalnya.....saat ada peristiwa dimana ada satu kawan bagas yg menonton film BF X3 dirumahnya, dan kemudian diceritakannya dengan gamblangnya kpd teman2 sekelas nya. Saat itu saya takut bagas ikut mendengarkan cerita deteil nya. Karena anak yg mendengarkan satu cerita akan lebih berbahaya dibandingkan dengan anak yg mengalami langsung. Karena anak yg mendengarkan cerita akan lebih berkembang daya imajinasinya. Supaya saya tidak "salah bertanya" dan tidak "salah menerangkan" jika memang kenyataannya bagas mendengarkan cerita itu, maka saya minta bantuan psikolog utk "memeriksa" nya. Beliau akan memeriksa bagas bukan dengan pertanyaan "apakah kamu mendengarkan cerita bla...bla...blam..?".....tapi beliau akan mengorek pengetahuan anak ttg sex tanpa disadari oleh si anak itu sendiri. Klu pun...se-jelek2nya bagas menjawab bahwa dia bagian dari anak2 yg mendengarkan cerita itu, maka psikolog akan lebih pandai menerangkan dan menggambarkan bahwa se-olah2 hal itu bukan "masalah besar". Supaya tidak timbul rasa penasaran dalam diri anak yg akan menimbulkan usaha dia utk mencaritahu jawabannya diwaktu yg salah dan pada org yg salah. Alasan ku selalu membawa anak2 utk berbicara dengan psikolog adalah......utk membiasakan mereka bercerita, berkeluh kesah atau curhat kepada orang yg tepat. Memang......orang yg paling tepat utk diajak bicara adalah kedua orang tuanya. Dan diharapkan, kebiasaan itu akan berlanjut sampai mereka ABG dan dewasa. Tapi......saya ber-jaga2. Ada saat2 tertentu, (biasanya pada masa anak2 ABG) dimana anak2 akan "menjauh" dari ortunya dan lebih percaya pada orang lain (kawannya). Saat2 seperti ini, saya ingin........mrk terbiasa berbicara dengan "orang yg tepat". Tidak berbicara dengan kawan seusia nya atau org lain yg belum tentu mengarahkan dia pada solusi yg tepat. Dengan berbicara pada org yg tepat, diharapkan akan mendapatkan solusi yg tepat, sehingga anak2 akan terhindar dari masalah2 besar akibat dari keputusan dan pemecahan masalah yg salah. Biasanya......klu kami mengunjungi ibu sheny, saya biarkan mereka mengobrol sendiri2 dengan beliau secara bergantian........tanpa saya dampingi. Hal ini berguna utk "mengorek" apa yg mereka rasakan selama ini. Hasil obrolan mereka, akan disampaikan kepada saya sebagai "koreksi" saya dan "acuan" saya dalam mendidik anak2. Alasan lain saya membawa anak2 ke psikolog, adalah utk "mengoreksi" saya dlm mendidik anak supaya tidak salah didik. Karena sekali kita "melukai" sisi psikologis anak2, maka akan sulit utk "diobati". Saya sadar....saya tidak menguasai ilmi psikology anak utk mendidik anak2 saya. Tapi saya tidak mau "salah mendidik dan salah mengarahkan". Utk itu saya membutuhkan "jasa" seorang psikolog anak. Oh, ya.......sekarang ini saya mulai memasukkan info2 ttg dunia drugs dan ABG kepada anak2 saya. Nanti....disaat yg tepat, saya akan memberikan pendidikan sex kepada mrk. Nah.....Mbak Grace, Klu saya gak "error" karena puasa, keterangan saya sudah lengkap....kap. Klu nanti ada yg tertinggal, nanti saya susulin deh....... Regards, YUSRI email: [EMAIL PROTECTED] YM: yusri_smpn1 Sent from my BlackBerry� wireless device -----Original Message----- From: "Grace Y. Wulanda" <[EMAIL PROTECTED]> Date: Wed, 17 Sep 2008 21:13:49 To: <[email protected]> Subject: [Ayahbunda-Online] Re: Ask : Psikolog Anak; buat Bu Yusri Bu, mau nanya nih Bu. Kalo Ibu biasa bawa anak2 ke psikolog sejak 4 tahun, boleh tau nggak, apa latar belakangnya ya Bu? Bayanganku, mungkin untuk memantau perkembangan psikologis anak ya? Apa perkembangan ini memang harus rutin dikonsultasikan dengan seorang psikolog? Mungkin sama dengan rutin check-up ke dokter gitu? Trus, apa manfaat lebih yang bisa diambil kalo anak biasa dibawa ke psikolog begini? Dari umur berapa sampai umur berapa anak baiknya/bisa/harus berhubungan dengan psikolog? Waduh, pertanyaannya banyak ya Bu, gak papalah, penasaran banget, hehehe. Nanti kalo Bu Yusri ada yang perlu dijelasin padahal belum sempat tercantum di pertanyaan2ku diatas, tambahin aja ya Bu, gak nolak, hehehe. Maksa, maaf ya Bu. Terimakasih banyak. Salam, Grace --- In [email protected], "- Yusri -" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Saya biasa membawa anak2 saya ke psikolog anak sejak usia mereka 4 thn.
