Sorry sebelumnya kepada anggota milis lain karena ini melenceng dari 
'core' milis kita yaa... 
Sorry juga kalau jadi sedikit serius. 
Dan sorry kalau jawabannya nggak bisa 'dalem' dan panjang lebar... 
**sori, sori melulu kayak ibu sapa tuh yang di Bajaj Bajuri...**

Gini, remaja itu kan sebetulnya masa yang paling insecure dalam diri 
manusia. 
Nggak pede-nya gede banget. Kalau 'keluar'-nya kelihatan heboh dengan 
dandanan ajaib, itu adalah bagian dari insecurity-nya. Udah nggak pe-de, 
masih juga sering dituduh macem-macem oleh orang tua. 

Akronim ABG diterima sebagai tuduhan oleh remaja. Siapa sih yang kasih 
label ini? Mereka sendiri? Bukan, ibu-ibu.. Yang pertama kali kasih mereka 
ABG ini ya orang tua, yang berangkat dari kekesalan melihat tingkah remaja 
yang memang ajaib, nyebelin, aneh... **tapi buat saya, mereka makhluk 
paling menarik dan seru...saya betah banget main sama mereka, hehehe** 
Dari tuduhan yang terus makin sering didengar, di-blasting oleh media, 
akumulatif jadilah label buat mereka. Dikit-dikit ngomong, "Dasar ABG!". 
Karena nggak bisa membalas, akhirnya itu dibuat sebagai pembenaran kalau 
mereka melakukan sesuatu yang 'aneh' buat kita orangtua. Ya kayak 
keponakannya jeng Nika yang ngetik huruf besar kecil (kamu ngalamin sekali 
mbak... saya every single day baca email kayak begituan selama 6 tahun 
terakhir -sebelum 2007, hahahhaa...). Tapi itu biasa saja, nggak aneh buat 
mereka.  Yang aneh ya kita, kok kayak gitu nggak ngerti, gitu aja dibahas, 
hihihihi... 

Di kalangan remaja, istilah ABG pun jadi bahan olokan kepada teman atau 
'adik kelas' yang perilaku, habit, hobi dan interest-nya nggak sama. 
Waterfall dari olokan kita secara nggak sadar kepada si remaja, lantas 
turun ke bawahnya. 
Ketika saya jadi managing editor Gadis dan kemudian Chief Editor Seventeen 
Indonesia (majalah remaja AS lisensi dipegang oleh Femina Group), setelah 
saya tahu (dari FGD, dari obrolan non formil) bahwa mereka tidak menyukai 
istilah ABG, saya menabukan istilah itu dipakai dalam seluruh artikel dan 
bahasan di majalah. A big NO-NO! 

Alhamdulillah dengan tidak pernah memakai istilah itu, baik dalam print 
maupun ketika saya jadi pembicara di forum-forum remaja, para remaja itu 
sayang dan menganggap saya sebagai kakak tersayang karena Insya Allah saya 
tidak pernah judging mereka. Remaja ya memang identik dengan 'keajaiban', 
kalau nggak 'ajaib' saya malah bertanya-tanya jangan-jangan nggak normal 
;) Adalah kebahagiaan dan kebanggaan kalau kita bisa menjadi sahabat 
mereka dan membantu mereka menjadi individu yang bermutu kelak. 

Remaja identik dengan drugs, seks bebas, dll dst kenakalan? Mungkin. Tapi 
bukan berarti kita nuduh remaja bakal begitu kan? Sebetulnya menurut saya, 
orangtua perlu punya mind set yang positif. Kalau belum apa-apa sudah 
panik, belum apa-apa curiga, belum apa-apa nuduh, belum apa-apa hobi 
nyecer anak, belum apa-apa bongkar-bongkar tas, belum apa-apa nguprek baca 
buku harian si gadis remaja, belum apa-apa udah parno.... ya si remaja 
juga gerah. "Emak babe gue reseh amat ya?"  Waspada tentu harus. Tapi ada 
baiknya untuk tenang dan terkendali. 

Soal buku (pertanyaan mbak Grace), waahhh... saya harus mengumpulkan 
ingatan dulu... karena sekarang bacanya buku-buku tumbuh kembang bayi dan 
balita, hahahaha... Jadi saya ini terbalik, belajar remaja dulu baru 
belajar anak kecil. Mustinya gradually belajar soal anak dulu yaaa... 
Mudah-mudahan saya bisa lihat-lihat lagi buku-buku soal remaja (ada di 
rumah), nanti saya share dengan Grace dan ibu-ibu sekalian. 

Salam, 
TENIK HARTONO 
Chief Editor / Pemimpin Redaksi   AYAHBUNDA 
Gedung Mensa 2 Lt. 3, Kuningan | Jakarta 12910 - Indonesia
Phone (62-21) 525 3816, 526 6666 ext 4221 | Fax  (62-21) 526 2131, 520 
9366 | Mobile   (62) 816 794394  | www.ayahbunda-online.com

09/26/2008 10:17 AM

Wah......
Pembahasannya bakal seru, nih.....
Topik diskusinya menarik.....
Ayo Mbak Tenik,......keluarkan "ilmu2nya".
Supaya kita2 punya bekal menghadapi remaja......

Regards,
YUSRI
email: [EMAIL PROTECTED]
YM: yusri_smpn1

Sent from my BlackBerry® wireless device
From: "Grace Y. Wulanda" <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Thu, 25 Sep 2008 10:23:02 -0000
To: <[email protected]>
Subject: [Ayahbunda-Online] Re: Hmmm... ABG? to Mbak Tenik
Woaa...ilmu baru nih. Pastinya Mbak Tenik pengalaman banget ya waktu
'mengasuh' majalah Gadis dulu. 

Mbak, minta saran dong, mungkin ada buku/sumber bacaan lain yang
membahas tentang ini? Why they hate those words? Kenapa julukan ABG
justru membuat mereka merasa apa saja yang dilakukan jadi 'legal'?

Thanks banget ya Mbak.

Salam,
Grace

Kirim email ke