Menyambung topic seputar puyer, Saya setuju dengan Bu Dokter Anisa, Kalau memang puyer itu berbahaya buat kesehatan anak2, di Indonesia khan ada IDI, knapa IDI gak bertindak tegas untuk melarang pemakaian puyer pada pengobatan anak dan dewasa ? Jadi setiap dokter yang ketahuan melanggar, langsung dicabut saja ijin prakteknya....
Tapi kalau IDI atau pemerintah gak bisa bertindak tegas, artinya pemberian puyer tersebut masih ada manfaatnya khan ? Kalau dilihat dari sisi hiegienisnya suatu obat, memang puyer terlihat kurang higienis, tp apakah anda yakin kalau obat paten cukup higienis selama pembuatannya di pabrik obat ? Kita tidak tahu bukan ? Kalau dilihat dari pencampuran berbagai macam obat, saya rasa itu memudahkan pemberian kepada anak2 yang masih kurang kooperatif untuk meminum obat. Saya perhatikan, saya sendiri kalau sakit batuk pilek dan kemudian berobat ke dokter umum atau spesialis, tidak pernah diresepkan obat hanya 1 macam saja, pasti pulangnya bawa gembolan obat 2-4 macam. Kebayang gak sih kalau anak2 harus minum 2-4 obat sekaligus ? Minum satu butir aja susahnya minta ampun, apalagi lebih dari satu ? Kalau puyer khan lebih praktis, dah dicampur jadi satu, langsung telan. Kalau masalah higienis atau tidak, tercampur dengan obat jenis lain atau tidak, timbangannya betul atau tidak, membaginya per ampul benar atau tidak, itu mah tergantung apotiknya masing2. Kalau apotiknya professional dan harusnya sih menjunjung tinggi prinsip apotik sebagai suatu badan yang berkaitan erat dengan nyawa manusia, jd melakukan segala sesuatunya tidak main2 (serius). Kayanya prinsip ini sama juga dengan perusahaan obat. Apakah kita yakin antara tablet yang satu dengan tablet yang lain kandungan mg nya sama ? atau apakah beratnya sama ? Kita hanya bisa percaya aja dengan perusahaan obat tersebut khan ? yang penting kita minum, kita sembuh. Kalau sampai kita minum, kita knapa2, tinggal kita tuntut aja perusahaan obat atau apotiknya. Maaf nih jadi panjang. Sekalian menumpahkan unek2 seputar pemberitaan di TV yang cukup meresahkan tapi tidak memberikan solusi apa2. Semuanya diserahkan kepada kita selaku konsumen, sementara kita nya juga buta / awam tentang obat2an..... Buat yang kurang berkenan dengan pendapat saya, mohon maaf yah.... peace.... Best Regards, Tjahjo Liniarti M.S (Nini) Mama Michelle -----Original Message----- From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of Nur Anisa Sent: Monday, February 16, 2009 9:56 PM To: [email protected] Subject: [Ayahbunda-Online] polemik puyer nis ngerti perasaan para ibu2 pmilik dd2 kcl.tolong, jgn dulu kburu panik ya. saya menilai brita rcti tdk relevan, dia bcra dr sisi org awam. mana ada objektifitas diliat dari satu kasus dokter mj (brp juta dokter di indonesia?), knp yg jd pmbcra apoteker, bkn dokter? murahan ya, cm bs kritik. kasi solusi dong. kalo ngerasa lbh pinter dari dokter yg udh bertahun2 sekolah-apalagi udh smp sp anak. kami punya sumpah lho... nis menilai itu ga lbh buat narik iklan n rating semata. coba liat di milis dokter_kita ya. kami sdg memperdebatkan dsana. buat nis syrup n liquid lbh bahaya lho... dr.nur anisa alfi ________________________________ ::BCA:: ::BCA::
