Halo semua,

Ikutan nimbrung ya. Kalo dibilang berita r**i tidak relevan dan
murahan, saya sih kurang setuju karena waktu saya lihat liputannya
yang bicara bukan orang awam kok, salah satunya spesialis anak dr.
Purnamawati, trus apoteker yang diajak bicara juga Profesor Doktor
yang memang mendalami seluk beluk dunia farmasi (baca: obat).

Betul kata bu dokter nur anisa, jangan dulu keburu panik. Justru
dengan adanya pemberitaan seperti ini, entah itu dokter atau pun
pasien, hendaknya terpacu untuk mencari tahu lebih banyak dan dalam
tentang masalah puyer ini. Temukan latar belakang kenapa masalah ini
mencuat. Lihat teori dan faktanya di lapangan, lalu putuskan apa yang
akan dilakukan oleh si individu. Toh pilihan tetap berada di tangan
masing2 individu dan segala akibatnya akan ditanggung oleh masing2
individu juga.

Mohon maaf kalo kurang berkenan.

Patria


On 2/16/09, Nur Anisa <[email protected]> wrote:
> nis ngerti perasaan para ibu2 pmilik dd2 kcl.tolong, jgn dulu kburu
> panik ya. saya menilai brita rcti tdk relevan, dia bcra dr sisi org
> awam. mana ada objektifitas diliat dari satu kasus dokter mj (brp juta
> dokter di indonesia?), knp yg jd pmbcra apoteker, bkn dokter? murahan
> ya, cm bs kritik. kasi solusi dong. kalo ngerasa lbh pinter dari dokter
> yg udh bertahun2 sekolah-apalagi udh smp sp anak. kami punya sumpah
> lho...
>
> nis menilai itu ga lbh buat narik iklan n rating semata. coba liat di
> milis dokter_kita ya. kami sdg memperdebatkan dsana. buat nis syrup n
> liquid lbh bahaya lho...
>
> dr.nur anisa alfi
>
>

Kirim email ke