Duh jd gatel mo nimbrung...

Aku setuju ama mama michelle...

Dulu aku prnh PTT di puskesmas di daerah riau, org farmasinya resik bgt alias 
bersih.

Tiap pagi dia cuci lumpang dan alu yg buat numbuk obat. Trus krn puskesmas kami 
ga rame, tiap abis ada resep puyer jg dia cuci.

Tp emang kalo hr rabu pas hr pasar pasien lumayan byk, jd dgn kondisi itu ga bs 
sering2 nyuci, ya akhirnya lumpang tu di cuci pas pagi aja.

Yahhh itu aja di puskesmas desa, harusnya di kota yg lbh canggih bs lbh 
higienis y.

Sekian aja berdasar pengalaman

Dian_bundanya cheryl



Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: "Tjahjo Liniarti" <[email protected]>

Date: Wed, 18 Feb 2009 13:28:55 
To: <[email protected]>
Subject: RE: [Ayahbunda-Online] polemik puyer


Menyambung topic seputar puyer,
Saya setuju dengan Bu Dokter Anisa,
Kalau memang puyer itu berbahaya buat kesehatan anak2, di Indonesia khan
ada IDI, knapa IDI gak bertindak tegas untuk melarang pemakaian puyer
pada pengobatan anak dan dewasa ? Jadi setiap dokter yang ketahuan
melanggar, langsung dicabut saja ijin prakteknya....

Tapi kalau IDI atau pemerintah gak bisa bertindak tegas, artinya
pemberian puyer tersebut masih ada manfaatnya khan ?
Kalau dilihat dari sisi hiegienisnya suatu obat, memang puyer terlihat
kurang higienis, tp apakah anda yakin kalau obat paten cukup higienis
selama pembuatannya di pabrik obat ? Kita tidak tahu bukan ?

Kalau dilihat dari pencampuran berbagai macam obat, saya rasa itu
memudahkan pemberian kepada anak2 yang masih kurang kooperatif untuk
meminum obat.
Saya perhatikan, saya sendiri kalau sakit batuk pilek dan kemudian
berobat ke dokter umum atau spesialis, tidak pernah diresepkan obat
hanya 1 macam saja, pasti pulangnya bawa gembolan obat 2-4 macam.
Kebayang gak sih kalau anak2 harus minum 2-4 obat sekaligus ? Minum satu
butir aja susahnya minta ampun, apalagi lebih dari satu ? Kalau puyer
khan lebih praktis, dah dicampur jadi satu, langsung telan.

Kalau masalah higienis atau tidak, tercampur dengan obat jenis lain atau
tidak, timbangannya betul atau tidak, membaginya per ampul benar atau
tidak, itu mah tergantung apotiknya masing2. Kalau apotiknya
professional dan harusnya sih menjunjung tinggi prinsip apotik sebagai
suatu badan yang berkaitan erat dengan nyawa manusia, jd melakukan
segala sesuatunya tidak main2 (serius). Kayanya prinsip ini sama juga
dengan perusahaan obat. Apakah kita yakin antara tablet yang satu dengan
tablet yang lain kandungan mg nya sama ? atau apakah beratnya sama ?
Kita hanya bisa percaya aja dengan perusahaan obat tersebut khan ? yang
penting kita minum, kita sembuh. Kalau sampai kita minum, kita knapa2,
tinggal kita tuntut aja perusahaan obat atau apotiknya.

Maaf nih jadi panjang. Sekalian menumpahkan unek2 seputar pemberitaan di
TV yang cukup meresahkan tapi tidak memberikan solusi apa2.
Semuanya diserahkan kepada kita selaku konsumen, sementara kita nya juga
buta / awam tentang obat2an.....

Buat yang kurang berkenan dengan pendapat saya, mohon maaf yah....
peace....


Best Regards,
Tjahjo Liniarti M.S (Nini)
Mama Michelle

-----Original Message-----
From: [email protected]
[mailto:[email protected]] On Behalf Of Nur Anisa
Sent: Monday, February 16, 2009 9:56 PM
To: [email protected]
Subject: [Ayahbunda-Online] polemik puyer

nis ngerti perasaan para ibu2 pmilik dd2 kcl.tolong, jgn dulu kburu 
panik ya. saya menilai brita rcti tdk relevan, dia bcra dr sisi org 
awam. mana ada objektifitas diliat dari satu kasus dokter mj (brp juta 
dokter di indonesia?), knp yg jd pmbcra apoteker, bkn dokter? murahan 
ya, cm bs kritik. kasi solusi dong. kalo ngerasa lbh pinter dari dokter 
yg udh bertahun2 sekolah-apalagi udh smp sp anak. kami punya sumpah 
lho...

nis menilai itu ga lbh buat narik iklan n rating semata. coba liat di 
milis dokter_kita ya. kami sdg memperdebatkan dsana. buat nis syrup n 
liquid lbh bahaya lho...

dr.nur anisa alfi





________________________________

::BCA:: 



::BCA::

Kirim email ke