memang trend nama nama unik , sperti setan, pocong , gendruwo dan macam macam yang menyeramkan tampak makin banyak digunakan, saya mengerti juga bagi kaum yang religius nama nama semacam ini mungkin bisa saja membuat miris yang mendengarnya, tetapi menurut cerita, rawon setan itu, pertama kali di kenal di surabaya atau jatim, karena bukanya warung rawon itu malam hari yaitu pukul 23.00 sampai jam 2.00 pagi ( kalau tak salah ) , maka para penikmatnya menamakan tempat itu sebagai rawon setan, karena dianggap waktu bukanya itu bareng dengan waktu dimana setan beraktifitas ( umumnya orang mempercayai setan melakukannya dimalam hari ), tetapi mas radit, ternyata nama nama semacam ini juga tak lepas dari peniruan, misalnya rawon setan yang namanya banyak beredarjustru katanya bukan yang asli. yang penting bagi para pelaku usaha ( lepas dari penggunaan namanya ) adalah tetap menjaga kualitas dan bersaing secara sehat ( blue ocean strategy )
Salam, HH ________________________________ From: mediacare <[email protected]> To: [email protected] Sent: Friday, August 28, 2009 3:19:36 AM Subject: Re: [bango-mania] Janda Royal dan Bajingan Apalah arti sebuah nama Cak Uban. Setiap orang bebas pakai nama apa saja, daripada meniru yang sudah ada, kan nanti malah dituding menjiplak? Lha kalau orang mengira Baksonya Cak Uban dicampur uban gimana? Please add my Facebook: Radityo Indonesia Mediacare Indonesia ----- Original Message ----- >From: BaksoBakwan Malang Cak Uban >To: bango-mania@ yahoogroups. com >Sent: Wednesday, August 26, 2009 10:57 PM >Subject: Re: [bango-mania] Janda Royal dan Bajingan > > >Dear Bango Mania, >Ya urun rembug saja, tendensinya pengusaha kuliner membuat terobosan dengan >nama2 yg aneh utk menggugah rasa ingin tahu orang, karena penasaran jadi >mampir, selama nama itu masih bersifat normal sih sah2 saja, tetapi kalau >sudah terlalu vulgar kita jadinya miris melihatnya, walaupun yang membuat nama >juga merasa bahwa itu haknya. >Sebagai contoh kita tengok Rawon Setan, bayangkan seandainya anda sebagai >seorang yang beragama, membuka warung Rawon Setan, meskipun itu hanya nama, >bagaimana pandangan orang terhadap kata2 itu, bukankah agama apapun melarang >kita berkolaborasi dengan setan????? Lha kok kita menjual product dengan nama >Setan???? >Bagaimana menurut pendapat Bangoers yang lain? >Jangan sampai muncul Rawon Gendruwo atau Rawon Memedi, Rawon Kuntilanak dstnya. >Sekian. >BSD > > >2009/8/25 Abdur Rohman <arohmanmail@ yahoo.com> > > >>Janda Royal dan Bajingan >>Hmm…jangan kaget ah baca judulnya. Ini bukan judul sinetron ataupun novel. >>Tapi, itu nama dua jenis makanan di Jawa Tengah. Darimana pun asal kita, >>pasti ngiler kan kalau terkenang berbagai jenis makanan lezat dari kampung >>halaman. Bukan saja rasanya, namanya mungkin juga membangkitkan nostalgia >>tersendiri. Bagi yang telah merantau kemana-mana, barangkali kini telah tahu >>bahwa makanan yang namanya Anu di daerah asal kita belum tentu memiliki >>sebutan yang sama di daerah lain. >> >>Rondo (Janda) Royal adalah potongan tapai singkong yang tengahnya diberi gula >>merah lalu di celup ke cairan tepung dan digoreng. Karena tapai yang sudah >>manis itu masih dipermanis lagi dengan gula merah, makanya panganan ini >>disebut Rondo Royal. Sedangkan tapai singkong yang digoreng tepung saja tanpa >>gula merah di dalamnya di sebut Rondo Kemul (Janda Berselimut hi..hi..). >> >>Bajingan adalah sebutan untuk singkong yang dikukus lalu di masukkan ke >>cairan gula merah (juruh) yang sudah diberi kayu manis, jahe dan sedikit >>garam. Hmm..jadi inget, di daerah nenekku di Jawa Tengah juga, namanya malah >>menjurus ke porno yaitu p**i gupak (maaf sensor!) >> >>Masih banyak lagi makanan yang namanya aneh-aneh, misalnya Balung Kuwok >>(tulang tua), yaitu makanan dari singkong rebus yang diiris-iris tipis, >>dijemur lalu di goreng sebelum dimasukkan ke cairan gula pasir atau guma >>merah kental sekali sehingga menjadi kripik singkong manis. >> >>Ada juga Bapak Pucung, yaitu singkong parut si campur parutan kelapa setengah >>muda, diberi gula dan garam lalu diberi warna hijau dan sebagian lagi merah, >>kemudian dibungkus seperti lontong, lalu dikukus. Setelah matang, daun >>pembungkusnya dibuka dan isinya diiris-iris. >> >>Kalau adonan Bapak Pucung diisi dengan pisang sebelum dikukus, namanya >>berubah menjadi Kacamata. Karena kalau dua iris kue berisi pisang ini >>disandingkan, bentuknya menjadi mirip kacamata. >> >>Ada lagi kue yang bernama Kuping Lowo (telinga kelelawar). Bentuknya yang >>lancip di dua ujungnya mungkin dianggap seperti telinga kelelawar. Rasanya? >>hmm… mirip Telur Gabus yang diselaputi gula putih. >> >>Sekarang saya juga baru tahu bahwa makanan yang disebut Krasikan di Jawa >>Tengah, disebut Kue Ladu di Jawa Barat, padahal keduanya persis sama. Ketimus >>di Jawa Barat adalah Lemet di Jawa Tengah. Tapi yang namanya Timus di Jawa >>Tengah adalah Kue Ubi di Jawa Barat. Gedang di Jawa Barat adalah Pepaya. >>Padahal, di Jawa Tengah yang disebut gedang adalah Pisang! >> >>Masih ada lagi, Gambas di Jawa Barat adalah labu siam, sedangkan di Jawa >>Tengah gambas adalah oyong. Labu siam di Jawa Tengah disebut Waluh Jipang dan >>di Jawa Timur di sebut Manisa. >> >> Pernah dengar kue dari singkong yang diisi gula merah di Jawa Barat yang >> disebut Misro? Konon Misro singkatan dari amis di jero. Amis di Jawa Barat >> artinya manis, bukan anyir. Jadi artinya “manis di dalam”. Orang Jawa Tengah >> mengenal makanan yang serupa, tapi namanya adalah Cemplon (artinya perempuan >> kecil montok yang berwajah manis). >> >>Begitulah Indonesia, negara kita yang terdiri dari berbagai suku dan daerah >>sehingga menciptakan keberanekaragaman dalam banyak hal, termasuk makanan. >>Lain lubuk lain ikannya, lain ladang lain belalang, lain daerah lain >>sebutannya. Btw, walau berbeda toh tetap satu kan ? satu bangsa, satu bahasa, >>satu tanah air, Indonesia. Dirgahayu Bangsaku, semoga makin berjaya! >> >>Sumber: http://anied. tehobenk. com >>Kunjungi selalu BLOG BANGOMANIA di http://bango- mania.blogspot. com >> >
