Pemiskinan Kekuasaan dan Agama

Abdul Munir Mulkhan

Mungkin menyakitkan melihat praktik keagamaan dan kekuasaan menyumbang
pemiskinan (proletarisasi), selain kesenjangan moral pemimpin dengan
rakyat. Ketika rakyat jatuh miskin dan mati kelaparan, pemimpin sibuk
dengan kuasa dan surganya sendiri.

Bencana dan teror menghantui seluruh sudut Tanah Air ketika jejak
tsunami belum terhapus. Pohon Natal yang belum layu memberi harapan
ketika rakyat telanjur lemah melangkah. Genta gereja diselingi gema
takbir peziarah Haji yang bergegas ke Tanah Suci membangkitkan gairah
hidup ketika asa sudah pingsan.

Gejala pembiaran proletarisasi dalam praktik keagamaan dan kekuasaan
memunculkan pertanyaan: "apakah agama dan demokrasi memang bagi
pembebasan umat dari pemiskinan, pembodohan, dan penindasan?" Vox
populi vox Dei (suara rakyat cermin kehendak Tuhan) berhenti sebagai
jargon yang kehilangan fungsi pemihakan rakyat ketika praktik ritual
agama-agama lebih berorientasi surgawi (other worldly).

Pemihakan kaum proletar sering dituduh kekiri-kirian Marxis yang
anti-Tuhan, sementara kritik atas ekonomi liberal (neoliberal) berubah
menjadi ideologi anti-Barat dan Amerika. Pembiaran proletarisasi
terjadi dalam sistem sosial-ekonomi korup dan praktik ritual tanpa
etika profetis (inner worldly) ketika aksi pemihakan pada kaum miskin
hampir mustahil bebas misi suci penyebaran agama.

Kemiskinan dan kebodohan kemudian menjadi komoditas pahala dan
kekuasaan politik. Dalil kaadal faqru an yakuuna kufran (kefakiran
penanda kekafiran) yang disalahartikan menjadi legitimasi pembiaran
proleratisasi. Semakin saleh seseorang atau masyarakat, cenderung
semakin tak peduli problem kemanusiaan otentik. Janji-janji kampanye
segera dilupakan begitu pemimpin ditahbiskan sebagai wakil rakyat.

Teologi Pembebasan

Di sisi lain globalisasi dan formalisasi ritual semakin membuat kaum
miskin dan wong cilik terasing dari komunitas keagamaan. Kelas elite
yang berpeluang memperoleh janji surgawi sering berkolaborasi dengan
penguasa korup. Sejak beberapa dekade lalu, gejala ini melahirkan
Teologi Pembebasan.

Kemajuan teknologi dan kemakmuran ekonomi bangsa-bangsa Barat yang
Kristen dan Katolik dibayar sekularisasi. Negeri-negeri Muslim yang
menolak sekularisasi menderita kemiskinan dan perlakuan tidak adil.
Bangsa-bangsa maju dan makmur diberi label kafir sebagai aktor
proletarisasi. Bersama yang tidak sefaham dan seagama (the others),
negeri-negeri maju tersebut kemudian sasaran kemarahan yang harus
dihancurkan.

Dari sinilah, praktik kenabian Musa As, Isa As (Kristus), Muhammad
SAW, dan Sidharta Gautama memberi pelajaran berharga mengatasi jebakan
proletarisasi. Soalnya bagaimana menerjemahkan profetisme (praktik
kenabian) itu ke dalam aksi konkret pemihakan pada kaum proletar.
Praktik kekuasaan dan keagamaan tanpa etika profetik cenderung korup
dan menjadikan demokrasi sebagai legitimasi kejahatan politik dan ekonomi.

Demokrasi cenderung dimanfaatkan bagi kepentingan elite agama dan
penguasa seperti terlihat dalam sikap mau menang dan benar sendiri.
Nasib kaum proletar makin mengenaskan ketika tidak ada jaminan surgawi
hanya karena miskin. Kemiskinanlah penyebab kaum proletar gagal
menguasai kitab suci dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan keagamaan.

Kemiskinan pula yang mendorong aksi radikal mengubah nasib duniawi dan
nasib surgawi dengan kekerasan dan kematian. Gejala yang disebut
Teologi Mileniaris (Al-Mahdi) itu melatarbelakangi berbagai gerakan
revolusioner dan aksi jihad bunuh diri. Hanya ada satu jalan pengubah
nasib duniawi dan nasib surgawi, yaitu kehancuran the others dengan
segala argumen. Inilah akar konflik dan kekerasan dalam terorisme yang
mengglobal.

Pembebasan rakyat

Bagaimanapun diperlukan jalan damai melawan terorisme dengan
pembebasan rakyat dari jebakan proletarisasi. Melalui tafsir profetis
praktik ritual difungsikan bagi promosi kesejahteraan seluruh umat
manusia. Istitho'ah (kemampuan) berhaji diberi makna sosial,
Sinterklas dan ritual kurban dikelola sebagai aksi konkret melawan
terorisme, proletarisasi, dan hasrat korup.

Tafsir profetis bisa dipenuhi ketika wahyu dan tradisi kenabian tidak
diperlakukan sebagai teks mati yang haram ditafsir ulang. Agama yang
suci bukan diletakkan sebagai negasi budaya yang menyejarah yang terus
berubah. Konstruksi ajaran susunan ulama ribuan tahun lalu tidak
diterima secara taken for granted sebagai kesempurnaan suci dengan
sendirinya (an sich). Tuhan dengan wahyu-Nya dimaknai berbicara secara
online (langsung) kepada umat manusia dalam dinamika sejarah yang
terus berubah.

Tanpa tafsir profetis mungkin Tuhan telah dibunuh pemimpin agama
hingga tak lagi menunjukkan kuasa-Nya mengubah nasib kaum proletar
seperti kritik Nietzsche. Pemimpin agama dan politik gagal mendengar
jeritan jutaan rakyat yang jatuh miskin dan kelaparan, ketika Tuhan
Yang Hidup tidak ditafsir dalam aksi profetis. Atau, hari-hari
mendatang di tahun 2006 akan tetap dihantui aksi-aksi teror atas nama
kesucian agama dan janji surgawi dengan pemimpin yang tak peduli nasib
rakyat.

Abdul Munir Mulkhan Guru Besar UIN Yogyakarta






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Clean water saves lives.  Help make water safe for our children.
http://us.click.yahoo.com/CHhStB/VREMAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke